
" Hoek … hoek … hoek … "
Hari ini Kai sangat parah mual muntahnya. Bahkan dari pagi ia tidak bisa makan apapun. Terang saja Kiran begitu khawatir. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak karena Kai sama sekali tidak mau ditinggal. Kiran sangat gemas dengan ulah suaminya itu.
" Bang … aku bikinin air jahe ya biar nggak terlalu mual."
Kai menggeleng, ia malah semakin mengeratkan pelukannya terhadap sang istri.
" Obat mual abang cuma kamu. Kalo kamu di sini abang nggak mual."
" Tapi abang dari pagi belum makan apa pun."
Kali ini Kiran sedikit menekankan ucapannya. Mengetahui sang istri mulai kesal karena dari tadi ia tak kunjung mau makan, Kai pun pasrah.
" Ya udah ayo, abang makan deh."
Kiran tersenyum, ia mengusap rambut sang suami.
" Anak pintar."
Kai dan Kiran akhirnya turun juga. Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Sita hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah snag putra.
" Mom masak apa?"
Kali ini yang berada di dapur memanglah hanya Sita dan Bi inah. Bee diminta Kai untuk menemani Ana dan Bey mengawal Rama.
" Itu lihat, ada soto lengkap dengan ***** bengek nya."
Kai melihat malas, yang biasanya ia suka kali ini dia tidak suka. Kiran tahu tatapan mata suaminya yang enggan makan apa yang tersaji di meja makan.
" Abang mau makan apa?"
" Bisakah buatkan aku telur dadar?"
Kiran mengangguk, ia pun langsung mengambil telur untuk memenuhi pesanan sang suami. Hanya 10 menit telur dadar pun selesai dibuat. Dan benar saja Kai makan dengan begitu lahap. Sita hanya terkekeh geli melihat anak sulungnya yang berkelakuan di luar normal itu.
" Terimakasih sayang "
Kiran mengangguk ia hendak membereskan piring bekas makan Kai namun dihadang oleh Kai. Ia menyuruh istrinya duduk.
" Sekarang makanlah, aku yang akan membersihkannya."
Kiran pun makan dengan lahap. Mengingat ada dua makhluk kecil di dalam perutnya ia pun makan dengan porsi yang lebih banyak dari biasanya.
" Sehat sehat ya cucu oma."
Sita mengusap perut Kiran dengan lembut. Sungguh ia merasa sangat bahagia dengan kehamilan sang menantu.
***
Di rumah sakit dokter Dika yang diminta Kai secara kusus untuk mengawasi Topan akhirnya bisa tersenyum senang karena perkembangan kesehatan Topan sangat bagus. Pemuda tersebut memiliki keinginan sembuh yang sangat tinggi.
__ADS_1
“ Kamu hebat nak.”
“ Terimakasih dokter.”
Dokter Dika tersenyum lalu mengangguk. usia Topan yang sama dengan Nataya membuat Dika merasa seperti berhadapan dengan putra nya sendiri.
“ Pa … papa di sini.”
Nataya yang sedari tadi mencari sang papa akhirnya menemukan papanya tersebut atas pemberitahuan dari salah satu pesawat.
“ Nat, kenalkan ini Topan. Abang Kai yang membawa Topan kemari. dia designer hebat lho.”
“ Waaah, benarkah. hai Topan namaku Nataya. Senang berkenalan denganmu. Segeralah sembuh, kita nanti bisa bermain bersama.”
“ Halo Nat, senang juga bisa mengenal kamu. Baiklah aku akan berusaha secepat mungkin untuk sembuh.”
Topan sungguh senang. Dibawa ke rumah sakit oleh Kai membuat dia bertemu banyak orang baik.
Tok … tok … tok …
Pintu ruang rawat diketuk oleh seseorang. Orang tersebut pun masuk tanpa dipersilahkan.
Ternyata ada setidaknya 3 orang memakai pakaian serba hitam. Bahkan orang tersebut juga mengenakan kacamata hitam dan juga topi hitam. Salah satu diantaranya berambut panjang.
" Hallo dokter … "
Salah satu nya orang tersebut menyapa Dika. Dika merasa familiar dengan suara orang tersebut hingga orang itu membuka kacamata nya. Mata hazel itu terlihat sempurna.
" Astaga abang, ku pikir gengster dari mana."
Kai hanya terkekeh pelan. Ia harus melakukan penyamaran untuk mengunjungi Topan ke rumah sakit.
" Maaf membuat kalian terkejut, aku harus melakukan ini. Oh iya, ini dua orang yang akan kutinggalkan menjaga Topan. Aku khawatir Safira dan Firhan mengincar dia nanti."
Dika mengangguk paham namun tidak dengan Nataya. Tapi Nata tidak mau banyak bertanya, pasti nanti sang papa pasti akan menjelaskannya.
" Baiklah, aku dan Nata keluar dulu."
Kai mengangguk, ia menarik kursi dan duduk di sebelah hospital bed milik Topan.
" Bagaimana keadaanmu Pan?"
" Alhamdulillah baik tuan."
" Panggil saja abang. Oh iya Pan kamu dulu sekolah tidak."
" Sekolah bang, tapi cuma sampai smp saja."
Kai mengangguk mengerti. Ia lalu tersenyum, Topan usianya tidak jauh dari triplet tapi kehidupannya sudah begitu berat.
" Pan, apa kamu masih ingin terus menggambar baju."
__ADS_1
Topan terkejut dengan pertanyaan Kai. Sungguh ia sendiri sudah tidak berharap bisa meneruskan keahlian nya itu. Kai yang mengetahui raut wajah Topan hanya menepuk bahu Topan dengan pelan.
" Jika kamu masih mau menggambar aku akan membantumu. Apa yang jadi cita citamu hmm?"
Cita cita ah ... sebuah kata yang amat mahal bagi pemuda miskin sepertinya. Cita cita nya bisa menjadi seorang desainer kenamaan. Tapi apakah mungkin. Itu yang ada dalam pikiran Topan saat ini.
" Katakan saja."
" Saya ingin jadi designer bang."
" Bagus, lakukanlah. Semuanya akan ku dukung."
" Benarkah? Tapi~"
" Jangan ragu. Jika kamu punya sebuah keinginan maka lakukanlah. Apa yang kau butuhkan aku akan membantumu."
Topan tak sanggup menahan air matanya. Ia tergugu, Kai sungguh bagai malaikat tak bersayap baginya. Kesembuhan fisik nya yang tadinya sangat mustahil kini mulai membaik. Dan sebuah cita cita yang tidak pernah ia bisa gapai kini ada di depan matanya.
" Terimakasih bang, terimakasih."
" Sudahlah jangan menangis. Lalu apakah kamu mau meneruskan pendidikanmu?"
" Jika boleh saya ingin kursus saja bang. Saya tidak hanya ingin menggambar baju tapi saya ingin bisa membuat baju."
" Oke good keputusan yang bijak."
Kai tersenyum, ia yakin pemuda yang ada di depannya ini suatu hari akan bersinar.
" Siapa nama lengkapmu?"
Topan menggeleng, ia tidak punya nama lengkap. Sedari kecil ia hanya dipanggil Topan. Bersekolah pun juga sekolah gratis bagi anak anak jalanan.
" Baiklah aku akan memberimu nama belakang. Apakah kau bersedia?"
Topan mengangguk, ia sungguh senang. Berkali kali ia menghapus air matanya yang luruh di pipi nya.
" Arsyanendra, namamu sekarang adalah Topan Arsyanendra. Aku berharap dan berdoa kau akan jadi pria yang berjaya, terhormat dan juga pandai dalam menghadapi segala ujian. Jadilah pribadi yang kuat dan selalu berpegang teguh terhadap Tuhanmu."
Topan tergugu, ia sungguh merasa bersyukur. Dalam hati Topan bersumpah bahwa dia akan selalu berbakti kepada Kai.
" Terimakasih bang. Aku sungguh berterima kasih."
Kai bangkit dari duduknya, ia memeluk tubuh pemuda itu dan menepuk punggung pemuda itu dengan perlahan.
" Topan Arsyanendra, kini aku adalah keluargamu. Katakan apa yang ingin kau katakan, bicaralah apa yang ingin kau bicarakan. Kau tidak lagi di sendiri."
" Baik bang, baik. Terimakasih bang. Terima kasih."
Topan tak henti hentinya mengucapkan terimakasih. Kai benar benar malaikat penolongnya, jika tidak bertemu Kai entah apa yang akan terjadi pada hidupnya. Ia sungguh bersyukur, Tuhan sangat baik kepadanya karena telah mempertemukannya dengan orang yang begitu baik.
TBC
__ADS_1