
Kai mengajak Kiran ke rumah sakit bersama sang mommy. Tadinya mereka hanya akan berdua, tapi Sita memaksa ingin ikut. Ia mengkhawatirkan menantunya itu
Ketiganya memasuki lobby rumah sakit dan langsung berjalan menuju ke ruangan dokter karena memang Kai sudah membuat janji.
" Assalamualaikum dokter … "
" Waalaikumsalam … hai Kai bagaimana kabarmu."
" Alhamdulillah baik dokter."
" Eh nyonya Sita ikut juga, bagaimana kabar anda nyonya. Terlihat senantiasa sehat ya lalu siapa ini."
" Alhamdulillah dokter Dika. Saya selalu sehat. Ini menantu saya. "
" Waah kau keterlaluan Kai. Menikah tidka memberitahu ku. Silvya pasti akan marah jika mengetahui ini."
Tak … tak … tak …. Brak …
" Pa … ada pasien gawat !!"
Seorang pemuda sekitar usia 19 tahun masuk ke ruangan tersebut dengan nafas tersengal. Pemuda tersebut mengenakan jas dokter panjang, sepertinya dia adalah dokter residen baru.
" Abang … Kai !!!"
Pemuda itu menghambur ke arah Kai dan memeluknya. Kai pun membalas pelukan pemuda itu dengan erat.
" Wohoooo … mengapa kau sudah begitu tinggi hmmm dan sedang apa kau disini? Bukan karena papamu dokter hebat di sini dan paman kakek mu adalah direktur rumah sakit kamu jadi bermain main di sini kan?"
" Abang iiih sembarangan. Aku dokter ya. Meskipun baru 19 tahun aku sudah jadi dokter residen tahun ke 2. Astagfirullaah … papa ayo, papa sudah ditunggu."
" Kai, tunggu sebentar ya, aku urus ini dulu. Kalian duduk lah dulu."
" Tenang dokter, pergunakanlah waktumu."
Dokter Dika tersenyum ia menyusul pemuda yang tidak lain adalah putranya itu ke IGD. Kai menggeleng pelan, sifat anak dan ayah itu sungguh berbeda. Jika dokter Dika adalah laki laki yang dingin, datar, dan cuek. Putranya kebalikannya, Nataya Giandra Lagford adalah pemuda yang humoris dan mudah bersosialisasi dengan siapapun. Pembawaannya juga ceria. Sangat jauh berbeda dengan ayah dan ibu nya.
" Bang, itu tadi … ?"
" Putra Silvya dan dokter Dika."
" MasyaaAllaah … udah besar rupanya, jadi pemuda yang tampan dan sepertinya berbakat seperti dokter Dika."
__ADS_1
Kiran kembali termenung, bahkan teman teman sang suami adalah orang yang hebat. Tapi hal tersebut tidak membuat Kiran berkecil hati melainkan ia menjadi semakin bersemangat untuk belajar.
" Oh iya Mom, Kiran ingin les atau kursus."
Sita memicingkan matanya, ia sedikit terkejut dengan ucapan sang putra. Namun sedetik kemudian Sita tersenyum. Ia tahu apa yang dipikirkan oleh menantunya.
" Abang, bisa minta tolong belikan mommy minuman untuk Kiran juga. Menunggu dokter Dika pasti sedikit lama."
" Ok mom."
Kai pergi meninggalkan ibu dan istrinya itu. Ia tahu mommy nya ingin berbicara berdua dengan istrinya.
" Apa benar yang dikatakan oleh Kai?"
" Iya Mom, benar."
" Ini bukan Kai kan yang memintamu."
Kiran menggeleng cepat, rupanya ibu mertuanya sedikit salah paham.
" Bukan … bukan Mom. Ini murni Kiran yang mau."
Gadis berhijab itu menghentikan ucapannya lalu menunduk, namun seketika itu juga ia mengangkat kepalanya memberanikan diri melihat wajah ibu mertuanya yang masih cantik meski usianya sudah hampir kepala lima.
Sita langsung memeluk tubuh mungil menantunya itu. Ia mencium kepala Kiran dan mengusap punggung gadis itu.
" Kamu tidak akan pernah mempermalukan suami dan keluargamu sayang. Kamu gadis yang luar biasa. Mommy tahu apa yang kamu rasakan dan pikirkan. Jika kamu ingin belajar apapun itu mommy pasti akan dukung. Dengan catatan kamu jangan merasa terbebani dan tertekan oke."
Kiran mengangguk, ia mengeratkan pelukannya kepada sang ibu mertua. Lagi lagi ia menemukan kenyamanan seperti memeluk ibunya sendiri.
Dari balik pintu Kai tersenyum. Ia sungguh bersyukur keluarganya begitu baik menerima Kiran. Ketakutan ketakutan akan mertua yang bersinggungan dengan menantu seperti cerita film ataupun di kehidupan yang banyak terjadi membuat Kai sedikit khawatir. Namun rupanya itu hanya sebatas kekhawatirannya semata. Kai yakin Kiran akan memberi warna baru di kediaman keluarga besarnya.
🍀🍀🍀
Butik SJ Cloth, tampak Safira tengah tersenyum senyum mengetahui sang pujaan hati sudah pulang. Entah bagaimana caranya, kabar kepulangan Kai sudah sampai di telinga gadis 25 tahun itu.
" Kayaknya kamu lagi seneng banget Fir?"
" Iya Nit … kai udah pulang."
" Pantes, ternyata pangeran berkuda putih sudah pulang rupanya. Lalu apa yang akan kamu lakukan."
__ADS_1
Safira hanya tersenyum menanggapi pertanyaan sahabat sekaligus manajer butiknya itu. Dia tidak akan memberitahu rencananya terhadap Nita.
" Ya … ya … ya … aku tahu, sukses ya. Semoga berhasil menaiki kuda sang pangeran."
" Bukan menaiki kudanya, tapi menaiki ranjangnya Nit."
" Hahahaha gila kamu Fir."
Nita berlalu sambil menggelengkan kepalanya perlahan. Menurutnya sahabatnya itu sudah kegilaan terhadap Kai. Sepeninggalnya Nita, Safira tersenyum misterius. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
" Bagaimanapun caranya aku harus mendapatkan dia, meskipun aku harus telanj*ng di depan Kai dan naik ke ranjangnya, aku akan melakukannya. Aku tidak bisa mengandalkan daddy dan mommy. Aku harus membuat rencanaku sendiri."
Safira lalu mengambil ponselnya. Ia mencari barang barang yang akan digunakan untuk menunjang rencananya.
" Aku yakin Kai tidak akan menolak kemolekan tubuhku. Pria mana yang tahan jika dihadapkan dengan tubuh seksi dan mulus seorang wanita."
Safira menyeringai, fantasinya sudah di luar batas. Ia sungguh menginginkan Kai menjadi pria nya.
Safira kembali melihat gambar Kai yang menjadi wallpaper di tablet miliknya. Ia mengusap gambar pria itu.
" Sungguh sempurna. Bibir itu, ya ampun. Pasti akan sangat lembut jika aku bisa menyesapnya. Dadanya yang bidang, pasti sungguh nyaman bila bisa bersandar di sana. Pinggangnya sungguh terlihat kuat. Aku yakin permainan ranjangnya pasti begitu luar biasa. Akh … aku sungguh tidak tahan membayangkan betapa nikmatnya bila bisa beradu peluh bersamanya."
Safira benar benar larut dalam fantasinya. Sedangkan Nita yang tidak sengaja mendengar setiap apa yang Safira ucapkan sungguh terkejut. Dia tidak habis pikir jika Safira tengah berfantasi. Ia sedikit mengintip ke ruangan sahabatnya itu. Matanya semakin membelalak saat melibat Safira memainkan dirinya sendiri.
Nita membungkam mulutnya dengan tangan. Ia menggelengkan kepalanya perlahan.
" Ya Tuhan Safira, apa yang gadis itu lakukan. Dan sejak kapan benda benda itu ada di sana? Apa selama ini dia suka berbuat seperti itu?"
Nita benar benar tidak bisa berbuat apa apa. Ia memutuskan untuk berjaga di depan pintu dan segera mengambil laptopnya dan menghapus rekaman kamera pengawas beberapa saat itu.
Meskipun Nita tidak suka dengan kelakuan Safira itu, namun dia harus tetap menjaga nama baik sang sahabat. Karir Safira sebagai desainer kondang bisa hancur bila publik mengetahui apa yang Safira lakukan saat ini.
" Kau gila Fir … sungguh gila. Obsesimu membuatmu kehilangan akal sehatmu itu. Kau tidak tahu akibat apa yang akan terjadi dari hal yang kau sebabkan."
TBC
sebelum ada yang bertanya, Lho ... Kok anaknya Dokter Dika udah gede.
Begini ya readers kesayangan, bisa kembali di cek di Anak jenius mom Sita, Kai mengenal Silvya sudah dari Kai usia 4 tahun dan Silvya menikah dengan dokter Dika saat usia Kai 6 tahun.
Jadi anak Silvya dna Dokter Dika itu hanya terpaut sedikit dari usia si Kembar.
__ADS_1
Begitu ... Semoga mengerti ya ... Terimakasih. Dukung terus othor lho ya hehehe
Matursuwun.