
Kuberi satu bab lagi ... Hayooo mana nih sawerannya hihihi.
Happy reading Readers kezayengaan...
...****************...
Firhan terus berusaha mencari cara bagaimana bisa membalaskan sakit hati keluarga nya terhadap Kai. Ia benar benar merasa harus melakukan sesuatu. Ia tidak mau hanya diam saja.
" Aku yakin daddy pasti punya orang yang membantunya selama ini. Tapi siapa ya? Dan kemana aku harus mencari?"
Kring … sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Firhan melihatnya sekilas, panggilan tersebut tidak memiliki nomor.
" Privat number … siapa ini?"
Tidak mau penasaran Firhan pun dengan yakin mengangkat panggilan tersebut.
" Hallo … "
" Dengarkan dan jangan banyak membantah. Lakukan semua perintahku jika kamu ingin keluargamu kembali seperti semula. Aku ingin kau melakukan ini … apa kau mengerti. Jika iya eksekusi besok dan bila berhasil adik dan ayahmu aku akan melepaskannya."
" Baik tuan saya akan melakukannya."
Tuuuut …
Panggilan itu terputus. Firhan tersenyum lebar. Meskipun dia tidak tahu siapa yang menghubunginya tapi dia cukup puas karena tuan itu juga menginginkan kehancuran Kai.
Dia akan menyusun rencana untuk melakukan eksekusinya besok sesuai keinginan tuan tersebut.
Sedangkan di kamar Kai sinyal di komputernya berbunyi. Kai yang tengah tidur mendekap tubuh istrinya seketika terbangun dan langsung beranjak dan sedikit berlari menuju ke meja komputernya.
" Gotcha … I got you. Sepandai pandai nya engkau bersembunyi dari ku pada akhirnya kau menunjukkan diri mu sendiri."
Kai kemudian sudah fokus dengan komputernya. Matanya menatap tajam ke layar monitor dan tangannya menari indah di atas keyboard. Ia terus mencari siapa orang itu sesungguhnya.
" Oooh jadi ternyata selama ini kau? Kau juga yang menginginkan nyawaku waktu itu bukan. Heh … tidak semudah itu Alejandro."
Kai menyeringai. Ternyata tanpa Firhan sadari, Kai telah menyadap ponsel milik Firhan. Sangat sangat rapi sehingga orang tersebut pun tidak menyadarinya.
" Hohoho Mr. X jadi begitu kah caramu menyembunyikan identitas mu? Baiklah. Ayo ikuti permainannya. Kau sudah tidak sabar ingin bermain rupanya. Bahkan kau menggunakan Firhan sebagai pionmu. Tck … tck … tck … haish … apakah kau sungguh kekurangan orang?"
Kai terus bermonolog di depan layar monitornya. Ia tidak sadar jika sang istri terbangun dan memperhatikan dirinya.
__ADS_1
Kiran terperangah, ia menemukan sisi lain suaminya. Kai begitu menakutkan saat ini. Setiap ucapan dan sorot matanya menampilkan kekejaman. Kiran sampai dibuat merinding dengan apa yang di lihat nya
" Bang … "
Kai membalikkan tubuhnya dan sesaat memalingkan pandangannya dari layar monitor ke arah sang istri. Tatapannya menjadi lembut. Mata tajam yang bagai pemburu itu tadi langsung bisa berubah secepat kilat.
" Lho … kebangun kah, apakah karena suara ku?"
" Tidak bang … aku hanya … "
Kiran menghentikan ucapannya, ia tidak ingin mengganggu suaminya yang sepertinya tengah serius dan sibuk itu. Tapi Kai tahu, istrinya menginginkan sesuatu. Ia pun menghentikan kegiatannya karena sebenarnya dia sudah tahu apa yang jadi rencana si Firhan dan Mr. X. Kai kemudian menghampiri sang istri dan membelai rambut panjang Kiran.
" Mau apa, coba katakan. Jangan sampai abang di musuhin sama ayah dan mommy heheheh."
" Maaf bang, aku nggak maksud untuk itu."
" Eh … abang cuma bercanda sayang. Baiklah istriku tercinta mau apa hmm … "
Kiran ragu, dia menunduk sejenak lalu kembali melihat wajah sang suami.
" Bang, aku mau makan kwetiau goreng sama martabak manis."
Kai membulatkan matanya, namun ia kembali menetralkan keterkejutannya itu. Ia melirik jam di dinding. Waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Dalam hati Kai bergumam apa ada jam segini yang berjualan. Namun karena ia tidak ingin membuat sang istri kecewa Kai pun mengangguk menyetujui keinginan sang istri.
Kiran ingin protes tapi ia akhirnya mengangguk setuju. Sebenarnya bukan itu masalah utamanya. Kai hanya tidak ingin terjadi apa apa dengan sang istri. Ia baru menyusun rencana dan baru akan dijalankan besok hari.
Keduanya keluar kamar dan menuruni tangga menuju ke ruang makan.
" Baiklah kamu tunggu di sini ya. Abang akan cari dulu apa yang kamu inginkan."
Kiran mengangguk, Kai sudah mengenakan jaketnya dan mengambil kunci motor. Ya, mengetahui Kiran suka naik motor bersamanya akhirnya kemarin Kai langsung membeli sebuah motor. Dan ternyata motor itu berguna juga saat saat seperti ini.
Selama sejam lebih Kai mencari apa yang menjadi keinginan sang istri dan beruntung ia mendapatkannya. Kai pun segera pulang. Sesampainya di rumah Kiram terlihat tertidur di meja makan. Kai tersenyum simpul, sesat ia kasihan juga kepada istrinya. Hari hari berat akan mereka hadapi, musuh mulai keluar dari sarangnya.
" Sayang … "
" Eh bang, sudah pulang. Apakah dapat."
" Alhamdulillah dapat, ini."
Mata kiran berbinar dia langsung mengambil piring dan memindahkannya martabak dan kwetiau tersebut. Kiran mulai menikmati makanan yang diinginkan. Kai tersenyum senang bisa memenuhi keinginan sang istri.
__ADS_1
" Sayang kenapa kamu jadi kepengenan gitu?"
" Nggak tahu bang, tiba tiba pengen aja gitu. Makasih ya bang. Maaf kalau ngerepotin abang."
" Nggak sayang, nggak ngerepotin. Abang cuma bingung aja kalau nggak dapet apa yang jadi keinginanmu."
Kiran langsung memeluk suaminya, ia sungguh bersyukur Kai begitu sabar menghadapinya.
" Makasih ya bang udah mau sabar ngadepin aku."
" Sama sama sayang, maaf kalau aku kadang kurang peka dengan apa yang kamu inginkan."
Rama yang hendak mengambil minum sedikit kaget dengan putra dan menantunya yang dini hari sudah ada di meja makan.
" Eh … kalian ngapain?"
" Ayah, ini lho Kiran minta martabak sama kwetiau."
" Ayah mau dong martabaknya."
Akhirnya Rama yang tadinya ingin mengambil minum malah mampir di meja makan ikut makan martabak bersama sang menantu.
" Wuih … tau gitu tadi belinya dua bang. Yang rasa pisang coklat."
" Eh … "
Kai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mengapa sang ayah jadi ikut ikutan seperti sang istri. Ia sungguh merasa aneh. Sedangkan Sita yang baru keluar kamar karena menyadari sang suami tidak ada terkejut melihat suaminya tengah ngemil.
" Mas … ya Allaah, jangan rusuh."
" Eh mom, nggak rusuh cuma ikutan Kiran aja. Mengenang masa lalu."
Sita menggelengkan kepalanya pelan. Ia benar benar merasa heran. Meskipun berusia setengah abad sang suami masih suka berkelakuan absurd.
" Jangan banyak banyak, ingat kadar gulanya."
Rama langsung berhenti setelah mendapat peringatan dari sang istri. Ia kemudian beranjak mengambil gelas mengisinya dengan air hangat dan meminumnya hingga tandas.
" Oh iya mom, ayah nanti setelah subuh Kai akan menyampaikan sesuatu. Apakah triplet sudah pulang?"
" Iya udah bang. Semalam sekitar jam 12 mereka sudah pulang. Ada apa bang. Apakah ada yang penting?"
__ADS_1
Kai mengangguk, Rama pun tahu ekspresi sang putra menampakkan sebuah keseriusan. Rama beranggapan pasti ada sesuatu yang urgent yang akan Kai lakukan. Rama paham saat putranya berbicara begitu.
TBC