My Billionaire Hubby

My Billionaire Hubby
MBH 84. Keserempet Motor


__ADS_3

Satu per satu anak buah Hugo jatuh tergeletak di lantai. Hugo sungguh sangat terkejut. Dia terlihat kebingungan. 


Kai begitu puas melihat wajah bingung dan panik Hugo. Pria itu berkali kali melihat kesana kemari memastikan apa yang tengah terjadi. Namun dia tetap tidak menemukan apapun.


" Bagaimana? Apakah seru bermainnya Hugo Gladwin atau aku harus memanggilmu Mr. X? Hahaha."


" Bangsat kau Kai, apa yang kau lakukan hah?"


Kai berjalan santai melewati Hugo dan segera melepaskan ikatan tali Luki. Beberapa anak buah Hugo yang masih bisa berdiri sama sekali tidak berkutik. Mereka bahkan tiba tiba merunduk sambil menutupi kepala dengan tangan.


" Kai, ini ada apa?"


" Biasa bantuan datang meskipun agak telat. Sorry ya Luk. Gue bener bener minta maaf."


" Jangan ngomong gitu, gue yang kurang waspada. Untung gue nyuruh Mira sama Laila ke rumah lo jadi mereka nggak ikut keciduk."


Kai mengangguk,  kalau Mira dan Laila ikut tertangkap Kai benar benar akan semakin merasa bersalah. Terlebih Laila masih 3 tahun. Kai tidak bisa membayangkan semua itu.


" Bajingan, apa yang kalian lakukan hah. Cepat hadang kedua orang itu brengsek!"


Hugo berteriak histeris. Ia sedikit kalap hingga ia menendang tubuh para anak buahnya.


Plok plok plok


Sebuah suara tepukan tangan bergema di rumah kosong tersebut. Lambat laun pemilik suara itu pun mendekat. Semua anak buah Hugo beringsut takut mengetahui siapa yang datang.


" Ada yang bisa menjelaskan kepadaku dengan apa yang kalian lakukan?"


Kai tersenyum, ia sungguh berterima kasih saat sang Queen mau bersusah payah untuk datang membantunya. Ya, yang datang adalah Silvya. Saat mengetahui orang orang yang dikirim oleh Kai, ia langsung mendatangi sendiri lokasi yang ditunjukkan oleh Drake. Terlihat Silvya begitu marah di sana, sedangkan anak buah Hugo hanya bisa menciut.


" Kenapa kalian diam saja hah? Apa perlu aku menghubungi King agar kalian mendapatkan hukuman!!" Silvya berteriak kencang.


" Ma-maf kan kami Queen. Ka-kami sungguh tidak tahu jika tuan ini adalah teman Queen. Kami hanya menerima permintaan tolong dari tuan Hugo tanpa melihat asal usul dari target," salah seorang memberanikan maju dan memberi penjelasan.


" Huh, dasar tidak profesional. Sepertinya aku harus memberitahu Arduino soal anak buahnya yang begitu bodoh. Sorry Kai mereka benar benar membuatku marah. Aku akan mengurus mereka setelah ini."


" Tidak apa apa Q, yang penting semuanya sudah selesai. Tapi aku masih bingung apakah orang yang kemarin di jalan tol dan menyerangku beberapa tahun silam adalah orang Arduino saudaramu?"


" Bukan, itu bukan orang orang Arduino. Kau tanyakan saja pada cecunguk satu itu. Dia yang memesan jadi aku yakin dia tahu."

__ADS_1


Glek


Hugo menelan saliva nya dengan kasar. Dia bukanlah orang yang bodoh, apa yang dia lihat dan dia dengar merupakan sebuah penjelasan bahwa Kai bukanlah orang sembarangan. Ada kekuatan besar di balik pria itu.


Namun lagi lagi karena keangkuhannya Hugo tidak akan tinggal diam. Ia masih mencari cara untuk bisa mengalahkan Kai.


" Mr. X sekarang beritahu aku kelompok mana lagi yang kau mintai bantuan untuk menghabisiku?"


" Heh, jangan harap ku memberitahumu bajingan. Memangnya siapa kau sampai sampai aku harus menjawab semua pertanyaan mu."


Kai membuang nafasnya kasar. Kini dia hanya saling berhadapan dengan Hugo karena ia meminta Bee untuk membawa Luki keluar terlebih dulu.


" Sudahlah, sekarang pilihlah kau mau tetap hidup atau aku harus membawamu ke balik jeruji besi?"


" Yang aku pilih kau mati dan membusuk."


Dor !


Bruk


" Kai!"


" Tidak Kai!"


Dor! Dor! Dor!


Tubuh Hugo jatuh terkena tembakan Silvya. Wanita berusia 45 tahun itu langsung menangkap tubuh Kai yang sudah terjatuh di lantai. Darah tampak keluar dari dada sebelah kanan nya.


" Kai, im so sorry. Tidak seharusnya aku meninggalkanmu," ucap Silvya.


" Hahaha, tidak apa apa. Aku yang sedikit ceroboh. Aku tidak memperhatikan saat Hugo diam diam mengambil pistol. Aku yang lalai," jawab Kai lemah


" Ya Allaah Kai, maafkan aku. Aku memang teman tak berguna. Semua gara gara aku," kini Luki sudah menangis.


Bee yang paham langsung menyiapkan mobil dan memasang sirine di atas mobilnya. Luki pun langsung menggendong Kai dibantu dengan Silvya. Silvya pun menghubungi suaminya di rumah sakit.


" Hallo mas, bersiap. Aku membawa Kai dia tertembak."


" Apa??? Baik aku akan bersiap."

__ADS_1


Wiuw wiuw wiuw


Suara sirine membelah jalan malam itu. Kai yang dipangku Luki masih bisa tersenyum melihat wajah panik Silvya.


" Q, ini seperti dejavu ya. Kau masih ingat pas aku tertembak saat menyelamatkan mommy dari penculikan. Hahaha ini seperti flashback moments."


" Shut up Kai. Berhentilah bicara. Darahmu banyak yang keluar. Kalau kau tidak diam maka akan ku sumpal mulutmu itu."


Kai tergelak mendengar ucapan galak Silvya. Ia sungguh senang melihat wajah Silvya yang begitu panik.


" Kau tidak akan bisa tertawa jika istrimu tahu kondisimu saat ini."


Kai langsung terdiam. Mulutnya terkunci rapat. Ia lupa, ia sungguh lupa. Saat ini dia bukan pria single yang bebas melakukan apapun. Dia kini adalah seorang suami dan calon ayah.


Silvya tersenyum lebar. Ucapannya mengenai istri membuat pria sok sok an itu langsung kicep.


" Bagaimana aku akan mengabari Kiran. Dia pasti akan menangis melihatku begini. Huftt," gumam Kai lirih.


Dengan kecepatan penuh dan sirine yang tiada berhenti membuat mobil yang dikemudikan Bee sampai lebih cepat dari waktu normal. Di depan ruang IGD Dika dan Nataya sudah menunggu.


Kai digendong turun oleh Luki. Pria itu hanya nyengir kepada dokter Dika.


" Huft, sudah berapa kali kau seperti ini hmm? Satu lagi dapat piring cantik pasti." ucap dokter Dika kepada Kai sambil menggelengkan kepalanya 


" Sayang, cepat ambil tindakan dulu." sergah Silvya."


Dokter Dika mengangguk, ia dibantu para perawatnya langsung membawa Kai menuju ruang penanganan. Nataya tidak ikut masuk karena jam prakteknya sudah habis dari tadi sore. Dia berada di luar untukmenemani sang mama.


" Abang kenapa lagi ma?"


" Biasa sok sok an. Nggak inget kalau di rumah ada istri dan calon anaknya yang nungguin. Gemes mama."


" Emangnya mama inget anak dan suami kalau lagi dinas luar begitu?"


Pletak 


Silvya menggetok kepala putranya itu. Sedangkan Nataya hanya bisa nyengir mendapat tatapan tajam Silvya sambil mengusap kepalanya yang sedikit sakit. Pemuda 19 tahun itu pun langsung memeluk sang mama dengan sayang. Ia tidak ingin mendapat ceramah panjang dari sang mama. 


" Bee, Luki, kalian pergilah ke rumah Pak Rama dan kabarkan ini. Bilang saja Kai keserempet motor."

__ADS_1


Bee dan Luki hanya saling pandang mendengar ucapan Silvya. Tapi mungkin alasan itu adalah alasan yang tepat agar mereka tidak panik.


TBC


__ADS_2