
Holaaa readers, happy week end . 3 bab nih ... Hayoo othor mau dikasih apa sama readers hehehhe.
Happy reading ya. Selalu dukung othor. Terimakasih. Matursuwun sanget.
...----------------...
Firhan dan sang mommy mengunjungi Safira dipenjara. Wanita 25 tahun itu terlihat berantakan. Matanya begitu sembab, terlihat ia menangis semalaman.
" Mom … "
Safira langsung memeluk sang ibu. Firhan yang biasanya suka beradu mulut dengan sang adik pun menjadi iba melihat kondisi adik perempuannya.
" Aku akan berusaha mengeluarkan kamu dari sini. Tapi, kamu tahu berita diluaran sana sudah tidak terkendali, jadi kamu harus kerjasama dengan ku."
" Iya kak, aku akan ikut kata kakak."
Firhan pun gantian memeluk adiknya. Ia sungguh marah dengan Kai. Ia yakin semua ini pasti ulah Kai.
" Fir, katakan siapa yang menggambar rancangan rancangan baju mu? Kau harus mengatakan semuanya padaku jika kau ingin menyelamatkan karir dan hidupmu. Apa kau tahu Fir, daddy kita juga dipenjara."
" Apa?? Bagaimana bisa? Ada apa mom?"
Lidah Tyas sudah kelu, dia sudah tidak bisa berkata apapun. Firhan hanya membuang nafasnya kasar, kali ini benar benar di pundaknya sangat berat.
" Itu kita pikirkan nanti. Saat ini fokus dulu masalahmu. Ceritakan semuanya agar aku bisa menolongmu."
Safira menceritakan semuanya kepada sang kakak. Kini Firhan mengerti, saat kembali ke rumah nanti ia akan langsung bergerak.
" Mom, Fir, sepertinya kita harus menjual mansion kita."
" Tapi Han."
" Mom, kita tidak punya pilihan lain. Saat ini kita harus menjual semua aset yang kita miliki terlebih dulu. Suatu hari nanti kita pasti akan bisa membelinya. Kita juga harus bisa mengeluarkan daddy dari penjara."
Tyas mengangguk, ia paham. Firhan yang selama ini terlihat tidak peduli dengan keluarga kini tampil menjadi pelindung bagi keluarga nya.
" Mommy juga ada sedikit perhiasan, itu bisa kita gunakan juga Han."
" Bagus mom."
Firhan tersenyum, ia pun segera mengajak sang mommy pulang. Ia merasa harus segera bisa bertindak.
" Setelah kita menjual mansion kita akan kemana Han?"
Pertanyaan sang mommy membuat Firhan berpikir. Sejenak ia menimbang, apakah ia akan membeli sebuah rumah atau menyewa apartemen.
" Mom, sebaiknya kita membeli rumah saja yang kecil. Yang penting sementara ini bisa untuk kita tinggali."
Tyas mengangguk setuju. Nampaknya kehidupan berat sudah ada di depan mata mereka.
" Mom tunggulah di mansion dulu. Bereskan barang barang yang perlu dibawa. Aku akan menyelesaikan masalah Safira."
Firhan segera pergi keluar dari mansion dna menemui Nota di SJ Cloth.
__ADS_1
***
" Nit … Nita…!!"
Suara teriakan Firhan memanggil Nita begitu menggema. Nita pun terkejut, ia segera bangkit dari duduk nya dan berlari keluar.
Greb …
Nita memeluk Firhan dengan erat. Ia menumpahkan air matanya itu ke tubuh pria yang ada di depannya.
" Maafkan aku Han, seharusnya aku bisa lebih tegas terhadap Safira."
" Sudahlah bukan salah mu."
Firhan membimbing Nita untuk duduk di kursi. Ia menggenggam tangan Nita dengan erat.
" Lalu sekarang harus bagaimana?"
" Kau tahu kan Nit siapa yang membuat gambar gambar desain baju Safira."
" Iya Han tahu memangnya kenapa?"
" Mari temui dia dan minta di membalikkan fakta."
" Tapi Han, apa dia mau. Yang dilakukan Safira sungguh keterlaluan."
" Maksudmu?"
Nita pun menceritakan semuanya kepada Firhan apa saja yang telah Safira lakukan. Firhan seketika mengusap wajahnya kasar. Tampaknya ini akan menjadi jalan buntu bagi Safira.
Nita mengangguk, keduanya pun menuju rumah orang yang di maksud Nita. Butuh waktu sekitar satu jam setengah untuk sampai disana. Firhan begitu terkejut saat tahu di mana lokasi orang itu berada.
" Kau yakin Nit di sini tempatnya?"
" Tentu saja Han aku yakin. Tidak hanya sekali dua kali aku ke sini."
Firhan berkali kali mencoba untuk percaya dengan apa yang dilihatnya. Tempat itu adalah lingkungan yang bisa dikatakan kumuh. Bahkan mereka pun harus memarkirkan mobil mereka sedikit jauh, lalu mereka harus berjalan kaki menuju lokasi yang dituju.
Nita dan Firhan sampai di sebuah rumah, mungkin tidaklah pantas tempat itu dikatakan rumah. Sebuah bangunan 4×4 yang hanya terdiri dari beberapa triplek yang diapit dengan kayu. Bahkan atap pun hanya menggunakan baliho baliho bekas kampanye sebuah partai.
" Apa benar ini tempatnya?"
Nita mengangguk, ia pun mencoba mengetuk pintu tersebut. Berkali kali Nita mengetuknya namun tidak ada jawaban dari si empunya rumah.
" Mbak nyari dia?"
" Iya dimana ya buk?"
" Beberapa hari yang lalu ada yang membawa nya pergi mbak."
" Ibu tahu siapa yang membawa nya pergi dan kemana?"
" Tidak mbak, tidak tahu"
__ADS_1
" Oh ya sudah buk, terimakasih."
" Sial … "
Firhan mengumpat kesal. Ia merasa dia sudah didahului. Semuanya akan tambah buruk jika Kai yang lebih dulu membawa orang ini, begitulah yang dipikirkan Firhan.
" Sekarang bagaimana Han?"
" Kita kembali saja dulu Nit"
Mereka kembali dengan tangan kosong. Tidak ada satupun yang mereka dapatkan.
🍀🍀🍀
Di Rumah Sakit Mitra Harapan Kai tengan berada di ruang rawat seseorang bersama dengan dokter Dika dan dokter Bisma. Ia menanyakan keadaan orang yang tengah terbaring di hospital bed tersebut.
" Bagaimana dokter Bisma keadaannya."
" Sebenarnya tidak cukup baik karena kaki nya tidak segera ditangani dengan baik setelah peristiwa terjadi?"
" Apakah masih bisa pulih."
" Bisa dengan operasi dan terapi."
" Baik lakukan sebaik mungkin dokter."
Bisma dan Dika mengangguk lalu pamit keluar. Kai masih berada di sana, ia sungguh kasihan melihat orang tersebut.
" Terimakasih tuan sudah menolong saya."
" Jangan bicara seperti itu, berapa umurmu?"
" 19 tahun tuan."
" Apa kau tidak punya orang tua, Topan?"
Orang yang bernama Topan itu menggeleng pelan.
" Saya terlahir di jalan tuan, dan besar di jalan. Saya tidak tahu siapa dan dimana orang tua saya berada?"
" Lalu bagaimana kamu bisa mengenal Safira?"
Pemuda itu membuang nafasnya kasar. Ia mengingat bagaimana ia mengenal Safira.
" Saya waktu itu sedang memulung tuan terus saya melihat ada lomba membuat desain baju. Saya akhirnya ikut, di sana dikatakan kalau menang akan mendapat hadiah 5 juta rupiah. Singkatnya saya menang dan saya diminta datang ke butik tersebut. Tapi sampai di sana saya tidak mendapatkan hak saya. Nona itu malah meminta saya menjadi penggambarnya dengan janji akan memberi saya 500 rb setiap gambar. Saya setuju saja karena menurut saya itu adalah pekerjaan bagus, tapi lambat laun uang itu tidak lagi saya dapat."
Topan menghentikan ceritanya. Ia mengambil nafasnya dalam dalam. Ada rasa ngeri mengingat kejadian tersebut.
"Saya pun meminta hak saya, namun bukannya saya mendapatkan uang tapi saya malah dipukuli oleh orang orang suruhan nona itu. Nona Safira menyuruh orang orang itu memukuli kaki saya, katanya biar saya tidak bisa pergi kemana mana. Setelah itu nona Safira menyuruh saya terus menggambar dengan gaya yang berbeda beda sesuai pesanannya. Saya sama sekali tidak dikasih uang. Hanya setiap 2 atau 3 hari sekali ada yang mengantar makanan serta obat ke tempat saya."
Kai sungguh geram dengan semua cerita Topan. Ia pikir Safira mencuri desain dari ajang ajang kontes, ternyata malah dari seorang remaja miskin dan yatim piatu. Kai sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita itu.
Mengapa dia tidak memberdayakan keahlian Topan dengan baik, malah sebaliknya ia memanfaatkan orang lemah dan menganiaya nya.
__ADS_1
Menurut laporan dokter Bisma, Topan juga didiagnosa memiliki penyakit lambung akut dan paru paru basah. Hal tersebut membuat Kai semakin iba dengan pemuda tersebut.
TBC