
Mr. X atau Hugo benar benar keluar dari kandangnya dengan membawa nama Hugo Web Security dia menyingkatnya menjadi HWS. Bahkan hari ini dia me launching perusahaan tersebut dan mengundang para perusahaan lain untuk mengenalkan perusahaannya. Hugo menggandeng mesra lengan Soraya. Keduanya sungguh tampak serasi berdiri di atas panggung.
Ternyata Hugo juga mengundang A-DIS. Dan saat ini Luki ditemani duo kembar datang ke sana. Namun sebelum menghadiri acara tersebut terlebih dulu mereka bertiga mendapat pembekalan dari Kai.
" Oke … semua dengarkan baik baik. Semua ponsel tinggal di rumah saja dan kalian membawa ponsel baru. Ahkza kamu pakai softlens ini ya. Jangan protes dulu nanti abang jelaskan. Kalian tidak akan dikawal. Tapi Bey akan ikut bersama kalian. Nanti Ana biar ditemani Bee ke kampusnya. Bersikaplah senormal mungkin. Abra berusahalan membaur, Abra kamu pakai ini di telingamu."
Akhza segera memasang softlens yang diberikan sang abang, begitu juga dengan Abra. Abra juga segera memasang anting magnet yang diberikan Kai kepadanya.
" Kai sebenarnya apa semua barang barang ini."
Selain si kembar Luki juga menerima sebuah jam tangan dari Kai.
" Iya bang, aku juga kenapa harus pakai softlens."
" Begini, semua dengarkan. Dalam softlens yang dipakai Akhza itu ada sebuah kamera kecil yang langsung bisa menangkap gambar. Sedangkan anting yang dipakai itu merupakan alat perekam, dan jam tangan yang dipakai oleh Luki itu adalah alat pendeteksi dan penangkap sinyal. Jadi apapun sinyal yang terlihat atau tidak bagi mata awam jam tersebut bisa menangkapnya."
Ketiganya melongo mendengarkan penjelasan Kai.
" Woaaah udah berasa kayak syuting mission impossible. Abang dapat dari mana barang barang semua ini. Oh iya ada nggak bang jam tangan model kayak punya connan tuh."
" Ada. Tapi tidak untuk situasi kali ini. Tidak usah dipikirkan dari mana yang penting kalian semua pakai dengan baik baik. Bersikaplah santai dan berbaur. Ingat jangan terpancing dengan apapun yang pria itu katakan."
Semuanya mengangguk. Akhza dan Abra diminta oleh Luki untuk terlebih dahulu ke mobil.
" Kai, apakah kau merasa dia adalah Mr. X itu?"
" Bisa jadi Luk. Kau ingatkan siapa Hugo. Dia teman kuliah kita dulu. Dia sangat iri dan dengki dengan kita."
" Bukan kita Kai tapi kau hahaha. Iya aku ingat. Baiklah aku pergi dulu."
Kai mengangguk, ia pun ikut mengantarkan Luki sampai depan pintu namun dia tidak keluar dari rumah
" Berhati hatilah jaga si kembar juga."
Luki mengangguk. Dan kini Luki, Akhza, Abra, dan Bey berada di HWS, perusahaan yang didirikan oleh Hugo.
Saat ini Hugo tengah berdiri di atas panggung bersama dengan Soraya. Ia hendak memberikan sedikit speech.
" Selamat siang, saya ucapkan banyak terima kasih untuk anda semua yang berkenan hadir di perusahaan saya ini. Semoga kita bisa menjalin sebuah kerja sama yang baik. Saya Hugo Gladwin beserta kekasih saya Soraya Yocelyn mengucapkan selamat datang dan selamat menikmati jamuan yang sudah kami siapkan."
__ADS_1
Plok … plok … plok …
Suara tepuk tangan riuh setelah Hugo selesai dengan speech singkat nya. Keduanya pun turun dari panggung dan menemui para tamunya. Hingga Hugo menghampiri Luki.
" Hey, long time no see brother."
Hugo mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Luki. Dengan senyum, Luki pun menerima uluran tangan Hugo.
" Ya ... Lama kita tidak bertemu Hugo. Kau sungguh sangat sukses sekarang. Selamat ya atas perusahaan baru mu ini."
" Yeah … thank you bro. Dan kamu bagaimana, apakah masih saja jadi kacungnya Kai? Ayolah tinggalkan lah dia. Pria gila itu mana bisa terus berada di puncak tertinggi. Jika kau mau meninggalkan pria cacat itu, aku siap menerimamu."
Luki mengepalkan tangannya erat dan rahangnya sudah mengeras. Namun ia ingat kembali apa pesan Kai bahwa dia mereka tidak boleh terpengaruh dan terpancing oleh apapun yang diucapkan Hugo. Luki pun secepat kilat mengubah ekspresinya.
" Waah tawaran yang menarik sekali. Tapi maaf aku masih harus terus bersama Kai."
" Apa kau tidak khawatir jika A-DIS akan jatuh? Dengan berdirinya HWS aku yakin banyak perusahaan yang akan meninggalkan A-DIS."
Luki kembali tersenyum, namun di balik punggungnya ia menggenggam erat tangannya.
" Baiklah, aku harap kau bisa benar benar mewujudkan itu. Sungguh kami menunggu saat itu datang."
Hugo sangat kesal dengan reaksi tenang Luki. Dia berharap Luki akan marah dengan setiap apa yang ia ucapkan mengenai Kai ataupun A-DIS, namun rupanya di salah. Luki sungguh bersikap sangat tenang dalam menjawab setiap perkataannya. Pria itu pun berlalu dari hadapan Luki dan menyapa tamu undangan yang lain.
" Brengsek, sialan dasar sombong. Huft."
Luki menggerutu pelan. Ia sungguh merasa kesal. Ingin sekali ia bisa meninju mulut besar pria itu.
" Om Luki kenapa?"
Akhza menghampiri Luki dan menepuk punggung Luki pelan.
"Itu habis bicara sama grandong, pengen banget tak masukin ke kubangan lahar gunung berapi."
Akhza menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kemudian ia pun memindah seluruh isi ruangan mencari seseorang yang dimaksud oleh Luki.
Haaaah, Luki membuang nafasnya kasar. Terkadang orang jenius ada sisi bodoh nya juga, itulah yang dia pikirkan saat melihat Akhza yang celingukan kesana kemari. Pemuda itu tampaknya benar benar mencari sosok yang dikatakan oleh Luki.
" Kau tidak benar benar beranggapan aku berbicara dengan grandong kan sehingga kau mencari dimana grandong itu."
__ADS_1
" Eh …," Akhza tertawa saat menyadari kebodohannya.
" Itu lho Za si Hugo. Om baru aja ngobrol sama dia. Huft, nyebelin banget orang nya. Oh iya apa yang kamu dapatkan Za?"
Akhza terdiam, ia sih belum melakukan apapun. Tapi biasanya abang nya lah yang akan menemukan itu. Akhza cukup melihat ke seluruh penjuru.
" Belum ada sih om. Tapi Akhza lihat saja semua yang bisa dilihat. Oh iya Abra kemana ya anak itu."
Akhza dan Luki melihat ke sana sini namun keduanya tidak melihat Abra.
***
" Apakah kau yakin akan berinvestasi di sini?"
" Entahlah, tapi tawarannya cukup menggiurkan."
" Lalu bagaimana dengan A-DIS?"
" CEO lumpuh dan bisa jadi stres juga seperti yang dibilang Hugo, apa yang bisa diharapkan. Apa benar perusahaan itu akan bertahan? Aku sungguh tidak mau mengalami kerugian."
Keduanya mengangguk lalu keluar dari dalam toilet.
Bugh …
Abra yang ternyata berada di salah satu toilet itu sungguh kesal mendengar ucapan dua orang itu. Setelah diingat ingat dua orang tersebut merupakan salah satu investor yang kemarin belum memberi jawaban soal kelanjutan kerjasama mereka dengan A-DIS.
" Aku harus cepat cepat menyampaikan ini. Eh kan ada alat perekamnya ya. Bagus, nanti biar abang bisa denger sendiri."
Abra pun keluar dari toilet dan menghampiri Akhza dan Luki.
" Kak, Om … "
" Ra, kamu dari mana aja. Dari tadi dicariin."
" Sudah mau pulang kah?"
" Iya … Sudah sangat cukup di sini. Itu Bey ayo kita pulang."
Luki mengajak si kembar dan Bey segera pulang. Mereka sungguh tidak suka berlama lama di acara itu.
__ADS_1
TBC