My Billionaire Hubby

My Billionaire Hubby
MBH 52. Kehebohan di Butik


__ADS_3

Butik SJ Cloth diserbu oleh para awak media. Para karyawan sungguh bingung terlebih lagi Nita. Nita yang tidak tahu apa yang terjadi dengan sahabatnya itu hanya bisa mencari cara untuk menghindari para pencari berita.


" Permisi mbak Nita apa berita yang beredar itu benar bahwa Safura Jasmin adalah designer palsu?"


" Apakah benar dia mencuri karya orang lain lalu dipakai untuk brand nya?"


" Lalu siapa pemilik sebenarnya design design SJ?"


" Apa mbak Nita tahu?"


" Apa selama ini sebenarnya mbak Nita tahu tapi malah melindungi kecurangan Safira?"


" Terus apa benar Safira dengan tega mencelakai istri pengusaha terkenal Kai Bhumi Abinawa?"


Pertanyaan yang terakhir dari awak media sungguh membuat Nita terkejut.


" Apa maksud rekan rekan,mencelakai apa?"


" Iya mbak Nita, semalam Safira Jasmin mencoba mencelakai istri dari Tuan Kai. Apakah karena itu Safira berada di penjara saat ini."


Nita membuang nafasnya kasar. Sungguh ia tidak tahu harus berbuat apa dan mengatakan apa.


" Maaf rekan rekan saat ini saya tidak bisa memberi keterangan apapun. Dan bukan ranah saya juga berbicara. Sebaiknya rekan rekan langsung menemui keluarga dari Safira. Saya yakin mereka lebih tahu. Terimakasih."


Nuta buru buru masuk ke butik. Di dalam para karyawan saling berbisik.


" Sudahlah, kalian hari ini tidak usah bekerja. Aku yakin para klien sudah membatalkan semua pesanan mereka."


" Iya bu Nita, tadi pagi semua klien sudah menghubungi butik. Mereka membatalkan semua pesanan dan meminta pengembalian dana."


" Baik saya tahu. Jika awak media sudah pergi kalian semua boleh pulang. Sementara ini tidak usah datang ke butik dulu. Nanti saya akan menghubungi kalian kembali.


Semua karyawan SJ Cloth mengangguk patuh dengan pengaturan manajer mereka. Saat ini memang tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu.


Nita duduk lemas di kursi kerjanya. Ia menyandarkan tubuh nya.


" Andaikan kau minta baik baik pada orang yang membuat gambar itu Fir, aku yakin semua ini tidak akan terjadi. Kau malah mengancam dia tanpa memberikan hak nya dengan layak. Sekarang semua ini sudah terjadi. Nasi sudah menjadi bubur, aku yakin kita akan hancur."


Nita menelungkupkan wajah nya di atas meja. Ia tergugu, ia ikut andil dalam kejadian ini. Jika dia lebih tegas terhadap sang sahabat, pasti ini semua tidak akan terjadi.


🍀🍀🍀


Di kediaman Rama, semua tidak terkejut dengan pemberitaan yang menerpa keluarga Hendri. Mereka sudah tahu siapa pelakunya. Terlebih Rama dan Sita sudah sangat hafal dengan kejadian seperti ini. Ini seperti dejavu bagi mereka.


" Putramu beraksi sayang."


" Huft … ya kau benar mas. Jadi ingat jaman dulu kalau begini."


" Benar, saat usianya masih bocah aja dia bisa melakukan hal yang aku anggap gila. Nah apalagi sekarang, dia bisa berbuat lebih gila lagi."


Sita membuang nafasnya kasar, Kai tidak bisa disenggol. Dia tidak bisa diprovokasi sama sekali, yang ada semua akan lenyap keesokan paginya. Dan hal itu sungguh bisa dipastikan.

__ADS_1


" Bang … "


" Hmmm, kenapa sayang?"


" Bang makan bubur ayam yuk?"


Kai memicingkan matanya, tumben tumbenan sang istri meminta sarapan bubur ayam.


" Kamu mau sarapan bubur ayam?"


Kiran mengangguk, entah mengapa ia menginginkan makanan itu. Mungkin karena dia baru saja melihat ponsel dan melihat makanan yang sering dijumpai di kota J.


Pagi tadi setelah sholat subuh Kiran iseng mencari di laman pencarian mengenai makanan khas kota J. Ia melihat beberapa diantaranya dan tiba tiba tertarik dengan bubur ayam.


" Oke, mari kita beli bubur ayam."


Bukannya mengikuti sang suami keluar kamar, Kiran malah menarik suaminya.


Cup … Kuran mencium bibir Kai singkat.


" Eh … katanya mau beli bubur ayam."


Kiran tidak menjawab, ia malah kembali mencium bibir sang suami. Ciuman itu semakin dalam dan semakin menuntut.


" Sayang, tunggu … aku bisa terlambat bekerja kalau kamu meneruskan ini."


" Hmmm … baiklah."


" Baiklah aku akan mengikuti maumu."


" Tidak bang, aku mau bubur ayam saja. Tidak jadi mau itu?"


Kiran keluar kamar meninggalkan Kai yang terbengong. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu lalu berjalan keluar menyusul sang istri.


" Sayang … tunggu."


Kiran acuh, ia terus berjalan dengan wajah yang sedikit kusut. Sita dan Rama sedikit heran akan tingkah putra dan menantunya itu.


" Pagi mom, ayah … apakah Ana, Akhza, dan Abra sudah berangkat."


" Sudah nak, mereka berangkat dari pagi tadi. Katanya ada kegiatan di kampus."


Kiran mengangguk mengerti lalu izin untuk ke dapur. Sedangkan Kai ia hanya menggelengkan kepalanya pelan.


" Kenapa Kiran bang?"


" Nggak tahu mom, aneh."


" Maksudnya?"


" Iya, tadi minta bubur ayam tapi pas Kai mau keluar kamar ditahan. Eh minta yang lain. Kai bilang takut terlambat dia langsung ngambek. Pas Kai bilang yaudah ayok, dia bilang mau bubur ayam aja."

__ADS_1


Sita dan Rama mengerutkan kedua alisnya. Mereka sama sekali tidak tahu apa yang dibicarakan sang putra.


" Ayah nggak ngerti."


" Ya sudah kalau ayah nggak ngerti. Kai aja nggak ngerti."


Kai pun kembali menghampiri istrinya. Tapi nampaknya Kiran sudah tidak ingin makan bubur ayam karena dia sudah mengambil roti tawar dan selai untuk sarapannya.


" Sayang, nggak jadi beli bubur ayamnya?"


" Jadi…"


" Lah itu bukannya sudah sarapan roti."


" Iya, tapi masih mau bubur ayam."


Kai pasrah dengan keinginan sang istri. Ia pun memakan roti yang sudah disiapkan oleh Kiran.


" Baiklah ayo kita ke tukang bubur ayam."


" Tidak usah bang, aku nanti nunggu saja di depan biasanya suka ada yang datang. Abang berangkat saja."


" Kamu marah sama abang?"


Kiran tersenyum, kemudian wanita itu menggeleng pelan. Ia mengusap jas sang suami dan merapikan dasi suaminya.


" Aku tidak marah, abang sudah akan terlambat ke kantor. Jadi aku akan menunggu tukang bubur ayam nya di rumah saja."


Kai tersenyum, ia lalu memeluk sang istri dan mencium pucuk kepala istrinya. Kai beranggapan bahwa Kiran akan marah kepadanya.


" Baiklah abang berangkat ya."


" Iya bang, hati hati."


Kiran mengantarkan sang suami ke pintu depan dan mencium tangan suaminya. Namun tanpa orang rumah itu tahu, Kai tidak pergi ke perusahaan. Ia akan menemui sahabat lamanya di suatu tempat.


" Apakah sudah sampai."


" Belum, lagi on the way, aku punya suami dan anak yang harus diurus dulu bocah."


" Haish aku bukan bocah lagi Q."


" Hahahah ya … ya … baiklah. Aku akan sampai dalam 15 menit."


" Baiklah, sampai ketemu di sana."


Kai mematikan ponselnya, ia pun mencengkeram erat kemudi mobilnya dan menuju tempat dimana ia sudah membuat janji temu dengan Q. Siapa lagi sahabat yang bisa diandalkan untuk menyediakan orang orang yang bisa melindungi keluarganya kalau bukan Silvya. Meskipun Wild Eagle bukan lagi organisasi mafia namun jasa keamanan milik Silvya itu tak ubahnya seperti tentara bayaran.


Dan lagi, meskipun Silvya tidak lagi muda ia tetaplah pemimpin Wild Eagle yang diakui dan disegani. Kai bersyukur memiliki Silvya di sisi nya. Meskipun hubungan mereka saling menguntungkan namun Silvya bagi Kai adalah saudara lain ibu dan ayah begitu juga Sebaliknya. Silvya selalu menganggap Kai adalah adik kecilnya yang tidaklah kecil.


TBC

__ADS_1


__ADS_2