
...HOT NEWS !!!...
...KECELAKAAN DIDUGA ADALAH CEO A-DIS COMPANY...
...MOBIL RINGSEK, KORBAN LUKA PARAH...
...DIDUGA MOBIL MILIK CEO A-DIS DITABRAK TRUK KONTAINER...
Berita mengenai kecelakaan tersebut langsung menyebar dan memenuhi portal berita online. Bahkan stasiun televisi menyiarkan langsung di TKP.
Namun di tangkapan kamera media tidak mendapatkan gambar korban sama sekali. Mereka mendapat keterangan dari saksi di lokasi bahwa korban sudah dibawa ke rumah sakit. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya darah yang tertinggal di jalan aspal.
Firhan tersenyum puas dengan berita tersebut. Ia sungguh yakin bahwa itu adalah Kai.
Kring ….
" Ya tuan … "
" Apakah kau yakin itu adalah Kai?"
" Tentu saja tuan, dia selalu mengemudikan mobilnya sendiri. Dan waktu mobilnya melintas saat itu saya melihatnya sediri tuan."
" Bagus, besok ayah dan adikmu akan ku bebaskan."
" Baik tuan terima kasih."
Tyas sedikit heran dengan raut wajah bahagia sang putra saat melihat siaran televisi. Tyas kemudian menghampiri sang putra dan duduk di samping nya.
" Kenapa kamu begitu senang Han?"
" Eh mom, itu besok Fira dan daddy akan bebas."
" Oh ya benarkah itu."
Firhan mengangguk, lalu menggenggam tangan sang ibu.
" Mom, keluarga kita akan berkumpul kembali. Aku jamin itu."
Di sisi lian kediaman Rama tengah heboh saat Kiran tiba tiba pingsan setelah mendengar berita di televisi.
" Sayang … bangun nak … yah bagaimana ini. Apa perlu memanggil dokter. Itu berita tidak benar kan yah."
Rama terdiam ia mengingat kembali perkataan sang putra untuk tidak percaya dengan berita apapun.
" Mom, itu berita, ayah yakin tidak benar. Tadi pagi sebelum pergi Kai sudah mengatakan kepada kita bukan?"
Sita mengangguk mengerti. Sekarang yang jadi PR adalah menantunya yang masih terbaring tidak sadarkan diri.
" Triplet coba kalian hubungi abang kalian. Sekalian tanya Om Luki dan Onti Mira. Ayah yakin mereka tahu."
Ketiga remaja kembar itu mengangguk lalu mengeluarkan ponsel mereka masing masing untuk menghubungi abang dan sahabat abang mereka itu.
Berkali kali mencoba namun nihil. Tidak ada di antara ketiga orang yang dihubungi menjawab.
__ADS_1
" Apakah tidak ada jawaban?"
Si kembar tiga menggeleng. Dalam hati Rama menaruh kekhawatiran. Namun ia menutupinya dengan sebuah ketenangan.
" Kai, ayah harap kamu benar benar tidak apa apa." Batin Rama.
" Yah coba hubungi dokter Dika. Siapa tahu beliau tahu."
Rama mengangguk mendengar usul sang istri. Sita masih terus berusaha menyadarkan menantunya dari pingsannya.
" Hallo dokter."
" Iya pak Rama."
" Dok apakah Kai ada di sana."
Di seberang sana dokter Dika terdiam. Hingga panggilan Rama menyadarkannya kembali.
" Dok … "
" Eh iya pak. Sebaiknya anda semua kesini saja agar bisa mengetahui kondisi Kai."
Nafas Rama sedikit tertahan. Pikiran buruknya memenuhi kepalanya.
" Baik, kami akan ke sana."
Rama memberi instruksi kepada seluruh keluarganya untuk segera menuju ke rumah sakit.
" Biar saya yang menggendong nyonya, tuan besar."
" Ya Allaah sayang, ayo sadar nak. Suamimu mommy yakin tidak akan kenapa napa. Kiran sayang … bangun nak."
Rombongan mobil Rama menuju ke rumah sakit. Di depan gedung rumah sakit sudah sangat banyak media yang sudah berkerumun. Para pencari berita berusaha mendapatkan kabar yang benar benar akurat.
Bagai mendapat durian runtuh, para pencari berita tersenyum lebar saat keluarga Joyodiningrat datang. Namun mereka tidak bisa mendekat sama sekali karena pengawalan yang sangat ketat.
Seorang reporter televisi bahkan menyiarkan secara langsung keadaan di rumah sakit. Mereka juga menyebutkan bahwa sang istri CEO A-DIS pingsan mendengar berita kecelakaan sang suami. Rupanya hal itu menjadi salah satu penjelas bahwa kecelakaan tersebut benar adanya.
Sampai di dalam rumah sakit Dokter Dika sudah menunggu. Ia langsung membawa keluarga Rama menuju sebuah ruang rumah sakit. Bee yang menggendong Kiran langsung menaruh nya di brankar yang dibawakan oleh perawat dan mendorongnya mengikuti dokter Dika.
" Dok … dimana Kai sebenarnya."
Dokter Dika tidak menjawab dia hanya tersenyum simpul dan terus berjalan didepan menunjukkan jalan.
Cekleek …
Sebuah ruangan yang sudah ditempati beberapa orang di sana. Dan salah satunya adalah orang yang sangat mereka kenal.
" Abang … abang baik baik saja."
Sita dan Rama langsung menghambur memeluk sang putra. Kai tersenyum lalu mengangguk.
" Aku baik baik saja yah … mom …"
__ADS_1
Triplet pun menghela nafas lega melihat sang abang baik baik saja. Sedangkan Kiran yang masih diam saja terbaring di brankar belum juga mendapat pemeriksaan. Hal tersebut membuat Sita sedikit heran. Biasanya Dokter Dika akan langsung memeriksa pasien yang ada di depannya. Tapi mengapa ini tidak, pertanyaan tersebut bersarang dipikiran Sita.
" Sayang, bangun aktingnya sudah selesai."
Seketika Kiran bangun dari tidurnya dan duduk lalu tersenyum jahil.
" Ini … ini apa maksudnya … kenapa begini?"
Sita sungguh bingung melihat sang menantu baik baik saja. Bukan hanya Sita tapi Rama dan juga triplet pun juga kebingungan melihat Kiran baik baik saja.
" Maaf mom, ayah dan adik adik. Kiran nggak benar benar pingsan kok."
" Maksudnya?"
Kiran hendak menjawab namun sudah didahului Kai. Ia menghampiri istrinya dan menjelaskan kepada semua orang.
" Ini abang yang minta. Sebelum abang berangkat abang menyuruh Kiran untuk pura pura pingsan setelah mendengar kabar kecelakaan itu di televisi. Abang yakin ayah atau mommy pasti akan menghubungi dokter Dika. Jadi abang pun meminta dokter Dika untuk menyuruh ayah dan semua orang kesini. Dimana pingsannya Kiran akan menjadi alibi kuat atas kecelakaan yang menimpa abang."
" Maaf ya mom … ayah … "
Kiran menunduk lesu, ia sungguh merasa bersalah melakukan hal tersebut. Sita pun menghampiri menantunya lalu memeluknya erat.
" Nggak apa apa mommy nggak marah. Mommy hanya sangat khawatir sayang. Tapi kamu tetap harus diperiksa!"
" Eeh … "
Kiran bingung dengan ucapan sang ibu mertua. Namun ia pasrah dengan keputusan mommy nya.
" Oh iya bang, terus orang yang di mobil siapa? Abang nggak mungkin mengorbankan seseorang kan."
Pertanyaan Abra mendapat kekehan pelan dari Kai.
" Itu bukan orang kok Ra."
" Terus?"
" Itu adalah sejenis manekin. Kami keluar saat ban truk kontainer itu meledak. Saat itu pengemudi kehilangan fokusnya. Dan kami langsung berperan sebagai pengemudi yang melintas saja. Dalam manekin yang dibuat menyerupai manusia asli itu di taruh kantong darah sehingga membuat darah di aspal tampak nyata."
Semua mencerna penjelasan Kai. Namun rupanya Akhza masih belum puas.
" Tapi bang kan ada foto tangan tuh di televisi, itu kok kayak nyata tangan manusia."
"Manekin itu kami pesan dari negara yang ahli dalam membuat manusia tiruan. Dan memang terlihat seperti manusia real. Itu pun kami langsung mengambilnya dan membawanya dengan ambulan agar tidak bisa dilihat lebih jeli. Dan manekin tersebut salah satu properti milik kami Wild Eagle sebagai alat untuk melindungi tuan kami."
Jawab seseorang yang dari awal telah bersama Kai.
" Rencana mereka harus berhasil, dan aku harus menjalankan rencanaku selanjutnya untuk memancing orang tersebut keluar."
Dokter Dika hanya bisa tertegun dengan setiap penjelasan Kai dan orang nya. Benar benar dunia action tidak bisa lepas dari kehidupan dokter Dika.
" Lalu apa rencanamu selanjutnya Kai."
" Tentu saja membuat mereka merasa puas dengan hasil karya mereka dokter."
__ADS_1
Dokter Dika masih tidak mengerti, begitu juga dengan yang lain karena rencana itu masih ada didalam kepala Kai Bhumi Abinawa.
TBC