My Billionaire Hubby

My Billionaire Hubby
MBH 82. Taktik Hugo


__ADS_3

Hugo mengikuti Kai dan Soraya hingga ke dalam sebuah motel. Darahnya seketika mendidih. Dia tidak tahu saja jika yang tengah dirangkul oleh Kai adalah Bee. Bee cukup profesional dalam berakting. Di dalam Wild Eagle mereka benar benar harus multitasking.


" Tuan sepertinya dia mengikuti."


" Lakukan senatural mungkin."


" Tapi tuan saya~"


Kai langsung memeluk Bee. Sungguh Bee sangat takut. Ia teringat akan nyonyanya.


Ya Tuhan maafkan saya, ini kebutuhan dalam drama. Nyonya semoga engkau memaafkan saya nyonya, batin Bee.


Di ujung lantai Hugo sangat geram. Ia pun berlari sekuat tenaga 


Bugh


Sebuah pukulan hendak mendarat di wajah Kai namun tangan Hugo ternyata langsung dicekal oleh Bee.


" Tertipu," ucap Kai disertai tawa mengejek.


" Brengsek kau Kai. Dari dulu kau memang sangat menyebalkan," umpat Hugo 


Hugo mencoba melepaskan diri dari tangan Bee. Secepat kilat Bee langsung merobek gaunnya dan sudah mengenakan pakaian dinasnya dalam mengawal tuannya.


" Tertawalah Kai, setelah ini kau pasti akan menangis. SEKARANG!"


Dor!!


Dor!!


Bee langsung berdiri di depan Kai diikuti beberapa anak buah Q yang lain. Mereka selalu ingat bahwa keselamatan Mister Sun adalah yang utama.


Dor!


Dor!


Adu tembak pun berlangsung sengit. Kedua kubu memiliki kekuatan yang hampir seimbang.


" Mereka adalah organisasi bawah yang sesungguhnya. Sedangkan kemarin, mereka hanyalah kroco bodoh yang ditumbalkan," gumam Kai di sela sela kegiatan menembaknya.


Hugo sungguh kesal. Ia  menarik mundur kelompoknya. Namun Kai tidak tinggal diam, ia tidka mau lagi melepaskan Hugo.


" KEJAR!!"


Semua orang dari kubu Kai mengejar. Dan ternyata bantuan Q di luar datang. Hugo dan kelompoknya terkepung.


Namun entah mengapa Hugo tampak tenang. Bahkan ia tertawa begitu keras. Kai menatap heran hingga sedetik kemudian ia terlihat panik.


" Bee, bagaimana orang rumah. Segera tanya Bey," ucap Kai tegang.

__ADS_1


Bee mengangguk patuh. Ia segera menghubungi Bey di kediaman Joyodiningrat. Bee mengerutkan kedua alisnya mendengar jawaban Bey dari seberang sana. Dia pun segera mematikan ponselnya.


" Bagaimana Bee. Bagaimana keadaan orang orang rumah?" tanya Kai tidak sabar.


" Semua baik baik saja tuan bahkan mereka sekarang sedang menemani nyonya Kiran yang sedang menginginkan martabak telor," jawab Bee tenang.


Hugo masih tertawa. Ia sedikit menikmati kepanikan musuhnya itu.


Kring … kring …


Ponsel Hugo berdering. Pria itu tersenyum lebar saat menerima panggilan tersebut. Ia tersenyum sinis ke arah Kai.


" Baik, kerja bagus."


Kai sungguh dibuat bingung dengan ekspresi Hugo. Ia merasa ada yang tidak beres tapi apa. Semua keluarganya baik baik saja. Dan soal daddy Dani tidak banyak yang tahu, karena selama ini ia dikenal dengan anak ayah Rama. Terlebih data pribadi Kai juga tidak ada seorangpun yang tahu kecuali keluarga dan orang terdekatnya.


Seringai Hugo semakin mengerikan bagi siapapun yang melihat nya. Namun tidak dengan Kai. Ia bukannya takut dengan seringai Hugo, saat ini yang ada di pikirannya adalah Hugo punya rencana apa. Mengapa pria itu terlihat begitu santai dan tanpa rasa takut sedikitpun. Bahkan saat dia tidak bisa berkutik sama sekali.


Kai terus mencoba berpikir, sedangkan para anak buah Silvya mengamankan orang orang yang ada bersama Hugo. Dan yang lainnya tentu saja mengamankan Hugo dengan mengikat tangan menggunakan borgol.


Tring …


Sebuah pesan masuk ke ponsel Kai. Hugo tersenyum mengetahui pesannya tersebut sudah sampai di ponsel sang musuh.


Kai memicingkan matanya sambil membuka pesan tersebut. Seketika jantungnya memompa lebih cepat. Nafasnya memburu dan wajahnya merah padam. Ia terlihat begitu marah. Kai berlari mendekati Hugo.


Bugh


Bugh


Bugh


Bee yang peka langsung mengambil ponsel tuannya dan melihat. Matanya pun ikut membulat sempurna. Ia segera meneruskan pesan tersebut ke markas agar bisa ditindak lanjuti.


" Bajingan, apa yang kau inginkan hah?"


Hugo kembali tertawa, ia sungguh menikmati wajah marah Kai.


" Woohoo lihatlah pria ini. Ternyata begini kalau sedang marah. Tck tck tck, tenang brother. Aku tidak minta apa apa kok."


" Jangan banyak ngomong bajingan!"


Kai sungguh lepas kendali. Dia hendak maju dan kembali menghajar Hugo namun secepat kilat ditahan oleh Bee dan yang lainnya.


" Tenang tuan, anda harus berkepala dingin menghadapi ini. Markas sedang berusaha mencari," bisik Bee ditelinga Kai.


Kai mengambil nafasnya dalam dalam dan membuangnya perlahan. Ya, benar apa yang dikatakan Bee bahwa dirinya harus tenang dan tidak boleh gegabah.


" Baiklah apa maumu Mister X."

__ADS_1


" Ka-kau, bagaimana kau tahu, a~?"


" Tck, tidak usah banyak bacot. Apa yang kau inginkan!"


" Pengalihan perusahaan mu menjadi atas namaku. Bagaimana?"


🍀🍀🍀


Di kediaman Joyodiningrat tampak begitu ramai dengan kehadiran Mira dan Laila. Bocah 3 tahun itu begitu menggemaskan. Bahkan dari tadi Kiran menyabotase Laila untuk bermain bersama dengannya.


" Aunty, kata mama aunty mau punya dedek bayi yah?"


" Betul sayang, dedek bayinya masih ada di perut aunty."


" Waah tok bica yah, tyus kelualnya badaimana?"


" Nanti dikeluarkan sama bu dokter sayang. Dulu Laila juga sama diperut mama terus dikeluarkan sama bu dokter."


" Ya udah Aunty, ayok ke lumah cakit tyus minta kelualin dedek bayi. Biyal main sama Ila."


Semua orang di rumah itu tertawa mendengar celotehan bocah perempuan tersebut. Ana pun ikutan gemas dengan Laila. Bahkan berkali kali Ana mengelus perut sang kakak ipar, ia juga merasa tidak sabar atas kelahiran sang keponakan.


"Mir, suamimu kenapa tidak ikut?"


"Mas Luki masih ada beberapa hal yang dikerjakan Mom, terkait klien klien baru Kai."


Sita mengangguk paham, Luki memanglah tangan kanan Kai. Semua hal mengenai perusahaan dia lah yang mengurus.


" Maafkan Kai ya kalau sering ngerepotin? Mommy jadi inget awal awal Luki ke rumah sama kamu. Dulu mommy sempet curiga, mengapa Kai bisa berteman dengan orang orang dewasa seperti kalian. Eh ternyata eh ternyata, bocah itu sudah menemukan partnernya dari usia remaja."


" Tidak repot mom. Itu sudah jadi tugas kami. Sungguh kami malah yang berterimakasih. Kai selalu membantu kami hingga kami seperti sekarang."


Topan begitu terharu mendengarkan cerita Mira. Kai memang lah orang yang luar biasa. Dibalik sikap dingin yang ditampilkannya di luaran sana, pria itu merupakan seorang penyayang keluarga. Bahkan orang lain seperti dirinya pun Kai sangat perhatian. Berkali kali Topan mengucapkan syukur dipertemukan dengan orang sebaik Kai dan keluarga yang baik juga.


Tiba tiba Akza dan Abra mendorong Topan menuju taman belakang. Kedua orang itu ingin berbincang dengan Topan.


" Pan," panggil Akhza.


" Ya Kak," saut Topan. Ia pun mengikuti Ana memanggil Akhza dengan sebutan kakak  dan memanggil Abra dengan sebutan mas.


" Kamu beneran nggak mau lanjut sekolah?"


" Nggak kak Akhza, aku mau langsung kursus aja. Jujur kak di pelajaran aku sungguh kurang. Dan aku memutuskan lebih baik mengasah keahlianku."


" Baiklah kalau begitu. Oh iya kau jangan sungkan kepada kami ya. Jika kamu bisa menganggap abang sebagai kakakmu. Kami pun bisa. Jika kau canggung, anggaplah kami ini sebagai teman dan sahabatmu. Kita sekarang keluarga, keluarga adalah tempat berbagi. Jika kamu menginginkan sesuatu bilang saja pada kami oke."


" Betul kata kak Akhza, setelah kamu bisa berjalan kembali, ayo kita bermain."


Topan tergugu, ia sungguh terharu dengan keluarga ini. Ia semakin membulatkan tekad untuk bisa menjadi lebih baik lagi kedepannya. Ia tidak ingin mengecewakan keluarga nya yang sudah mau menerimanya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2