
Kai membuktikan ucapannya, setelah makan malam dan sholat isya berjamaah dengan keluarganya ia buru buru mengajak Kiran ke kamar.
" Abang tumben jam segini udah mau tidur."
Pertanyaan Abra membuat wajah Kiran merona, ia buru buru berjalan lebih dulu.
" Mau menjalankan proyek."
" Proyek, proyek apa"
Kali ini Akhza yang bertanya. Pemuda itu sungguh bingung dengan ucapan sang abang.
" Proyek menghasilkan makhluk hidup baru."
Akhza diikuti Abra dan Ana hanya melongo dengar jawaban Kai yang menurut mereka begitu absurd. Tapi tidak dengan Sita dan Rama. Pasutri lama itu tahu betul maksud si sulung.
" Astaga mom, anak sulungmu mengapa bisa begitu."
" Entahlah, makin kesini makin kesana hahahah."
" Aku hanya kasihan dengan menantumu mom."
" Hahaha, Kai tidak akan berlebihan mas."
Kembar tiga bingung dengan pembicaraan kedua orang tua mereka itu.
" Mom, ayah, sebenarnya sedang membicarakan apa?"
" Bukan apa apa, kembalilah belajar sana"
Ketiganya hanya mengangguk patuh dengan perintah sang ayah. Setelah ketiga nya pergi Rama membisikkan sesuatu ke telinga sang istri.
" Sayang … apakah kamu tidak ingin menghasilkan makhluk hidup yang baru jugs."
" Mas … "
Tanpa pikir panjang Rama langsung menggendong sang istri menuju ke kamar. Tampaknya ia tak mau kalah dengan putra sulung nya.
" Mas, kau ini sudah tua juga masih begitu mesum."
" Yang tua hanya umurku sayang. Si joni masih tetap muda dan menggairahkan. Kau kan sudah merasakan sendiri."
Sita hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan dengan ucapan sang suami. Keduanya pun melakukan apa yang harus dilakukan.
Sedangkan di kamar Kai dan Kiran, pasutri baru itu sedang bersiap siap untuk melakukan pertempuran.
" Sayang … apa yang kamu lakukan."
" Tunggu bang."
Kiran tengah menyiapkan sesuatu untuk sang suami. Apa lagi kalau bukan baju kurang bahan yang ia beli bersama dengan sang ibu mertua tadi. Ia juga menggerai rambutnya dan sedikit memoles wajahnya. Tidak lupa ia mengoleskan parfum non alkohol yang memang ia sukai karena wanginya yang lembut.
Kiran keluar dari walk in closet. Ia berjalan dengan anggun. Malu, ya Kiran sedikit malu dengan tampilannya seperti itu. Tapi lagi lagi ia ingat nasehat sang ibu mertua bahwa seorang istri harus bisa menyenangkan suami.
__ADS_1
" Bang … "
Suara lembut Kiran membuat Kai segera bangun dari posisi tidurnya. Ia yang sedari tadi terus berpikir apa yang tengah dilakukan sang istri di dalam walk in closet akhirnya mengerti saat melihat tampilan snag istri. Kai tersenyum lebar, matanya memindai setiap inci tubuh sang istri.
" Mengapa setiap hari kamu makin tambah cantik sayang."
" Benarkah??"
Kiran mengedip ngedipkan kedua matanya membuat Kai tambah semakin gemas. Ia pun segera merengkuh pinggang sang istri. Namun ternyata Kiran lah yang lebih dulu meraup bibir Kai. Kai merasa ciuman istrinya itu semakin bertenaga dan menggebu.
Bahkan Kiran sudah mulai membuka kancing piyama Kai satu persatu. Kai sedikit memicingkan matanya melihat tingkah agresif sang istri. Namun Kai diam saja. Ia ingin melihat sejauh mana Kiran akan melakukannya.
Bruk …
Kiran mendorong tubuh Kai ke ranjang. Ia pun merangkak ke atas tubuh Kai dan duduk di sana. Kiran kembali mencium bibir Kai, tidak hanya itu Kiran pun menciumi leher dan dada suaminya. Tidak sabar, Kai langsung membalikkan tubuh sang istri dan mengungkungnya.
Sreeek ….
Kai merobek baju kurang bahan itu. Ia pun langsung meraup dan meremas bulatan kenyal milik istrinya hingga membuat sang istri memekik. Setelah puas di bagian atas, Kai menuju ke bagian bagian, bagian yang menjadi favorit nya pastinya. Lagi, Kiran memekik saat merasakan lidah basah Kai bersarang di bawah sana.
" Bang … "
Kai paham dengan panggilan istrinya ia pun langsung ke acara inti. Mereka saling bertukar peluh hingga sampai pada puncak masing masing.
" Sayang malam ini kamu sangat berbeda."
Kiran tidak terlalu mendengarkan ucapan sang suami. Dengan cepat Kiran sudah berada di atas Kai, membuat pria itu membelalakan matanya.
" Sayang ….???"
Kai benar benar tidak habis pikir dengan ulah istrinya. Namun Kai tetap mengikuti apa yang diinginkan sang istri. Malam itu Kiran terus mendominasi dalam permainan hingga ia tertidur dengan pulas.
Kai membelai wajah dan rambut Kiran lalu mencium kening istrinya itu.
" Sebenarnya kamu kenapa sayang kamu sungguh berbeda malam ini."
🍀🍀🍀
Adzan subuh berkumandang, Kai dan Kiran sudah bangun sedari tadi dan melaksanakan sholat subuh.
" Bang … apakah mau berlatih bersama?"
Kai berpikir sejenak mengenai permintaan sang istri. Ia merasa tidak ada salahnya berolah tubuh di akhir pekan ini.
" Baiklah … mari kita ke halaman. Apakah kamu masih punya baju nya sayang."
" Masih."
Kai mengangguk, keduanya berganti pakaian. Jika Kiran mengenakan pakaian serba hitam khas untuk beladiri silat, maka Kai memakai baju yang biasa digunakan untuk beladiri karate.
Keduanya berjalan menuruni tangga. Sebelum berlatih Kiran dan Kai minum susu hangat terlebih dahulu.
" Baiklah, kita pemanasan dulu. Bagaimana kalau lari mengelilingi rumah."
__ADS_1
" Setuju, tanpa alas kaki bang biar sehat."
" Sesuai permintaan ratuku."
Kiran dan Kai berlari mengelilingi rumah sebanyak 5 kali putaran. Kai pun mengeluarkan matras agar tidak sakit jika harus saling menjatuhkan lawan.
" Baiklah, apa kali ini yang akan kita lakukan? Silat or karate?"
" Silat saja bang."
Kai mengangguk, keduanya saling berhadapan dan memberi hormat. Setelah itu mereka pun mulai saling menyerah.
" Hiyaaat…."
Pak … pak …
Bugh …
Bugh …
Mang Tarjo dan Bi inah yang melihat tuan dan nona mudanya sedang saling memukul hanya bisa menganga.
" Aduh mang, non Kiran badannya kecil tapi bisa ngimbangi den Kai."
" Iya Bi, nggak nyangka atuh non Kiran teh jago pisan gitu."
Rama dan Sita serta kembar 3 yang baru keluar dari kamar masing masing sedikit terkejut mendengar suara orang berkelahi.
" Mang, bi, pagi pagi begini siapa yang berkelahi."
" Itu Non Kiran san Den Kai sedang …. "
Belum juga Bi Inah melanjutkan ucapannya, semua sudah berlari keluar.
" Astagfirullaah abang … eh … "
Semua terkekeh geli melihat Sita yang sudah siap ingin mengomeli Kai. Tapi mereka sungguh terkejut saat melihat Kai dan Kiran yang sedang berlatih itu. Terlebih Rama, ia sungguh tidak menyangka Kiran bisa menerima serangan serangan Kai yang dia saja sudah kuwalahan.
Plok … plok … plok …
" Menantuku memang hebat hahahaha "
Rama bertepuk tangan membuat Kiran tersipu. Rama benar benar mengakui kehebatan Kiran.
" Istriku yang hebat yah."
" Ya istrimu itu kan menantuku."
" Ayah, abang please … dia kakak ipar Ana."
Semua tergelak, Kiran sungguh bersyukur menemukan keluarga yang begitu baik dan menerimanya. Namun tiba tiba ia merasa ada yang memperhatikan keluarganya. Kiran pun menengok kebelakang.
Tidak ada siapa siapa, mungkin hanya perasaanku, gumam Kiran dalam hati.
__ADS_1
TBC