
Hari pertama bekerja tampaknya Kai memang harus lembur. Pria itu sudah berusaha untuk mempercepat laju kerjanya tapi memang tidak bisa dipaksakan. Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00, Kai belum juga usai dengan pekerjaannya.
" Kai Ayo istirahat kita harus sholat dulu Setelah itu kita makan baru kita lanjut pekerjaannya."
" Luk, Apakah ini tidak bisa dikerjakan besok lagi. Aku ingin segera pulang."
Luki mengerutkan kedua alisnya. Tumben-tumbenan sahabat plus bosnya ini ingin segera pulang. Biasanya mau lembur sampai tengah malam pun ia lakoni.
" Aku penasaran, apa sih yang membuatmu ingin cepat pulang. Biasanya mau jam berapa pun fine-fine aja."
" Aku khawatir istriku menungguku Luk."
Luki tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban dari Kai.
" Istri, Oh Ayolah sejak kapan kamu punya istri? Kapan kamu menikah? Don't lie to me Kai."
Kai memutar bola matanya dengan jengah. Ia pun beranjak dari tempat duduknya dan memalingkan wajahnya dari sang sahabat.
" Terserah."
Kai masuk ke kamar mandi dan mengambil air wudhu sedangkan Luki Ia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Setelah keluar kamar mandi Kai meneriaki Luki, " Hey ayo cepetan ambil air wudhu katanya mau sholat magrib."
Luki kemudian lari mendengar teriakan dari Kai. Ia buru-buru masuk ke kamar mandi dan mengambil air wudhu, sedangkan Kai sudah membentangkan dua sajadah di sana.
" Kali ini siapa yang mau jadi imam?"
" Sudahlah kau saja Kai biasanya kan kau."
Ya, selama ini jika mereka berdua sholat berjamaah Kai selalu menjadi imam. Entah mengapa Luki tidak pernah mau mengimami. Pernah suatu hari Kai bertanya, dan jawaban Luki hanya karena bacaannya dia tidak bagus. Kai Pun pasrah setiap sholat akhirnya dialah yang jadi imam meskipun usianya Kai jauh lebih muda dari Luki.
Usai salat magrib Luki memesan makanan. Mereka benar-benar memutuskan untuk lembur malam ini.
Tok … tok … tok
" Assalamualaikum Bang."
" Waalaikumsalam sayang kok kamu bisa kesini."
Luki mengerutkan kedua alisnya melihat seorang wanita cantik berhijab memasuki ruangan mereka. Dan yang lebih membuatnya heran Kai pun memanggil wanita itu dengan panggilan sayang.
Kiran menghampiri Kai lalu mencium tangan suaminya dengan khidmat. Tambah terkejut saja Luki melihat adegan itu di depannya.
" Wait apa yang sudah kulewatkan."
" Huft … Kan aku sudah bilang tadi istriku menunggu di rumah ya Ini dia istriku."
__ADS_1
Luki hanya bisa menganga mendengar jawaban dari Kai. Ia sungguh tidak percaya dengan ucapan sahabatnya itu. Pria dingin, cuek, dan datar terhadap wanita tiba-tiba mempunyai seorang istri.
" Kau tidak menculiknya lantas membawanya ke KUA kan Kai."
Kiran tertawa mendengar celotehan Luki.
" Tidak kok Kak kita menikah baik-baik."
Nyes … tiba-tiba hati Lucky berasa adem mendengar suara Kiran. Sejenak Luki terpesona melihat wajah Kiran yang lembut dan meneduhkan.
" Woi mata Woi jaga pandangan woi ini bini gue."
" Hahaha sorry bro, gue hanya nggak nyangka aja lo punya punya istri selembut ini."
Kain mengacuhkan ucapan Lucky Ia lalu menarik tangan Kiran untuk duduk di sofa.
" Siapa yang mengantarkanmu ke sini hmm … ?"
" Diantar sama pak supir."
Kiran pun membuka paper bag yang ia bawa dan mengeluarkan beberapa kotak makanan. Kai tersenyum lebar saat melihat sang istri begitu telaten melayaninya.
Luki benar benar terbengong. Ia sungguh melibat sisi lain dari Kai. Pria yang selalu bersikap dingin dan acuh kepada wanita, kini dilihatnya bisa sangat lembut.
" Definisi ketemu pawang mah gini." Gumam Luki lirih.
" Siap bos."
Kiran pun memberikan sekotak makanan untuk Luki. Namun kotak itu diraih oleh Kai
" Biar abang aja yang ngasih ke Luki. Kamu khusus untuk abang."
" Astagfirullah, Kai Bucin Abinawa. Tck … tck … bener bener kau ya."
" Weeek …."
Kiran hanya terkekeh geli melihat tingkah sang suami dan sahabatnya. Mereka pun bertiga makan dengan lahap. Tak lama makanan yang dipesan Luki datang.
" Bos … ini terus?"
" Buat nanti. Taruh aja di meja."
Luki mengangguk, ia pun kembali duduk dan melanjutkan makannya. Setelah selesai makan Kai pun kembali menuju meja kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaan. Namun sebelum itu dia meminta Kiran untuk istirahat di ruang istirahat miliknya di ruangan itu. Namun Kiran menolak.
" Aku di sini saja."
Kai mengangguk, membiarkan sang istri melakukan apa yang dia mau. Kai dan Luki kembali berkutat dengan pekerjaan mereka.
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Kai melirik istrinya di sofa, ternyata Kiran sudah tertidur. Kai pun bangkit dari duduknya dan menghampiri sang istri.
" Aku mindahin Kiran dulu Luk ke dalam."
" Ok … kasian juga tidur posisi duduk gitu, nanti badannya sakit."
Mengangkat tubuh kecil Kiran bukanlah perkara yang sulit. Kai langsung membawa Kiran ke ruang istirahat dan membaringkan tubuh kecil istrinya itu lalu menyelimutinya.
" Beneran aku kaget, kamu pergi pulang pulang bawa istri gitu."
" Dia sekarang yatim piatu. Diusir bibinya dari rumahnya setelah beberapa jam ibunya dikuburkan dan terakhir dipukul oleh sepupunya hingga pingsan. Bahkan lebamnya masih ada.
" Astagfirullaah … saudaranya kejam sekali."
" Tapi yang aku salut dia sama sekali tidak marah juga tidak dendam."
" Kai, wanita seperti itu jarang. Genggam terus dia dan lindungi lah … aku yakin perjalanan rumah tangga kalian tidak akan mudah. Apalagi banyak wanita yang mengejar mu."
Kai mengangguk paham. Semua yang diucapkan Luki adalah benar.
" Kau tahu Luk, ketika sampai di kota ini apa yang dia inginkan? Bukan hartaku bukan pengakuan dari orang bahwa dia adalah istriku? Yang dia inginkan adalah belajar?"
" Maksudmu?"
" Ya dia ingin belajar. Katanya dia ingin bisa mendampingiku dengan baik dan pantas. Padahal aku tidak perlu semuanya itu."
" Aku bisa mengerti jalan pikiran istrimu Kai."
" Iya aku juga tahu Luk, tapi aku tidak mau dia menjadi terbebani. Seolah olah menjadi istriku adalah kesulitan besar. Aku hanya ingin dia bahagia disisiku tanpa harus merasa sebuah kesulitan dan tekanan."
Luki terdiam, seorang Kai Bhumi Abinawa sudah dikenal banyak oleh masyarakat. Terlebih di dunia bisnis. Apapun mengenai hidupnya menjadi incaran publik. Popularitas Kai melebihi seorang artis. Meskipun Kai acuh, namun tak dapat dipungkiri banyak yang akan penasaran dengan kehidupan pribadinya.
" Apakah aku harus terus menyembunyikannya? Mengurungnya di sebuah sangkar emas?"
Kai mengusap wajahnya kasar. Sesaat ia merasa lebih senang hidup di desa Kiran. Di sana tidak ada yang tahu mengenai dirinya. Ia bisa melakukan apapun yang dia inginkan.
Luki menepuk pelan punggung sahabatnya. Baru kali ini Luki melihat Kai begitu khawatir akan sesuatu. Luki bisa merasakan Kai begitu mencintai istrinya itu.
" Hanya satu yang bisa aku katakan Kai, hadapi. Hadapi semuanya bersama-sama. Kalian akan bisa melalui setiap rintangan jika saling bergandengan. Mengurungnya tidak menyelesaikan masalah. Biarkan dia terbang bersamamu. Biarkan semua orang melihat kalian sebagai sepasang burung elang yang hebat."
Kai terdiam sesaat. Ia merenungkan ucapan dari sahabatnya itu.
" Baiklah Luk, pulanglah. Kasian Mira dan Laila pasti menunggumu."
Luki mengangguk, Kai tidak dalam mood yang baik untuk melanjutkan pekerjaan. Pria itu langsung masuk ke ruang istirahat. Melepas sepatunya dan naik ke tempat tidur yang memang dia siapkan di sana. Kai memeluk sang istri dan mencium kepala istrinya.
" Aku akan melindungimu. Mari menjadi kuat bersama. Genggam terus tanganku dan jangan sekalipun kamu lepaskan. Aku mencintaimu istriku Kirana Adzakia."
__ADS_1
TBC