
Kai tidur satu ranjang di rumah sakit bersama Kiran. Pria itu tadi meminta untuk mengganti ranjang yang lebih besar agar istrinya bisa tidur dengan nyaman. Ya tadi Kiran sudah sadar dari pingsannya. Ia terlihat begitu kesal pada Kai. Kai bisa memahami itu. Ia tahu bagaimana khawatirnya seorang istri kepadanya.
Kai membelai kepala sang istri yang berbalut jilbab instan. Ia menciumnya dengan lembut. Tangan Kai beralih ke perut sang istri yang mulai terlihat menyembul lalu menciumnya juga.
" Maafkan suamimu ini ya sayang. Sungguh saat itu aku melupakan keberadaanmu dan calon anak kita. Di saat saat seperti itu aku lupa bahwa aku memiliki kalian dalam hidupku. Maafkan aku. Aku akan lebih berhati hati kedepannya lagi. Aku tidak akan membiarkanmu menangis seperti tadi. Sungguh hatiku sangat sakit melihatmu menangis. Aku sudah berjanji kepada ibu untuk selalu membuatmu bahagia "
Kai mendekap erat tubuh sang istri. Ia benar benar merasa bersalah.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu ruang rawat itu membuat Kai bangun dari ranjang lalu berdiri. Ia berjalan sambil menyeret gagang infus yang masih menempel di tangannya.
" Hek kau Luk. Masuklah."
Greb
Luki langsung memeluk Kai. Kai tahu sahabatnya itu tak kalah khawatirnya dengan keluarganya.
" Sudah tidak apa apa. Aku baik baik saja. Kau sendiri bagaimana? Apa ada yang sakit?"
Luki hanya mengangguk, ia sudah tidak bisa membendung air matanya. Luki tadi memang tidak ikut rombongan keluarga Joyodiningrat karena dilarang oleh Mira. Mira meminta Luki untuk membawa dia dan Laila pulang dulu. Di rumah, Luki terlebih dulu diobati oleh Mira. Ada beberapa luka lebam di tubuh dan wajahnya. Lagian Mira yakin keluarga Kai pasti ingin lebih intens menjenguk.
" Maafkan aku Kai, jika aku tahu mereka akan datang maka aku akan ikut Mira."
" Tidak masalah Luk, sudahlah. Aku baik baik saja, oh iya aku menempatkan beberapa pengawal di kediaman mu? Kemana mereka?"
" Aku meminta mereka untuk mengawal Mira. Itu lah salahku, aku tidak meminta satu pun untuk tinggal bersama ku."
Kai membuang nafasnya perlahan. Ia tahu saat ini Luki sungguh merasa bersalah terhadap dirinya.
" Sudah, pulang lah dan istirahat tidak perlu kau merasa bersalah yang berlebih. Aku yakin Mira juga begitu khawatir padaku. Sampaikan maafku untuknya karena selalu menempatkan kalian dalam bahaya."
Luki hanya mengangguk dan kemudian menggeleng. Dan Kai cukup tahu apa maksud Luki. Ia pun meminta salah satu anak buah Q yang berjaga di luar untuk mengantarkan Luki pulang dan tinggal di kediaman Luki.
Kai kembali lagi ke atas tempat tidur rumah sakit waktu masih menunjukkan jam 03.00 dini hari masih ada setidaknya sejam lebih menuju subuh. Ia pun merebahkan diri di samping istrinya.
*
__ADS_1
*
*
Pagi harinya ketika sepasang suami istri itu tengah menikmati sarapan terdengar sebuah langkah kaki, lebih tepatnya kaki yang tengah berlari.
Brak!!!
" Abang nggak pa pa?"
Kai dan Kiran sedikit terkejut. Pria paruh baya itu langsung memeluk Kai dan mencium pucuk kepala Kai.
" Dad, i'm ok."
" Kalau ayah Rama tidak memberi tahu daddy, daddy juga tidak akan tahu kamu di sini. Kenapa abang nggak pernah mau bilang sama daddy. Abang masih belum terima daddy kah?"
Kai langsung mendongakkan kepalanya menatap ayah kandungnya itu. Masih tersirat rasa bersalah di mata pria itu.
Kai pun meraih tangan Dani lalu menciumnya dengan lembut. Di belakang Seruni hanya diam menyaksikan suami dan putra sambungya. Begitu juga dengan Kiran. Kedua wanita itu hanya memperhatikan suami mereka berinteraksi.
" Bukan begitu dad. Insyaallah Kai sudah memaafkan semua kesalahan daddy di masa lalu. Tapi memang Kai tidak mau merepotkan daddy."
" Baiklah dad, maafkan Kai."
Dani kembali memeluk Dani. Meskipun bagaimanapun pria di depannya adalah ayah kandungnya yang perlu dihormati. Setelah itu mereka pun berbicara bersama. Kai memberitahukan kehamilan istrinya. Tentu saja Dani dan Seruni begitu bahagia karena sebentar lagi mereka akan memiliki cucu. Seharian itu Dani berada disana untuk menemani sang putra. Meskipun Kai berkata telah memakannya, namun rasa bersalah itu tetaplah ada sampai saat ini. Dna mungkin sampai nanti diujung hidupnya.
🍀🍀🍀
Seminggu berlalu setelah peristiwa penembakan itu Kai ditemani Silvya mengunjungi panti milik Jason. Bersama dengan Bey, mereka berdua ingin melihat bagaimana kondisi Hugo Gladwin. Masih ada beberapa hal yang akan Kai selesaikan terhadap pria itu. Dna tentunya ini menyangkut keamanan cyber dari negara negara yang bagian intelegensinya pernah meminta pengamanan dari Kai atau lebih tepatnya Mr. Sun.
Meskipun sebenarnya masih banyak black hacker black hacker di luar sana tapi setidaknya jika menumpas salah satu sja sudah mengurangi ancaman keamanan dunia cyber. Dan kali ini adalah Hugo sebagai Mister X. Kai merasa berkewajiban untuk bisa memblokir bahkan menghilangkan Mister X dari dunia Hacker.
Ketiga orang tersebut sampai di panti sebelum jam makan siang. Panti dengan luas setengah hektar itu memang terlihat seperti rumah sakit. Jason memang mendirikan balai pengobatan di sana. Dan atas bantuang Arduino serta Silvya, ia pun memiliki tenaga medis yang mumpuni dan alat alat medis yang berkualitas.
" Wohooo, lama tidak berjumpa sahabat lama. Sudah berapa tahun aku tidak bertemu denganmu Q?"
" Tck, baru lima tahun yang lalu Jas. Jangan berlebihan."
__ADS_1
" Dasar kau ini. Lima tahun itu waktu yang sangat lama. Hello Mister Kai. Apakah kondisimu sudah membaik?"
" Sudah jauh lebih baik dokter. Terima Kasih sudah membantu merawat pria itu."
Jason membimbing mereka menuju ke kamar Hugo. Dokter tersebut menjelaskan kondisi Hugo saat ini. Pria tersebut beberapa kali menolak untuk makan. Dia selalu berteriak ingin keluar dari kamarnya. Sesekali dia meminta laptop atau ponsel atau apapun itu. Namun sesuai perintah Q untuk tidak memberikan alat komunikasi dalam bentuk apapun.
Ceklek
Jason membuka kamar milik Hugo. Tampak penampilan pria itu sungguh berantakan. Sangat jauh berbeda saat terakhir kali mereka bertemu. Kai sebenarnya tidak tega melihat Hugo seperti itu namun apa yang dilakukan Hugo terhadapnya sungguh sangat keterlaluan.
" Bagaimana kabarmu Dude?"
" Bajingan kau Kai. Sudah melihat ku seperti ini kau masih menanyakan bagaimana kabarku hah?"
Hugo menatap Kai dengan nyalang. Ia sungguh benci dengan pria yang berdiri di hadapannya itu.
" Aku hanya sedikit penasaran, apakah selama ini kau yang mencoba membunuhku?"
Hugo tertawa terbahak bahak mendengar pertanyaan Kai. Pertanyaan yang sudah sangat jelas jawabannya.
" Ya, memang. Sudah dari dulu aku mencoba menghabisimu. Bahkan setelah kau masuk ke kampus aku memang sudah ingin membunuhmu. Apa kau tahu, kau sungguh menyebalkan. Kau yang tiba tiba masuk ke kampus dijuluki anak ajaib merebut semua perhatian. Dan sungguh aku sangat muak! Cuih!"
Silvya sungguh kesal dengan apa yang Hugo lakukan kepada Kai. Bahkan kini kepala Hugo sudah diacungi pistol oleh Silvya. Namun dengan cepat Kai memang tangan Silvya agar ia menurunkan pistol tersebut.
" Lalu apa yang kau inginkan sekarang?"
" Melihat kau mati!"
" Jika itu maumu maka membusuklah di sini. Tadinya aku akan melupakanmu dan membiarkanmu hidup normal kembali. Tapi rupanya kau tidak bisa berubah. Dokter Jason biarkan dia sini. Jika tidak mau makan maka biarkan dia mati kelaparan."
Brak
Semua kembali berjalan keluar. Kai membuang nafasnya kasar. Ternyata mengubah seseorang menjadi lebih baik tidaklah mudah. Semua harus ada kesadaran dari dalam dirinya sendiri. Silvya tahu apa yang dipikirkan sahabatnya itu. Wanita itu pun menepuk bahu tinggi Kai dengan pelan.
" Sudahlah. Kau tidak harus bertanggung jawab dengan hidup semua orang. Itu sudah jadi kemauannya. Maka biarkanlah dia di sini. Selain aman dari kejaran organisasi bawah dan intelegensi negara dia juga tidak lagi bisa menggunakan kemampuannya. Kemarin aku menembaknya tangannya pas di syaraf syaraf gerak nya."
Kai mengangguk, ia paham apa yang diutarakan oleh Silvya. Silvya, Kai, dan Bey pun pamit untuk pulang setelah berbicara dengan Jason mengenai Hugo. Kai tetap akan menanggung seluruh biaya Hugo.
__ADS_1
TBC