MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death

MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death
Fight For My Way


__ADS_3


Elena -



Sudah berhari-hari ini kesibukan terus menghantui Steven. Setiap harinya dia pergi sangat pagi dan kembali begitu larut. Tidak ada waktu ia bagikan untuk setidaknya rehat sejenak.


Tidur malam hanya satu-satunya cara bagi dia untuk rehat, namun ia tetap mempergunakan waktu tidurnya untuk bekerja. Pria itu begitu sibuk atas segala pekerjaan kantor.


Dihadapkan dengan tumpukan pekerjaan sejak persiapan pernikahan hingga liburan kami di Vatikan yang ia tinggalkan. Tenaga dan pikirannya terkuras habis.


Akhirnya ia bisa bersantai walaupun hanya sehari saja. Sebagai tipe orang yang perfeksionis, Steven begitu ketat terhadap jadwalnya. Bagi pria bertubuh 183 cm itu, waktu sangat berharga, tidak ada yang bisa membeli waktunya.


Biasanya aku akan mengantarkan makan siang ke kantor, tapi karena hari ini adalah hari libur akhir pekan maka aku mengantarkan cemilan pada pria yang sedang bersantai di taman mansion ini.


Kuletakkan nampan berisi milkshake vanila caramel dan buah-buahan segar di meja nakas di samping sofa santai dimana Steven berbaring. Aku duduk di sisi pria yang bersantai di bawah pohon yang asri menghadap taman yang sedang bersemi.



Tanganku membelai rambut lebat pria yang sudah bekerja keras selama ini. Aku mengira dia tertidur ternyata dugaanku salah. Steven memegang tanganku lalu membuka matanya.


Ia bergeser dan menjadikan pahaku sebagai bantalnya. "sudah hampir bulan kelima kan ?"


Aku mengangguk, "memangnya kenapa?"


"Aku dengar dari Elsa kau lebih tertarik dengan hal-hal berbau seni dari pada sains" katanya sambil menutup mata.


Masih terus membelai rambutnya, "iya menurutku itu sangat indah" jawabku.


"Kegiatan seni apa yang paling membuatmu bersemangat?"


Sejenak aku memikirkan jawabanku, "kau tahu aku paling suka memotret kan? Tapi semakin lama aku juga menyukai desain interior"


Ia membuka matanya memandangi wajahku yang berada di atasnya. "Kalau begitu kau bisa mempelajarinya, aku akan mencarikan pengajar untukmu"


Kugelengkan kepalaku, "tidak perlu, selama ini aku belajar hanya untuk menambah pengetahuan saja lagipula aku juga tidak bisa mendapatkan gelar dan bekerja"


Tangannya seketika mengelus pipiku, "aku tidak akan membiarkanmu bekerja, aku sudah kaya. Aku bisa memberi istri dan anakku hidup mewah, jadi tidak perlu bekerja lagi"


Aku menyentuh hidung mancung itu dengan jari telunjukku, lalu mencubit kedua pipinya yang tirus "tapi aku boleh melakukannya sebagai hobby kan?"


Ia mengangguk disertai senyuman tipis yang mengaitkan pipi sehingga terbentuklah dimpel di pipi kanannya, "tentu saja boleh selama tidak membuatmu lelah"


Steven bangkit dari posisi baringan itu, ia berdiri di depan lalu menarik tanganku "tapi sebelum itu kau harus melepaskan ketakutanmu pada dunia, kau harus bisa melawannya sendiri"


Dia membawaku ke taman belakang mansion, "apa maksudnya?"

__ADS_1


"Hanya kau yag bisa menyelamatkan dirimu sendiri Elena. Aku tentunya akan menjagamu setiap saat setiap tempat, tapi kau juga harus punya pertahanan untuk dirimu sendiri" jawabnya masih menarikku.


Kami sampai di taman belakang, Steven berbisik pada salah seorang bodyguardnya. Pria berjas hitam bertubuh besar itu seketika pergi setelah mendapatkan perintah.


Di rumah ini dijaga ketat oleh puluhan bodyguard, mereka tersebar dimana-mana. Bahkan beberapa dari mereka mengintai tanpa diketahui sosoknya.


Setelah pernikahan Steven menambah penjagaan lagi. Ia takut terjadi hal yang sama seperti saat seminggu sebelum pernikahan kami.


Bodyguard yang tadi telah kembali. Ia membawa busur dan beberapa anak panah serta sebuah kotak hitam.


"Kenapa membawa ini?" tanyaku bingung.


Steven meraih busur dan anak panah itu, memberikannya padaku. "Kau harus punya perlindunganmu sendiri. Akan ada saat dimana aku begitu lemah sampai keadaan memaksamu untuk berjuang sendirian" dengan ekspresi serius.


"Kau sudah pernah mengajarkanku menembak dengan pistol kan? Bukankah itu sudah cukup? Bukankah ini berlebihan Steven? Aku sedang hamil anakmu" jawabku masih tidak percaya dia membuatku menjadi penembak dalam kondisiku sekarang.


Ia berdiri di depanku, memegang bahuku dengan wajah serius tapi tatapannya selalu lembut buatku "Maafkan aku karena membuatmu melakukan hal-hal seperti ini. Tapi kau harus melakukannya, akan banyak hal buruk yang terjadi di masa depan yang tidak pernah kau duga. Mulai sekarang aku akan melatihmu menjadi pejuang tangguh. Selama ini kau hidup dalam ketakutan yang sebenarnya itu hanya sebuah bayangan masa lalumu terkurung dan diasingkan. Dunia ini luas dan berbahaya jadi kau harus bisa melindungi dirimu sendiri. Percayalah padaku, kau akan hidup normal lagi. Tidak lagi takut bertemu orang asing dalam keramaian dan melawan ketika ada bahaya"


Walaupun kecemasan masih menyeruak dalam hatiku, tapi tidak ada orang lain yang aku bisa begitu percayai selain Steven. Jika begini artinya ada yang mengganggu pikirannya sehingga memaksaku untuk melakukan ini semua.


"Ada yang mengganggu pikiranmu? Kenapa tiba-tiba sekali? Aku sedang hamil" jawabku masih ingin dibuat percaya.


Ia mengangguk, "aku punya musuh dimana-mana, mereka bisa menyerang kapan saja. Kau hanya perlu membangun pertahananmu sendiri, sisanya serahkan padaku. Aku akan menjadi benteng terdepan yang akan melindungi kau dan anak kita. Tidak perlu mencemaskan bayimu, dia kuat dan hebat sepertiku"


Pada dasarnya Steven bukan orang yang mengatakan kegelisahannya, ia lebih memilih mengatasi semuanya sendirian. Pria tinggi ini memang lebih suka menanggung rasa sakitnya sendirian. Aku hanya akan mempercayai dia sampai akhir.


"Kenapa memanah? Apa ini bisa membantu? Bukannya dulu kau mengajarkan langsung menembak?" tanyaku bingung.


Steven berbicara di dekat telingaku pelan, "dulu hanya coba-coba saja, sekarang kita pemanasan, jika sudah fasih maka kau bisa menggunakan isi kotak hitam itu"


Aku mendehem, dengan bantuannya aku membidik lingkaran hitam di tengah-tengah lingkaran papan lingkaran yang berjarak sekian meter di depan.


"Aku harus membayangkan targetku adalah sesuatu yang paling aku benci dan ingin lenyapkan. Benarkan?" tanyaku masih terus membidik.


Ia mengangguk "benar sekali, lakukanlah"


Setelah menariknya dengan sekuat yang aku bisa, membidik ke arah targetku dan tentunya perlu fokus, aku melepaskan anak panah itu.


Dengan cepat anak panah itu langsung melekat ke papan itu, tapi bukan di lingkaran hitam yang berpoin sepuluh, tapi pada poin lima. Sungguh memanah itu sangat sulit, aku cemberut melihat hasil yang aku peroleh.


Steven tertawa kecil, "tidak perlu cemberut begitu, ini masih baru pertama kan? Masih ada tembakan kedua ketiga dan seterusnya. Berlatihlah, aku akan menikmati cemilan yang kau bawa sambil memperhatikanmu"


Para bodyguard membawa cemilan dari taman tempat kami bersantai tadi ke meja kursi taman belakang. Steven duduk dengan mengangkat satu kaki di atas kaki lainnya. Menikmati milkshake dan buah-buahan segar itu.


Aku kembali fokus dan berusaha melakukan yang terbaik. Bila dipikir-pikir, aku adalah ibu dari anak ini. Menjaga dia bukan hanya tugas Steven saja. Itu juga adalah tanggung jawabku, dengan usahaku sendiri aku akan memberinya perlindungan.


Berkali-kali aku mencoba melakukannya, tapi mendapatkan poin sepuluh itu sangat sulit. Dulu aku menembak berhasil mengenai boneka yang menjadi target tapi tidak tepat pada titik tengahnya.

__ADS_1


"Elena apa yang sedang kau lakukan? Kenapa belajar memanah?"


Tiba-tiba suara pria yang akrab denganku terdengar saat aku akan melepaskan anak panah dari tali busur ini.


"Kenapa kau datang? Selena sudah kembali ke Amerika lalu untuk apa kau kemari?" tanya Steven.


Pria yang dahulu bernawa Edward sekarang sudah mengembalikan namanya menjadi Briant itu datang lalu merebut busur dan anak panah dari tanganku.


"Kakak? Kapan kakak sampai?" tanyaku langsung memeluknya.


Kak Briant mengecup kepalaku dengan kasih sayang, "baru saja, kenapa kau memanah? Kau mau membahayakan kehamilanmu?" tanyanya khawatir.


"Aku harus menjaga bayiku juga, aku bisa mengendalikan diri. Kakak tidak perlu cemas, lagipula Steven menjagaku" jawabku ingin membuatnya percaya.


Ia menatap tajam pada pria yang sedang menikmati milkshake dengan berpangku kakinya. Suamiku itu seolah biasa saja dengan respon kakakku.


"Apa ini Steven? Kau mau membahayakan istri dan anakmu sendiri?"


Steven meletakkan gelas milkshake yang sudah habis, "Istri Steven Lee harus lihai menggunakan senjata" katanya santai.


Kak Briant beranjak ke sisi Steven, "kau gila? Bagaimana kalau janin dalam kandungannya stres? Lagipula dia wanita lembut, kau mau merubah dia menjadi wanita ganas?"


Dari kursi tempatnya duduk Steven memandangi kak Briant malas, "lihai menggunakan senjata bukan berarti orang ganas Briant. Dia hanya belajar melindungi dirinya sendiri"


"Tapi Stev..." perkataan pria bertubuh tinggi setara dengan pria yang sedang duduk itu terpotong.


"Tidak perlu banyak ceramah, aku lelah mendengar ceramahmu. Lagipula di rumah ini semua orang harus bisa menggunakan senjata, bahkan Selena sendiri. Adikku itu hebat menggunakan pistol"


Kak Briant menghela nafas panjang, "aku percayakan adikku karena dia istrimu. Aku kesini ingin berdiskusi denganmu. Bisa kita bicara sebentar?"


Aku ikut berdiri di antara keduanya, "ada apa kak?"


Ia menggeleng, "tidak perlu tahu. Ini pembicaraan antara sesama lelaki" jawabnya. Aku tidak mengerti maksud mereka yang jelas kakakku serius dengan perkataannya.


- Steven -


Briant dan aku duduk di sofa santai taman dimana aku bersantai dengan Elena tadi. Ia tampak serius, pria ini memang mudah sekali kesal saat denganku. Tapi kekesalannya bukan seperti biasa dia tampakkan.


"Kau melanggar janjimu" ujarnya tiba-tiba.


Dahiku mengernyit "kapan aku melanggar janji?"


Pria berkulit lebih gelap dariku ini menahan emosi dalam dirinya. "Kau sudah berjanji untuk membalas Jessica kan? Lalu apa sekarang? Mana janjimu itu? Kau bahkan tidak melakukan apapun. Wanita iblis itu hidup nyaman di tahtanya"


Kall consigliere nya semulus dan secakep ini siapa yang gak tergila-gila coba? Sehun nihh jodoh author 😘😴


__ADS_1


__ADS_2