MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death

MY BAD BOY IN SUIT: Sin Or Death
Jangan sentuh milikku atau kau akan menyesalinya


__ADS_3


Steven -



Ballroom hotel sudah terisi penuh dengan orang-orang berpakaian formal. Mereka semua berbincang-bincang dan menikmati hidangan yang disediakan pihak hotel. Acara utama sudah selesai jadi mereka hanya menikmati saja.


Dari atas balkon ballroom semuanya tampak jelas. Dengan topi dan masker di wajah, mereka tidak akan mengenali diriku.


Pandanganku terfokus pada seorang pria paruh baya berjas hitam yang sedang meminum sampanye dengan Jessica. Mereka berbincang dan kelihatan dekat.


Saat aku ke Amerika kemarin, sebuah laporan sampai pada ku bahwa Jessica pergi menemui Tuan Han diam-diam tanpa seorangpun pengawal maupun sekretarisnya. Mereka pasti memiliki hal yang mereka rencanakan.


Walaupun sejujurnya aku bingung, mengapa Tuan Han kali ini mau menjalin relasi dengan pihak asing apalagi dalam hal politik. Namanya bersih dari korupsi dan kolusi, lalu apa yang terjadi kali ini. Ini menarik perhatian ku.


Aku mengambil HP lalu menekan sebuah nomor, "bunyikan belnya" perintahku pada orang di telpon.


Seketika listrik padam, hotel menjadi gelap. Pihak hotel menjadi heboh kesana kemari mengurus listrik yang sudah aku potong arusnya.


Drrrriiingggh.....dddrrrriingggggg....


Bel kebakaran berbunyi semuanya heboh, para tamu berlarian ke luar. Jessica sudah kewalahan menenangkan para tamu walaupun tak seorangpun menghiraukannya.


Aku pergi dari balkon menuruni anak tangga berjalan santai diantara kerumunan orang-orang yang berlarian. Aku melewati tuan Han yang haboh tapi tidak pergi dari sana.


Langkahku berhenti di sebuah meja bundar penuh dengan makanan. Aku mengambil segelas sampanye mengaduk-aduknya sambil menekati Jessica.


Ia menatapku ketakutan karena tidak mengenali siapa diriku.


"Siapa kau?apa yang kau lakukan? kenapa kau disini?" tanya Jessica takut.


Aku berhenti di hadapannya, menuangkan sampanye tersebut ke lantai tepat di hadapannya.


"Jangan berpura-pura tidak mengenaliku" kataku santai menatapnya.


Tuan Han mendekati lalu menarik pergelangan tanganku, "apa yang kau lakukan? kau mau mati?" katanya mengancam orang yang sesungguhnya takkan bisa ia ancam sekalipun.


Mataku mlirik ke tangannya yang yang menyentuhku, ia segera menepikan tangannya. Hari ini aku akan bermain sedikit agar anjing rumahan ini tidak menggonggong terus.


Aku menatap tajam mata Tuan Han "Ternyata para tikus-tikus negara ini sedang berkumpul membicarakan strategi kotornya". Ia gemetar hanya dengan sebuah tatapan, dasar bodoh.


"Hari ini semua rencanamu berjalan dengan baik karena bantuan ku" kataku lagi pada Jessica.


"Kau? kenapa kau disini? Bukankah kita sudah membuat perjanjian?" tanyanya lagi berlari mendekat.


Pandangan tajam ku beralih Ke Jessica, ia berjalan mundur karena takut.

__ADS_1


Aku berjalan mendekatinya selangkah demi selangkah sedangkan dia mundur selangkah demi selangkah.


"Perjanjian? Bukankah kau yang melanggarnya?" ujarku dengan terus mendekat.


"Aaaa...aakkku tidak pernah melanggarnya" katanya berbohong.


Suasana semakin tak terkendali, "Sudah aku katakan kan, jika kau tidak mau menyesalinya maka jangan sentuh apalagi ganggu milikku".


Tuan Han ingin menjadi pendekar kemalaman, "berhenti, beraninya kau! Penjaga, panggil polisi sekarang" katanya.


Aku melirik ke belakang, "jika kau tidak ingin gelas ini menusuk kepala hingga ke otak kotormu, maka pergilah, sebelum aku berubah pikiran" kataku datar.


Tuan Han mundur perlahan lalu akhirnya lari juga. Para pengawal berlari ke arah kami lalu menodongkan pistol padaku.


Aku memandang mereka santai dan mereka seketika menurunkan pistol tersebut. Semua anggota terlatih dan pasukan khususku sudah melakukan pelatihan keras dan mengenali siapa bosnya walaupun hanya dengan sebuah tatapan saja tanpa perlu perkenalan.


"Sepertinya kalian ingin dipecat" ujarku pada mereka semua.


"Maaf bos" ujar mereka.


Pembicaraan kembali ke wanita tua ini.


Ku pandangi gelas sampanye kosong di tanganku "Aku peringatkan sekali lagi, jika kau menganggu wanitaku bahkan hanya menyentuhnya saja maka kau akan menyesali itu"


Ia berfikir sejenak mengingat apa yang ia lakukan, "wanita mu? mmaaksudnya?" katanya berpura-pura bodoh.


Ia menatapku dengan mata tak percaya, "wanita mu? gadis bodoh itu menjadi wanita mu?" tanyanya tak percaya tapi dengan umpatan.


Bodoh? Mendengar perkataannya aku membanting gelas tersebut di hadapannya. "Beraninya kau memanggilnya gadis bodoh" nada suaraku sudah mulai dingin.


"mmmaaaf mmaaaf tuan Lee aku salah bicara tadi" ia menyatukan kedua telapak tangan memohon.


"Jika sekali lagi kau menyentuhnya aku tidak akan segan-segan mengungkap semua kebusukanmu pada publik lalu menjadikan rumah mu sebagai lautan darah" ancamku padanya lalu berjalan pergi.


Langkahku terhenti, "jangan macam-macam dengan ku" kataku sebagai salam penutup.


Aku pergi meninggalkan hotel dengan suasana berantakan itu. Tanganku menarik gas menambah kecepatan motor Harley Davidson yang aku kendarai.


Roda motor Harley berhenti di depan pintu utama rumahku. Aku masuk dan meninggalkannya dikembalikan ke garasi oleh sopir.


Aku mencari Karina di kamarnya teenyata dia tertidur di sofa. Buku-buku berserakan di meja, sepertinya dia ketiduran ketika membaca.


Ketika ku lihat, ternyata itu adalah buku-buku lama pengetahuan umum. Ia pasti memperolehnya dari bibi di perpustakaan rumah.


Sepertinya akan lebih baik aku membelikannya buku-buku sekolah agar ia bisa belajar dan mencarikan guru les privat untuk Karina. Masa kecilnya yang harusnya ia pakai untuk belajar dan bersenang-senang direnggut oleh kekejaman Jessica.


Aku memindahkan Karina ke ranjang agar tubuhnya tidak kaku nanti. Jacket boomber, topi, dan masker ku lepas, kemudian aku berbaring di samping Karina. Ku pandangi wajahnya yang polos dan cantik, "aku pasti akan menepati janjiku" ujarku.

__ADS_1


- Karina -


Suara kicauan burung membangunkanku, langit sudah mulai terang dan suhu sudah mulai naik.


Pria ini kapan pulang? Kenapa aku tidak sadar dia datang dan tidur di sampingku?


Aku melepaskan tangannya yang memeluk pinggangku, namun ketika akan beranjak bangun, ia menarikku kepelukannya kembali.


"Selamat pagi sayang" katanya dengan suara bantalnya.


Aku melihat wajahnya dari jarak yang hanya beberapa sentimeter saja. Ia membuka kelopak mata menatapku.


"Jangan tersipu malu" ujarnya membuatku semakin malu saja.


Aku mendorongnya agar melepaskanku, tapi laki-laki ini punya stamina yang kuat. Ia selalu bisa membuatku tidak bisa bergerak.


"Jangan bergerak, biarkan seperti ini dulu" Steven dengan suara bantalnya.


Dia memintaku maka aku nenurutinya. Aku diam saja di pelukannya, walaupun malu namun pelukannya sangat nyaman.


"Apakah aku boleh bertanya sesuatu?" tanyaku pada Steven.


Ia mendehem.


"Kenapa kau menyukaiku? Aku yakin ada banyak wanita lain di sisi mu yang jauh lebih cantik dan kaya, sedangkan aku gadis bodoh yang bahkan tidak bisa berhitung, tidak mengerti dengan cinta dan miskin" ujarku mengatakan isi hati.


Steven menatap mataku lebih dalam lalu tersenyum, "siap bilang? kau wanita tercantik yang pernah aku temui. Jika memang ada pun, aku tidak tertarik dengan mereka. Hmm Pintar dan kaya? aku tidak membutuhkannya. Harta dan tahta sudah aku miliki, jadi untuk apa mencarinya lagi, malah mereka yang datang hanya demi hartaku. Aku hanya butuh wanita baik dan tulus, yang bisa menerima siapa diriku sebenarnya" jawabnya.


"Tapi kau bahkan tidak tahu siapa aku sebenarnya dan bagaimana aku aslinya" jawabku menyangkal Steven.


Ia tersenyum, "siapa yang bilang aku tidak mengenalmu? Aku tahu siapa kau dan bagaimana kau sebenarnya" jawabnya santai.


Dia tahu siapa aku? Bagaimana bisa? Aku tidak menceritakan apapun padanya.



Hola Readers ku 💚💚


Author kembali lagi


Makasih banyak buat yang udah mampir dan yang masih setia dengan novel ini.


Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan dan pilihan kata.


Besok eps baru akan di up, semoga kalian suka ya 💚💚


Jangan lupa like dan komen dong hihihi

__ADS_1


Makasih guys 💚💚


__ADS_2