My Billionaire Hubby

My Billionaire Hubby
MBH 53. Kedatangan Tamu


__ADS_3

Seorang wanita muda tengah duduk di kursi roda dan didorong seorang pria dewasa menuju pekarangan rumah milik Rama. Berkali kali pria dewasa itu membuang nafasnya kasar. Sesungguhnya ia sangat enggan mengikuti permainan si gadis.


" Oh ayolah Ben jangan selalu menghela nafas begitu. Telingaku sungguh geli mendengarkannya."


Ben acuh, ia tidak memperdulikan ocehan nona nya itu. Ia dengan kesal mendorong kursi roda milik Grizzle.


" Ben, pelan. Kalau aku sampai jatuh aku akan memintamu menggendongku kemanapun aku pergi selama seminggu ini."


" Tck … cerewet, bawel, manja."


" Biarin wleee … "


Lagi lagi Ben hanya bisa menghela nafasnya berat. Griz sungguh bebal saat dikasih tahu. gadis itu sungguh kaan mengacuhkan segalanya. Keduanya pun sampai tepat di depan pintu rumah Rama.


Tok … tok … tok …


" Ya sebentar."


Di dapur Sita tengah membuat kue brownies kesukaan semua orang di rumah. Sedangkan Kiran, ia tengah membuat jamu. Ia rindu dengan kegiatan berjualannya dulu. Dan untuk menyalurkan kerinduannya ia akan membuat jamu untuk orang rumah, hal itu disetujui oleh Sita. Karena sebenarnya Sita juga suka minum jamu.


" Biar Kiran saja mom."


" Eh iya bi Inah kemana memangnya?"


" Tadi Bi Inah bilang mau ke pasar dan sekalian Kiran nitip beberapa rempah juga."


" Oh ya sudah, tolong ya sayang."


" Ya mom."


Kiran berjalan menuju ke arah pintu. Ia pun membukanya perlahan.


" Selamat pagi … "


" Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?"


" Ah maaf perkenalkan nama saya Grizzle, saya tetangga baru yang menempati rumah di depan sana. Saya kemari untuk bersilaturahmi."


" Oh begitu, mari silahkan masuk kak. Nama saya Kiran"


Kiran tersenyum sangat manis, tutur katanya juga lembut sejenak membuat Grizzle terpesona.


" Ah iya terimakasih."

__ADS_1


" Sainganmu sungguh cantik dan imut. Kamu tidak akan bisa mengalahkan dia." Bisik Ben di telinga Grizzle.


" Sial kau Ben."


Griz hanya memanyunkan bibirnya tapi ia mengakui semua perkataan Ben mengenai Kiran. Kiran memanglah gadis yang sangat cantik, imut, dan lembut.


Kiran kemudia berjalan menuju dapur setelah mempersilahkan tetangga barunya untuk duduk untuk mengambil minuman.


" Siapa sayang?"


" Itu mom, tetangga baru datang untuk bersilaturahmi."


" Tetangga baru?"


Sita memicingkan matanya, ia sedikit heran. Selama lebih 20 tahun tinggal di daerah itu tidak pernah sekalipun ia menerima tamu dari tetangga. Tapi Sita tidak mau ambil pusing. Setelah memasukkan loyang ke kukusan Sita pun mengikuti Kiran ke ruang tamu untuk menemui tetangga barunya itu.


" Selamat datang di komplek sini. Semoga betah ya?"


Sita menyapa dengan ramah dan menyalami kedua tamu tersebut.


" Terima Kasih nyonya."


" Dari mana kalian berasal."


Ben memutar bola matanya malas dengan setiap kata yang diucapkan oleh Griz. Mereka pun terlibat obrolan panjang. Namun Ben hanya diam, ia tidak okut masuk dalam pembicaraan para wanita itu. Griz sungguh senang bisa berbicara akrab dengan keluarga pria yang disukainya.


" Baiklah nyonya kami permisi dulu  oh iya Kiran jika ada waktu mainlah ke rumah. Pasti seru jika punya teman."


" InsyaAllaah ya Kak, nanti Kiran Izin dulu ke abang. Kalau diizinkan Kiran akan ke rumah Kak Griz untuk bermain."


Griz tersenyum ia sungguh menyukai Kiran. Wanita berhijab itu sungguh enak diajak ngobrol. Ben pun segera membawa Griz pulang ke rumah.


Sesampainya di luar rumah Rama, Ben langsung menghardik Grizz. Ia mencengkeram erat pegangan kursi roda milik nona nya itu.


" Apa rencanamu Griz?"


" Apa sih Ben. Rencana apa?"


" Itu, kau mengundan Kiran untuk ke rumah kita."


" Ya Tuhan, kau sungguh berpikiran buruk tentangku Ben? Aku murni mengajak dia bermain. Dia gadis yang menyenangkan, aku merasa memiliki teman dan adik saat berbicara dengan dia."


" Kau bukan mau menghabisinya di rumah ini kan."

__ADS_1


" Astaga Ben … otakmu sungguh tidak waras. Memangnya aku sekejam itu."


Griz menggelengkan kepalanya lalu turun dari kursi rodanya dan berjalan ke kamarnya sambil bersungut sungut. Ben membuang nafasnya kasar. Ia merasa sudah sangat keterlaluan karena sudah berpikiran buruk kepada Griz.


🍀🍀🍀


Di tempat lain Kai dan Silvya tengah berbicara serius. Dimana lagi kalau bukan markas Wild Eagle.


" Jadi apa yang kau inginkan?"


" Sebagai Kai Bhumi Abinawa musuhku ternyata juga banyak Q."


" Hahahah apakah kau baru mengetahuinya Mr. Sun. Itu mereka tidak tahu bahwa kau adalah Mr. Sun, jika mereka tahu bisa bisa kau harus menyimpan keluargamu di brankas agar tidak bisa disentuh mereka."


" Bisakah kau membuat pengawalan terhadap semua anggota keluargaku. Bikin senatural mungkin. Jangan sampai mereka tahu kalau mereka sedang diawasi. Aku juga ingin beberapa orang ditempatkan di rumah. Pria dan wanita, yang wanita aku ingin seperti Ale."


Silvya terdiam sesaat. Ia tengah berpikir tentang permintaan sahabatnya itu.


" Aku akan minta orang ke saudara kembarku Arduino."


" Terserah padamu Q. Kamu lebih tahu tentang hal ini. Oh iya apa kamu sudah benar benar tidak lagi berurusan dengan dunia bawah?"


Silvya menggeleng. Menjadi seorang istri dan ibu dari dua orang anak sudah membuatnya bahagia. Dia sama sekali tidak tertarik lagi dengan dunia bawah.


" Kau tahu Kai, kehidupanku saat ini sudah sangat nyaman."


" Tapi apakah kau tidak menempatkan orang orang mu disekitar suami dan anak anakmu."


Kai bisa melihat raut wajah Silvya yang menyimpan kekhawatiran. Wanita yang berusia lebih dari 40 tahun itu terlihat berubah air mukanya.


" Aku tidak memungkiri Kai. Aku sungguh masih sangat takut beberapa orang yang tidak menyukai ku di masa lalu kembali dan menyerang keluarga ku. Untuk itu aku tetap membuat penjagaan bagi mas Dika dan kedua anak ku."


" Kau seorang istri dan ibu yang hebat Q. Aku sungguh kagum dan bangga terhadapmu. Memang yang bisa kita lakukan adalah terus melindungi keluarga kita, melindungi orang orang yang kita sayangi dan cintai dengan cara kita. Jangan sungkan jika kau membutuhkan aku untuk bergerak."


" Pasti Mr. Sun aku tidak akan sungkan. Oh iya ku dengar dari Nata dan Mas Dika kau sudah menikah. Brengsek, mengapa tidak memberitahukan. Kau anggap apa aku ini."


Kai membuang nafasnya kasar, Silvya kalau dalam mode singa mengamuk sungguh tidak menyenangkan. Dan benar saja apa yang dikatakan dokter Dika bahwa Silvya akan marah dengan tidak memberitahunya mengenai pernikahannya.


" Ceritanya panjang, tapi yang pasti dia adalah salah satu alasan mengapa aku meminta penjagaan darimu."


Silvya mengangguk mengerti. Kai pasti begitu mencintai istrinya. Ia ingat betul saat Kai berusia 6 tahun meminta nya melindungi sang ibu dari orang orang yang ingin mengincarnya. Dan hal itu kembali ia rasakan saat ini.


TBC

__ADS_1


__ADS_2