
Kiran tiba tiba merasa bosan di rumah. Semenjak hamil Kiran libur belajar semua kursus kursus nya. Kai yang meminta. Dia tidak ingin sang istri kelelahan.
" Kenapa sayang? Kok cemberut gitu?" tanya Kai kepada sang istri.
" Bosen," saut Kiran singkat.
Kai memicingkan matanya. Tumben sekali sanh istri merasa bosan. Apakah ini bawaan bayi juga, batin Kai
" Terus mau apa hmm? Mumpung abang stay di rumah ini."
Kiran terdiam, ia sendiri bingung menginginkan apa dan ingin melakukan apa. Kai masih menunggu istrinya itu membuka suara. Namun sudah lebih dari 10 menit Kiran diam tidak menjawab pertanyaan Kai. Rupanya istrinya itu tertidur di sofa ruang keluarga. Kai menggeleng pelan. Ia pun langsung menggendong sang istri menuju ke kamar.
" Kiran tidur bang?"
" Iya, tadi bilangnya bosen tapi abang tanya mau apa dia nya diem aja, eh tidur."
" Ya udah bawa ke kamar gih."
Kai mengangguk, Sita hanya tersenyum. Keberadaan Kai di rumah sungguh membuatnya senang. Semenjak Kai mulai berkuliah hingga bekerja sekarang, pjarang sekali Kai bisa di rumah lebih dari sehari. Terkadang dibalik sebuah peristiwa memang banyak hikmah yang bisa diambil.
Kai memasuki kamarnya dan merebahkan sang istri di tempat tidur. Ia menyelimuti istrinya itu. Kai mencium kening Kiran lalu mengusap lembut perut sang istri.
" Twins K, jangan bikin ummi repot ya sayang. Jaga baik baik ummi. Kelak kalian lah penjaga ummi dan abi."
Setelah mengajak janin di perut istrinya itu berbicara Kai mencium perut Kiran sekilas lalu keluar dari kamar dengan perlahan. Melihat mommy nya tengah duduk santai di ruang keluarga, Kai segera mendekat dan memeluk sang ibu.
" Eeeh, kenapa ini tiba tiba peluk mommy," ucap Sita terkejut.
" I miss you mom," jawab Kai dengan manja.
Sita terkekeh geli melihat tingkah putra sulungnya itu. Ia pun mengusap kepala sang putra.
" Do you still love me baby?"
" Of course mom. You are my first love in my life."
Sita tertawa terbahak bahak dengan jawaban sang putra. Dan tumben Kai tidak protes saat dipanggil baby.
" Oh ayolah Kai jangan peluk peluk istri ayah. Assalamualaikum semuanya."
" Waalaikum salam."
Kai dan Sita menjawab bersamaan, tapi bukannya melepaskan pelukannya terhadap sang ibu, Kai malah semakin mengeratkannya. Rama memberengut melihat hal tersebut dan membuat Kai tertawa senang bisa mengerjai sang ayah.
" Hahaha sudah nih Kai berikan mommy ke ayah lagi."
Tapi bukannya memeluk Sita, Rama malah memeluk Kai dengan erat. Rama bahkan mencium pucuk kepala Kai.
__ADS_1
" Ayah rindu saat saat begini."
" Kai juga."
Kedua pria berbeda usia itu saling memeluk dengan erat membuat mata Sita mengembun. Entah, saat kedua pria yang dicintainya itu saling memeluk begitu mengingatkannya saat melahirkan Kai. Sita juga mengingat saat pertama kali Kai bertemu dengan Rama setelah 6 tahun setelah kelahirannya. Bocah laki laki yang tidak pernah dekat dengan siapapun tiba tiba begitu menempel pada Rama. Sita pun segera mengusap kedua matanya dengan telapak tangan.
" Kamu sih sekarang sibuk ngelonin istri mu melulu."
" Halah emangnya ayah nggak?"
" Hahaha dasar pinter ngeles."
" Bukan ngeles, itu fakta. Jika semua beres kita mendaki gunung yok yah. Ajakin om Juna, Om Charles dan Om Sukhdev juga."
" Boleh."
Keduanya benar benar saling bicara sehingga Sita merasa tidak dipedulikan di situ.
" Kok jadinya dicuekin ya."
" Eh??"
Rama dan Kai menoleh ke arah wanita yang mereka cintai itu. Keduanya pun seketika langsung memeluk Sita.
" Mom, Yah, I want to say something."
Kedua orang itu saling pandang. Keduanya selalu waspada jika sang putra sulung sudah berbicara dengan nada seperti itu. Pasti yang ingin dibicarakan adalah hal yang serius.
" Gini, bisakah ayah dan mommy mengadopsi seorang anak lagi."
" Apa ??? Abang mau adik lagi? Ayah buatkan nggak usah mengadopsi."
Plak!
Rama mendapat tepukan keras di lengan dari sang istri dan pastinya tatapan mata yang tajam.
" Bercanda sayang, jangan ngereog."
Kai tertawa keras saat melihat reaksi kedua orang tuanya itu. Namun kemudian ia kembali ke mode serius.
" Mom, Ayah, Kai serius. Ayah dan mommy tahu kan kasus pencurian design yang dilakukan Safira?"
Rama dan Sita mengangguk lalu Rama bertanya," Emang apa hubungannya bang?"
" Orang yang dicuri desainnya itu adalah seorang pemuda yatim piatu yang memiliki penyakit maag kronis dan paru paru kalo nggak salah. Safira bahkan melukai kedua kaki pemuda itu agar tidak bisa pergi kemana mana. Dan pemuda itu tidak pernah mendapat hak nya."
" Astagfirullahaladzim, Safira tega sekali berbuat begitu bang."
__ADS_1
" kok ada orang setega itu?"
Rama dan Sita sungguh terkejut. Bahkan Sita sampai membungkam mulutnya dengan tangan. Dada nya terasa sakit, walaupun anak yang diceritakan itu bukan siapa siapa nya namun ia merasa seperti anak nya yang diperlakukan begitu.
" Lalu dimana anak itu, berapa umurnya dan siapa namanya?
Rama sungguh penasaran, jiwa kebapakannya mencuat. Ia sepertinya setuju dengan usulan Kai.
" Dia sekarang dirawat di rumah sakit Mitra Harapan. Abang minta dokter Dika yang jadi penanggung jawabnya. Namanya Topan, tapi kemarin sama abang namanya abang tambahkan menjadi Topan Arsyanendra, usia nya 19 tahun. Dia sangat berbakat tapi dia tidak ingin sekolah lagi. Dia ingin kursus belajar membuat dan merancang baju sendiri. Cita cita menjadi seorang Fashion Designer."
" MasyaAllah. Sungguh pemuda yang hebat. Kasian juga ya. Oke ayah setuju saja. Kita adopsi dia. Mommy gimana?"
" Mommy sih yes, tapi kita juga harus tanya triplet oke."
Kai mengangguk, memang PR nya berada di triplet.
" Semoga mereka setuju."
Tak berselang lama ketiga remaja kembar pun datang bersama Luki, Bee, dan Bey. Mereka mengucapkan salam bersamaan lalu menyalami Rama, Sita, dan Kai bergantian. Ketiganya langsung duduk di sofa dan menyandarkan punggung mereka. Tampak ketiganya begitu lelah.
" Bos,langsung balik ya."
" Yoi, nggak minum dulu Luk."
" Nggak lah, mom ayah luki pulang dulu ya."
" Ya hati hati ya salam buat Mira dan Laila. Bilang oma sama opa kangen gitu."
" Siap mom, ayah."
Luki pun berlalu keluar namun sebelumnya ia mengembalikan jam tangan pemberian Kai dan mengambil ponsel miliknya. Sama juga dengan Abra dan Akhza keduanya melepas atribut yang tadi diberikan oleh abangnya. Keduanya meletakkan di atas meja.
" Kok Kalian bertiga bisa pulangnya samaan barengan?"
" Tadi ketemu di depan Bang."
Kai mengamati adiknya satu per satu. Ia sungguh hati hati saat ingin menyampaikan hal itu.
" Akhza, Abra, dan Anna abang ingin berbicara sesuatu dengan kalian. Kalian dengarkan baik baik ya."
Saat mendengar nada bicara serius dari Kai, ketiga remaja itu langsung menegakkan punggung nya. Mereka mengangguk dan memasang telinga mereka baik baik.
" Apa kalian mau jika kita punya adik lagi?"
Krik … krik … krik …
Ketiganya terdiam sejenak, sepertinya otak mereka sedang meloading. Hingga mereka sadar sepenuhnya dengan pertanyaan sang abang
__ADS_1
" Apa?? Mommy hamil lagi???!!!"
TBC