
Hay hay readers kesayangan. 4 Bab nih. Othor mau dikasih apa sama readers heheheh. Happy reading ya.
...****************...
Di sudut kota tampak seorang pria yang tengah meringis kesakitan. Dia tengah diobati luka lukanya namun tanpa diberi anestesi.
" Brengsek!! Kalian apakan aku. Jika begini mana bisa aku sembuh. Yang ada aku akan mati kesakitan!" jerit pria tersebut.
Namun semuanya bergeming. Malah pria tersebut langsung ditutup mulutnya agar tidak banyak bicara. Dan sungguh berhasil, peluru yang dilepaskan Silvya di kedua tangan dan kedua kakinya bisa dikeluarkan. Ya, pria itu adalah Hugo. Hugo dibawa ke tempat Jason. Jason adalah seorang dokter sahabat dari silvya dan Arduino. Dan Jason diperintahkan oleh Silvya untuk mengobati Hugo tanpa memberinya anestesi. Kejam memang, tetapi apa yang dilakukan Hugo lebih lah kejam.
" Shhhh aah. Kalian semua bajingan!"
" Berhentilah berteriak tuan. Seharusnya kau bersyukur Q tidak melempar anda ke jalanan. Dengan keadaan penuh luka. Prediksi saya anda hanya akan kehilangan kemampuan dari kedua tangan anda. Tapi kaki anda masih oke. Mungkin dengan pengobatan ahli, tangan anda akan kembali berfungsi setidaknya setelah 5-10 tahun ke depan."
Jason memberikan penjelasan keadaan mengerikan Hugo dengan sangat santai. Bahkan tidak ada wajah wajah tegang sama sekali. Kini Hugo tahu bahwa Kai adalah orang yang berbahaya.
Sial rupanya aku terlalu meremehkan pria itu. Dia mempunyai jaringan yang sangat luas. Sebenarnya siapa dia itu, gumam Hugo lirih.
Namun sepertinya ketakutannya saat ini sia sia saja. Pasalnya saat ini Hugo terbaring lemah di brankar merasakan luka yang bersarang di tubuhnya. Beruntung dia diberi obat untuk diminum. Paling tidak dia bisa tidur dan sejenak menetralkan rasa sakit yang luar biasa.
Di tempat lain seorang wanita berteriak histeris, karena saat terbangun ia berada di sebuah ruangan dingin berdindingkan jeruji besi. Ya dia adalah Soraya.
" Lepaskan. Lepaskan saya. Kalian nggak tahu siapa saya. Saya adalah wanitanya Tuan Kai."
" Tck, berisik. Kalau kamu wanitanya tuan Kai berarti saya adalah istrinya tuan Rama. Dasar tukang halu."
" Diam kamu, aku benar benar wanitanya Kai. Kami baru saja bertemu tadi."
" Dasar wanita gila!"
Soraya tergugu. Ia sungguh tidak mengerti bagaimana dirinya bisa ada di dalam penjara. Padahal seingatnya, di tengah duduk bersama Kai.
Soraya mengacak rambutnya dengan kasar. Ia sungguh terlihat berantakan. Beberapa kali di menangis dan meraung minta dikeluarkan. Namun sipir penjara bergeming. Saking capeknya menangis, Soraya pun akhirnya memilih duduk diam. Ia menekuk lututnya dan menenggelamkan kepalanya. Wanita Cantik dan seksi itu hanya diam tanpa bisa melakukan apapun. Ia merasa ada yang salah dengan semua ini.
__ADS_1
" Tunggu, apa aku dijebak? Apa ada seseorang yang tahu bahwa aku terlibat human trafficking? Gawat, matilah aku jika semua itu benar. Aku harus berpikir, aku tidak ingin mendekam di sini," monolog Soraya dalam hati.
Soraya kemudian berdiri, ia merobek gaun panjangnya. Kemudian ia menangis lalu tertawa terbahak bahak. Rupanya Soraya tengah berakting menjadi orang gila. Namun lagi lagi sipir penjara acuh karena sebelumnya sudah diberi tahu bahwa Soraya adalah orang yang normal dan tidak memiliki riwayat penyakit mental sebelum nya.
" Sudah diam!! Jangan pura pura gila! Kau tidak akan pernah bisa lepas dari jerat hukum," ucap salah satu sipir penjara yang sudah muak dengan tingkah Soraya.
🍀🍀🍀
Semua orang dari kediaman Joyodiningrat berlari menuju ruang rawat Kai. Waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Bahkan mereka semua hanya memakai piyama.
Kiran sudah menangis sepanjang perjalanan. Ia tidak bisa berpikir apapun saat ini. Setelah mendengar suaminya di rumah sakit Kiran merasa seluruh tulang nya seakan lepas dari tubuhnya. Ia langsung terjatuh lemas. Tentu keadaan tersebut membuat Rama dan Sita panik. Sang menantu tengah hamil, Kiran tidak boleh stress.
Dika sungguh terkejut melihat seluruh keluarga Joyodiningrat itu berlarian menuju IGD.
" Dokter bagaimana keadaan suami saya."
" Dokter Dika, Kai bagaimana? Apakah ada yang serius?"
" Dok abang gimana Dok?"
Dika yang tengah berdiri bersama Nataya sang putra dibuat sedikit bingung dengan pertanyaan pertanyaan seluruh keluarga Kai.
" Bapak, ibu, dan semuanya mohon tenang ya. Saya Akan membawa anda semua ke ruangan Kai."
Tanpa banyak basa basi, dokter Dika langsung membawa seluruh keluarga Kai ke ruangan si pasien. Ia tahu bahwa semua orang mengkhawatirkan pria itu. Bukan hanya mereka, bahkan istri nya dan putranya juga mengkhawatirkan Kai.
Ceklek …
Kiran langsung berlari menghampiri sang suami. Kai membelalakkan matanya, ia sungguh terkejut melihat reaksi spontan sang istri.
" Sayang, hati hati."
" Huaaa … abang! Kan udah dibilangin hati hati! Abang ngeyel! Abang senang ya lihat aku nangis nangis gini!"
__ADS_1
Semua orang melongo, hanya Kiran yang bisa memarahi Kai dimana Kai hanya diam dan pasrah dimarahi oleh istrinya. Terlebih pria itu sekarang terbaring luka di atas brankar.
Sebenarnya Kiran tidak marah, dia hanya terlalu khawatir. Rama dan Sita menghela nafas lega begitu juga dengan triplet.
" Syukurlah abang tidak kenapa napa? Oh iya dokter. Bagian mana yang terserempet?"
Uhuk …
Pertanyaan Rama membuat dokter Dika sedikit terkejut. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tapi kemudian ia kembali tenang. Dokter tersebut menarik nafasnya dalam dalam dan mengeluarkannya perlahan.
" Begini pak Rama sebenarnya Kai tidak terserempet kendaraan. Kai terluka karena tertembak."
" Apa???!"
Bruk!
Semua langsung tertuju ke arah suara orang terjatuh secara bersamaan. Betapa terkejutnya semua orang saat mereka tahu yang terjatuh pingsan adalah Kiran. Kai pun langsung melompat ke bawah dan hendak mengangkat tubuh Kiran.
" Kai stop lukamu baru dijahit nanti akan terbuka."
Namun Kai tidak peduli dengan penuturan sang dokter. Ia tetap nekat mengangkat tubuh istrinya ke atas brankar.
" Sayang, bangun sayang. Maafin abang ya. Bangun Kiran."
Dokter Dika langsung menghampiri Kiran, ia memeriksa istri Kai itu sejenak
" Dia hanya kelelahan dan stress karena terkejut."
Namun seketika pandangan Dika tertuju pada lengan Kai. Terlihat darah merembes di sana. Dokter itu pun membuang nafas nya dengan kasar.
" Huft, jika pasienku semua sama seperti mu maka aku memilih pensiun dini. Kai, kau jangan seenaknya sendiri. Kau baru saja selesai operasi!!"
Teriakan Dika sukses membuat semua orang terkejut. Dokter yang terkenal dingin dan terlihat sabar itu bisa berteriak seperti itu.
__ADS_1
Kai hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia menyadari kesalahannya. Dokter Dika pun meminta Nataya mengambilkan obat dan perban untuk mengganti perban luka Kai. Semua orang terdiam di sana hingga Kai meminta semuanya kembali pulang dan membiarkan Kiran saja yang tetap tinggal di sana.
TBC