My Billionaire Hubby

My Billionaire Hubby
MBH 72. Rencana Pertama Berhasil


__ADS_3

Seminggu berlalu Hugo benar benar puas dengan apa yang sekarang ia dapatkan. Perusahaannya yang baru berdiri beberapa hari sudah memiliki beberapa klien. Tanpa dia sadari semua itu memang sudah diatur oleh Kai. Ia tampak sibuk mengurus pertemuan pertemuan dengan klien nya yang tentu saja selalu didampingi oleh Soraya.


Soraya pun tak kalah puasnya, ketika ia bisa berdiri dengan seseorang yang kini menjadi pusat perhatian banyak orang. Kai benar benar meredup, namanya tak lagi sering muncul di media. Bahkan sama sekali tidak ada yang menanyakan tentang keberadaan dirinya saat ini. 


Media saat ini tengah menyorot Hugo Gladwin. Mereka bahkan menjadikan Hugo sebagai berita teratas dengan judul pengusaha baru yang bersinar. Dan semua itu juga Kai yang mengatur. Dia menggiring media untuk mencari berita tentangnya. Bahkan Kai juga memberi clue mengenai hubungan pribadi Hugo dengan Soraya.


" Lihat lah sayang, kini namaku berada di puncak pencarian. Bagaimana apakah kau merasa senang?"


Soraya tersenyum bangga, wanita cantik nan seksi itu bergelayut manja di pangkuan Hugo. Hal tersebut tentu merupakan hal yang biasa. Para karyawan HSW sudah tak asing melihat pemandangan itu. Bahkan mereka lebih memilih untuk tidak jadi masuk ke ruangan Hugo jika bos mereka tengah berada di dalam bersama wanitanya.


Namun mereka tidak tahu, para karyawan itu sungguh tidak menyukai kelakuan mesum bos dan wanitanya yang tidak tahu tempat. Terlebih mereka semua mengerti jika keduanya belum terikat tali pernikahan. 


" Tentu saja aku senang sayang. Pria bodoh itu sekarang sudah tak lagi tampak. Aku rasa karirnya benar benar tamat."


Soraya mulai membelai dada bidang Hugo. Hugo pun langsung meraup bibir Soraya dengan rakus. Ia bahkan sudah menurunkan gaun wanita di pangkuannya itu hingga dua aset milik Soraya terpampang menantang di matanya. Hugo selalu senang dengan benda mainannya itu. Ia pun meraup dna menyesap silih berganti layaknya bayi yang kehausan. Soraya memekik tajam, ia juga menyukai apa yang dilakukan Hugo. 


Senjata tajam milik Hugo sudah begitu sesak dibawah sana. Tampaknya dia sudah memberontak ingin melakukan aksinya. Soraya yang paham langsung berdiri dan melepas semua pakaiannya. Kini wanita itu sudah polos tanpa kain penutup sedikitpun. Ia membantu Hugo agar lebih cepat melepas kain yang menghalang senjatanya. Kini bagian bawah hugo pun sudah tak berpenghalang lagi. Mata Soraya berbinar ia pun secepat nya langsung duduk di sana dna bergerak sesuai keinginan Hugo. Di kursi itu keduanya melakukan penyatuan.


Kring …


Ponsel Hugo berbunyi. Namun pria itu acuh. Dia masih menikmati permainan dari Soraya.


Kring …


Dia sungguh kesal, acara senang senang nya diganggu. Namun entah mengapa ia harus mengangkat panggilan tersebut.


" Hallo Mr. X"


" Kau, ada apa."


" Saya mendapat berita bahwa keluarga Suryoprojo kembali ditangkap oleh polisi."


" Tck … biarkan saja. Aku sudah tidak membutuhkannya. Tidak usah lagi mengurusi mereka."

__ADS_1


Tuuuut …


Hugo melempar ponselnya ke meja, ia kemudian menyesap kembali bulatan kenyal yang menggantung indah di depan matanya.


" Kenapa honey."


" Keluarga Suryoprojo ditangkap kembali."


" Apa kau tidak lagi peduli dengan mereka?"


" Biarkanlah, tidak usah dipikirkan. Percuma mengurusi orang orang bodoh itu. Sudah sewajarnya mereka mendekam di jeruji besi itu."


Soraya tersenyum simpul, ia lalu kembali menikmati permainannya bersama pria di depannya itu.


🍀🍀🍀


Selama seminggu ini Kai yang sengaja membuat Hugo sibuk benar benar melakukan rencananya. Kai memberikan bukti kejahatan Safira, Hendri, dan Firhan kepada pihak berwajib. Bukti tersebut tentu saja dilengkapi dengan laporan Kai dan juga Topan. Ya Topan sudah berada di rumah kediaman Joyodiningrat dan dia sungguh disambut baik. Topan dianggap anak paling kecil di keluarga itu.


Kini Tyas berada bersama Nita. Ya hanya Nita yang mau menerimanya. Nita yang merupakan sahabat dekat Safira merasa ikut bertanggung jawab dengan wanita paruh baya itu.


" Mom, tungguh Fira keluar ya mom."


Tyas menangis, nasi telah jadi bubur. Jika dia bisa sedikit lebih baik lagi menjadi ibu maka keluarga nya tidak hancur seperti sekarang.


" Nit, nitip nyokap ya. Jual jualin aja apa yang ada di butik buat kalian nanti hidup. Beberapa perhiasan juga jual aja Nit."


" Nggak usah mikir itu  aku bakal jaga mommy dengan baik. Kamu dulu sudah pernah menolongku saat aku benar benar berada di bawah. Dan mungkin saat ini waktunya aku membalas semua budi mu Fir."


Safira tergugu, kini ia baru tahu dan mengerti apa itu seorang teman. Apa Itu seorang sahabat. Hanya Nita yang kini ada disampingnya. Semua teman sosialitanya tidak ada satupun yang bersimpati. Safira menangis tersedu. Nita pun langsung memeluk sang sahabat.


" Berubahlah menjadi lebih baik lagi Fir, dan ayo kita menjalani hidup yang baik setelah masa hukuman mu habis."


Safira mengangguk ia pun merasa begitu. Perkataan Nita semuanya adalah benar. Yang ia butuhkan saat ini bukan pengakuan publik namun ketenangan hati.

__ADS_1


Di kediaman Joyodiningrat kini semuanya berada. Bisa dikatakan saat ini formasi lengkap. Bahkan Luki juga ada di sana. Terlihat rona kebahagiaan di wajah Topan. Ia sungguh bersyukur mendapatkan keluarga yang begitu baik.


Topan masih berada di kursi rodanya. Butuh waktu untuk mengembalikan kaki nya menjadi normal kembali.


" Adeeek … adek mau makan apa?"


Satu kalimat yang lolos dari mulut Ana membuat seisi rumah tertawa. Ana benar benar memperlakukan Topan layaknya adik kecil nya. Namun Topan tidak mempermasalahkan itu, ia sungguh bahagia berada di tengah tengah keluarga itu. Ia juga menganggap mereka semua adalah kakak kakaknya.


" Sudah cukup kak Ana. Saya sudah kenyang. Tadi sudah makan banyak." Topan menjawab sopan.


" Baiklah, kalau begitu." Ana pasrah, memang sejak tadi dia sudah memberikan makanan yang cukup banyak. Kini ia beralih menatap kakak iparnya.


" Kak Kiran mau apa?"


Kiran yang ditanya, Kai yang waspada. Pasalnya jika istrinya itu ditanya maka jawabannya pasti makanan yang tidak ada di situ.


" Ehm ~ "


" Sayang memangnya masih mau makan? Belum kenyang kah?"


" Iya masih pengen."


Mendapat jawaban Kiran wajah Kai langsung lesu, sedangkan Rama terkekeh geli melihat raut muka putranya itu.


" Ana, kakak mau asinan buah kayaknya seger sama soto betawi. Wuiiih mantap tuh."


Pluk! Kai menepuk keningnya pelan lalu membuang nafasnya dengan perlahan. Mendengar jawaban Kiran tentu saja Kai harus mencarinya. Tapi berhubung dia tidak pergi keluar untuk sementara waktu makan akhza dan Abra lah yang jadi sasaran.


" Za, Ra tolong beliin ya."


" Siap!!! "


TBC

__ADS_1


__ADS_2