
Kai pulang ke rumah dengan wajah yang begitu lelah. Namun seketika dia terkejut saat menyadari rumah begitu sepi.
" Astagfirullaah … ini orang pada kemana. Kenapa mang Tarjo juga tidak ada di depan."
Kai berlari cepat memasuki rumah. Wajah panik Kai berubah saat menemukan seluruh keluarganya di dapur. Mereka semua tengah menikmati pertunjukan masak seseorang.
Greb …
Kai langsung memeluk Kiran dari belakang dan menyandarkan kepalanya di bahu sang istri.
" Eh abang, pulang kok nggak ada suaranya."
Cup …
Bukannya menjawab Kai malah mencium pipi istrinya itu. Kiran pun menempuk lengan sang suami pelan.
" Jangan sembarang cium cium. Di sini banyak anak anak dibawah umur," bisik kIran di telinga sang suami sambil memberi kode mata ke arah ketiga adik kembar nya.
" Tenang saja mereka sedang fokus ke atraksi masak."
Kai pun menarik sang istri untuk mundur dan menjauh dari dapur lalu membawa istrinya itu ke kamar.
Ceklek …
Kiran membuka pintu kamar, dan Kai langsung melepaskan hijab milik Kiran. Pria itu langsung menciumi leher sang istri.
" Shhh … bang mandi."
" Nanti…"
Entah mengapa hari ini dia begitu merindukan sang istri. Setelah pagi tadi sedikit drama mengenai bubur ayam yang berbelok entah kemana, kini Kai yang merasa ingin terus di dekat Kiran.
Kai mulai melepaskan gamis istrinya itu hingga melorot ke bawah. Ia menciumi seluruh tubuh istrinya. Kiran merasakan hal lain di setiap ciuman sang suami. Ada rasa takut, khawatir, protektif dan keposesifan. Namun Kiran membiarkan suaminya melakukan apa yang dia inginkan, karena Kiran juga menginginkan sentuhan dari sang suami.
Des*han dan er*ngan memenuhi kamar pengantin yang masih baru sore itu. Keduanya mereguk lagi kenikmatan yang halal bagi keduanya.
Kai menggendong Kiran ke kamar mandi dan mendudukkan sejenak istrinya di closet lalu dia mengisi bathup dengan air. Kai kembali menghampirinya kiran dan berjongkok di depan sang istri. Ia lalu mencium perut rata sang istri. Kiran terhenyak dengan tingkah sang suami.
" Kenapa?"
" Entah, lucu aja ngebayangin kalau perut kamu itu gede. Mesti imut gitu."
Kiran memajukan tubuhnya lalu mencium bibir sang suami. Tidak hanya ciuman singkat tapi ciuman yang dalam dan menuntut.
" Apa masih mau?" Kai mengerling nakal kepada istrinya. Kiran pun mengangguk, dan mulai lah mereka mengulang sesi percintaan mereka di kamar mandi.
🍀🍀🍀
" Bang abang tadi nyulik kak Kiran ya. Masa kita lagi nonton atraksi masak Kak Kiran nya udah ilang."
Ana protes terhadap sang abang. Kai dan Kiran hanya tertawa pelan menanggapi keluhan Ana. Semuanya tengah berkumpul di meja makan siap untuk makan malam. Disana ada dua orang baru pria dan wanita. Bee dan Bey, keduanya adalah orang orang yang dikirim oleh Silvya. Masing masing berusia 30 an baik Bee dan Bey punya perawakan tinggi dan tegap. Keduanya adalah sejenis bodyguard profesional yang menguasai banyak teknik beladiri. Bukan hanya itu, keduanya juga profesional dalam bidang memasak.
" Apa kalian dikirim oleh Q?"
" Siap tuan."
" Perkenalkanlah diri kalian?"
" Siap saya Bee usia 30 tahun dan rekan saya Bey usir 30 tahun."
__ADS_1
" Apa kalian sudah tahu jobdesk kalian."
" Siap tuan sudah."
" Bagus."
Semua orang melongo melihat interaksi Kai dan kedua orang baru itu. Bee dan Bey sungguh sangat hormat kepada Kai. Mereka sudah diberitahu siapa Kai sebenarnya, dan mengetahui fakta Kai adalah Mr. Sun keduanya pun begitu senang dapat mengawal keluarga seorang hacker kenamaan tersebut.
" Kalian ikutlah bergabung makan malam bersama."
" Tapi tuan?"
" Tidak ada penolakan."
" Siap tuan."
Rama menggelengkan kepalanya pelan, putra sulungnya itu memang hanya bisa bersikap lembut kepada keluarganya dan orang terdekatnya saja. Selebihnya ya seperti ini, datar dan dingin serta seperlunya.
" Bang, jangan begitu kaku."
" Tidak sayang, aku tidak kaku."
" Kak Kiran abang kalau sama kak Kiran emang nggak kaku, kalau sama yang lain baru tuh kaku kayak kertas karton."
Pletak … kepala Abra mendapat jitakan dari saudara kembarnya.
" Kak Akhza sakit ih."
Semua orang tertawa. Suasana yang semula dingin gara gara interaksi Kai dengan Bee dan Bey seketika mencair. Mereka pun melanjutkan makan malam dengan hikmat. Namun Kiran tidak menyentuh makanannya sama sekali membuat sang ibu mertua dan suami nya heran.
" Sayang, apakah makanannya tidak membuatmu berselera. Mengapa tidak menyentuh makanannya sama sekali."
Glek …
"Habis sudah kalau nyonya tidak menyukai makanan kita," gumam Bee dalam hati.
" Apakah setelah ini kita akan dipecat, baru ge sehari bekerja masa iya udah di out," batin Bey dengan wajah pias.
Kiran merasa tidak enak melihat Bee dan Bey. Ia tahu kedua orang itu pasti merasa bersalah.
" Bukan Mom, bang. Kiran hanya tidak nafs* makan."
" Apa yang kamu inginkan untuk makan malam hmm…"
Kiran terdiam sejenak, tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu.
" Aku mau makan nasi padang aja bang sama sate lontong deh."
" Apa ???!!"
Semua orang terkejut tanpa terkecuali dengan jawaban polos Kiran.
" Yakin itu nasi padang sama sate lontong?"
Kai memastikan lagi kepada sang istri. Kiran pun mengangguk mantab.
" Ya sudah minta tolong saja sama Akhza dan Abra buat beliin."
" Jangan, kita aja yuk yang beli. Kasian Akhza sama Abra lagi makan."
__ADS_1
Kai pasrah dengan keinginan sang istri. Pasangan suami istri itu kemudian pamit untuk pergi membeli keinginan Kiran. Sita sedikit merasa aneh dengan tingkah menantunya begitu juga Rama. Keduanya saling pandang namun tiba tiba tersenyum.
" Apakah mommy sependapat dengan apa yang ayah pikirkan."
" Ya, sepertinya apa yang kita pikirkan sama yah."
Triplet penasaran dengan senyum misterius kedua orang tuanya. Ana pun tidak sabar ingin bertanya, namun ternyata sudah keduluan sang kakak.
" Kenapa yah, mom?"
" Tidak kenapa napa. Lanjutkan makan malam kalian."
Akhza tertunduk lesu karena tidak mendapat jawaban yang diinginkan. Ana dan Abra pun menepuk bahu kakak mereka dengan perlahan dan membisikkan sesuatu bersamaan.
" Sabar … "
Di luar rumah Kiran menikmati keluar malamnya bersama sang suami dengan menggunakan motor pinjaman dari Mang Tarjo. Ia mendekap erat pinggang suaminya.
" Apakah senang."
" He hem, seneng banget bang."
Kai tersenyum, ternyata bukan hanya sekedar ingin makan nasi padang dan sate lontong. Rupanya istrinya itu ingin keluar menikmati malam dengannya.
" Lalu, apakah masih ingin makan nasi padangnya?"
" Jadi dong bang, kan aku belum makan tadi."
Kai terkekeh pelan mendengar jawaban sang istri. Ia hanya iseng bertanya namun Kiran begitu serius menjawab nya.
Setelah puas muter muter dengan motor akhirnya keduanya pun pulang. Sita sudah menyambut anak dan menantunya itu, ia penasaran apa yang dibawa oleh sang menantu.
" Sudah dapat nasi padangnya?"
" Sudah mom, ini."
" Tapi kok kayaknya banyak gitu."
Kai menghembuskan nafasnya perlahan lalu menjawab pertanyaan sang mommy.
" Kiran tidak hanya membeli nasi padang, tapi juga martabak, roti bakar, sate, dan singkong keju. Entah kemakan semua tidak itu."
Bukannya merasa aneh Sita hanya tertawa pelan. Ia pun merangkul sang menantu dan membawanya ke meja makan. Sita membantu memindahkan semuanya ke piring.
" Makanlah sayang."
" Mommy juga ya."
Sita mengangguk, ia duduk di sebelah Kiran dan mengambil setusuk sate. Kiran makan dengan begitu lahap membuat Kai begitu heran. Pasalnya Kiran mencicipi semua makanan itu.
" Sayang stop nanti perutmu sakit."
Sita langsung menarik tangan putra sulungnya dan menggeleng pelan.
" Sttt biarkan."
" Tapi mom"
" Kalau kamu larang pasti dia akan menangis. Jika tidak percaya lakukanlah."
__ADS_1
Kai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sungguh ia tidak tahu apa maksud sang ibu. Akhirnya Kai pun membiarkan istrinya memakan apapun yang diinginkan.
TBC