
Mira begitu terkejut dengan apa yang diperlihatkan oleh Kai. Dia sungguh tidak menyangka Kai bisa mendapatkan klien sebanyak itu.
" Kai bagaimana kau mendapatkannya?" tanya Mira masih dengan binar keterkejutannya.
" Adalah, kau tidak usah bingung, segera buatkan saja kontrak kerjasamanya." jawab Kai.
Mira mengangguk, ia pun segera bangkit dari duduk nya dan keluar dari ruangan Kai. Ia hendak melakukan apa yang diperintahkan Kai dengan segera.
" Kau sungguh mendapatkan semua ini selama di rumah? Bagaimana bisa? Terus mengapa mereka bisa percaya?"
" Rahasia dapur, tapi yang jelas mereka melakukan panggilan video dulu untuk memastikan keadaanku baik baik saja."
Luki tersenyum, ia selalu tidak tahu bagaimana pria di depannya ini bisa menyelesaikan masalah. Lebih dari 10 tahun mengenal Kai, Luki selalu speechless dengan apa yang diperbuat bos sekaligus sahabatnya itu. Banyak kejutan kejutan yang Kai pertunjukkan setiap waktunya.
Namun Luki belum bisa bernafas dengan lega. Kehadiran Hugo merupakan ancaman bagi Kai. Bukan masalah menjadi saingan bisnis A-DIS Company melainkan keselamatan Kai yang Luki khawatirkan. Mengingat Hugo seringkali melakukan percobaan pembunuhan terhadap sahabatnya itu.
" Apa lagi yang kau pikirkan hmm?"
" Hugo Kai, aku sedang memikirkan orang itu. Aku rasa orang itu memiliki bibit psycho dalam dirinya."
Kai mengerti kegelisahan hati sang sahabat. Luki memang tahu betul bagaimana Kai hampir meregang nyawa nya waktu itu.
" Dia itu bukannya psycho Luk, dia lebih kayak star syndrome gitu. Jadi dia nggak nerima kalau ada yang lebih dari dia. Terlebih di bidang yang sama. Dia akan merasa tersaingi."
" Lalu apa rencana mu?"
" Membuatnya patah hati."
Luki memicingkan matanya mendengar ucapan Kai. Ia masih belum mengerti maksud sang bos tersebut. Kai yang paham pun menepuk bahu Luki dengan pelan.
" Hugo benar benar bucin terhadap Soraya. Aku bisa melihat dari cara dia memperlakukan Soraya. Namun aku juga bisa melihat bahwa Soraya tidak benar benar mencintai Hugo. Kau tahu sendiri bagaimana Soraya bukan?"
Luki mengangguk. Ya, ia tahu betul bagaimana tingkah polah si wanita itu. Setahun bekerja menjadi sekretaris Kai sudah cukup membuat nya paham perangai Soraya yang matrealistis. Ia selalu mencari perhatian dengan klien klien yang datang. Tak sedikit dari mereka yang berhasil Soraya kencani.
Kai bahkan sampai memperingatkan Soraya mengenai hal itu. Bukannya berhenti, Soraya malah menjadikan Kai target selanjutnya. Dan tentu saja semuanya berakhir dengan pemecatan Soraya.
" Lalu apa yang akan kamu lakukan."
Kai mencondongkan tubuhnya ke Luki dan membisikkan sesuatu. Awalnya Luki manggut manggut namun setelahnya ia terkejut.
__ADS_1
" Kau gila Kai!" teriak Luki seketika.
" Bukan gila, ini strategi," jawab Kai singkat.
" Istrimu akan mencincang mu. Hati hati nanti kau nggak akan dapat jatah baru tahu rasa," cibir Luki.
" Tck, aku tidak bodoh Luk. Akupun tidak sudi membiarkan tubuhku disentuh oleh nya. Tidak usah sampai ke tahap yang seperti itu juga kali," sergah Kai.
Luki tetap saja masih tidak mengerti apa yang Kai rencanakan. Wajahnya mencerminkan ketidak mampuannya menangkap semua ucapan Kai.
" Tck, sudahlah. Tidak usah kau pikirkan lagi. Sana lanjut kerja. Mendengarkan aku kau malah stag begitu."
Luki pun mengangguk patuh, ia setuju dengan ucapan Kai. Lebih baik dia bekerja daripada mendengarkan ucapan Kai. Ucapan yang kadang tidak Luki mengerti.
Sepeninggalnya Luki, Kai mengambil tablet nya dan mengecek kondisi rumah. Dia tersenyum kecil saat kamera pengawas menampilkan istri kecilnya yang tengah berada di dapur.
" Haish, aku sungguh merindukanmu. Padahal belum ada setengah hari aku bekerja. Jika bisa, aku akan selalu menyimpanmu di saku jas ku. Biar bisa kubawa kemanapun. Tapi sebelumnya aku harus menyelesaikan ini terlebih dulu. Setelah semuanya selesai mari kita ber babymoon. Aku akan membawamu berlibur."
🍀🍀🍀
Di perusahaan HSW, Hugo merasa sedikit aneh. Pasalnya beberapa klien yang melakukan permintaan terhadapnya tiba tiba membatalkan keinginan mereka menggunakan jasa perusahaannya. Hal ini membuat Hugo sedikit gusar.
" Mengapa begini, kemarin masih banyak sekali yang meminta kerjasama dengan ku? Tapi, sekarang mereka melakukan pembatalan kerjasama?"
Hugo pun hendak mengakses lebih mengenai perusahaan milik orang orang itu, namun lagi lagi ia tidak bisa melakukannya.
" Argh! Sial!" Hugo berteriak frustasi.
Soraya yang baru sampai di ruangan Hugo menatap pria itu dengan penuh tanya.
" Ada apa dengan pria ini, mengapa dia terlihat marah?" monolog Soraya dalam hati.
Namun dia sedikit mengacuhkan itu, ia pun berjalan dengan anggun menghampiri Hugo. Wanita itu pun selalu melakukan ritualnya saat bertemu sang pria yakni mencium bibir pria itu sekilas. Namun saat hendak kembali berdiri Hugo sudah menarik tangan tangannya hingga Soraya sudah duduk di pangkuan.
Mau tidak mau Soraya pun menanyakan perihal wajah Hugo yang terlihat kusut. Padahal tadinya Soraya acuh, ia enggan menanyakan hal tersebut. Karena menurutnya itu bukanlah urusannya. Saat ini yang menjadi fokus utamanya adalah kemewahan dan kesenangan yang diberikan pria ini kepadanya.
" Oh honey, kau selalu mengerti aku. Aku sungguh sedang pusing," jawab Hugo atas pertanyaan Soraya tadi.
" Pusing kenapa hmm?" saut Soraya.
__ADS_1
Hugo pun membalikkan tubuh Soraya agar menghadap ke meja. Ia memperlihatkan pesan pesan yang ia terima. Soraya pun sedikit terkejut, bahkan ia sampai menggebrak meja.
Brak!
" Bagaimana bisa seperti itu!" teriak Soraya nyaring.
Hugo malah tersenyum menanggapi keterkejutan Soraya. Ia merasa Soraya begitu peduli kepada perusahaannya. Namun sebenarnya bukan itu yang ada dipikiran wanita matrealistis itu. Soraya berteriak terkejut seperti itu karena ia merasa Hugo sungguh tidak bisa melakukan apapun. Jika klien membatalkan kerja sama mereka berarti pundi rupiah yang masuk ke rekening nya pun berkurang banyak.
" Tenanglah sayang, aku bisa mengatasi ini semua."
" Apa kau yakin?"
" Tentu saja, itu adalah hal yang mudah. Aku yakin besok aku akan mendapatkan klien."
Soraya tersenyum, selama atm hidup nya itu berkata demikian maka aliran dana yang bermukim di rekeningnya pun akan aman.
Soraya pun langsung memeluk Hugo dengan erat. Ia tersenyum smirk dibalik punggung Hugo. Hugo yang memang begitu mencintai Soraya tidak perna menaruh kecurigaan apapun.
" Sayang," panggil Hugo kepada Soraya.
" Hmmm, ada apa?" jawab Soraya dengan suara yang ia buat semanis mungkin.
" Ayo kita menikah."
Deg!
Soraya langsung melepas pelukannya dan menatap wajah Hugo dengan seksama.
" Apa kau serius mengajak menikah?"
" Tentu saja, aku benar benar mencintaimu Soraya."
Soraya tersenyum kaku, ia sendiri bingung harus menjawab apa. Tapi seketika ia mengangguk, sementara ini dia harus bersikap benar benar baik kepada Hugo.
" Kau setuju?"
" Iya, aku setuju."
Hugo terlihat begitu senang dengan jawaban Sorya. Pria itu langsung meraup bibir Soraya dengan rakus.
__ADS_1
" Biarlah dulu seperti ini, aku harus membuatnya benar benar terpaut padaku," gumam Soraya dalam hatinya.
TBC