My Billionaire Hubby

My Billionaire Hubby
MBH 58. Cendol Dawet


__ADS_3

Kai dan Kiran sampai di rumah bersama dengan Bee. Kiran terlihat begitu lelah, padahal di tidak melakukan apapun di kantor Kai. Wanita berhijab itu langsung melenggang menuju ke dapur dan menghempaskan bokongnya di kursi.


" Sayang … kok pucet gitu."


" Nggak pa pa kok mom. Kiran hanya ngrasa ngantuk aja."


Pandangan Sita langsung ke arah sang putra. Kai paham mommy nya minta penjelasan.


" Kiran nggak ngapa ngapain di kantor mom. Malahan dia banyak tidur."


Sita kembali menatap sang menantu. Kiran tampak meletakkan kepalanya di meja dengan beralaskan tangan. Sita pun membelai kepala sang menantu.


" Apakah tidak enak badan?"


Kiran menggeleng, ia kemudian menegakkan tubuhnya. 


" Mom, apakah jam segini masih ada yang jual es cendol atau es dawet."


" He ….???!"


Sita tentu saja terkejut dengan pertanyaan sang menantu. Saat ini jam menunjukkan pukul 06.30. Mana ada penjual cendol dan dawet jam segini sedangkan Kai yang tadinya hendak naik ke kamar urung saat mendengar ucapan sang istri. Ia kembali berjalan menghampiri istrinya.


" Tadi siang abang tanya katanya udah nggak mau?"


Kiran meremas ujung kerudungnya. Tiba tiba matanya berembun. Kai sungguh terkejut melihat reaksi sang istri.


" Abang …!!" Sita berteriak sedikit keras kepada putra sulungnya.


" Sayang, abang kan cuma tanya kenapa malah mau nangis. Abang nggak marah sama kamu. Abang cuma nanya."


Kiran melihat wajah sang suami, sebenarnya ia bukannya menangis karena ucapan Kai. Ia hanya merasa tidak enak kepada suami nya dan entah mengapa keinginannya itu muncul lagi.


" Aku tahu abang nggak marah. Cuma aku kesel aja, kenapa keinginan itu muncul lagi. Tadi siang sebenarnya masih pengen tapi kasian abang aja habis dapat tamu kayak gitu."


Kai memejamkan matanya kemudian memeluk sang istri. Sita melihat menantunya haru. Kiran bisa meredam keinginannya untuk sang suami. Sedangkan Kai dia merasa sedikit abai dan tidak peka dengan istrinya karena fokusnya terbelah.


" Baiklah, abang akan cari cendol dan dawet nya ya."


" Nggak usah bang, ini sudah malam. Nanti juga hilang kepengenannya."


Kiran mengurai pelukan dari suaminya lalu berpamitan menuju ke kamar untuk membersihkan diri. 


Setelah Kiran menjauh Sita menatap tajam kepada putra sulung itu. 


" Apa yang terjadi tadi di perusahaan bang?"


" Firhan anak Hendri datang dan sedikit membuat kekacauan."

__ADS_1


" Jadi gara-gara itu Kiran tidak mendapatkan apa yang dia mau."


Kain mengangguk ia merasa bersalah kepada sang istri hanya es cendol dan dawet dia tidak mendapatkannya.


" Apalagi tadi yang Istri mau minta kamu."


" Rujak Es krim mom."


Sita membuang nafasnya kasar. Ketika hal itu jam segini susah untuk didapatkan bahkan. Namun pandangan mata Sita tiba-tiba mengarah ke Bee.


" Bee Apa Kamu bisa membuatnya. Tidak usah semua salah satunya saja."


" Rujak Es krim mungkin saya bisa membuatnya nyonya besar."


" Bagus buatkan sekarang juga."


Bee langsung membuatkan apa yang diperintahkan oleh nyonya besarnya, sedangkan Kai dia memicingkan sebelah matanya.


" Mom Apakah jam segini mau memberikan Kiran rujak itu?"


" iya."


" Tapi mom."


" Sudah abang diam saja. Besok kita akan ke rumah sakit memeriksakan keadaan Kiran."


Kai semakin bingung dengan perkataan sang ibu. Pasalnya Kiran baik-baik saja lalu Mengapa harus ke rumah sakit. 


" Assalamualaikum … Woaah apa ini kayaknya seger."


Rama yang baru pulang langsung menghampiri istri dan putranya. Matanya berbinar melihat rujak es krim tersebut. Ramah ndak mengambilnya namun tangannya langsung dicekal oleh sang istri.


" Pelit amat mom."


" Itu punya Kiran."


Rama langsung melirik Sita dan Sita pun mengedipkan matanya sebelah.


" Ooh oke."


" Habisnya putramu istrinya minta es cendol dan es dawet nggak diturutin."


" Heeeh … tck tck tck kau ini benar benar Kai."


Kai hanya bisa membuang nafasnya kasar. Sita pun berjalan ke lantai atas untuk memanggil sang menantu. Kiran turun dengan mata yang berbinar saat melihat rujak es krim yang ada di meja makan.


" Woaaah alhamdulillaah … terimakasih mom."

__ADS_1


Kiran langsung memeluk Sita. Terlihat rona bahagia di wajah cantik wanita berhijab itu.


" Berterimakasihlah kepada Bee. Dia yang membuatkannya."


Kiran langsung menghampiri Bee dan memeluknya. Bee sungguh senang nyonyanya menyukai masakannya. Sedangkan Kai ia memberengut. Ia merasa cemburu dengan Kiran yang memeluk mommy dan Bee. Kiran langsung duduk dan mulai memakan nya.


" Waah ini enak banget, terimakasih sekali lagi ya Bee."


" Sama sama nyonya."


Kiran benar benar memakan rujak buah itu sampai habis. Rama yang baru keluar dari kamar hanya menelan salivanya.


" Ayah mau?"


" Eh … nggak … buat Kiran saja."


Rama tersenyum simpul. Ingatannya kembali saat ia menyuruh Roni membelikan rujak, dan ternyata waktu itu Sita hamil.


" Ada lagi yang kamu inginkan nak?"


Rama mengusap kepala sang menantu dengan sayang. Ia mengerti, jika memang menantunya itu tengah mengandung ia pasti belum puas hanya dengan rujak saja.


" Yah, Kiran udah makan banyak. Jangan ditawari lagi."


Mendengar ucapan sang suami Kiran yang tadinya masih menginginkan sesuatu akhirnya memilih diam. Sita begitu gemas dengan sang putra. Ia pun langsung menggandeng Kiran dan membawanya pergi.


" Ayah  … ayo!!"


" Siappp … siap siap kau tidak akan dapat jatah malam ini." 


Seyelah memberi peringatan kepada putranya Rama sedikit berlari mengejar sang istri. Sedangkan Kai ia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia masih belum mengerti mengapa seakan akan mommy nya begitu marah dengan dia. Kai pun berlalu menuju ke kamarnya.


" Sebenarnya ada apa sih. Ya kali gara gara es cendol sama es dawet ayah dan mommy jadi marah ke aku begitu. Selama ini nggak pernah lho mereka bersikap begitu. Haish … aneh. Sudahlah sebaiknya aku mandi dulu."


Kai berlalu ke kamar mandi. Banyak hal yang ada dalam pikirannya kali ini. Istrinya yang tiba tiba banyak keinginan, orang tuanya yang tiba tiba menyalahkannya, Topan si korban Safira yang masih dalam observasi, Firhan yang mulai mengancam, dan seseorang di belakang Suryoprojo yang masih belum ia bisa identifikasi.


Beruntung si kembar sedang ada acara kampus jadi tidak menambah kekalutan pikirannya. Kai berendam sesaat di bathup hingga ia tertidur.


Di luar Sita memberikan semua yang Kiran inginkan. Namun tiba tiba ia ingat kepada sang suami.


" Mom, makanannya dibungkus aja ya."


" Kenapa memangnya?"


" Kasian abang, abang pasti juga belum makan."


Sita mengangguk, ia menyadari Kiran begitu mencintai Kai. Dari tadi pikiran menantunya itu selalu tertuju kepada smag putra.

__ADS_1


" Abang sangat beruntung memiliki istri seperti kamu nak. Tidak banyak neko neko, semoga kalian selalu berbahagia."


TBC


__ADS_2