
Dua minggu berlalu semenjak kejadian Safira yang diberi ancaman oleh Kai. Rencananya besok Kai akan mengumumkan di perusahaannya bahwa Kiran adalah istrinya. Rencana itu disampaikan kepada seluruh keluarganya.
" Ayah, Mom, Besok abang akan mengenalkan Kiran kepada seluruh karyawan A-DIS. Bagaimana menurut ayah dan mommy."
Rama dan Sita saling pandang, tentu saja mereka setuju dengan keputusan Kai. Keduanya mengangguk. Begitu juga dengan si kembar.
" Baiklah kalau semuanya setuju maka Ayah, Mommy, Akhza, Abra dan Ana besok juga akan ikut ke perusahaan. Sekalian mau buat acara syukuran."
" Lalu acaranya jam berapa Bang?"
Rama menanyakan hal tersebut agar semuanya bisa bersiap. Iya juga akan membawa Roni beserta istrinya ke perusahaan Kai.
" Sebelum makan siang Yah. Ayah, bisakah Kai berbicara dengan ayah berdua?"
Rama mengerutkan kedua alisnya. Tidak biasanya Kai meminta hal seperti itu. Biasanya apapun yang akan dibicarakan maka akan dibicarakan di depan semua anggota keluarga. Namun Rama tetap memenuhi keinginag putranya itu.
" Baik ayo ikut ayah ke ruang kerja."
Rama berdiri dari duduknya dan menuju ke ruang kerja diikuti oleh Kai. Keduanya duduk di sofa yang ada di dalam.
" Ada apa bang, sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu?"
Hah … Kai membuang nafasnya dengan kasar, ia sangat berat menyampaikan hal ini. Tapi bagaimanapun ia harus mengatakannya. Dan pertama yang harus tahu adalah sang ayah.
" Yah, Kai kan sudah menikah. Kai ingin belajar membina rumah tangga Kai sendiri dengan cara pisah rumah dari ayah dan mommy. Bukannya Kai tidak ingin tinggal bersama, tapi Kai benar benar ingin belajar hidup berdua dengan istri Kai. Kai sudah memikirkan ini sangat lama. Mulai dari Kai menikahi Kiran, Kai sudah berpikir ke arah ini. Apakah ayah mengizinkan, dan apakah kira kura mommy memperbolehkan Kai untuk keluar dari rumah ini?"
Rama tersenyum kecil, ia tahu saat ini pasti akan datang. Hal yang berat dilakukan oleh orang tua yakni
melepaskan satu per satu anak mereka untuk menjalani kehidupan masing masing. Rama mengambil nafasnya dalam dalam dan membuangnya perlahan.
" Bang, ketika kamu berumah tangga maka kamu adalah kepala keluarga. Kamu nahkoda kapal mu, jadi kemana kapalmu mau dibawa semua itu terserah padamu. Ayah akan mendukung keputusan abang, semua yang menikah pasti ingin hidup mandiri. Kalau mommy, pasti mommy akan setuju. Tinggal menghadapi adik adikmu saja nanti."
Rama terkekeh geli jika mengingat betapa protektifnya si kembar dan bahagianya mereka saat mereka mengetahui Kai menikah. Terlebih Ana, si bungsu itu merasa memiliki teman baru. Selama 2 minggu ini Ana banyak menghabiskan waktu bersama Kiran. Mungkin juga karena usia mereka tidak terlalu jauh terpaut sehingga keduanya menjadi cepat akrab.
" Terimakasih yah, abang minta tolong untuk menyampaikan hal ini ke mommy. Tapi nanti Kai juga akan menyampaikan secara langsung ke mommy."
__ADS_1
Kai pun pamit undur diri. Tes … air mata Rama luruh saat Kai sudah keluar dari pintu ruang kerjanya. Rama tergugu di dalam sana, ia memang terlihat bijak saat menjawab keinginan Kai namun pria paruh baya itu tidak dapat memungkiri bahwa ia kehilangan separuh dari hatinya.
Sedangkan di depan pintu, Kai menyandarkan tubuh nya. Air mata nya pun luruh. Ia sebenarnya berat meninggalkan rumah ini. Rumah yang sudah ia tinggali 20 tahun lebih itu. Namun, ia pun ingin belajar membina rumah tangganya dengan mandiri.
Kai kembali mengingat pertemuannya dengan Rama, saat itu usianya baru 6 tahun. Meskipun ia masih kecil namun Kai dapat merasakan getaran aneh dalam hatinya saat melihat pria yang bernama Rama itu. Hatinya semakin terpaut bahwa Rama adalah pria yang mengantarkan dirinya ke dunia ini bahkan memberikan nama kepadanya.
Kai terisak mengingat semuanya. Ia menghapus air matanya lalu berjalan ke kamarnya.
Ceklek …
Kiran sedikit merasa heran melihat mata sang suami sembab. Ia pun meraih tangan suaminya dan mengajaknya untuk duduk.
" Ada apa bang, apa abang menangis?"
" Tidak ada apa apa sayang, kembalilah tidur."
" Bang, kita sudah menikah tidak ada salahnya berbagi rasa."
Kai sejenak terdiam, ia memang butuh mencurahkan rasa hatinya itu.
Kiran memicingkan matanya, perkataan suaminya sedikit ambigu membuatnya harus bisa mencerna lebih.
" Aku tidak mengerti maksud abang."
" Kita kan sudah menikah, apa kamu punya keinginan untuk memiliki rumah sendiri. Rumah itu hanya akan ada kita."
Kiran tersenyum simpul, kini ia tahu apa maksud sang suami.
" Bang, bersamamu aku menemukan rumah, keluarga, saudara, dan sahabat. Kemanapun kamu akan pergi aku akan ikut karena kamu adalah rumahku. Jika ditanya apakah aku ingin memiliki rumah sendiri, pastilah jawabannya aku mau. Tapi aku tidak mau memisahkan keluarga yang sudah terjalin lama. Aku tidak mau kamu melakukannya dengan berat hati dan membuat hati semua orang sakit."
Kiran menghentikan ucapannya sejenak. Ia membelai wajah tampan sang suami dan mengecupnya singkat.
" Bang, kita baru kembali ke rumah masa iya harus pergi. Kasihan mommy, pasti mommy masih rindu dengan abang. Aku tahu, mommy begitu menyayangi abang. Aku merasa tidak tega jika meninggalkan mommy. Tapi jika suatu hari nanti memang sudah waktunya kita untuk memiliki rumah sendiri maka pasti aku akan siap. Saat ini kita disini saja dulu ya."
Greb …
__ADS_1
Kai langsung memeluk sang istri. Ia sungguh bersyukur Kiran berpikiran begitu dewasa.
" Terima Kasih, terima kasih sayang. Aku sungguh beruntung mendapatkanmu."
Kai melonggarkan pelukannya, ia menatap lekat manik mata sang istri. Kai membelai lembut wajah Kiran yang begitu meneduhkan.
Kai pun langsung meraup bibir mungil sang istri. Keduanya kembali mereguk kenikmatan dunia sebagai suami istri. Keduanya saling menyalurkan cinta dengan sentuhan sentuhan lembut, hingga mereka menuju puncak nirwana.
" Terimakasih sayang, terimakasih untuk setiap malam indah yang kau beri untukku."
" Sama sama bang, terimakasih juga kamu menjadikan aku wanita yang selalu bahagia."
Kai memeluk Kiran di bawah selimut dengan keadaan masih sama sama polos Ia menciumi bahu sang istri, hingga membuat Kiran menggeliat.
" Bang geli ih … "
" Hmm masa sih. Kalau ini geli apa enak."
Kai meremas bulatan kenyal milik kiran dan memilin puncak nya.
" B-bang …."
" Sayang, aku mau lagi."
Kiran membelalakkan matanya saat dibawah sana milik Kai sudah kembali on fire.
" Sekali lagi aja ya."
" Tidak janji sayang."
Kiran pasrah, sang suami kembali menciumi tubuhnya dimana saja bagian yang bisa dicium. Tangannya meraba semua bagian tubuh yang bisa disentuh sehingga berhasil membuat Kiran membusungkan dadanya.
" Akh … ." Suara seksi itu pun akhirnya lolos dari mulut mungil Kiran, dan tentu saja membuat Kai semakin bersemangat untuk kembali berolah raga.
TBC
__ADS_1