My Billionaire Hubby

My Billionaire Hubby
MBH 79. Rasa Kai


__ADS_3

...Eitsss ... 3 Bab nih. Ayoook jangan lupa sawerannya yak 🤭🤭...


...Happy reading readers kesayangan...


...****************...


Orang orang itu pun dipaksa keluar dari mobil oleh anak buah Silvya. Mereka tampak mendapatkan beberapa luka akibat benturan mobil. Namun ada juga yang terkena luka tembak. Kemampuan mereka sungguh dibawah rata rata. Sebagai seorang pembunuh profesional mereka sangat jauh dari kata bisa ataupun ahli.


" Katakan siapa yang menyuruh kalian untuk menyerang ku!"


Kai berkata pelan namun sungguh dalam. Mereka pun bergetar ketakutan. Tapi tidak ada satupun diantara mereka yang mau berbicara.


" Apa kalian memilih mati daripada mengatakan sesuatu hah!"


Duagh!


Kali ini Bey yang maju, dia berteriak keras lalu menendang salah satu dari mereka hingga tersungkur di tanah. Rama sungguh terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Bey begitu bringas. Selama ini ia hanya melihat Bey yang begitu tenang dan pendiam.


Namun lagi lagi mereka bergeming. Semua orang itu hanya menunduk tapi kemudian mereka satu per satu jatuh ke tanah.


Bruk


Bruk


Bruk


Rama kaget melihat pemandangan di depannya. Tidak diapa apain mengapa mereka terjatuh? Itu lah yang ada di kepala pria paruh baya tersebut. Namun tidak dengan Kai, ia hanya memicingkan sebelah matanya melihat semua itu.


Bey bersama para pengawal yang lain langsung memeriksa keadaan orang orang itu.


" Mereka semua sudah mati tuan. Mereka menggigit racun yang ada di bawah lidah mereka," jelas Bey.


"  Ya, aku sudah menduganya. Rupanya ini hanya semacam peringatan saja. Urus semua jasad mereka dengan rapi. Aku kasihan, mereka hanya digunakan untuk bermain main oleh bos mereka," jawab Kai.


Kai membuang nafasnya kasar, ia yakin orang orang ini berasal dari organisasi bawah. Tapi dari mana asal mereka itu lah yang jadi pertanyaan besar. Namun Kai yakin bahwa Mr. X lah yang mengirim mereka. Kemunculan dirinya di publik malam ini pasti cukup untuk membuat musuhnya itu panas.

__ADS_1


" Aku yakin ini hanya permulaan. Aku mohon kalian lebih waspada lagi. Berhati hati lah. Bey kau urus ini semua dulu, jangan lupa memberi laporan kepada Q. Bisa jadi Q tahu dari mana asal mereka. Alu akan membawa mobilnya sendiri. Aah lupa, sepertinya mobil ku harus ganti. Aku tidak ingin orang rumah heboh dengan kaca mobil yang pecah itu."


Bey mengangguk mengerti, ia akan tinggal seperti perintah Kai. Tetapi ia tidak akan membiarkan tuannya itu membawa mobil sendirian. Bey kemudian memberi perintah kepada para pengawal yang lain untuk mengantar Kai dan Rama pulang. Bey masih khawatir jika para musuh akan kembali lagi. Dia tidak boleh lengah sedikitpun.


Pada akhirnya Kai dan Rama menggunakan mobil lain untuk pulang. Sesuai dengan pengaturan Bey ada setidaknya dua orang yang ikut di mobil yang mereka naiki.


" Sebagai orang lama di Wild Eagle, bagaimana menurut kalian orang orang tadi?" tanya Kai kepada dua orang yang berada di depannya.


" Kalau yang saya lihat, mereka masih amatir semua mister. Bahkan gurat ketakutan di wajah mereka sungguh masih terlihat. Mereka tampak seperti orang baru atau mungkin mereka ini adalah orang baru," jawab pengawal 1.


" Tapi motif apa yang digunakan oleh bos mereka saya tidak bisa menduganya juga. Jika benar mereka adalah organisasi bawah yang memiliki hubungan dengan Mr. X, mengapa mereka mengirimkan orang orang bodoh itu?" timpal pengawal 2.


Kai mencerna setiap apa yang kedua orang di depannya itu katakan. Ia tengah menganalisa sesuatu. Entah mengapa ini tidak sesederhana yang yang terlihat.


" Sial! Kemudikan mobilnya lebih cepat lagi!"


Pengawal 1 yang memegang setir kemudi langsung menginjak pedal gas dengan dalam. Ia tahu apa yang dipikirkan tunanya utu. Kai di belakang mengepalkan erat tangannya.


" Jangan sampai terjadi apa apa dengan kalian," gumam Kai lirih.


Tapi ternyata gumaman Kai masih bisa ditangkap oleh telinga Rama.


Kai bergeming dengan pertanyaan sang ayah. Ia bahkan tidak mendengar ucapan ayahnya itu hingga Rama menepuk bahunya.


" Bang!"


" Yah, maaf abang nggak denger."


" Ada apa, mengapa begitu tegang?"


Kai membuang nafasnya kasar. Ia sungguh benci dengan pikirannya kali ini. Namun ia harus mengatakan apa yang ada di dalam otaknya kepada sang ayah.


" Abang khawatir orang orang tadi hanya sekedar pengalihan dan pengecoh yah."


" Maksud abang, mereka bisa jadi menyerang rumah kita?"

__ADS_1


Kai mengangguk mendengar ucapan sang ayah. Namun sungguh ia berharap itu tidak terjadi. Sedangkan Rama wajahnya sudah pucat pasi, ada rasa takut yang menjalar di dalam dirinya. Meskipun di rumah sudah dilengkapi dengan banyak pengawal namun tetaplah ia merasa begitu khawatir.


Ckiiit …


Mobil mereka berhenti tepat di halaman rumah. Kai dan Rama langsung berlari menuju rumah dan kamar masing masing. Keduanya bernafas lega saat menjumpai istri mereka tengah tertidur. Bahkan Kai langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Ia tergugu melihat sang istri yang tidur terlelap. Ia pun mendekati istrinya lalu mencium kening Kiran dengan lembut.


Setelahnya Kai keluar kamar dan melihat kondisi adik adik nya. Ia membuka satu per satu pintu kamar mereka untuk melihat bahwa semuanya baik baik saja. Dan itu juga yang dilakukan Rama.


Keduanya saling bertemu tepat di depan kamar Ana. Ayah dan anak itu menghela nafas kelegaan. Kai menatap Rama dengan sendu. Ada rasa sesal yang membuncah.


" Maafin abang yah."


Kata itu lolos dari bibir Kai. Rama langsung memeluk sang putra. Kai menangis di pelukan ayah tersayang nya itu.


" Maafin abang yah, sungguh abang minta maaf hiks. Abang sungguh membahayakan semua orang di rumah ini. Maafkan abang yah. Hiks."


Rama membiarkan sang putra meluapkan semua yang ia rasakan. Rama tahu putranya itu sungguh sedang merasa tertekan. Di balik sikap tenang dan waspadanya Kai ternyata menyimpan banyak ketakutan. Rama pun mengusap bahu punggung lebar putranya itu. Bahkan Rama mencium pucuk kepala Kai. Ia menuntun Kai menuju ruang kerja agar orang rumah tidak mengetahui kegelisahan Kai. Karena Rama yakin Kai pun tidak mau terlihat lemah dihadapan semua orang.


Rama mendudukkan Kai di sofa, ia lalu menggenggam erat tangan sang putra. Ia mengusap kepala putranya dengan sayang.


" Abang, abang tidak salah. Apa yang abang lakukan adalah untuk melindungi keluarga ini. Dan sekali lagi, abang tidak bisa mencakup semuanya sendiri. Abang bukan superhero di cerita film fiksi yang bisa berpindah tempat dengan teleportasi atau doraemon dengan pintu ajaibnya. Abang manusia biasa seperti ayah dan juga yang lainnya. Jadi jangan merasa abang bertanggung jawab atas semuanya."


Kai masih tergugu, Rama benar benar baru melihat sisi lain Kai saat ini. Ia pun kembali mengusap pucuk kepala sang putra. Seorang Kai Bhumi Abinawa menangis adalah hal yang langka terjadi.


Kai mengepalkan tangannya dengan erat. Ia sungguh tidak akan membiarkan siapapun lolos jika berani menyentuh keluarga nya.


" Bang, apakah masih ingat kejadian dulu, saat abang melindungi ayah dan mommy di kota S? Usia abang baru 6 tahun tapi abang sungguh hebat menyikapi para penjahat. Dan saat mommy diculik, usia abang baru 13 tahun kalau ayah tidak salah. Tapi abang bisa melumpuhkan para penjahat bahkan mampu menggunakan senjata dengan sangat profesional. Bahkan abang sama sekali tidak takut meski abang tertembak saat itu."


Kai mengangguk, ia mengingat semuanya dengan jelas. Ia pun mengambil nafasnya dalam dalam dan membuangnya perlahan. Kepercayaan dirinya kembali lagi.


" Baik yah, abang tahu apa yang harus abang lakukan. Terimakasih banyak yah, terimakasih."


Rama tersenyum, ia pun kembali memeluk sang putra.


" I love you son."

__ADS_1


" I love you too yah. I love you so much."


TBC


__ADS_2