My Billionaire Hubby

My Billionaire Hubby
MBH 89. Kota M


__ADS_3

Kota M, Kai dan Kiran menginap di salah satu hotel yang ada di kota tersebut. Mengingat Kiran sudah tidak memiliki rumah di desanya jadi Kai memutuskan untuk menginap di hotel saja. Baru keesokan harinya mereka akan berkunjung ke desa kelahiran Kiran.


" Bang habis isya main ke alun alun yuk," ajak Kiran.


" Kamu tidak capek memangnya?" ucap Kai.


Kiran menjawabnya dengan menggelengkan kepala. Ia sungguh rindu dengan alun alun kota M tersebut. Dulu semasa sekolah jika ingin sekedar melepas penat Kiran akan berjalan jalan di sekitar alun alun. Alun alun Kota M di sisi depan memiliki icon patung Pangeran Diponegoro menunggang kuda. Sedangkan di sisi belakang terdapat sebuah menara PDAM yang menyerupai kompor minyak raksasa. 


" Baiklah kita akan kesana. Apa kesana ingin makan sesuatu?"


Kiran mengangguk dan tersenyum kecil. Ya di sekitaran alun alun memang banyak sekali penjual makanan, karena di pinggirannya memang diperuntukkan sebagai tempat kuliner.


" Haissh, ummi mu nak ternyata mau jajan," ucap Kai sambil membelai lembut perut Kiran yang sudah membuncit. Kiran hanya tertawa mendengar ucapan snag suami.


Dan benar saja, sampai di alun alun yang pertama dilakukan Kiran adalah memesan makanan yang diinginkannya. Ia memesan nasi goreng khas kota tersebut. Nasi goreng khas kota tersebut sedikit beda dengan nasi goreng kebanyakan. Nasi goreng Kota M terdapat campuran bakmi di dalamnya dan Kiran sungguh sangat menginginkannya. Ia pun makan dengan begitu lahap.


Kai sendiri sangat takjub dengan alun alun kota M. Meskipun ramai masih terlihat tertib. Di sekeliling alun alun terlihat bahwa warga kota M menjunjung tinggi toleransi. Di bagian samping kiri depan ada sebuah klenteng megah, di bagian belakang terdapat sebuah masjid agung milik kota tersebut dan di sebelah belakang bagian kanan terdapat sebuah gereja.


" Di sini kalau ada event apakah rame juga sayang?" tanya Kai.


" Iya bang lumayan. Pemda sering membuat acara  apalagi kalau ulang tahun kota. Biasanya akan ada kirab budaya salah satunya grebeg gethuk. Kota ini kan terkenal sama gethuk nya. Itu ramai. Kalau ulang tahun kemerdekaan akan ada karnaval. Biasanya setiap instansi akan mengeluarkan tampilannya berupa mobil yang dihias gitu. Dan yang paling ditunggu adalah penampilan drumband milik AKMIL. Uh itu keren banget Bang."


Kai hanya menganggukkan kepalanya setiap istrinya bercerita. Sedangkan Bey dan Bee hanya menjadi pendengar setia saja. Keduanya baru ingat bahwa akademi militer di kota M ini sungguh sangat terkenal.


*


*


*


Keesokan harinya semua sudah bersiap untuk menuju desa milik Kiran. Terlihat wajah antusias Kiran pagi itu.


" Apa kau siap sayang," tanya Kai.

__ADS_1


" Sangat siap bang," jawab Kiran.


" Apa kamu siap ketemu bude mu dan kakak sepupu mu?" tanya Kai lagi.


Kiran mengangguk, meskipun seburuk apa kelakuan Bude Martiyah dan Mbak Riati mereka tetaplah keluarga nya. Kiran sudah menyiapkan mental untuk bertemu dengan mereka.


Hanya butuh waktu kurang dari 30 menit untuk sampai di desa Kiran. Bee dan Bey takjub. Pemandangan yang dilihat sungguh indah. Bahkan Bee dan Bey bisa melihat gunung double M dari desa Kiran. Jangan lupakan gunung S yang menjulang tinggi di hadapannya.


" Tuan, nyonya disini pemandangannya keren seger lagi udaranya," ucap Bee yang sejak perjalanan tidak bersuara sama sekali tiba tiba mengeluarkan suaranya.


" Jika kau mau tinggal saja di sini Bee," ucap Kai.


Bee hanya nyengir mendapat tanggapan dari tuannya itu. Mereka sudah sampai di desa Kiran dan memarkirkan mobil mereka tepat di halaman rumah yang pernah dikontrak Kai dulu.


Beberapa tetangga hanya melihat hingga Kiran dan Kai turun mereka kemudian langsung menghampiri.


" MasyaaAllaah nduk, kamu to."


" Piye kabare nduk, sehat??"


Para tetangga memberi ucapan selamat kepada Kiran dan Kai. Pak No dan Bu No yang masih berada di dalam rumah hanya sedikit mendengar sayup sayup keramaian di halaman samping rumahnya. Mereka berdua pun keluar. Keduanya terkejut melihat siapa yang ada di sana.


" Bang Bule, Kiran! MasyaaAllaah."


Bu No dan Pak No mendekat. Kiran dan Kai menyalami kedua orang tua tersebut. Bahkan Bu No memeluk Kiran dengan erat. Ada rasa haru yang menyelimuti wanita paruh baya itu.


" Kosek ya ibu ibu, Kiran tak jak e mlebu sik ben leren. ( bentar ya ibu ibu, Kiran saya ajak masuk dulu biar istirahat.)"


" Njiiih Bu No."


Bu No dan Pak No membawa Kiran, Kai, Bee, dan Bey masuk ke dalam rumah. Mereka pun banyak berbincang hingga Kai pamit untuk menemui Arman. Ia mengajak Bey bersama nya. Sedangkan Kiran dan Bee masih di rumah Bu No.


" Bagaimana kabar Bude Mar dan keluarga Bu No?"

__ADS_1


Bu No membuang nafasnya perlahan mendengar pertanyaan Kiran. Dia pun menceritakan mengenai keluarga Bude nya itu. Setelah 2 bulan kepergian Kiran ternyata Bude Mar merobohkan rumah peninggalan almarhum bapak Kiran lantas menjual tanah tersebut. Niat hati untuk dijadikan jaminan agar Rio bisa bebas. Tapi kesalahan yang diperbuat Rio terlalu besar. 


Mungkin dia dan keluarga sudah tidak kuat karena malu dan selalu digunjing warga akhirnya keluarga tersebut memutuskan pindah dari desa ini. Bahkan Bude Mar menjual rumahnya juga. Namun tidak ada yang tahu mereka pindah kemana.


Kiran sedikit sedih dengan cerita mengenai keluarga satu satunya dari almarhum sang bapak. Namun ia juga tidak bisa berbuat apa apa. Seandainya waktu itu bukan Kai yang memasukkan Rio ke penjara tetaplah Rio juga akan masuk penjara karena memang dia adalah DPO.


" Ndak usah jadi pikirmu nduk. Sekarang hiduplah berbahagia dengan suamimu?"


Kiran mengangguk ia paham maksud dari Bu No.


Bu No juga menceritakan mengenai Jaya. Setelah ditinggal pergi istri dan anaknya Jaya sedikit hilang kendali. Jaya pun sampai masuk rumah sakit karena mencoba bunuh diri. Namun setelahnya Jaya menyusul Rosma dan tidka kembali ke kampung ini.


Rupanya banyak hal yang terjadi selama Kiran pergi meninggalkan desa. Namun satu hal yang ia sesali yakni rumah peninggalan bapak nya tak lagi ada.


Di warnet Arman sungguh terkejut melihat siapa yang masuk ke warnet nya. Berkali kali ia mengucek matanya. Dia pikir hanya halusinasi namun ternyata orang itu tetap berdiri di sana dengan senyum yang mengembang di bibir.


" Bang Bule! Apa benar ini Bang Bule."


Kai tersenyum lalu memeluk Arman yang masih dilanda keterkejutan. Kai menepuk pelan punggung pemuda itu.


" Kau sehat Man?"


" Se-sehat bang. Alhamdulillah."


Kai mengurai pelukannya. Ia tersenyum ke arah Arman yang masih terkejut. Arman lalu membawa Kai untuk duduk. Mereka pun terlibat obrolan yang menyenangkan.


" Bang saat abang muncul di tivi, semua orang di desa ini terkejut bang. Abang dan Kiran jadi trending topik, bahkan selama seminggu orang orang masih membicarakan abang."


Kai tergelak mendengar cerita Arman. Ia sungguh tidak mengira hal itu mengundang banyak perhatian.


Setelah puas berada di desa kelahirannya Kiran dan Kai berpamitan ke seluruh orang yang mereka kenal. Mereka akan kembali ke hotel namun sesuai rencana Kiran dan Kai akan mampir dulu ke makam kedua orang tua Kiran.


Di sini Kiran dan Kai berada. Kiran bersimpuh di samping pusara sang ibu dan ayah. Ya ibu Sari dimakamkan dekat dengan sang suami. Tidak ada air mata di sana, Kiran tersenyum kecil. Keduanya memanjatkan doa untuk Sari dan Prapto.

__ADS_1


" Pak, Ibu, Kiran datang. Bapak dan Ibu mau punya cucu kembar. Semoga cucu cucu bapak dan ibu bisa menjadi anak sholih dan sholihah ya. Biar bisa doain bapak dan ibu. Beristirahatlah dengan tenang pak buk. Kiran janji akan hidup bahagia. Dan sesuai dengan janji Kiran, Kiran tidak menangis sama sekali. Kiran akan kembali datang bersama cucu cucu bapak dan ibu nanti."


TBC


__ADS_2