
Seorang wanita pergi dari depan kediaman Rama setelah ia selesai melihat keadaan rumah tersebut. Ia pun kembali berjalan dengan santai sambil memasang earphone miliknya.
" Semua terlihat begitu bahagia, baiklah aku akan datang ikut meramaikan kebahagiaan itu."
Wanita itu masuk ke dalam rumahnya, tampak seorang maid membawa sebuah nampan yang berisi sebuah handuk dan segelas jus.
" Selamat datang nona Grizzle."
" Terimakasih."
Griz meminum air itu hingga tandas dan mengelap wajahnya dengan handuk.
" Dimana Ben?"
" Tuan Ben sedang di ruang kerja nona."
" Oke … "
Griz segera melenggang menuju ruang kerja milik Ben. Tanpa mengetuknya Griz langsung masuk saja, membuat Ben menggelengkan kepalanya.
" Bisakah kau mengetuk pintu Griz."
" Tck … pemarah. Kau sedang apa.?
" Mengurus perusahaan yang pemiliknya tidak memperdulikannya karena lebih terobsesi mengejar pria yang sudah beristri."
Griz langsung mencebikkan mulutnya. Ia tahu Ben sangat tidak suka dengan rencananya.
" Ben jangan lagi mengatakan itu."
" Ayolah Griz masih banyak pria diluar sana yang masih single. Jangan menjatuhkan harga dirimu dengan predikat pelakor nanti."
Ya jika mereka tengah berdua Ben memang tidak memanggil Griz dengan sebutan nona. Semua itu Griz yang memintanya, dan hal tersebut menjadi kesempatan Ben untuk mengutarakan semuanya. Dalam artian Ben bebas mengemukakan pendapatnya meskipun lebih banyak yang dibantah ketimbang yang diterima.
" Ben … aku tidak akan merebut nya dari istrinya. Aku malah akan membantu merawat dia bersama sama dengan istrinya."
" Ya Tuhan gadis ini benar benar sudah tidak tertolong."
Griz acuh dengan ucapan Ben ia pun berlalu meninggalkan Ben sendiri dengan semua kekesalannya.
" Ya Tuhan … kapan gadis itu akan dewasa. Umurnya sudah 24 tahun tapi kelakuannya tak ubahnya seperti gadis abg. Bagaimana aku bisa meninggalkannya kalau begini. Huft … tuan tuan, kau sungguh memberikan amanat yang sulit bagiku."
Ben bermonolog, ia menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Ingatannya kembali di saat saat terakhir sang tuan akan meninggal.
" Ben jaga putriku. Hanya kau satu satunya orang yang bisa aku percaya."
" Jangan bicara seperti itu tuan. Anda akan hidup lama bahkan seabad lagi."
" Hahaha kau selalu bisa membuatku senang Ben. Ben, perkataanku sungguh serius. Jaga Grizzle, hanya kamu yang bisa mengerti dia. Bahkan kamu lah yang lebih mengerti dia ketimbang aku."
" Baiklah tuan, aku berjanji akan menjaga nona Grizzle selamanya."
" Terimakasih Ben. Aku akan tenang jika meninggalkannya nanti."
__ADS_1
Kini Ben benar benar harus menepati janji yang diucapkannya kepada almarhum tuannya itu.
Tak tak tak
Ben keluar dari ruang kerjanya dan menuju meja makan. Namun ia tidak menemukan Griz di sana.
" Di mana nona kalian?"
" Masih di kamar tuan. Tadi saya sudah memanggil tapi nona belum mau sarapan."
" Tck … dasar anak itu."
Ben beranjak dari duduknya dan menuju ke lantai 2 untuk memanggil Griz.
Tok … tok … tok …
" Griz … cepat turun, sarapan !!! "
Tidak ada jawaban dari dalam kamar Griz. Ben pun kembali mengetuk pintu kamar gadis itu dengan kuat. Namun lagi lagi tidak ada jawaban. Dengan terpaksa Ben pun masuk ke kamar Griz. Ia sedikit terkejut Griz tidak ada di sana.be langsung berjalan ke kamar mandi.
" Griz, apa kau di dalam."
Lagi lagi tidak ada jawaban. Ben pun langsung masuk. Betapa terkejutnya Ben melihat Griz terduduk di lantai kamar mandi hanya mengenakan handuk.
" Griz apa kau tidak apa apa."
" Entahlah Ben, kaki ku tidak bisa digerakkan."
Ben pun segera mengangkat tubuh Griz. Sejenak Ben menelan salivanya dengan susah payah saat tangan nya menyentuh kulit lembut Griz. Terlebih tubuh gadis itu hanya berbalut handuk membuat dada Griz terekspos dan bulatan kenyal itu sedikit menyembul. Berkali kali Ben membuat nafasnya kasar untuk menstabilkan debaran jantung nya. Bagaimanapun juga dia adalah laki laki dewasa yang normal.
" Apakah sakit?"
" Tidak. Hanya saja tadi aku mengingat saat kecelakaan bersama mama."
" Sudah lah, lupakan itu. Kau sudah sembuh lama dari trauma mu."
" Ben … boleh kah aku memelukmu?"
" Apa … "
" Ayolah aku ingin dipeluk."
Ben menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia pun memenuhi keinginan Griz. Ben pun duduk di sebelah Grizz, gadis itu lalu memeluk sang asisten. Ben bisa merasakan dua bukit kenyal milik Griz menempel di dada nya membuat jantungnya berdetak begitu kencang.
" Ben, kau kenapa. Kau sakit. Mengapa detak jantung mu begitu cepat."
" Ti-tidak .. Tidak apa apa."
" Terus mengapa wajahmu begitu merah."
" Bukan ini tidak apa apa. Cepatlah ganti baju dan sarapan katanya kau mau mengejar pangeranmu itu."
Brak …
__ADS_1
Ben langsung keluar dari kamar dan menutup pintu kamar Grizzle dengan keras. Griz hanya menatap pria dewasa itu dengan tatapan bingung. Sedangkan di luar kamar Ben mengumpat kasar sambil memegang dadanya.
" Sial, mengapa harus deg deg an. Dasar gadis nakal."
🍀🍀🍀
Setelah sarapan mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Hal ini memang sering mereka lakukan saat di akhir pekan. Namun tiba tiba Rama membuang nafasnya kasar. Hal tersebut menarik perhatian Kai.
" Ada apa yah?"
" Ini, ada undangan acara ulang tahun perusahaan milik Hendri."
" Lantas … "
" Entah mengapa ayah merasa ada yang tidak beres."
" Datang saja yah."
" Bagaimana menurut mommy dan triplet, apakah kita harus datang.."
Rama menanyakan hal tersebut kepada semua orang di rumah. Rama adalah ayah yang demokratis. Dia tidak akan memutuskan sendiri suatu hal yang melibatkan keluarganya.
" Kita sih yes." Jawab si kembar.
" Kalau mommy."
Sita terdiam sesaat, sebagai seorang wanita ia memiliki feeling yang kuat. Ia merasa undangan kali ini bukanlah undangan biasa. Sita yakin ada maksud tersembunyi. Dan lagi lagi Kai tahu apa yang ibunya pikirkan itu.
" Mom, tidak perlu khawatir. Aku akan menjaga Kiran dengan baik nanti. Aku juga akan minta triplet menjaga kakak iparnya. Yoi nggak guys."
Ketiga remaja kembar itu mengacungkan jempol mereka.
" Haish, abang punya indra keenam ya. Mengapa selalu bisa tahu apa yang momny pikirkan. Baiklah mommy setuju."
Semua tertawa mendengar ucapan sang mommy.
" Mommy jangan khawatir. Kiran cukup bisa menjaga diri. Nanti Kiran akan menempel pada abang hehehe."
Kai mengusap kepala istrinya itu. Kiran benar benar sungguh menggemaskan dimata Kai. Sita dan Rama hanya tersenyum melihat tingkah anak dan menantunya itu. Sita pun spontan memeluk Rama.
" Oh no … aku terus dipeluk siapa dong."
Lagi lagi Ana merasa cemburu, ayah dan abangnya sudah dipeluk oleh kekasih hatinya masing masing. Akhza dan Abra pun melakukan kode mata. Keduanya langsung memeluk Ana bersama.
" Kami yang peluk."
" Ehmp … lepas. Ya Allaah kalian ini besar besar. Aku terjepit diantara kalian. Mommy, help!!"
" Biarin, biar kau tidak bisa kemana mana." Ucap Akhza.
" Kakak … lepas … mas … aku kehabisan nafas."
" Tidak akan."
__ADS_1
Rama dan Sita serta Kai dan Kiran tertawa terbahak bahak melihat kelakuan ketiga remaja usia 20 tahun itu. Meskipun usia mereka sudah bisa dikatakan dewasa namun jika tengah bersama mereka tak ubahnya dengan anak anak. Terlebih Akhza dan Abra terlihat begitu protektif terhadap saudara kembar mereka yang perempuan.
TBC