
Setelah memeriksakan kandungan Kiran ke dokter Lisa, dan dokter tersebut mengatakan bahwa Kiran baik-baik saja kandungannya pun sehat. Maka Kai hari ini juga akan membawa sang istri untuk pulang ke kampung halamannya di kota M. Kali ini dia akan membawa Bey dan Bee.
Pagi tadi sebelum ke rumah sakit Kai sudah menyampaikan keinginannya kepada sang mommy dan ayah. Tadinya kedua orang tua tersebut berat membiarkan menantu mereka yang tengah hamil untuk melakukan perjalanan. Namun Kai berusaha membujuk dengan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu ke dokter OBGYN.
Kai juga menyiapkan sebuah mobil yang nyaman untuk sang istri. Lexus LM 350 menjadi pilihan Kai untuk membawa sang istri pulang ke kampung nya. Dan Bey yang akan mengemudikannya.
" Apakah semua sudah siap? Berhati hatilah ya sayang," ucap Sita kepada sang menantu sambil mengusap lembut kepala Kiran.
" Iya mom, kami akan berhati hati. Sampaikan pamit Kiran kepada adik adik. Kami pamit ya yah."
Kiran mencium tangan Sita dan Rama bergantian. Kai pun mendekat ke arah kedua orang tuanya untuk bergnatian berpamitan. Banyak pesan yang disampaikan Sita dan Rama kepada putra mereka. Tapi yang paling utama adalah menjaga sang istri dan twins K yang masih dalam kandungan.
Tepat pukul 14.00 mereka berangkat. Tujuan pertama adalah rumah mas Tejo. Ya, Kai harus kesana terlebih dahulu teman sahabat lamanya. Di perjalanan Kai menjelaskan siapa Mas Tejo ini kepada Kiran. Kiran hanya mengangguk sambil menanggapi sesekali cerita sang suami hingga wanita hamil itu terlelap. Kai membenarkan kursi agar sang istri dapat tidur dengan nyaman.
Melalui jalan bebas hambatan, perjalanan Kai dan Kiran ke kota S bisa ditempuh dalam kurun waktu 6-7 jam saja. Kini mereka sudah memasuki kota S dan sedang menuju ke lokasi desa tempat Mas Tejo tinggal. Tadi Kai sudah meminta Bey dan Bee untuk berbelanja untuk keluarga Mas Tejo dan juga anak anak asuh nya.
" Tuan setelah ini kemana?" tanya Bey tiba tiba.
" Aah iya, maaf maaf kau ikuti saja petunjuk ku ya. Semoga aku masih ingat," jawab Kai sambil mengingat jalan.
Namun yang Kai ingat pasti jalan menuju tempat mas tejo adalah jalan sama dengan jalan menuju objek wisata Candi Gedong Songo jadi paling tidak Kai masih memiliki patokannya.
" Lho bang ini mah arah objek wisata itu bukan," tanya Kiran.
" Eh kami tahu sayang? Emang pernah ke sana?" sahut Kai.
" Pernah bang, 2 kali lah aku pernah kesana jadi jalannya tidak asing meskipun gelap juga," ucap Kiran.
Kai hanya mengangguk, ya saat ini adalah jam 10 malam. Jadi jalanan tentu saja gelap dan hanya diterangi oleh lampu lampu jalan. Kai berulang kali menanyakan keadaan sang istri. Ia sebenarnya sedikit khawatir juga namun Kiran mengatakan dirinya baik baik saja. Hanya sedikit pegal dari punggung ke pinggang. Kai pun dengan telaten mengusap lembut punggung sang istri agar lebih nyaman.
Ckiiit
Mobil yang dikemudikan Bey akhirnya sampai juga di halaman rumah Mas Tejo. Kai sedikit terkejut melihat beberapa perubahan di sana. Tampak lahan lahan samping rumah sudah ditumbuhi tanaman sayur sayuran. Lalu di depan dinding rumah ada sebuah papan yang tertulis sebuah nama perguruan silat. Rupanya Mas Tejo dan teman teman mengikuti saran Kai.
Semuanya kemudian turun, Kiran dibantu Kai untuk turun. Udara dingin menyeruak membuat sedikit bulu kuduk meremang.
__ADS_1
Tok tok tok
" Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam."
Rupanya si empunya rumah belum tertidur. Kai tersenyum mendengar suara jawaban salam ynag ia yakin adalah Mas Tejo.
Ceklek
" Ya cari si~, masyaaAllaah Bang Bule!"
Mas Tejo sungguh terkejut melihat siapa orang yang ada di depan rumah nya itu. Ia pun langsung memeluk Kai dengan erat. Begitu juga dengan Kai, panggilan itu membuatnya kembali mengingat masa masa pertama kali ia datang ke tempat ini.
" Bagaimana kabar Mas Tejo?"
" Alhamdulillaah baik Bang Bule, sangat baik dan lebih baik daripada pertama kita bertemu. Ini?"
" Istriku Mas Tejo."
" Uuugh, ketemu juga sama kasur," ucap Kiran.
Kai memicingkan matanya. Ia yang sedari tadi bertanya apakah baik baik saja dan di jawab ia ternyata tidak seperti kelihatannya. Kiran benar benar begitu senang dapat berbaring.
" Tadi katanya nggak apa apa pas di mobil."
" Emang nggak apa apa bang tapi kalo ketemu kasur ya seneng."
" Kalau kamu bilang ingin tidur kita tadi bisa mampir hotel dulu."
" Nggak perlu bang, kan abang mau cepet ketemu sama temen abang. Lagian aku suka. Hawanya adem."
Kiran tersenyum kecil ke arah sang suami. Kai pun pasrah ia mengangguk saja dengan setiap ucapan sang istri.
Cari aman aja, ibu hamil biasanya suka sensitif, gumam Kai dalam hati.
__ADS_1
Ia pun ikut merebahkan tubuhnya di sebelah sang istri. Namun sebelumnya, Kai membantu Kiran terlebih dahulu untuk merileks kan tubuh dengan cara memijat punggung dan kaki istrinya tersebut. Kai tahumembawa kehamilan janin kembar membuat sang istri mudah lelah. Apalagi ini menempuh perjalanan yang lumayan berjam jam lamanya.
*
*
*
Pagi hari terasa benar benar sejuk. Kai dan Kiran setelah menjalankan kewajiban dua rakaat berjalan jalan di area sekitar rumah Mas Tejo. Beberapa orang yang dulu mengenal Kai pun menyapa pria tersebut. Kai sungguh senang bahwa mereka masih ingat dengannya.
Hari itu dihabiskan Kai dengan bercengkrama dengan Mas Tejo dan teman temannya. Sedangkan Kiran ia bersama Mbak Wati melakukan aktivitas perempuan pada umumnya. Meskipun Mbak Wati melarang Kiran, namun Kiran tetap kukuh membantu Mbak Wati memasak di dapur.
Sore hari menjelang. Kai memutuskan untuk melanjutkan ke kota M. Tafinya Mas Tejo meminta Kai untuk menginap lagi semalam, namun dengan alasan yang Kai kemukakan membuat Mas Tejo pasrah. Kai pun menyerahkan sebuah amplop yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
" Apa ini Bang Bule?"
" Terimalah Mas, sedikit untuk memengembangkan usaha Mas Tejo."
Mas tejo melihat isi amplop tersebut, ia sungguh terkejut melihat isinya. Terdapat banyak sekali lembaran uang berwarna merah yang selama ini belum pernah ia lihat.
" Bang Bule ini sungguh kebanyakan."
" Hanya sedikit Mas Tejo. Terima ya, aku hanya bisa bantu bantu segini."
" Tapi Bang ini ~"
Kai menepuk pelan punggung Mas Tejo. Ia hanya tersenyum kecil sedangkan Mas Tejo masih belum bisa berkata apapun, ia hanya bisa berucap terima kasih. Setidaknya ada sekitar 300 juta dalam amplop tersebut. Mas Tejo sungguh tidak bisa menahan air matanya.
" Baiklah Mas, Mbak, kami pamit ya."
Kai berpamitan diikuti oleh Kiran, Bee, dan Bey. Mereka meninggalkan kediaman Mas Tejo. Mas Tejo masih sangat terharu dengan kebaikan Kai.
" Semoga kebahagiaan menyertaimu dan istrimu Bang Bule. Semoga kalian selalu dalam lindungan Allaah, aamiin. Sekali lagi terimakasih sungguh aku hanya bisa mengucapkan terimakasih," doa Mas Tejo tulus.
TBC
__ADS_1