My Billionaire Hubby

My Billionaire Hubby
MBH 71. Mengunjungi


__ADS_3

Luki pagi pagi sekali sudah berada di kediaman Joyodiningrat. Maklum Bos memanggil maka  dia harus selalu ready.


" Jadi sekarang apa lagi."


" Tolak semua klien yang datang. Selesaikan saja yang kemarin."


" Kau tidak bercanda kan Kai?"


" Tidak Luk, aku sungguh sangat serius."


Kai mengerti kekhawatiran dari raut muka Luki. Namun seketika ia menepuk bahu temannya itu.


" Tenang Luk, kau tidak akan bangkrut hanya karena tidak  punya klien dalam beberapa saat."


Kai menaik turunkan alisnya saat mengatakan itu. Luki pun mengangguk paham. Luki tahu side job sang sahabat sebagai Mr. Sun dan berapa penghasilan pria di depannya itu. Bahkan jika Kai tidak bekerja mengembangkan A-DIS sekalipun ia tetap bisa menghidupi keluarganya hingga turunan turunan nya.


" Baiklah aku akan menuruti apa mau bos."


" Luk kita harus melakukan ini untuk mengecoh nya."


" Oh iya Kai, apa kau mengingat Soraya?"


Kai mencoba mengingat-ingat nama yang disebutkan oleh Luki. Kai merasa tidak asing dengan nama itu.


" Bentar, Soraya. Soraya Yocelyn, ya aku ingat. Dia kan sekertarisku."


" Nah itu, betul. Sekretaris yang mencoba menggoda mu dengan membuka semua bajunya dan nyaris telanj*ng. Dan kau sama sekali tidak merespon. Jujur waktu itu aku sesaat menganggapmu tidak normal. Disuguhi wanita cantik dan seksi seperti itu kau sama sekali tidak berhasrat. Aku khawatir kau belok waktu itu."


Kai menatap tajam kepada sang sahabat sekaligus asistennya itu. Terkadang Luki memang bisa menyebalkan dengan kata kata yang spontan keluar dari mulut nya.


" Brengsek kau Luk. Jelas jelas aku normal. Nyatanya hasratku selalu muncul saat aku bersama istriku tuh nyatanya perut Kiran mulai membuncit akibat hasil karya ku."


Luki memutar bola matanya malas. Mode bucin Kai seketika aktif.


" Oh iya kenapa itu si Soraya Soraya."


" Dia jadi kekasih Hugo. Bahkan ia kemarin mengenalkan ke publik."


" Hmmm sudah kuduga, kemarin aku sempat melihat kamera yang berhasil direkam oleh Akhza. Dan aku merasa tidak asing dengan wanita di samping Hugo tersebut."


Luki terdiam, ia mencoba menyimpulkan sesuatu. Ia sungguh tahu Soraya begitu menggilai Kai. Tidak hanya sekali dua kali wanita itu menggoda Kai namun Kai sama sekali tidak peduli. Puncaknya saat Soraya masuk ke ruang istirahat Kai hanya dengan mengenakan pakaian yang sangat tipis. Kai murka dan memecat Soraya waktu itu juga. Tidak ingin mendapat hal yang serupa, akhirnya Kai meminta luki mencari sekretaris pria.


" Kai, apa dia bekerja sama dengan Hugo untuk menjatuhkan mu? Mungkin lho ya ini, mungkin dia sakit hati padamu karena sudah kau tolak dan kau pecat." 


" Bisa jadi. Baiklah akan akan urus di rumah. Luk, ada satu lagi tugas. Tolong siapkan berkas pengajuan adopsi untuk Topan. Dia akan jadi anak mommy dan ayah. Setelah itu urus kepulangan dari rumah sakit. Nanti itu aku akan bicara langsung sama dokter Dika."


" Siap bos."


Luki mengangguk patuh lalu berpamitan untuk segera ke perusahaan. Kai membuang nafasnya perlahan. Hari ini paling tidak beberapa step sudah dia lakukan.

__ADS_1


" Sekarang saatnya memberikan bukti yang sebenarnya mengenai kejahatan keluarga Suryoprojo. Jangan harapa kalian bosa lepas. Dan lau Firhan jangan merasa dirimu bersih. Aku tahu apa yang kau lakukan selama ini."


Kai menyeringai. Hari ini ia akan bekerja keras. Tapi sepertinya ia akan menahannya dulu. Ia harus melihat sang istri yang masih berada di kamar. Ya Luki datang pukul 05.00 tadi. Dan saat ini masih pukul 05.30. Kai sedikit cepat menaiki tangga dan masuk ke kamar.


" Sayang!"


Kai sungguh terkejut melihat Kiran. Usia kehamilan Kiran yang sudah menginjak 2 bulan membuat tubuh Kiran semakin berisi. Bahkan bulatan kenyal itu terlihat penuh.


" Ke-kanapa pakai baju seperti ini pagi pagi."


Bukannya menjawab Kiran malah menghampiri Kai dengan langkah yang begitu anggun. Ya pagi ini Kiran memakai baju dinasnya yang berwarna hitam. Sungguh kontras dengan kulitnya. Kirna sendiri tidak tahu, pagi ini ia ingin sekali menggoda suaminya.


Mata hazel Kai terus berkedip melihat pemandangan indah di depannya. Apalagi saat tangan Kiran mulai menyentuh dada bidangnya, seketika hasratnya langsung melonjak.


" Abang ... " 


Panggilan Kiran sungguh menggoda. Kai berpikir mungkin ini adalah lonjakan hormon wanita yang sedang hamil.


" Hmmm, apa cinta?"


" Aku mau."


" Dengan senang hati ratu ku. Jika sang istri meminta sang suami tidak boleh menolak, dosa."


Keduanya terkekeh geli. Kiran merasa itu sebenarnya adalah kalimat miliknya. Kai langsung menarik baju tipis kurang bahan itu hingga terlepas dari tubuh sang istri hingga hanya menyisakan kain berbentuk segitiga saja. Kai berjongkok lalu mengusap lembut perut istrinya dan menciumnya berkali kali.


" Abang apa an sih." Kiran terkekeh geli melihat kelakuan sang suami.


Kai pun membimbing Kiran ke ranjang  ia duduk lalu memangku sang istri. Ia masih mengusap perut Kiran. Namun lambat laun usapan itu naik ke atas dan bersarang di bukit kenyal yang terlihat lebih kencang. Kai meremas pelan namun sudah membuat Kiran mendesis. Kai langsung ******* bibir sang istri sambil terus memainkan bulatan kenyal itu.


Tidak ingin melihat istrinya merasa tertekan perut nya Kai langsung membaringkan istrinya di ranjang dan memulai kegiatan pagi itu dengan olahraga yang pastinya menyenangkan bagi keduanya. 


Kini Kiran kembali terlelap setelah Kai memandikannya. Padahal ia belum sarapan. Kai pun berinisiatif untuk turun ke dapur mengambil makanan.


" Lho bang, mana Kiran."


" Tidur mom."


" Eh … "


" Kecapekan habis olahraga."


" Bang jangan sering sering. Inget masih trimester awal."


" Nggak mom, abang ngerti kok. Orang bentar aja dia udah tepar."


Kai terkekeh geli mendengar ucapan sang putra. Kai langsung mengambil susu khusus untuk istrinya dan membawa sarapan ke kamar.


🍀🍀🍀

__ADS_1


Seperti yang dibilang kemarin, hari ini Sita dan Rama pergi ke rumah sakit untuk bertemu dengan topan. Sebelumnya Kai sudah menghubungi dokter Dika untuk mengkonfirmasi kedatangan kedua orang tuanya.


" Sebelah sini Pak Rama dan Bu Sita."


Dokter Dika mengarahkan kedua orang tua Kai itu menuju ruang rawat Topan.


Ceklek …


Dokter Dika membuka pintu, di dalam topan rupanya tengah diperiksa oleh Dokter Arga. Dokter yang dulu merupakan asisten dokter Dika.


Rama dan Sita sungguh merasa sedih melihat kondisi Topan. Meskipun terlihat jauh lebih baik namun naluri Sita sebagai seorang ibu sungguh terenyuh melihat pemuda itu.


" Pagi Topan."


" Pagi Dokter Dika."


" Topan perkenalkan ini pak Rama dan Bu Sita. Beliau berdua ini adalah orang tua Kai."


Topan hendak bangkit namun dihalang oleh Rama. Rama dan Sita pun mendekat ke brankar milik Topan.


" Assalamualaikum Pak Bu."


" Waalaikumslama nak."


Topan meraih tangan Rama dan Sita bergantian dan menciumnya dengan hikmat. Rama mengusap kepala Topan dengan lembut. Ingatan Rama tertuju ke anak kembarnya. Usia mereka tidak terlalu jauh tapi kondisinya sungguh amat berbeda.


Sita dan Rama menarik kursi dan duduk di sebelah brankar. Dokter Dika pun meninggalkan mereka agar bisa berbicara dengan leluasa.


" Apakah kondisimu sudah lebih baik."


" Sudah Bu, semua berkat abang Kai. Kalau bukan beliau entah saya masih bisa hidup atau tidak."


Sita sungguh terharu, putranya benar. Anak yang ada di depannya ini adalah anak yang baik.


" Nak, apakah kau mau menjadi anak kami?"


" Iya, Topan. Maukah kamu ikut kami pulang ke rumah kami dan menjadi bagian dari keluarga kami. Kami akan mengadopsi mu."


Topan sungguh terkejut bisa mendapat perawatan seperti ini saja sudah sangat luar biasa. 


" Tapi pak buk, saya … "


" Ikutlah nak, kamu diluaran sendiri. Mari ikut kami. InsyaAllaah kami bukanlah orang tua yang jahat. Kamu berhak mendapatkan keluarga, dan kami benar benar ingin menjadikanmu keluarga kami."


Topan tergugu, ia sungguh bersyukur. Tangisnya pecah, ia pun mengangguk setuju. Ini benar benar kilas balik dalam hidupnya. Bagaimana bisa mereka berkata bukanlah orang tua jahat? Melihat kelulusan kedua orang tua di depannya itu sudah bisa membuat Topan menilai bahwa mereka adalah orang baik. 


Rama langsung berdiri dan memeluk pemuda itu. Ia mengusap punggung Topan dengan lembut. Ia sungguh merasa memeluk putra putra nya sendiri.


TBC

__ADS_1


__ADS_2