
Grizz yang sedari tadi bolak balik melihat keluar merasa lega saat tahu keluarga Kai sudah berada di rumah. Ia segera turun dan hendak keluar rumah. Namun langkahnya dihentikan oleh Ben.
" Ben, what are you doing?"
" Don't go anywhere."
" Tck. Why? I want to go to my prince's house."
Ben membuang nafasnya kasar. Ia tahu kondisi rumah itu sekarang tengah berduka atas kecelakaan Kai. Ia tidak mau Griz mengacau di sana.
" Kau tidak boleh kesana Grizz. Di sana sedang tidak kondusif. Kau tahu kan Kai baru saja kecelakaan."
" Iya tahu maka dari itu aku ingin kesana Aku ingin melihatnya. Siapa tahu aku bisa merawatnya membantu sang istri kan."
" Jangan aneh aneh Griz."
Ben tetap berada atau berdiri di depan pintu untuk menghalangi Grizz keluar. Namun gadis itu terus memaksa bahkan menarik tangan Ben. Tidak mau gadis itu kabur Ben pun akhirnya menggendong griz layaknya memanggul sebuah karung.
" Ben apa yang kau lakukan?"
Ben bergeming ia terus membawa ke lantai atas. Griz memberontak, ia menggerak gerakkan kakinya dan memukul punggung Ben. Para maid hanya melihat heran melihat kelakuan dua majikannya.
" sebenarnya apa hubungan mereka sih?" tanya salah seorang maid.
" Entahlah, tapi yang aku tahu tuan Ben diminta menjaga nona Griz setelah papa nona Griz meninggal."
" Tapi aku berpikir kadang mereka seperti pasangan."
" Sudahlah tidak usah dipikirkan. Ayo kembali bekerja urusan para tuan biarlah menjadi urusan mereka."
Para maid itu pun kembali ke pekerjaan mereka masing masing sedangkan Griz dia masih berusaha terus memberontak.
" Ben, lepasin, aku mau ke rumah Kak Kai. Aku mau lihat keadaannya."
" Tidak usah, dia sudah ada yang mengurus."
" Ben!!"
__ADS_1
Griz berteriak kencang membuat Ben memejamkan matanya. Namun Ben acuh, ia tetap membawa Griz ke kamar.
Ceklek
Bruuk
Ben melemparkan tubuh Griz ke kasur lalu bersedekap.
" Apa?? Huft "
Grizzle membuang nafasnya kasar. Ia memanyunkan bibirnya kesal.
" Ayolah, apakah kau akan berdiri seperti itu terus?"
Ben bergeming, Griz pun mengalihkan pandangannya dan mencoba untuk berlari keluar kamar. Namun lagi lagi tubuhnya bisa ditangkap oleh Ben. Namun karena pijakan Ben kurang kokoh sehingga membuat Ben jatuh di kasur dan menimpa tubuh Griz. Posisi keduanya sungguh terlihat begitu intim.
Sejenak Ben menatap lekat manik mata Griz. Begitu juga sebaliknya, ada sesuatu yang dirasakan oleh Griz. Dan entah mendapat dorongan dari mana Griz membelai lembut wajah pria dewasa itu dengan tangannya.
Deg
Jantung Ben memompa begitu cepat. Selama ini dia tidak pernah berdekatan dengan lawan jenis selain Grizz. Bahkan secara tidak langsung Ben sangat tahu pertumbuhan Grizz. Mulai dari anak anak hingga dewasa seperti ini.
Ben menelan saliva nya dengan kasar saat melihat bibir seksi Griz. Ben merasakan sebuah gelenyar aneh dalam dirinya.
Ben hendak bangkit namun tubuhnya di tahan oleh Griz. Bahkan Griz tanpa aba aba mengecup bibir Ben. Sungguh Ben sangat terkejut, ia pun membelalakkan matanya. Rupanya Griz tidak hanya mengecup singkat bibir Ben, gadis itu bahkan mel***t nya.
Tadi nya Ben enggan menanggapi namun rupanya Griz menginginkan lebih. Ben segera mengungkung tubuh Griz lalu mulai mengobrak abrik rongga mulut Grizz dengan lidahnya. Mata Griz terpejam, ia menikmati setiap sesapan dan pertarungan lidah yang terjadi dari keduanya.
Ben melepas pagutannya dan meraup oksigen sebanyak banyaknya. Ia kemudian mengusap bibir seksi milik griz dengan ibu jarinya.
" Apa yang kau inginkan hmm? Mengapa kau menyerangku seperti itu."
Griz diam, wajah gadis itu merona. Bersama Ben dia merasa nyaman. Tapi ia masih merasa penasaran dengan Kai.
" Sudahlah."
Ben bangkit kemudian ia berjalan keluar dari kamar Griz.
__ADS_1
" Sebenarnya aku kenapa," gumam Ben lirih. Ia mengusap wajahnya dengan kasar lalu menjauhi kamar dan menuju ke ruang kerjanya. Pekerjaan akan membuatnya menghilangkan pikiran pikiran anehnya.
Sedangkan di kamar Griz menyentuh bibirnya sendiri. Ia mengingat ciuman yang tadi ia lakukan bersama Ben. Baginya ciuman Ben sangatlah manis, bahkan ia menginginkannya lebih lama lagi.
" Sebenarnya ada apa denganku, aku menyukai Kak Kai tapi aku sungguh menikmati ciuman Ben. Bahkan aku menginginkannya lagi. Sebenarnya hatiku ini terpaut pada siapa. Ben selalu ada untukku, meskipun dia sangat cerewet dan begitu banyak aturan tapi dia selalu memprioritaskan ku. Apa iya aku menganggapnya lebih dari seorang asisten?"
Grizz terdiam ia merebahkan tubuhnya. Dua bayangan pria muncul, yang satu adalah Kai dan yang satu adalah Ben. Jika Kai dalam bayangannya hanya diam tidak dengan Ben, asistennya itu tersenyum lebar kepadanya.
🍀🍀🍀
Di kediamannya Mr. X sungguh merasa puas dengan hasil yang ia lihat. Tawanya begitu meledak bahkan air matanya sampai keluar.
" Apa yang membuatmu senang hmm?"
" Soraya sayang, lihatlah berita berita online ini. Apa kau puas dengan apa yang ku lakukan?"
Wanita seksi dan cantik yang bernama Soraya itu pun langsung duduk di pangkuan Mr. X.
" Hugo, kau tahu menurutku kamu lebih hebat daripada si Kai itu."
Mr. X a.k.a Hugo itu tersenyum menyeringai. Ia pun mengusap wajah Soraya dengan lembut.
" Aku hanya heran mengapa beberapa tahun lalu aku tidak berhasil menghabisi nyawanya. Padahal aku sudah menyewa pembunuh bayaran profesional. Tck, pria itu sungguh seperti mempunyai pelindung bayangan."
Hugo kembali mengingat, bahkan semasa kuliah pun berkali kali ia ingin mencelakai Kai selalu tidak berhasil.
Ya, Hugo adalah teman kuliah Kai, itu menurut Kai namun tidak dengan Hugo. Setelah Kai masuk sebagai mahasiswa termuda Hugo sudah menaruh kebencian dan keirian.
Hugo yang masuk ke universitas juga dengan kecerdasannya ternyata ada yang lebih mengunggulinya. Bahkan para dosen pun banyak yang memuji Kai dan menyebutnya anak ajaib. Hugo sungguh tidak terima karena semua perhatian tertuju kepada Kai. Terlebih saat Kai membuka usaha rintisan bersama Luki, tambah benci saja Hugo terhadap Kai.
Semenjak saat itu Hugo berusaha untuk mencelakai Kai, namun selalu gagal. Ia akhirnya menyerah. Lalu setelah beberapa tahun ia menjadi hacker dan mengenal organisasi gelap ia pun nekat untuk menyewa pembunuh bayaran. Waktu itu sudah hampir berhasil, namun lagi lagi para pembunuh bayaran itu gagal di saat saat terakhir. Bahkan semuanya meninggal di tempat.
" Sudahlah sayang tidak usah dipikirkan soal itu. Sekarang yang penting adalah kita bisa melihatnya seperti sekarang. Aku yakin setelah dia sakit begitu perusahaannya akan bangkrut dan kamu bisa menjadi rajanya."
Hugo mengangguk, ia pun segera meraup bibir Soraya dengan rakus. Mereka pun kembali mereguk kenikmatan yang tidak halal bagi keduanya.
" Heh, meskipun dulu aku menyukaimu dan masih penasaran dengan tubuhmu tapi melihat dirimu yang sekarang sungguh membuat aku enggan."
__ADS_1
TBC