My Billionaire Hubby

My Billionaire Hubby
MBH 50. Kecil Cabe Rawit


__ADS_3

Seperti yang diperkirakan oleh Kai, kalau media tersebut mengincar Kiran. Bahkan mereka terang-terangan menggunakan bahasa Inggris, Kai yakin bahwa semua ini adalah ulah Hendri Suryoprojo. Iya merasa bahwa Hendri akan mempermalukan Kiran jika Kiran menjawab dengan menggunakan bahasa Indonesia atau tidak bisa menjawab sama sekali maka ia akan jadi bahan tertawaan. Benar benar taktik yang mudah di tebak.


Kai melirik istrinya sekilas, Kiran pun menganggukkan kepalanya dengan mantap.


" Apa yang ingin kalian dengar dari istri saya."


" We want your wife to say something about tonight's event."


" First, I would like to thank Mr. Suryoprojo for praying for our wedding. The second for tonight's event was truly extraordinary. I hope that Mr. Suryoprojo's company will continue to develop.( pertama saya mengucapkan terimakasih untuk tuan Suryoprojo karen telah mendoakan pernikahan kami, yang kedua acara malam ini sungguh luar biasa. Saya harap perusahaan tuan semakin maju.)"


" Miss, what makes you deserve to be Mr Kai's wife."


" Because I am the woman he loves, baiklah saya rasa cukup membicarakan masalah pribadi kami. Rasa rasa nya sungguh tidak pantas bagi kami menunjukkan cinta kami di acara orang lain. Jika masih ada yang ingin anda semua tanyakan kita bisa berbicara santai di bawah panggung nanti. Terimakasih."


Semua orang terkagum dengan public speaking Kiran. Mereka sungguh tidak menyangka wanita berhijab itu bisa begitu tenang dan lancar berbicara di hadapan tamu undangan yang notabene nya adalah pengusaha pengusaha besar yang sukses.


Rama dan Sita sangat bangga kepada Kiran. Begitu juga dengan triplet, mereka benar benar yakin abangnya bertemu wanita yang tepat.


" Lihat lah Jun menantuku sungguh hebat."


" Ya kau benar Ram."


" Haah … sungguh aku benar benar ingin mengulek wajah Hendri itu. Apa kau tahu Ram, Kiran itu pemegang sabuk hitam di karate. Dia juga merupakan senior di perguruan silat, dia sering ikut kejurnas juga ."


" Apa ???!!! woaahh benar benar kecil cabe rawit Ram menantumu."


Kai dan Kiran turun dari panggung dengan anggun, semua orang memberikan tepukan tangan untuk sepasang pengantin baru tersebut.


" Waah nggak nyangka ya Istri Kai benar benar cantik dan cerdas."


" Betul, benar benar pasangan yang serasi."


" Iya yang pria nya ganteng yang wanita nya cantik dan sholehah. Perpaduan yang sempurna."


" Wajah istrinya Kai sangat meneduhkan."


Pujian demi pujian didapatkan oleh pasangan muda itu membuat telinga Hendri, Tyas dan Safira panas.


" Huh … sialan niatnya ingin menjatuhkan dan mempermalukan mereka malah pujian yang mereka dapat."


" Huh … daddy sama sekali tidak bisa diandalkan."


Safira bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan hall Pandawa Resort tersebut. Ia berjalan keluar dan menyusun rencana lain.


Waktu menunjukkan pukul 09.00 malam. Keluarga Rama dan keluarga Juna pun memutuskan untuk pulang, mereka enggan berlama-lama di tempat itu.


" Bang, bolehkah aku ke toilet sebentar."


" Mari abang antar."


" Eh jangan, sama Ana aja. Ana mau ke toilet nggak?"


" Beh kak. Ayok."


Akhirnya kai membiarkan istrinya dan adik bungsunya itu pergi ke toilet bersama. Sebenarnya ada rasa khawatir dalam benak Kai, namun ia menepis rasa itu.

__ADS_1


" Loh bang mana istrimu sama adikmu?"


" Mereka ke toilet mom."


" Baiklah kalau begitu kita tunggu dulu mereka."


Sedangkan di toilet Kiran dan Ana masuk di toilet yang bersebelahan. Keduanya sepakat saling memberi kode jika sudah selesai.


Tak tak tak, sebuah suara sepatu berjalan masuk ke toilet tersebut. Kiran menajamkan pendengarannya, Iya merasa bukan hanya satu orang yang masuk melainkan lebih dari dua orang. Kiran mengambil ponselnya dari dalam tas dan menulis pesan untuk ana.


An, ada yang masuk ke toilet perasaan kakak tidak enak. (Kiran)


^^^Lalu kita harus apa kak? ( Ana)^^^


Tetap tenang, aku akan hubungi abang kamu hubungi Akhza atau Abra ( Kiran)


^^^Baik kak (Ana)^^^


Tring … diluar Kai dan Akhza menerima sebuah pesan keduanya langsung berlari. Meskipun Abra tidak tahu pesan apa yang diterima oleh kedua kakaknya Ia pun ikut menyusul lari. Sedangkan Sita dan Rama hanya melihat dengan bingung kelakuan putra-putra mereka


Kiran dan Ana sepakat untuk keluar dari kamar mandi. Dan benar saja di sana sudah ada seorang wanita dan dibelakangnya ada 3 orang pria berbadan besar.


" Heh piranha, mau ngapain kamu."


" Tck, dasar gadis tidak tahu sopan santun. Jaga mulutmu!"


Kiran menarik Ana kebelakang tubuhnya. Ia mencoba untuk menganalisa ketiga pria besar di belakang wanita tersebut.


Meskipun aku bisa menghadapinya namun tubuhku tidak sebanding dengan tubuh pria itu terlebih Aku hanya sendiri sedangkan mereka tiga orang tenagaku tidak akan cukup untuk melawan mereka semua.


" Maaf Nona apa yang anda inginkan."


Kiran mengerutkan kedua alis yang mendengar pertanyaan si wanita.


" Maksud anda."


" Heh, dasar gadis lugu. Kai itu adalah pacar ku."


" Bohong kak Kiran jangan percaya?"


Kiran menggenggam tangan Ana yang memberikan kode agar Ana tetap tenang.


" Ooooh pacar, hanya sebatas pacar apa yang harus saya takutkan. Sekarang toh saya yang jadi istrinya."


" Heh dasar wanita kampungan. Cepat tangkap mereka."


Seorang pria maju ke depan Kiran pun memasang kuda-kudanya.


Bugh … bugh … bugh


Pak ...pak … pak …


Satu lawan satu Kiran masih bisa menghadapinya.


" Sial, ternyata gadis kampung itu bisa bela diri. Kalian bertiga maju.

__ADS_1


" Ana mundurlah."


" Tapi kak."


" Mundur An."


Tidak mau membuat kakaknya kerepotan Ana memilih mundur mengikuti perintah kakak iparnya. Kiran pun memasang kuda kuda nya dan bersiap untuk melawan ketiga pria itu.


Hiyaaaa…..


Brak ….


"Jika kalian berani menyentuh istri dan adikku aku jamin kalian tidak akan bisa melihat matahari besok pagi."


" Alhamdulillaah abang."


Safira yang melihat Kiran lengah langsung mengeluarkan sebuah benda dari tasnya lalu memukulkan ke kening Kiran dengan sangat keras.


" Plaaak….."


" Auch … "


" Kiran …. "


" Kak Kiran …"


Kai langsung berlati menghampiri Kiran sambil berteriak kepada Akhza dan Abra.


" Kalian berdua jangan biarkan mereka semua lolos."


Bruk …


Akhza dan Abra langsung menutup pintu toilet dan menjaga nya dengan tubuh mereka.


" Sayang kau tidak apa apa?"


" Tidak bang, itu hanya bedak kok. Tidak akan berdarah."


" Safira, rupanya kau tidak mengindahkan ucapanku tempo hari. Bersiap siaplah menuju kehancuranmu Safira Jasmin."


Safira membelalakkan matanya, ia sedikit melupakan hal itu. Semuanya karena kekesalannya terhadap keromantisan yang Kai dan Kiran perlihatkan.


" Tidak … A-aku tidak akan melakukannya lagi. Aku janji Kai. Aku mohon jangan lakukan itu."


" Tidak ada yang ketiga kalinya untuk mu. Akhza buka, aku yakin polisi sudah sampai di depan pintu."


" Siap bang."


Benar ucapan Kai, sekelompok polisi sudah ada di depan pintu. Saat dia menerima pesan dari Kiran tadi sambil berlari menuju lokasi Kiran, Kai juga menghubungi polisi.


" Siap tuan Kai."


" Pak, mereka melakukan pengeroyokan terhadap istri dan adik saya. Silahkan dibawa ke kantor pak. Nanti saya akan menyusul untuk memberi keterangan. Abra datang kebagian pusat kontrol untuk meminta rekaman kamera pengawas sebagai buktinya."


" Siap Bang."

__ADS_1


Abra langsung berlari melaksanakan perintah Abangnya. Sedangkan Safira ia masih berusaha memberontak, namun tetap saja percuma. Wanita itu beserta ketiga anak buahnya sudah tidak bisa melakukan apapun.


TBC


__ADS_2