My Billionaire Hubby

My Billionaire Hubby
MBH 42. Kabar Tersebar


__ADS_3

Berita kemunculan Kai dengan istrinya mengejutkan khalayak ramai. Terlebih lagi Safira. Jika kemarin setelah diperingatkan Kai dia tidak muncul bukan berarti dia menyerah atas Kai.


Safira mengepalkan tangannya erat. Nita yang tahu sang sahabat sangat marah mencoba untuk menenangkan.


" Fir … sudahlah. Mungkin Kai memanglah bukan jodohmu."


" Stopped Nit, kamu tahu apa soal jodoh. Sedangkan kamu aja ditinggal suami mu kan. Nit, aku nggak pernah percaya yang namanya garis jodoh. Lihat saja aku pasti bisa merebut Kai kembali."


" Fir, cukup Fir. Ingat dia sudah beristri. Jangan membuat namamu hancur hanya demi seorang pria. Jangan pernah mengulang kesalahanku lagi Fir Cukup aku saja yang merasakan itu."


" Jangan samakan aku denganmu, kau saja yang terlalu Naif dan bodoh membiarkan suamimu direbut oleh orang lain."


" Lantas apa bedanya kau dan pelakor yang merebut suamiku?"


Safira terdiam sesaat perkataan sahabatnya itu benar juga. Namun keegoisan dia yang tinggi mengalahkan akal sehatnya.


" Aku lebih dulu mengenal Kai. Jadi aku lebih berhak atasnya daripada wanita itu. Aku yakin wanita itu hanyalah wanita bodoh yang tidak pantas bersanding dengan Kai."


Nita lagi lagi menggelengkan kepalanya. Dia sudah sudah kehabisan akal dan kata untuk memperingatkan sang sahabat.


" Terserah kamu lah Fir yang pasti dan yang jelas aku sudah memperingatkanmu. Jika suatu saat nanti terjadi sesuatu kepadamu aku tidak akan lagi ikut campur."


Nita pun pergi dari ruangan Safira dan Safira membuang mukanya ke arah lain. Sebenarnya ia sedikit takut dengan ancaman Kai tempo hari. Namun safira sudah bertekad bahwa dia harus mendapatkan Kai bagaimanapun caranya.


" Sekarang rencana aku bertambah satu yakni bagaimana caranya menyingkirkan wanita itu dari kehidupan pangeranku."


*


*


*


Di kotaM, tepatnya di desa Kiran semua warga heboh melihat berita yang tersiar di televisi. Mereka melihat Kiran ada di televisi bersama dengan Bang Bule. Ya Kai yang selama ini dipanggil Bang Bule oleh mereka muncul di TV sebagai Kai Bhumi Abinawa. Seorang CEO dan pemilik perusahaan AbiNawa Defense internet System Company (A-DIS Company).


Semua sungguh terkejut, Arman bahkan tidak bisa berkata apa-apa.


" Edyaaan , Bang Bule asli keren … "

__ADS_1


Tono pun ikut heboh di rumahnya memanggil kedua orang tuanya.


" Pak, buk, kui lho ono Bang Bule karo mbak Kiran nang tipi ( itu lho ada Bang Bule dan mbak Kiran di tv). Ternyata Bang Bule orang kaya buk. Kaya banget malah. Hahaha mas Jaya ra ono apa apa ne ( nggak ada apa apa nya.)"


" MasyaAllaah bener le, Bang Bule sungguh orang kaya dan orang terkenal. Beruntung Kiran bisa menikah dengan Bang Bule."


" Alhamdulillaah Buk. Rejekine Kiran, cah sholihah bakti sama orang tua akhirnya mendapatkan suami dan keluarga yang baik. Kemarin saat mereka datang bapak ndue keyakinan mereka keluarga yang sangat baik. Dan tebakane bapak bener, Kai itu bukan orang sembarangan."


Pak No tersenyum penuh arti. Pria tua itu memang tidak salah menilai orang. Berulang kali ia merasa bahwa Kai bukanlah orang sembarang. Berulang kali juga ia merasakan aura kepemimpinan dalam diri pemuda itu. Dan semuanya itu benar adanya.


Martiyah dan Riati membelalakkan matanya saat melihat wajah yang sangat familiar bagi mereka muncul di layar kaca.


" Buk … itu … itu bukannya Kiran. Gusti, Kiran dadi wong sugih buk. Buseeet … bule kere itu ternyata sangat kaya buk. Aseeem, sialaaaan. Kenapa bukan aku yang jadi bojone."


Martiyah hanya terdiam namun tangannya mengepal. Ia sungguh merasa tidak terima Kiran hidup enak sedangkan dia harus menanggung malu perbuatan anaknya.


" Pancen a*u c*leng, bocah kae emang bejo (beruntung)."


" Ho oh Buk, Kiran bener bener bejo bisa dapat orang yang sangat kaya. Bahkan Jaya pun tidak ada apa apa nya."


" Huh, aku ra bakalan meneng wae ( aku nggak akan tinggal diam). Aku kudu minta jatah dari bocah sialan kui."


" Ojo gawe bubrah ( jangan bikin rusuh), kamu nggak ono hak buat ganggu Kiran. Opo kamu lupa, anakku iseh nang penjoro. Bule kui dudu orang sembarangan. Nek koe macem macem, bukan mung Rio sek ra bakal bebas. Tapi bapak mesti bakalan keno pecat. Kamu mau urip blangsak."


Ucapan Subagio yang baru memasuki rumah membuat Martiyah membisu. Meskipun kedengkian menyelimuti dirinya melihat Kiran yang tersenyum bahagia, tapi ia harus sadar bahwa Kai bisa melakukan apapun. Bahkan termasuk membuat kehidupannya sengsara.


" Batalno niat elekmu itu. Taubat o Mar. Kamu wis tuo. Banyakin ibadah bukane banyakin dosa."


Subagio melenggang masuk ke kamar. Selama ini pria itu memang diam saja karena tidak mau ikut campur setiap urusan snag istri. Namun Martiyah benar benar sudah di luar kendali sehingga Subagio pun harus angkat bicara.


" Kalau kamu iseh seperti ini, aku sudah ndak sanggup dadi bojomu."


Brak ….


Subagio menutup pintu kamarnya dengan sangat keras. Ancaman sang suami berhasil membuat hati Martiyah bergetar. Suaminya yang selama ini hanya diam ternyata menyimpan kekesalan. Martiyah pun berjalan cepat menyusul sang suami ke kamar. Sedangkan Riati ia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal menyaksikan kedua orang tuanya


***

__ADS_1


Prang ….


Prang ….


Klontang ….


" Huaaaa … uaaaaa … uaaaaa …."


Suara benda pecah belah menggema di rumah itu diikuti tangis seorang bayi perempuan berusia 6 bulan.


" Jaya, ojo edan koe."


" Meneng o nek ora cangkem mu tak sumpeli sisan. ( diam kau, kalau tidak mulutmu aku sumpal sekalian.)"


Jaya mengamuk, ia melempar benda pecah belah ke lantai. Tak mau jadi sasaran Jaya, Rosma pun berlari keluar dan menuju rumah mertuanya.


" A*u … cel*ng, badjingan … ternyata dia orang yang sangat kaya. Bangsat. Aku dipermalukan, aku sungguh dipermalukan oleh bule itu. Argh … !!! Kiran … aku mencintaimu Kiran … jangan tinggalkan aku Kiran … hu … hu … hu aku sungguh menyesal. Argh … "


Jaya berteriak dan mengacak rambutnya dengan frustasi. Ia sungguh terkejut melihat Kiran yang sangat cantik tampil di TV dan dikenalkan sebagai seorang istri miliuner muda Kai Bhumi Abinawa. Jaya benar benar menciut, ada rasa tidak rela di hatinya. Apa lagi wajah cantik Kiran begitu sempurna saat tampil di televisi.


Sedangkan Rosma yang berjalan cepat ke rumah sang mertua tiba tiba terjatuh. Beruntung bayinya tidak jatuh karena Rosma menggunakan tubuhnya sebagai tumpuan.


Tes …


Air matanya luruh. Ia merasa sangat tidak beruntung menikah dengan pria seperti Jaya. Jaya yang ia kenal dulu sungguh sangat berbeda dengan Jaya yang ia hidup bersama sekarang.


Setiap hari suaminya itu hanya mengingat Kiran, Kiran, dan Kiran. Bahkan dalam tidurnya nama Kiran lah yang disebut. Rosma tidak jadi pergi ke rumah mertuanya. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya di Kota Y.


" Ya, sepertinya mending aku pulang ke rumah ayah dan ibu. Paling tidak aku masih punya orang orang yang menyayangiku."


Rosma merasa lelah dengan semua kelakuan Jaya. Ia pun memutuskan pulang ke rumahnya dulu.


Disana tampak Jaya tengah tertidur di lantai dengan keadaan yang berantakan. Rosma hendak mendekat namun ia urung ia langsung masuk ke kamar untuk membawa barang berharga yang ia miliki dan sedikit baju putrinya.


" Aku sudah tidak sanggup hidup denganmu Jaya. Dan mungkin lebih baik aku pergi. Aku akan merawat anak kita sendiri. Selamat tinggal."


Rosma menghapus air matanya yang terlanjur menetes. Ia keluar rumah dan langsung berjalan ke arah jalan raya untuk pergi meninggalkan desa itu.

__ADS_1


TBC


__ADS_2