
Siang ini Sita tengah sibuk mempersiapkan baju untuk datang memenuhi undangan dari perusahaan Hendri. Seperti yang ia rasakan, Sita akan melakukan yang terbaik untuk penampilan anak dan menantunya.
" Feeling ibu tidak akan pernah salah, aku yakin mereka pasti akan menargetkan Kiran. Pasti mereka merasa sakit hati. Secara keluarga Hendri ngarep banget bisa jadiin Kai menantunya."
Tok … tok … tok …
Bunyi ketukan pintu kediaman Joyodiningrat begitu menggelegar. Bi Inah yang hendak berlari membuka pintu mendapat isyarat tangan dari Sita untuk tidak usah membukanya.
" Biar saya aja Bi."
" Iya bu."
Sita berjalan sedikit cepat, pasalnya ketukan pintu itu benar benar berbunyi berulang dan terkesan tidak sabar.
Cekleek ….
Greb ….
" Bude hu hu hu hu ."
Sita sungguh terkejut mendapat pelukan yang tiba tiba plus tangisan itu. Tidak ingin bertanya banyak dulu, ia pun segera mengajak seseorang yang memeluknya masuk ke dalam rumah. Rama yang baru saja keluar dari ruang kerjanya memicingkan matanya melihat pemandangan tersebut.
" Kenapa?" Tanya Rama tanpa bersuara dan hanya pakai gerakan bibir. Sita pun hanya menaikkan kedua tangannya tanda ia juga tidak tahu.
" Kenapa sayang, hmmm …"
" Bude … ayah jahat."
Rama dan Sita saling pandang. Ia masih mencerna perkataan anak itu.
" Eeh … Arumi, kapan datang trus kesini naik apa?"
Gadis yang bernama Arumi itu langsung berlari memeluk Ana.
" Mbak Ana, tadi aku kesini naik ojol."
Ana mengusap punggung adik sepupunya itu dengan lembut. Meskipun Ana bungsu di keluarga Joyodiningrat tapi dia bisa menjadi gadis yang dewasa bagi adik sepupunya itu.
Rama dan Sita membiarkan Ana yang menenangkan Arumi. Keduanya hanya melihat saja menunggu gadis remaja itu bercerita.
Setelah puas menangis Arumi pun mengurai pelukannya terhadap Ana. Ia mengusap air matanya dengan cepat.
" Sekarang coba cerita ada apa, mengapa datang dengan menangis."
" Itu pakde, ayah jahat, rusuh pula."
__ADS_1
" Maksud Arumi?"
" Ya masa, Arumi mau pergi sama temen temen ayah mau ikut. Terus Arumi ada kegiatan PA ( Pecinta Alam ) ayah nggak ngebolehin katanya nggak boleh karena pasti akan banyak cowok cowok. Arumi kan ikut band sekolah, masa setiap latihan ayah ikut. Kan nggak lucu."
Seketika tawa Rama meledak membuat Arumi dan Ana sedikit bingung namun tidak dengan Sita. Ia hanya menggeleng pelan melihat sang suami bersikap seperti itu.
" Pakde ih … kok malah ketawa."
" Hahaha ayahmu trauma itu Rum hahahaha Adit … Adit … hahahaa … hadeeh Adiiit … Sekarang dia baru kelabakan kan setelah punya anak perempuan. Hahahaha …"
Lagi lagi gadis berusia 17 tahun itu hanya kebingungan melihat reaksi dari sang pakde. Ia sungguh tidak mengerti. Trauma? Baru merasakan setelah punya anak perempuan? Sungguh Arumi bingung dengan kata kata sang pakde
" Sudah sudah, An ajak Arumi ke kamar gih."
" Iya Mom.'
Ana membawa Arumi ke kamar untuk istirahat. Ia tahu sepupunya itu pasti sangat kesal dengan sang ayah atas kelakuan protektif dan posesif nya.
" Mas … cukup …"
" Hahaha aku geli aja sayang, Adit sebegitunya. Aku yakin nggak lama tuh bocah masih sampai sini."
Tok … tok … tok …
Benar saja, Adit udah masuk ke dalam tanpa di persilahkan lebih dulu. Ia datang dengan wajah paniknya.
" Assalamualaikum mas mbak, Arumi kesini nggak?"
" Lah enggak tuh."
Sita yang tadinya mau menjawab dihalangi oleh Rama. Rama pun memiliki ide ngerjain Adit.
" Eh om Adit, tumben kesini sendiri."
Kai bersama Kiran turun dari kamar. Adit tercengang melihat Kai merangkul wanita cantik berhijab. Ia hanya mengangkat telunjuknya sambil menunjuk ke pasangan muda itu dan wajahnya menghadap ke Rama.
" Istri Kai, menantuku."
" Apa??? Kapan ??? Kok nggak ngasih tahu."
" Halah, dulu kamu aja nikah sama Lia nggak ngasih tahu kok."
Cep, bagai di bungkam dengan kedua tangan Adit langsung diam mengunci mulutnya. Ia tidak bisa menjawab sang kakak sepupu karena memang seperti itulah kenyataannya.
" Oh iya kenalkan ini Kiran, istri Kai. Sayang ini Om Adit, Adik ayah."
__ADS_1
" Halo Om Adit, Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam, Kai pinter cari istri. Oh iya mas, Arumi kesini tidak."
Rama memberi isyarat kepada istrinya untuk diam. Sita hanya menghembuskan nafasnya dengan perlahan. Ia tahu suaminya itu begitu suka menjahili sang adik sepupu.
" Sayang, ikut mommy yu."
" Ya mom."
Sita lalu mengajak Kiran ikut dengannya ke dapur. Dan membiarkan para lelaki itu berbicara dengan leluasa.
" Emangnya ada apa sih om."
" Arumi ngambek, gara gara nggak dibolehin ikut kegiatan PA di sekolahnya."
" Lah biarin aja napa om, biar Arumi berkegiatan."
" Bukan begitu Kai, om hanya … "
" Om kamu takut putrinya digodain cowok cowok. Dia khawatir, mantan casanova ini takut anaknya kecantol sama pria pria brengsek macam ayahnya dulu."
Skak mat, Apa yang diucapkan Rama sungguh benar adanya. Adit bahkan langsung menunduk. Ternyata kelakuannya masa dulu membuatnya sungguh ketakutan terhadap pergaulan sang putri. Ia benar benar takut Arumi bertemu pria seperti dirinya.
Kai hendak tertawa, namun melihat ekspresi Adit yang begitu sendu ia pun urung. Kai pun menepuk bahu om nya itu pelan.
" Om, beri pengertian dan edukasi kepada Arumi. Arumi gadis yang cerdas. Bicaralah dari hati ke hati, janganlah Om Adit terlalu mengekang Arumi. Nanti malah di bisa memberontak. Usia 17 tahun adalah usia usia yang rawan. Mungkin Kai belum punya anak sebesar Arumi tapi Kai biasa dengan triplet. Usia remaja adalah waktunya kita menjadi teman bagi mereka."
Rama tersenyum mendengar setiap perkataan sang sulung. Ia benar benar bangga dengan Kai. Sedangkan Adit ia membuang nafasnya kasar. Ia menyadari selama ini ia begitu mengekang putrinya itu.
" Kau benar Kai. Haish … kau yang belum punya anak begitu paham mengenai perkembangan anak anak. Sedangkan aku … aku hanya takut dan takut yang kurasakan."
" Hahaha om, Kai juga karena adanya triplet. Bersama triplet ternyata membuat Kai belajar mengenai pola pikir dan perilaku mereka dari masa ke masa."
" Asal kau tahu Dit, Akhza, Abra, dan Ana itu nomer satu abangnya baru ayahnya. Hahaha, tapi meskipun begitu triplet begitu menyayangiku dengan cara mereka sendiri."
Adit benar benar kagum dengan hubungan Rama dan Kai. Semua orang tahu Kai bukanlah darah daging Rama. Tapi kasih sayang Rama kepada Kai lebih dari seorang ayah kandung. Begitu juga sebaliknya. Kai bahkan bisa dibilang lebih sayang Rama ketimbang Dani yang notabene nya adalah ayah kandungnya.
" Lalu, apakah Arumi di sini?"
" Hahaha ada, dia di kamar bersama dengan Ana."
Adit menghela nafasnya lega. Ia berjanji dalam dirinya untuk bersikap lebih fleksibel terhadap sang putri. Ia hendak memposisikan dirinya sebagai sahabat bagi sang putri dan bukan nya seorang ayah yang begitu mengekang anak nya. Ia akan mencoba mempraktekkan ucapan sang keponakan.
TBC
__ADS_1