
Seminggu berlalu, dan hari ini adalah hari dimana Kai akan pulang ke rumah. Awak media yang sudah menunggu di depan gedung RS Mitra Harapan itu langsung mengerumuni Kai.
Tampak Kai keluar dengan sebuah kursi roda dan pandangan matanya lurus serta kosong. Di belakang, Kiran nampak sendu bahkan matanya sembab. Dapat dipastikan pasti istri dari CEO A-DIS itu habis menangis.
Para awak media tidak mau melepaskan kesempatan emas ini. Setelah seminggu menunggu keluarga terpandang tersebut, mereka tidak mau menyia nyiakan nya. Mereka harus mendapatkan berita yang akurat.
" Tuan Kai, bagaimana kondisi kesehatan tuan?"
Hening, pria yang biasanya begitu tegas dan berwibawa itu tampak seperti orang yang tidak bernyawa. Seperti cangkang tanpa isi.
" Tuan … mohon tuan memberi klarifikasi mengenai kecelakaan yang tuan alami."
Lagi lagi Kai hanya diam, Kai seperti tidak mendengar apa yang diucapkan awak media.
" Hiks, maaf teman teman, hiks. Suami saya, hiks."
Kiran seketika menangis. Ia merasa tidak sanggup meneruskan ucapannya. Dari arah belakang muncul dokter Dika dan dokter Bisma. Semua orang tahu siapa dokter Dika, dokter dengan reputasi yang tidak main main. Dan dokter Bisma tentu saja semua mengenal direktur utama RS Mitra Harapan tersebut.
" Perhatian semua, saya ditunjuk oleh Tuan Rama Joyodiningrat untuk memberikan keterangan mengenai kesehatan tuan Kai Bhumi Abinawa. Saat ini Tuan Kai tengah mengalami trauma pasca kecelakaan. Ada beberapa gigi yang lepas karena benturan kepala wajah dengan kemudi mobil. Bisa rekan media lihat sendiri kedua kaki tuan Kai juga mengalami patah tulang. Begitu juga dengan tangan kanan nya. Jika rekan media bertanya mengapa tuan Kai sudah pulang. Biar dokter Bisma yang menjawab."
" Baiklah saya akan melanjutkan penjelasan dari dokter Dika. Seperti yang disampaikan oleh dokter Dika bahwa Tuan Kai mengalami trauma pasca kecelakaan beliau sering lepas kontrol saat melihat dirinya berada di rumah sakit jadi tuan Rama selaku ayah dan nyonya Kiran selaku istri dari beliau meminta untuk Tuan Kai dirawat di rumah saja. Pihak keluarga beranggapan bahwa Tuan Kai akan lebih cepat sembuh jika berada di rumah."
Dokter Bisma dan Dokter Dika lalu mengantarkan Kai menuju ke mobil khusus milik keluarga. Hal tersebut juga dilakukan karena Kai tidak ingin mendengar suara ambulans.
Rombongan keluarga Joyodiningrat pun memasuki mobil mereka dan kemudian melesat pergi.
" Dokter apakah penyembuhannya akan lama?"
Seorang awak media rupanya belum puas mendengarkan penjelasan dari dokter Dika dan Dokter Bisma.
" Untuk luka fisik mungkin beberapa minggu akan sembuh. Tapi kalau untuk trauma yang diderita kita tidak tahu semuanya akan kembali kepada pasien."
" Jadi apakah menurut dokter proses penyembuhan secara total akan lama?"
Dokter Dika dan dokter Bisma enggan menjawab. Mereka langsung masuk ke dalam rumah sakit para security pun Menghadang para awak media agar tidak ikut masuk ke dalam rumah sakit.
Hanya butuh waktu 1 jam 30 menit keluarga Rama pun sudah sampai di pelataran rumah mereka.
Semuanya turun. Kai pun dibantu oleh Bey dan Luki untuk bisa duduk di kursi roda. Luki mendorong sahabatnya itu dengan wajah yang sendu menunjukkan kesedihannya. Awan mendung tampak menaungi kediaman Joyodiningrat.
Cekleek
Brak
__ADS_1
" Oh ayolah berdiri, masa iya aku harus mendorongmu sampai ke ruang makan. Apa aku perlu menyuapi mu juga."
Kai memberengut, ia pun langsung menarik dan memeluk pinggang istrinya yang berada di samping nya.
" Siapa yang mau disuapin sama kamu ada istriku ini ngapain juga."
Semua orang tertawa untuk dengar reaksi atau jawaban dari Kai. Sedangkan Kai tahu sahabatnya itu sekarang benar-benar sangat kesal padanya. Ketika Kai memutuskan untuk berpura-pura sakit maka secara tidak langsung luki lah yang bertanggung jawab terhadap perusahaan.
" Kau, kau benar benar membuat aku stres. Aku harus menghandle perusahaan sendiri. Oh ya Allaah, berapa lama Kai!!"
" Sudah sudah, ayo ke meja makan. Bee dan Bi Inah sudah masak banyak untuk menyambut kepulangan Kai."
Mendengar ucapan Sita semuanya pun menuju ke tempat makan, tanpa terkecuali. Kai dibantu Kiran melepaskan semua perban yang menempel di tubuhnya. Namun bukan di meja makan, Bee dan Bi Inah sudah menggelar tikar untuk makan bersama lesehan di lantai. Para pengawal pun ikut makan bersama.
Siang itu kediaman Rama sungguh terasa hangat karena anggota keluarga mereka akhirnya kembali ke rumah.
Hoeeek
Semua menatap ke Kiran, namun yang ditatap tidak merasa. Kiran yang tengah menikmati rujak buatan Bee sama sekali tidak mengeluarkan suara tersebut.
Hoek
Pandangan semua orang beralih, ternyata suara itu berasal dari Kai.
" Itu, itu kesukaan anda tuan. Ayam tumis lada hitam."
" Baunya sungguh nggak enak, hoek."
Kai lari ke kamar mandi. Kiran pun langsung menyusul sang suami.
" Abang kenapa?"
" Nggak tahu, perut abang eneg banget. Hoek, hoek."
Kiran memijat tengkuk Kai. Namun yang keluar hanya cairan bening saja. Kai terduduk lemas di lantai kamar mandi.
" Masih mual bang."
Kai memeluk istrinya dan menghirup aroma Kiran. Entah kenapa aroma tubuh Kiran membuat Kai begitu tenang bahkan perutnya pun berhenti bergejolak.
" Apakah sudah tidak apa apa?"
" Ya, jika abang memelukmu begini abang tidak mual."
__ADS_1
Kiran pasrah, ia keluar kamar mandi dengan Kai yang memeluknya. Semua orang menatap heran dengan CEO A-DIS yang tiba tiba begitu manja itu.
" Gimana bang, apa abang baik baik saja."
" Selama meluk Kiran, abang nggak akan eneg."
Semua orang melongo mendengar jawaban Kai. Sedangkan Kiran, ia hanya tersenyum kaku. Dia bingung kenapa suaminya bisa begitu aneh setelah keluar dari rumah sakit.
" Abang mau makan apa?"
" Makan rujak punya kamu saja."
Lagi dan lagi semua orang tercengang mendengar ucapan Kai. Seketika Sita teringat sesuatu.
" Apa ini ada hubungannya dengan kehamilan Kiran?"
" Maksud mommy?"
" Gini lho bang, kata dokter ada yang namanya kehamilan simpatik atau couvade syndrom dimana suami lah yang mengidam dan mengalami morning sicknes saat istrinya hamil."
Seketika tawa Luki pecah. Semua orang menatap aneh ke arah Luki.
" Kenapa om Luki tertawa begitu."
" Hahaha rupanya Allaah tengah adil kepada ku An. Aku disuruh ngurus kerjaan karena si bos pura pura sakit nah si bos disuruh ngerasain ngidam nya sang istri. Adil kan hehehehe."
Semua sesat terdiam namun sejurus kemudian mereka pun ikut tertawa. Kai memberengut menjadi bahan tertawaan orang serumah. Namun dia acuh, dia tetap memeluk sang istri. Bahkan makan pun ia memeluk istrinya.
Acara makan siang tersebut pun berjalan dengan sedikit drama mual muntahnya Kai. Setelah itu para pengawal menuju pos masing-masing untuk berjaga. Sedangkan anggota inti keluarga tersebut berada di ruang keluarga.
" Apakah kamu yakin Kai rencana ini akan berhasil."
" Pasti Luk. Berita aku mengalami trauma pasca kecelakaan tersebut pasti akan menjadi headline besok pagi. Dan aku yakin orang-orang itu pun lambat laun akan keluar dengan sendirinya."
" Baiklah aku akan kembali ke perusahaan kasihan Mira di sana ia sendiri."
Kai mengangguk, sungguh dia berhutang terhadap Luki dan Mira. Namun Kai juga menempatkan pengawal untuk keluarga Luki. Keselamatan keluarga Luki juga merupakan tanggung jawab Kai.
Saat ini semua orang terdekat Kai harus diberi penjagaan. Kai tidak mau kecolongan barang sedikit pun. Bahkan Kai sudah memberi alat pelacak serta penyadap di seluruh ponsel milik orang terdekatnya.
" Sebentar lagi, ya sebentar lagi aku akan bisa menangkap mu Mr. X."
TBC
__ADS_1