
Setelah pembicaraannya dengan sang suami sebelum acara di perusahaan tempo hari, akhirnya Kiran dan Kai memutuskan untuk tinggal di kediaman orang tua mereka lebih lama. Keduanya sudah melakukan pertimbangan yang matang sehingga bisa pada kesimpulan tersebut.
Namun, meskipun Kiran berada di rumah dia sungguh terlihat sibuk dengan jadwal kursus nya. Kai sengaja mendatangkan guru langsung ke rumah untuk membuat Kiran lebih mudah mengatur jadwalnya sendiri dan agar istrinya itu tidak kelelahan.
Dalam sehari Kiran bisa kursus 2 sampai 3 bidang. Namun saat ini yang ingin dikuasai adalah bidang bahasa. Kiran sangat semangat, pada dasarnya wanita berhijab itu memang lah pintar jadi mudah untuk memahami pelajaran baru. Kiran semasa di sekolah selalu mendapat ranking pertama. Kiran pun sering diajukan untuk mengikuti lomba. Basic kecerdasannya tersebut memudahkan ia menerima pelajaran baru meskipun sudah lama tidak belajar. Hanya butuh waktu seminggu di awal untuk Kiran beradaptasi.
" Woah, you are a very smart miss."
" Terimakasih miss, saya sangat senang dengan pujian anda. Semoga saya bisa lebih baik lagi."
Sang pengajar pun kagum dengan kecepatan Kai menerima pembelajaran. Ia sungguh senang dengan sikap Kiran yang baik dan begitu sopan.
Sita tersenyum bahagia melihat semangat belajar sang menantu.
" Kak Kiran hebat ya mom."
" Iya, mommy sungguh senang dia punya semangat yang tinggi."
" Meskipun kak kiran tidak kuliah, Ana yakin dengan mengikuti kursus begini kemampuan Kak Kiran akan berkembang pesat."
" Iya, public speaking nya juga bagus lho. Belajar 2 minggu saja Kiran sudah bisa menguasai panggung."
Ana terdiam sejenak, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
" Mom, Ana hanya sedikit merasa khawatir."
" Kenapa sayang? Apa yang kamu khawatirkan?"
" Entahlah, tapi dengan abang mengumumkan pernikahannya pasti akan banyak hati yang kecewa. Secara wanita yang mengejar abang banyak banget. Ana sih tidak khawatir dengan abang mom. Yang Ana khawatirkan adalah kak Kiran. Ana takut kak Kiran lah yang menjadi target orang orang yang punya pikiran jahat ke abang."
Sita mengangguk, ia setuju dengan ucapan putri bungsunya. Kiran terlihat seperti wanita yang lemah dan lembut. Sita khawatir menantunya itu mudah untuk dimanipulasi oleh orang orang yang ingin menjatuhkan Kai.
" Dunia bisnis memang menakutkan. Dulu mommy juga mengalami hal hal seperti itu. Namun dari awal mommy memang sudah kuat karena keadaan, abang mu tahu betul soal itu. Semoga Kiran dan abang juga bisa kuat dan selalu bisa melewati setiap rintangan yang ada di depannya nanti."
" Aamiin … mom sepertinya kak Kiran sudah selesai, ayo kita kesana."
Sita dan Ana menghampiri Kiran yang telah menyelesaikan pelajarannya hari ini. Sang pengajar pun sudah berpamitan pulang.
" Bagaimana Kak, apakah seru belajarnya?"
" Iya An, sangat menyenangkan."
__ADS_1
Tiba tiba Sita memiliki ide untuk mengajak menantunya jalan jalan. Ia merasa Kiran butuh waktu untuk mengistirahatkan diri. Sita tidak ingin menantunya itu merasa stres dan tertekan.
" Girls … apakah kalian mau girls time siang ini."
" Yes mom … "
Ana dan Kiran menjawab serempak. Mereka sangat senang dengan ajakan Sita.
Ketiganya ditemani sang supir menuju pusat perbelanjaan. Sita yang masih cantik di umurnya yang hampir 50 tahun itu tidak seperti berjalan dengan anak anak mereka, tapi lebih mirip berjalan dengan adik adik nya.
" Kak Kiran, kakak apakah pernah ke kota J sebelumnya."
" Pernah An, saat study tour smp hehehe. Aku tidak pernah kemana mana An. Apalagi setelah bapakku meninggal, udah aja fokus di rumah ngerawat ibu. Sekarang ibu juga udah nggak ada."
Wajah Kiran berubah menjadi sendu, ia mengingat kembali kedua orang tuanya yang telah tiada. Ana merasa tidak enak akan hal itu. Sita yang paham pun langsung memeluk tubuh sang menantu.
" Kami sekarang keluargamu nak jangan pernah merasa sendiri oke."
" Betul kak, mommy juga ibu kakak, ayah juga bapak kakak sekarang, dan aku. Tentu aku adik kakak yang paling cantik sekarang."
" Ya benar, kamu memang adikku yang paling cantik."
Kiran beralih memeluk Ana dengan sayang. Ia benar benar menyayangi Ana. Dia yang selama ini tidak punya saudara benar benar menemukan seorang adik dan teman yang begitu luar biasa.
" Mom, bisakah ke salon khusus wanita."
" Tentu saja sayang, kami selama ini selalu ke salon khusus wanita kok."
Semuanya tersenyum. Girls day out kali ini diawali dengan pergi ke salon. Mereka melakukan perawatan rambut, kuku , dan tubuh. Setelah itu berbelanja baju, Sita mengajak sang menantu membeli baju dinas malam yang membuat Ana bergidik ngeri.
" Buat apa mommy ngajakin kak Kiran beli baju kurang bahan begitu, iiih."
" Sttt anak kecil nggak usah ikut pengen tahu. Nanti kalau udah cukup umur baru mommy beliin beginian."
" Hiih nggak mau, Ana nggak akan mau pakai baju begitu. Iiih geli ih …"
Kiran hanya tertawa melihat ekspresi Ana yang benar benar merasa risih dengan baju baju dinas itu. Sedetik kemudian wajah Kiran merona saat melihat baju baju itu. Sita pun muncul jiwa isengnya. Ia mendekat ke arah menantunya dan berbisik di telinga sang menantu.
" Jangan membayangkan hal itu di sini sayang, repot nanti kalau benar benar ingin."
" Mooom …. "
__ADS_1
" Hahahha …"
Ana hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat interaksi antara ibu dan kakak iparnya itu
Disaat mereka tengah berjalan di parkiran menuju ke mobil tiba tiba tubuh Sita ditabrak oleh seseorang. Sita pun menyadari tasnya dijambret.
" Tolong jambret … !!"
Teriakan Sita berhasil memancing perhatian security.
" Ada apa bu?"
" Itu pak tas saya dijambret … lho Ana kakak mu mana."
Ternyata Kiran sudah berlari terlebih dahulu mengejar jambret tersebut. Ana dan Sita yang panik menyadari Kiran tidak ada langsung ikut menyusul.
" Mom … gimana ini?"
Sita tidak bisa menjawab. Ia fokus mengejar Kiran dan penjambretnya sebisa dia.
Hosh … hosh … hosh …
Umur Sita yang sudah tidak lagi muda tidak bisa dipungkiri tenaganya juga sudah tidak banyak. Baru berlari beberapa meter saja ia sudah sangat kewalahan.
" Mom, hurry up."
" Wait baby, mommy is very tired. Kamu duluan."
Ana mengangguk ia pun kembali berlari menyusul Kiran meninggalkan sang mommy di belakang. Ana pun sampai dimana di depan tampak Kiran tengah mencoba meminta tas mommy nya dari tangan si penjambret.
" Kembalikan tas mommy saya."
Penjambret tersebut tidak menjawab. Ia masih berusaha ingin lari dari Kiran. Namun penjambret itu sedikit kesulitan karena ujung tas yang satu berhasil dipegang oleh Kiran.
Cara terakhir pun digunakan si penjambret yakni dia mengeluarkan sebilah pisau untuk mengancam Kiran. Bukannya takut wanita berhijab itu hanya tersenyum simpul.
" Tck … mas, pak, om atau siapa pun anda. Carilah uang yang halal, jangan dengan menjambret begini."
" Sialan, jangan ceramahin gue. Hiyaaa."
" Kiran !!! "
__ADS_1
" Kak Kiran !!!"
TBC