
Hayolooooh 3 bab nih, othor mau dikasih apa neh sama readers hehehe 3 hari berturut turut 3 bab.
Besok othor libur ye, gimana? Heheheh
Terimakasih readers untuk dukungannya. Matursuwun. Monggo dilanjut bacanya.
...****************...
Kai, Kiran dan Sita baru pulang saat sore hari. Mereka tampak membawa beberapa barang belanjaan.
" Lho mom, kok ada art?"
" Oh iya … itu saudara nenek Surti dari kampungnya nenek Surti namanya Bi Inah."
" Ooh … gitu. Sejak kapan Bi Inah bekerja di sini?"
" Hari ini. Bi Inah juga masih saudara dari Mang Tarjo security rumah kita. Tadi dijemput sama Mang Tarjo. Ya sudah kalian istirahatlah."
Kai dan Kiran mengangguk, keduanya langsung menuju ke kamar untuk istirahat. Begitu juga dengan Sita, setelah menyapa Bi Inah ia juga menuju ke kamar.
Ceklek …
" Istirahatlah dulu sayang. Kamu pasti capek."
Kiran mengangguk, namun sebelumnya Kiran lebih dulu mengganti bajunya di walk in closet. Ia memakai baju tidur tipis dengan tali spageti yang tadi dibelikan sang mommy.
" Apa aku harus pakai baju ini? Sudahlah tidak apa apa. Saran mommy pasti baik."
Kiran mengingat nasehat sang mommy saat di pusat perbelanjaan tadi. Mommy nya mengatakan bahwa sebagai istri harus bisa menyenangkan suami. Kiran pun keluar dari walk in closet. Dia melihat sang suami tengah sibuk di meja kerja nya, Kiran pun menghampiri sang suami. Ia memijat bahu suaminya.
" Bang, apakah tidak ingin istirahat?"
" Istirahatlah dulu sayang, nanti aku menyusul."
" Benarkah tidak ingin istirahat bersamaku?
Kai merasa kata kata istrinya begitu ambigu hingga ia membalikkan tubuhnya. Kai membelalakkan kedua matanya saat melihat sang istri. Kiran sungguh terlihat sangat cantik dengan baju tipis sepaha dan dada serta punggungnya terekspose sempurna.
" Sayang … "
" Hmmm … siapa yang mengajarimu memakai baju seperti ini?"
Kiran hanya tersenyum mendapat pertanyaan dari suaminya. Kai seketika itu juga menarik Kiran ke pangkuannya. Tidak mau berlama lama Kai meraup bibir mungil sang istri dan ******* nya dengan lembut. Tangannya mulai menurunkan tali spageti baju tersebut hingga kedua buah kenyal itu menantang mata Kai dengan lantang. Kai melepaskan pagutannya dan melihat dua bukit kenyal milik sang istri. Tidak besar namun tidak kecil, terasa pas di tangannya.
" Indah dan cantik."
Kata itu lolos dari mulut Kai. Kiran sedikit malu atas ulah suaminya yang melihat benda pribadinya itu. Kai kembali mencium bibir sang istri dan meremas gundukan daging itu dengan satu tangannya silih berganti saat tangan yang lain menahan pinggang sang istri. Ciuman tersebut merembet turun ke leher, Kai menyesap leher Kiran hingga gertinggal bekas merah di sana.
__ADS_1
" Shhh…. Bang."
Kiran merasakan sensasi aneh dalam aliran darahnya saat mulut Kai bertengger di gundukan daging kenyal miliknya. Kai memainkan mulut dan lidahnya. Dengan pasti Kai langsung menarik baju tidur tipis itu hingga jatuh ke lantai. Ia kemudian mengangkat tubuh Kiran menuju ke ranjang. Ia merebahkan Kiran perlahan mengingat Kiran masih memiliki lebam. Kain penutup terakhir pun di dilucuti oleh Kai. Tubuh Kiran terpampang indah tanpa sehelai benang pun di hadapan Kai.
Kai pun segera melucuti bajunya sendiri dan melemparkannya ke sembarang arah. Ia kembali mengabsen tubuh sang istri dari atas lalu semakin turun dan semakin turun hingga ke bagian favorit semua suami.
Kai mengakat kaki kiran dan menekuknya. Ia membukanya dengan lebar dan menjatuhkan bibir dan lidahnya di sana.
" Ba … ang shhhh … "
Kiran mencengkram erat sprei di ranjang dengan kedua tangannya. Merasa sudah siap kai kemudian melafalkan doa.
" Sayang, aku mulai. Mungkin ini akan sedikit sakit. Apa kamu siap?"
Kiran hanya mengangguk, kai melepaskan kain terakhir miliknya. Kiran membelalakkan matanya melihat sesuatu yang besar di sana.
" Bismillaah … "
Kai mencoba menerobos gawang milik Kiran. Ia merasa kesulitan di percobaan pertama, sungguh gawang itu sangat sempit. Kai pun melakukan percobaan kedua. Seeet … argh …. Kiran berteriak saat sebuah benda yang menurutnya besar menerobos miliknya di bawah sana.
" Sayang … apakah sakit. Aku akan menghentikannya."
" Tidak apa apa bang, lanjutkan saja."
Kai kembali mengungkung Kiran, ia menciumi kembali seluruh tubuh istrinya itu agar istrinya itu lebih santai. Ia menghisap dan meremas gundukan kenyal milik Kiran agar Kiran merasakan sensasi lain selain yang di bawah sana.
" Baiklah sayang, aku yakin setelah ini pasti akan enak."
Kai terus menggerakkan pinggulnya sambil meremas benda kenyal milik istrinya.
" Ughhhh … sayang, aku sungguh mencintaimu."
Kai menambah ritme gerakannya semakin cepat. Kiran hanya bisa membuka mulutnya merasakan sebuah kenikmatan yang belum pernah ia dapati selama ini.
" Sebut nama ku sayang."
" Kai … akuh … jugah … mencintaimuh shhhh…."
" Bagaimana sayang, apakah sudah nyaman?"
Kiran hanya mengangguk namun tangannya masih mencengkeram erat. Kai terus bergerak, peluh keduanya bercucuran. Suara er*ngan dan des*han memenuhi kamar itu. Sepasang pengantin baru itu baru mereguk kenikmatan duniawi. Sore ini menjadi sore pertama pernikahan mereka.
" Apakah sudah mau sampai sayang? Mari bersama."
Keduanya mencapai puncak bersama. Kai menyemburkan benih benih nya pada rahim sang istri. Setelah itu ia ambruk di dada sang istri. Kiran membelai lembut kepala sang suami yang mulutnya kembali mengulum puncak bukit miliknya.
" Terimakasih sayang, kau telah menjaganya untukku."
__ADS_1
" Terimakasih juga bang, aku telah menjadi milikmu sepenuhnya."
Kai menarik pusakanya dengan perlahan, tampak tetesan darah di sana. Ia pun segera menggendong sang istri menuju ke kamar mandi. Kai mengisi bathup kamar mandi dengan air hangat dan memasukkan Kiran dengan perlahan. Keduanya mandi bersama dengan posisi Kai memangku Kiran.
Kai menciumi bahu sang istri dan luka lebam istrinya itu. Tangan kai yang satu bertengger di bukit kenyal istrinya dan yang satu di bagian inti bawah sang istri.
Kedua tangan Kiran berpegangan pada bathup saat merasakan pusaka milik Kai mulai membesar.
" Bang … "
" Aku masih mau, apakah boleh."
Kiran hanya mengangguk. Mereka pun memulai lagi percintaan mereka. Kali ini mereka melakukan di bathup sehingga air dalam bathup bergelombang dan tumpah tumpah karena kelakuan pengantin baru itu.
Kiran terlihat begitu kelelahan, Kai pun memandikan sang istri dan menggendong nya kembali ke kamar. Ia mendudukkan Kiran di kursi lalu mengambil pengering rambut untuk mengeringkan rambut sang istri. Setelah kering Kai kembali menggendong Kiran ke ranjang dan merebahkan istrinya.
" Tidurlah sejenak sayang masih ada setengah jam lebih menuju magrib. Maaf sudah membuatmu lelah."
Kiran hanya tersenyum, sebenarnya tidaklah baik tidur menjelang maghrib namun ia sungguh merasa lelah. Kai mencium kening Kiran sepintas dan keluar dari kamar.
" Bang, awas ya jangan buat menantu mommy kecapekan."
" Astagfirullaah Mom, mommy sungguh mengejutkanku. Tenang saja mom, tidak akan."
Kai mengerling nakal kepada sang mommy. Sita hanya menggelengkan kepalanya. Putra sulungnya benar benar memiliki sisi lain saat bersama dengan Kiran. Kai kembali ke kamar dengan membawa nampan yang berisi makanan, jus, susu, buah, dan lainnya. Rama yang sudah pulang dan duduk di ruang keluarga sedikit heran dengan tingkah Kai.
" Bang, nggak makan malam bersama?"
" Di kamar aja yah, Kiran kelelahan."
" Ya Allaah bang, awas ya jangan lebih lebih."
Kai hanya mengedipkan sebelah matanya menanggapi ucapan sang ayah.
" Emang kak kiran habis ngapain yah."
" Uhuk … uhuk … uhuk … "
Rama tersedak teh yang baru saja ia minum saat Ana bertanya padanya. Sita yang ada di dapur langsung berlari dan menepuk punggung sang suami.
" Mas hati hati, kenapa sih. Ayah kenapa An."
" Ayah lagi minum, trus Ana tanya memangnya kak Kiran habis ngapain kok kecapekan sampai nggak ikut makan malam."
" Oh … kak Kiran habis olah raga bareng sama abang jadi capek. Biarin mereka berdua nggak ikut makan malam hari ini."
Ana hanya manggut manggut mendapat jawaban dari sang mommy sedangkan Rama hanya melirik sang istri sekilas.
__ADS_1
TBC