MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death

MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death
Setiap manusia punya sisi kelam dalam diri mereka


__ADS_3


Karina -



Perjalanan jauh pasti membuatnya kelelahan. Walaupun tidak tahu kemana dan apa saja yang ia lakukan, yang pasti dia sungguh lelah hingga tertidur bagai bayi yang manis.


Ku pandangi wajahnya yang putih nan tampan dengan lekat-lekat. Bagaimana bisa pria setampan ini memiliki sisi mengerikan dalam dirinya. Ketika tertidur pulas ia begitu polos dan manis, aku tidak bisa membayangkan wajah ini melakukan hal yang menakutkan.


Kenapa dia bisa memiliki dua sisi karakter yang berbeda. Tapi aku memilih membuang fikiran itu. Aku yakin dia pasti tidak akan mengulanginya, dia sudah berjanji maka aku akan pegang janjinya.


Hari sudah semakin sore dan ia masih tertidur pulas. Sebaiknya aku membiarkannya tidur sebentar lagi.


Aku mengangkat tangannya yang memeluk pinggangku, menyelimutinya agar dia lebih nyaman. Aku bangkit lalu meninggalkannya tidur sendiri.


Dari lemari aku mengambil sebuah paperbag dan ku letakkan di meja. Kemudian aku pergi untuk mandi.


Air hangat dengan busa melimpah bathrobe tempatku saat ini berendam dan menenangkan tubuh. Fikiran itu kembali datang, sejak kemarin aku tidak bisa untuk tidak memikirkan apa yang aku dengar.


Apakah keputusan ku kali ini benar? Percaya atau tetap menutup hati?


Sudah cukup lama berendam rasa dingin sudah mulai terasa sebaiknya aku selesai saja.


Aku membersihkan sisa busa di tubuh lalu mengeringkannya dan memakai pakaian tidur. Ketika aku keluar, Steven sudah tidak ada di sana. Sepertinya dia sudah bangun dan kembali ke kamarnya.


Aku mencarinya di kamarnya ternyata dia sedang mandi. Paperbag itu sudah dia ambil dan bawa kemari.


Ketika aku akan keluar, seseorang memelukku erat dari belakang.


"Kenapa keluar? bukankah kau kemari untuk mencariku?" bisiknya di telingaku.


Aroma seperti mint tapi bukan mint pada umumnya tercium dari tubuhnya, sangat wangi dan menenangkan.


"Tidak tidak aku hanya ingin memastikan foto itu sudah padamu" jawabku.


"Jadi ternyata sebelum aku pergi kau kesal karena aku lupa janji ku itu ya?" tanyanya random.


Aku menggeleng, itu bukan alasanku marah padanya.


Ia menarikku hingga aku duduk di pangkuannya.


"Heii apa yang kau lakukan" tanyaku kesal karena ia seenaknya saja menarikku untunglah aku tidak terjatuh.


Bukannya meminta maaf dia malah menatapku seperti akan menerkam, "kau pura-pura kesal padahal kau sendiri senang aku perlakukan begini. Buktinya kau nyaman sekali meletakkan tanganmu di dada ku" katanya.


Spontan aku memindahkan tanganku, aku tidak sadar akan hal itu. Rasanya sangat malu sekali karena kebodohanku.


Ia tersenyum senang melihatku yang merasa malu, "apa kau masih kesal?" tanyanya jahil.


"Iya aku kesal, memangnya kenapa? Apa yang mau kau lakukan jika aku kesal?" jawabku yang sangat kesal pada pria ini.


"Melakukan sesuatu? apa kau memancingku? atau kau mau dihukum?" ia malah bertanya balik.


Rasanya sepertinya aku baru membuat kesalahan, tidak seharusnya aku datang kemari tadi.


Steven memandangiku lama, "kenapa kau menatapku?" tanyaku heran.


"Apakah kau begitu takut pada sisi lain diriku? Jika kau melihat sisi diriku itu, apakah kau akan ketakutan dan kecewa? Apakah kau akan meninggalkan diriku?" tanyanya serius.


Pertanyaan apa ini, kenapa dia bertanya seperti itu.

__ADS_1


"Apakah kau begitu takut pada diriku itu?" tanyanya lagi.


Aku menunduk, tak berani menatap matanya lagi. "Aku punya kenangan pahit yang mengerikan. Aku takut bila itu akan terulang kembali" jawabku meragu.


"Tatap mataku Karina, pandang wajahku. Kau tidak tahu bagaimana dunia ini sebenarnya. Orang yang kau lihat baik belum tentu baik aslinya. Semua orang punya sisi kelam dalam dirinya. Mungkin aku adalah orang jahat di mata orang-orang, tapi jangan nilai diriku secara sepihak. Kita tidak tahu alasan seseorang menjadi buruk" katanya.


Perkataannya bukan sebuah perkataan biasa, aku yakin itu.


Ia melanjutkan perkataannya lagi "sekejam apapun aku, aku tetap memegang sebuah prinsip. Orang yang pantas mati harus mati agar orang yang tidak bersalah bisa hidup tenang dan tidak menjadi korban" katanya lagi.


Semua kata-kata itu sulit aku mengerti.


"Tapi kau sudah berjanji padaku" kataku.


Ia memberikan sebuah senyuman padaku, "aku pasti akan tepati janjiku" ujarnya.


Aku membalas dengan senyuman, aku yakin dia pasti akan memegang janjinya.


"Oh ya selama aku pergi apa saja yang kau lakukan?" tanyanya mengubah topik.


"Kemarin kak Edward datang ke rumah" jawabku jujur.


Steven mulai kesal,"Beraninya dia datang ke rumah ku sendiri menggoda wanita ku" ujarnya.


"Tidak tidak, dia datang hanya untuk bercengkrama saja kok" jawabku lagi jujur.


"Baiklah baiklah tapi kau harus janji tidak membawa pria lain ke rumah atau bahkan berhubungan dengan pria lain" katanya. Untunglah dia tidak marah, atau aku akan dihukum lagi olehnya.


"Lalu apa lagi yang kau lakukan" tanyanya lagi.


Aku menjawab apa yang memang terjadi, "aku dan bibi pergi memperbaiki bingkai foto itu lalu bertemu dengan kak Edward. Dan semalam....... Jessica datang kesini" jawabku lagi tapi sempat terpotong.


"Tttiidak tttidak ada, dia hanya menyapaku saja" kataku berbohong.


"Baguslah jika begitu, jika sesuatu terjadi katakan pada ku. Aku pasti akan membalas siapapun orang yang menyakitimu" ujar Steven tegas.


Sebuah senyuman kecut terukir di wajahku, aku berpura-pura tidak terjadi apapun antara aku dan Jessica.


/ Keesokah harinya /


- Steven -


Malam ini aadalah malam acara Jessica dan para petinggi politik. Acara akan diadakan di hotel bintang lima yang dekat dengan kantor ku.


Aku mengambil boomber hitam di lemari lalu mengenakannya. Dari cermin besar itu terpampang jelas bayangan diriku sendiri yang berdiri tegap dengan boomber, jeans, sepatu kets yang semuanya serba hitam dan membawa topi dan masker hitam juga.


Hotel tersebut 35% dari sahamnya adalah milikku jadi aku bisa bebas mengatur semuanya dengan mudah maka aku memilih itu sebagai tempat acara ini.


Walaupun begitu, aku tidak bisa begitu saja terlihat disana karena ini adalah acara politik. Aku harus menutup identitas ku agar tidak terekspos karena dunia politik adalah perang yang sejujurnya lebih menakutkan.


Ketika aku keluar dari ruang pakaian, Karina sedang berdiri memperhatikan ku.


"Aisss terkejut aku, ada apa?" tanyaku yang terkejut melihat gadis ini bagaikan hantu.


"Kau mau pergi kemana malam-malam begini dengan pakaian hitam?" tanya Karina penasaran.


Aku berjalan menuju lemari kaca yang ada di ujung ruangan, membuka pintunya lalu memilih kunci yang akan aku gunakan.


Untuk masalah seperti ini pilihan terbaik dan terefisien adalah dengan naik sepeda motor. Aku mengambil kunci salah satu koleksi sepeda motor.


"Aku mau pergi menemui wanita cantik lain" jawabku ngasal.

__ADS_1


Karina mendekat lalu memukul ku dari belakang, "dasar pria bajingan" katanya kesal.


Aku tertawa mendapati respon Karina yang menggemaskan saat kesal, "memangnya kenapa? banyak wanita yang menunggu ku disana" ujarku lagi semakin membuatnya kesal.


Karina memukul-mukul dadaku berulang, "dasar bajingan" katanya lagi.


Dia terus memukul-mukul ku jadi aku menangkap tangannya agar ia berhenti, "wop wop wop sepertinya ada yang cemburu" kataku.


Karina memandangku dengan bibir sedikit monyong dan mata layas.


"Tidak tidak, sayang ku hanya kau. Tidak ada wanita lain selain dirimu di hatiku" ujarku untuk membuatnya kembali mencair.


Karina masih tidak percaya "Aku tidak percaya" ujarnya membuang pandangannya.


Aku menyudutkan Karina ke tembok, "apa perlu aku buktikan sekarang?" tanyaku nakal.


Karina terlihat malu, pipinya memerah dan dia berani menatap mataku.


"Tidak tidak perlu" ujarnya gugup.


Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya "Tenang lah sayang, bagiku tidak ada wanita lain yang lebih cantik dan baik selain dirimu"


Ia diam tapi wajahnya semakin memerah.


"Aku akan pergi bekerja sebentar, hari ini Jessica akan melangsungkan sebuah acara jadi aku harus hadir" jawabku pada pertanyaannya yang sejak tadi belum terjawab.


Mendengar perkataan ku Karina langsung memandang ku, "apakah kau harus membantunya meraih posisi itu? apakau tahu dia seperti apa? Steven tolong jangan bantu dia lagi. Atau akan semakin banyak orang yang nantinya tersiksa" katanya.


Semua perkataannya ada benarnya dan aku tidak bisa menyangkal itu. Tapi aku sudah melakukan perjanjian dengan Jessica. Jika tidak maka aku tidak bisa mendapatkan Karina. Semua yang ku lakukan untuk Jessica adalah untuk mendapatkan Karina ke sisi ku.


"Tapi aku sudah menerima uangnya" jawabku simpel.


"Ayolah Steven, kumohon berhenti membantunya" pinta Karina. Ada ketulusan mendalam dari sorot matanya.


"Baiklah baiklah aku akan mengatur semuanya" jawabku asal.


"Aku akan pergi, tidak perlu menungguku karena acaranya akan sampai larut malam nanti" ujarku lagi memerintahnya dan Ia mengangguk.


Sebelum pergi aku harus melakukan hak ku, agar mood ku bagus.


"Sebelum pergi aku harus dapat hakku dulu" ujarku tapi ia tidak mengerti. Aku segera mencium bibirnya agar ia tidak melawan dan mengecup keningnya.



Hola my Readers πŸ’šπŸ’š


Ciao miei cari lettori πŸ’šπŸ’š


Terima kasih karena sudah mampir dan setia ke cerita aku


Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan dan pemilihan kata


Jangan lupa like dan komen dong hihihi


Walaupun Readers ku masih dikit dan komenan kalian juga masih sedikit, tapi aku udah baca semua. Terima kasih karena sudah setia dan antusias menunggu πŸ’šπŸ˜­πŸ’šπŸ’š


Author bakal berusaha kasih ide kreatif dan lebih banyak nge up ya πŸ’š


Sekali lagi gamsahabnida ✨✨


Semoga kalian suka πŸ™

__ADS_1


__ADS_2