
Hugo tertawa terbahak bahak setelah membuat permintaan kepada Kai. Namun seketika itu juga dia terdiam karena reaksi Kai tidak sesuai dengan yang diharapkan. Pria di depannya itu sungguh sangat tenang dan santai. Bahkan ia tak tampak terkejut pun sama sekali. Tapi bukan Hugo namanya kalau tidak memprovokasi
" Bagaimana? Apakah boleh? Tck, aku hanya ingin tau sesayang apa kamu terhadap sahabatmu Luki?"
Ucapan Hugo mengenai Luki membuat darah Kai kembali mendidih. Ia benar benar ingin merobek mulut Hugo saat ini juga.
" Apakah kau benar benar menginginkan itu?" tegas Kai.
" Tentu saja. Lepaskan A-DIS maka aku akan melepaskan sahabat tersayang mu." jawab Hugo.
" Aku tidak bodoh, antar aku ke tempat Luki sekarang juga. Maka aku akan ku berikan A-DIS untuk mu."
Hugo berpikir sejenak. Ia menimbang perkataan Kai.
" Baiklah, dengan syarat. Lepaskan aku dan orang orang lalu kau hanya boleh ikut aku sendirian. Tanpa anak buahmu."
" Tapi tuan, anda tidak bi~" protes Bee terhadap syarat Hugo.
Kai menggeleng ke arah Bee lalu mengangguk. Ia memberi tatapan mata yang berarti semua akan baik baik saja. Sejenak Kai berpikir, ia sangat tahu kalau Hugo ini gila popularitas, jadi dia menemukan ide bagus.
" Aku akan melepaskan mu dan ikut denganmu. Tapi tidak dengan orang orang mu. Kalau kau tak mau aku juga tidak masalah. Aku akan langsung menghabisimu di sini dan kau bahkan tidak akan pernah menduduki kursi kepemimpinan A-DIS sampai kapanpun."
Hugo terdiam, ia menimbang ucapan Kai. Dan pada akhirnya ia setuju dengan ucapan Kai. Kai pun segera meminta Bee untuk membuka borgol Hugo. Keduanya menuju ke mobil dengan Hugo yang memegang kemudinya.
" Bee, bawa mereka ke markas Wild Eagle. Serahkan pada Q aku yakin Q tahu apa yang harus dilakukan. Jangan khawatirkan aku. Aku akan baik baik saja."
" Baik tuan!"
Jedeeer, ucapan Kai mengenai Wild Eagle Membuat orang orang yang datang bersama Hugo tadi sungguh terkejut. Terlebih Kai juga menyebutkan nama Q.
" A-apa kalian dari Wild Eagle?" tanya salah seorang anak buah Hugo.
" Ya, kami dari Wild Eagle dibawah naungan Queen sebagai pemimpin kami. Ada apa?" jawab Bee datar.
Semua anak buah Hugo saling pandang dan wajah mereka pucat. Wild Eagle yang melegenda di dunia bawah kini bisa mereka lihat. Dan Queen, ratu mafia paling sadis dan kejam akan mereka temui sungguh sebuah kesialan dan keberuntungan yang datang bersamaan.
" Maafkan kami, kami mohon maafkan kami. Kami hanya mengikuti perintah," ucap seorang dari mereka dengan takut takut.
" Tck, kalian hadapi saja. Berani berbuat berani bertanggung jawab."
__ADS_1
Semua tampak tertunduk lesu. Mereka yakin nyawa mereka akan melayang kali ini.
"Ya Tuhan, mati sudah kali ini. Jika Big Boss tahu kita berhadapan dengan siapa maka kita akan tamat," keluh salah satu dari mereka.
Di lain sisi Hugo membawa Kai ke suatu tempat. Tanpa sepengetahuan Hugo kai menyalakan jam tangan nya untuk memberi sinyal kepada Drake yang berada di markas. Butuh waktu 3 jam hingga keduanya sampai di tempat yang dituju.
Sebuah rumah terbengkalai di pinggiran kota yang sangat sepi. Bahkan sepintas terlihat begitu menakutkan.
Ckiiiit
Hugo memarkirkan mobil tepat di depan rumah. Tampak remang cahaya dari beberapa lampu emergency. Hugo pun segera turun lalu memasuki rumah diikuti oleh Kai. Kai memindai semua bagian bagian rumah. Bangunan itu benar benar sudah lama tidak berpenghuni.
" Tck, apa kau sungguh miskin hingga menyandra seseorang di tempat kumuh seperti ini?" cibir Kai.
Hugo acuh terhadap cibiran Kai. Ia enggan menanggapi karena ia tahu pasti hanya akan membuatnya kesal.
Hugo terus berjalan hingga di tengah tengah ruangan. Kai membelalakkan matanya melihat Luki diikat di sebuah kursi. Matanya merah menyala karena begitu sangat marah.
" Brengsek kau Hugo. Lepaskan dia!"
" Kai?"
" Kai kau kah itu?"
" Luke, are you ok?"
Kai hendak mendekat namun dihadang oleh Hugo. Pria itu menyeringai. Ia memberikan sebuah berkas kepada Kai.
" Jika ingin sahabat tersayang mu ini lepas maka tandatangani surat pemindahan kepemilikan A-DIS di sini juga."
Luki sungguh terkejut dengan apa yang dikatakan Hugo. Ia tidak tahu jika dirinya dijadikan sandera oleh Hugo untuk mengancam Kai. Luki pun menggeleng dengan cepat. Ia sungguh tidak ingin Kai menandatangani surat itu.
" Tidak Kai, jangan!! A-DIS adalah cita citamu sejak kuliah. Lebih dari 10 tahun kau bekerja keras untuk memajukannya. Jangan dengan mudah kau menyerahkan pada pria brengsek ini."
" Tidak ada yang lebih berharga dari seorang sahabat setia Luk. Kita masih bisa buat A-DIS A-DIS yang lain nanti."
Kai tersenyum tulus kepada Luki. Memang benar bagi Kai luki tak hanya sekedar sahabat. Dia sungguh lebih dari itu semua dan perusahaan sungguh tidak sebanding dengan Luki.
Plok plok plok
__ADS_1
Hugo bertepuk tangan menyaksikan interaksi kedua orang sahabat tersebut. Kedua bibirnya tertarik sempurna hingga melengkungkan senyum mengejek.
" Sungguh drama yang menarik. Tck, cepat tanda tangani sekarang juga. Maka aku akan melepaskan teman mu itu, cuih sahabat. Bullshit. Omong kosong dengan dunia pertemanan tanpa pamrih."
Hugo mendengus kesal. Kai segera meraih pen yang diulurkan oleh Hugo. Namun lagi lagi Luki berteriak agar Kai tidak menandatangani nya.
Bugh, wajah Luki dipukul oleh anak buah Hugo. Kai mengepalkan tangannya dengan penuh kemarahan hingga pena itu patah jadi dua.
" Jangan sentuh Luki atau akan ku kubur kalian hidup hidup!!"
Teriakan Kai mampu membuat semua orang di situ memusatkan perhatian kepadanya. Bahkan Hugo sedikit memundurkan tubuhnya. Aura membunuh yang ditampilkan Kai sedikit membuat hatinya gusar.
Apakah seperti ini jika dia marah? Sedikit menakutkan, batin Hugo. Ia pun kesusahan menelan Saliva nya dengan kasar.
Sebentar Luk, tunggu sebentar aku yakin mereka akan sampai, gumam Kai lirih.
Luki menggeleng ke arah Kai memberi kode bahwa dirinya baik baik saja dan tidak perlu khawatir. Kai rasanya sudah ingin ******* habis pria sombong yang ada di depannya itu.
" Tck, cepat jangan bengong. Cepat tanda tangani!"
Bugh
Bugh
Bugh
" Kai!!!!" teriak Luki keras. Bahkan Luki sudah menangis saat ini. Ini kali ketiga Luki menangis. Yang pertama saat Kai terluka tembak beberapa tahun silam, yang kedua saat Mira melahirkan, dan ini yang ketiga. Sungguh dia tidak bisa melihat Kai kesakitan.
Hugo mengambil kesempatan untuk menghajar Kai. Beberapa pukulan dilayangkan ke wajah dan perut Kai hingga sudut bibir Kai berdarah. Namun bukannya kesakitan Kai malah tertawa terbahak bahak membuat Hugo dan para anak buahnya heran.
" It's show time!!"
Blup
Blup
Blup
TBC
__ADS_1