My Billionaire Hubby

My Billionaire Hubby
MBH 67. Ummi dan Abi


__ADS_3

Mr. X benar benar menepati janjinya untuk mengeluarkan Safira dan Hendri. Namun sebenarnya bukan bebas sepenuhnya. Keduanya masih dalam tahap tahanan rumah. Dengan uang jaminan yang tidak sedikit. Kedua ayah dan anak itu bisa keluar dari jeruji besi. Namun tahanan rumah sama saja dengan di penjara. Pasalnya mereka tidak bisa kemana mana.


" Apakah semua ini adalah Mr. X yang melakukannya?"


Pertanyaan Hendri sukses menarik perhatian Firhan. Ia merasa daddy nya itu sudah lama mengenal pria misterius yang belakang ini sering menelponnya.


" Ayah tahu tentang dia."


Hendri membuang nafasnya kasar. Ia pun membenarkan posisi duduknya untuk siap bercerita.


" Mr. X adalah salah satu investor di perusahaan kita. Ia juga yang melindungi segala kecurangan yang daddy lakukan terkait dengan pajak."


Firhan terdiam, ia kini mulai mengerti maksud dari Mr. X. Tapi dia meminta pembagian hasil dari perusahaan yang lumayan besar yakni 60 %."


" What the f*ck. It is crazy dad."


" Ya seperti itu. Makanya dia berani memberikan jaminan untuk daddy bisa keluar. Dan sungguh kita tidak bisa lepas dari dia. Dia adalah salah satu black hacker kenamaan."


Nyali Firhan seketika menciut. Tadi dia sudah memiliki ide untuk bisa mengelabui pria misterius itu. Tapi saat mendengar bahwa Mr. X adalah Black Hacker kenamaan tentu saja dia urung. Belum jadi bergerak bisa bisa nyawa nya hilang duluan.


" Lalu, what must we do dad?"


" Melakukan  segala hal yang dia perintahkan?"


Semua yang ada di duduk di sana hanya bisa membulatkan matanya. Ini semuanya percuma, bebas tapi terikat. Mereka merasa hidup mereka kali ini benar benar ada di bawah kendali. Seperti boneka marionette yang hanya bisa bergerak jika sang dalang memainkannya. Layaknya wayang yang berjalan sesuai lakon dari dalangnya juga.


" Terus kak, aku gimana?"


Kini giliran Safira yang bicara. Sedari tadi gadis itu hanya diam dan mendengarkan tanpa memberi komentar apapun.


" Kamu tak lagi bisa muncul dengan semua baju baju mu itu. Karena semua investor dan klien sudah menarik diri dari SJ Cloth."


" Berarti aku sekarang nggak bisa ngapa ngapain kak? Terus buat apa aku bebas!"


Safira berteriak kesal lalu menangis tersedu. Tyas hanya bisa memeluk sang anak.


" Sebenarnya kamu dan daddy belum bebas sepenuhnya. Kalian hanya mendapat penangguhan penahanan."


" Apa !??"


Hendri dan Safira berteriak bersamaan. Hendri mengusap wajahnya dengan kasar dan Safira kembali menangis di pelukan sang mommy.


" Kenapa begini?"


" Karena Kai sekarang telah memegang kunci penting dari kasus keluarga kita. Tapi beruntung saat ini Kai masih sakit bahkan berita menyebutkan Kai mengalami trauma pasca kecelakaan. Aku yakin itu akan lama. Jadi selama Kai belum mengeluarkan kartu joker nya sementara ini kita masih aman."


Keluarga Suryoprojo tertunduk lesu. Hidup mereka seperti roda yang berputar. Kemarin mereka berada di atas dan sekarang mereka tengah merasakan bagaimana rasanya ada di bawah.


🍀🍀🍀


Sepulangnya dari rumah sakit menengok Topan Kai langsung masuk ke ke kamarnya. Ia mulai melacak panggilan ponsel milik Firhan yang sudah disadap oleh nya.


Tak … tak … tak …


Kay terus memainkan jarinya di atas keyboardnya. Malam ini ia harus bisa menemukan siapa sebenarnya Mr. X. Ia tak mau berlama lama bertarung dengan musuh yang masih berwujud bayangan. Kata Kai sungguh tidak seru.

__ADS_1


Wajah nya begitu serius melihat layar monitor komputer. Bahkan nafasnya sendiri pun bisa ia dengarkan.


" Baiklah, sebenarnya siapa kamu?"


Meskipun Mr. X menggunakan privat number saat menghubungi Firhan itu bukanlah masalah besar untum Kai. Dia tentu saja bisa melacak menggunakan sinyal ponsel si pengguna.


" Gotcha … I got you, baby."


" Baby nya siapa bang. Abang punya wanita lain?"


Suara sang istri dari belakang sungguh mengejutkan Kai. Dia pun segera membalikkan badannya dan menatap sang istri. Wajah Kiran sudah ditekuk, matanya berembun ia hampir menangis.


" Astaghfirullahaladzim, sayang bukan. Mana ada aku mempunyai wanita lain."


" lah itu tadi baby baby itu siapa?"


" itu adalah musuh abang, orang yang selama ini ingin mencelakai abang."


" Apakah benar begitu? Abang tidak bohong?"


Kai secepatnya mengangguk. Dia merasa gemas melihat raut wajah istrinya yang cemburu.


"Haish ... Memang benar saja orang hamil memang benar-benar sangat sensitif," gumam Kai lirih.


" Hayoo, abang ngedumel apa?"


" Eh … "


Kai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia pun menarik snag istri dan mendudukkannya di pangkuannya. Kai menyandarkan kepalanya di bahu Kiran kemudian mengusap perut Kiran yang sedikit ya sedikit membuncit seperti orang kekenyangan.


" Bang, aku mau kalau anak kita lahir dipanggil ummi apakah boleh?"


Kai tersenyum lalu mengangguk. 


" Jadi kamu Ummi dan abang Abi, apakah begitu."


" Iya … "


" Baiklah, dengar ya anak anak. Ummi kalian minta dipanggil Ummi. Yang pinter ya nak. Jangan bikin Ummi kamu susah. Bikin susah Abi aja nggak apa apa tapi jangan Ummi kalian. Sehat sehat di sana kami sungguh menunggu kalian hadir di sini."


Kiran sungguh terharu dengan ucapan sang suami. Ia mengusap lembut wajah suaminya itu dan mencium pipi Kai singkat.


" Abang … "


" Hmmm "


" Mau makan mie instan."


" Apa ??!!"


Kai sungguh terkejut mendengar permintaan sang istri. Kai begitu anti dengan makanan yang disebutkan istrinya itu.


" Sayang, itu nggak sehat. Nggak baik buat kamu dan calon baby."


" Sekali ini saja ya, please … "

__ADS_1


Kai membuang nafasnya kasar. Sungguh dia tidak ingin istrinya mau makan makanan seperti itu. Tapi dia pasrah karena itu mungkin permintaan sang calon bayi.


" Apakah itu permintaan twins?"


" Tidak, aku yang kepengen. Ya ya please."


" Emang ada di rumah?"


" Ada, aku tadi minta tolong Bee buat beli."


Kai mengerutkan kedua alisnya. Rupanya tadi sanh istri tiba tiba masuk ke kamar untuk izin makan mie instan yang sudah dibelinya.


" Baiklah. But, just this once dan tidak ada lagi unyuk lain kali. Ok!"


" Oke my king. Thank you."


Kiran tersenyum lebar Ia pun menarik tangan sang suami untuk ikut turun ke dapur.


" Baiklah ayo buat mie nya."


Kiran mulai mengeluarkan mie instan, sayuran, dan telur. Mata kai membulat sempurna saat melihat 3 bungkus mie instan di atas meja.


" Lho kok 3 bungkus?"


" Iya aku  satu, trus twins satu satu kan jadi tiga."


Kai menepuk keningnya pelan mendengar jawaban polos Kiran. Sita yang tidak sengaja mendengar seketika tertawa terbahak bahak.


" Mom, kenapa tertawa?"


" Mommy ingat saat hamil triplet. Mommy pesan makanan itu 4 porsi. Trus ayahmu tanya kenapa banyak banget emang habis? Mommy jawab kan satu buatku dan untuk triplet satu satu. Hahahaha mommy berasa dejavu jadinya saat Kiran bicara begitu."


Lagi lagi Kai menepuk keningnya. Ia merasa heran, bagaimana bisa kelakuan sang mommy saat hamil bisa diturunkan kepada Kiran.


Kiran yang mendengar cerita mommy nya hanya tertawa kecil. Ia tetap dengan fokus membuat mie instannya. 


15 menit berlalu, mie yang dimasak Kiran pun jadi. Kiran melihatnya dengan mata berbinar. Ia pun mulai mengambil sumpit dan sendok.


" Abang mau?"


" Tidak terimakasih. Untuk kamu aja."


" Mommy mau?"


" Tidak sayang, nanti kamu dan twins kurang kalau oma nya minta juga."


" Baiklah, Kiran makan ya mom bang."


Kai sungguh senang melihat istrinya makan dengan begitu lahap. Tapi tetap ia menaruh kekhawatiran karena yang dimakan Kiran adalah mie instan.


" Mom, besok bawa Kiran ke dokter Lisa buat cek ya."


" Iya bang, mommy tahu kekhawatiranmu."


Sita tersenyum simpul saat mendapat bisik bisik dari sang putra.

__ADS_1


TBC


__ADS_2