My Billionaire Hubby

My Billionaire Hubby
MBH 56. Ikut Ke Perusahaan


__ADS_3

Keesokan paginya Kiran kembali bertingkah aneh. Kali ini ia ingin ikut Kai ke perusahaan. Namun ia membawa begitu banyak makanan, dan Bee menjadi bagian dari misinya kali ini.


" Loh sayang buat makan kotak kotak makanan itu."


" Mau dibawa ke perusahaan? Buat aku?"


Kiran menggeleng pelan. Kai langsung menatap tajam ke arah Bee, Bee menelan saliva nya dengan kasar. Ia seperti tercekik setiap Kai menatapnya seperti itu.


" Itu tuan, kata nyonya Kiran mau buat bekal ikut tuan ke perusahaan."


" Apa ….??!!"


Kai berteriak sedikit keras hingga membuat Sita dan Rama yang berjalan santai ke ruang makan seketika berjalan lebih cepat.


" Ada apa bang?"


" Ini lho yah, masa Kiran mau bawa banyak kotak makanan ini. Katanya buat bekal ikut ke perusahaan."


Rama dan Sita saling menatap lalu tersenyum. Sita pun mendekat ke arah sang menantu lalu mengusap kepalanya dengan pelan.


" Apakah beneran mau ikut abang?" 


Kiran mengangguk, matanya begitu berbinar.


" Jadi kursus nya libur?"


" Boleh ya mom, please … "


Tidak, menantunya itu sungguh sangat menggemaskan. Sita tidak tega jika menolaknya. Sedangkan Rama hanya terkekeh pelan melihat tingkah sang menantu. Berbanding terbalik, Kai mengusap tengkuknya berkali kali. Seorang jenius itu begitu pusing melihat tingkah istrinya yang menurutnya diluar kebiasaan.


" Sayang, kamu yakin mau ikut?"


" Apakah tidak boleh. Aku tidak akan ganggu kok. Nanti aku akan bersama Bee. Aku hanya ingin selalu melihatmu seharian ini."


Kai pasrah dengan permintaan sang istri. Ia pun mengangguk menyetujui permintaan istrinya.


Kai dan Kiran berangkat ke perusahaan diikuti oleh Bee yang membawa beberapa paper bag berisi kotak makanan yang sudah disiapkan. Kiran begitu senang bisa ikut Kai. Baginya ini seperti piknik.


Sita tertawa saat putra dan menantunya sudah berangkat. Rama melirik ke arah istrinya itu.


" Kenapa sayang, kenapa bisa tertawa sebegitunya?"


" Mas, bila dulu triplet begitu menurut kepada Kai. Aku yakin anak nya Kai akan sangat membuat Kai kewalahan. Hehe."


" Apa kau yakin Kiran tengah mengandung."


" Belum, kita harus cek ke dokter. Tapi dari kelakuan menantu kita yang aneh aku merasa Kiran memang tengah mengandung."


Rama sungguh merasa senang jika memang itu terjadi. Rumah ini pasti akan kembali ramai dengan hadirnya seorang bayi mungil.


" Aku jadi tidak sabar pengen gendong baby."

__ADS_1


" Haish mas … masih sangat lama untuk itu."


🍀🍀🍀


Di perusahaan semua mata tertuju pada bos dan istrinya itu. Suasana nya sangat kontras dilihat mata. Jika setiap bertemu orang Kai hanya akan diam dan cuek, berbeda dengan Kiran. Wanita cantik berhijab itu akan tersenyum ramah menganggukkan kepalanya.


" Waah nyonya bos ramah banget ya."


" Iya bu bos the beat emang, udah cantik ramah lagi."


" Lihat lah senyumnya itu, masyaAllaah manis banget."


" Wajahnya adem, aku yang cewek aja suka lihat nya."


Mendengar ucapan para karyawannya membuat Kai semakin mendekatkan tubuhnya. Ia merangkul pinggang istrinya posesif.


" Ya ampun pak bos, kelihatan banget cinta nya ma bu bos."


" Iya loh, wajah cuek dan datarnya seketika berubah kalau sama bu bos."


Bee yang berada di belakang pasangan muda itu tersenyum simpul. Tampaknya semua menyukai pasangan muda di depannya itu. Tidak dipungkiri keduanya memang begitu serasi.


Luki dan Mira sedikit terkejut Kai datang bersama istrinya.


" Halo Kak Luki, Kak Mira. Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


Sama seperti saat ini, Luki dan Mira yang tadinya heran kenapa Kiran ikut ke kantor pun jadi urung untuk bertanya.


" Kak Mira dan Kak Luki sudah sarapan?"


Keduanya menggelengkan kepalanya. Kiran langsung melepaskan tangannya dari tangan sang suami dan langsung menggamit tangan Mira.


" Ayook sarapan, Kiran bawa banyak makanan."


Mira nurut dan ikut saja dengan ucapan Kiran begitu juga dengan Luki.


" Bee, ayo masuk."


Bee sedikit berlari mengejar nyonya bos nya. Kai hanya berdiri terpaku, ia merasa diacuhkan oleh sang istri.


" Tadi aku tanya makanannya untuk siapa dia bilang untuk bekalnya sendiri. Dan katanya juga bukan buatku. Lah kenapa sekarang malah dibagikan ke Mira dan Luki."


Kai pun masuk ke ruangannya dengan  wajah yang ditekuk. Luki bisa melihat wajah sahabatnya yang kesal.


" Ekhem … Kiran, kamu sedang marahan sama suami mu?"


Kiran melirik suaminya sekilas lalu tersenyum ke arah Luki.


" Nggak kak, kita nggak lagi marahan kok. Bener."

__ADS_1


Namun sepertinya jawaban Kiran tidak seperti raut wajah Kai. Luki pun beranjak dari duduk nya dan menghampiri sang bos.


" Kenapa?"


" Entah, dia aneh."


" Siapa? Istrimu?"


Kai mengangguk, ia tak mau memperpanjang hal itu. Ia pun memutuskan untuk kembali mengerjakan pekerjaannya dan membiarkan sang istri melakukan apa yang dia mau. 


Tak lama setelah acara makan bersama itu Bee membereskan kotak kotak makanan dan Kiran duduk tenang di sofa sambil memandangi suaminya.


" Suamiku ganteng banget."


Bee tersenyum mendengar selorohan sang nyonya. Ia pun membiarkan nyonya nya yang tengah memandangi sang tuan. Berkali kali Bee tersenyum kecil melihat kelucuan pasangan muda itu. Lambat laun Kiran memejamkan matanya dan dengkuran halus terdengar oleh Kai.


Kai pun bangkit dari duduknya dan menghampiri sang istri. Ia berjongkok di sebelah istrinya lalu membelai wajah sang istri.


" Haish … tidur. Apakah sudah capek bermainnya. Kamu hari ini sungguh aneh."


Hap … Kai mengangkat tubuh Kiran dan membawanya ke ruang istirahat dan Bee pun keluar dari ruang CEO. Ia berinisiatif menunggu di luar saja.


" Kalau begini terus aku bisa diabetes. Habisnya mereka sweet banget."


Di ruang istirahat Kai merebahkan sang istri di ranjang. Ia melepas sepatu istrinya dan membuka hijab Kiran. Bukannya segera kembali bekerja Kai malah ikut berbaring di sebelah Kiran. Entah Kiran menyadari keberadaan suaminya atau tidak, wanita itu menghadap ke arah Kai dan merangsek ke dada suami. Persisi seperti anak kucing yang ingin bermanja kepada induknya.


Kia tersenyum simpul ia pun memeluk sang istri dan mencium kepala istrinya itu 


" Bagaimana aku akan meninggalkanmu untuk bekerja jika kamu menggemaskan seperti ini. Haih … aku sungguh tidak bisa. Sayang, jika kamu selalu ikut aku ke perusahaan aku khawatir pekerjaanku tidak akan bisa selesai tepat waktu."


Kai kembali mendekap istri kecilnya itu. Rasa cinta dan sayang itu semakin hari semakin bertambah. 


"Memang pacaran setelah menikah lebih menyenangkan," ucap Kai pelan.


Di luar Luki mencari sang bos karena banyak berkas yang harus ditandatangani. Luki memindai seluruh ruangan tapi tetap tidak menemukan Kai. Pada akhirnya ia bertanya kepada Bee.


" Maaf, kamu … "


" Saya Bee pak, ada yang bisa saya bantu?"


" Kemana Kai?"


" Itu Pak, Tuan tadi menggendong nyonya ke kamar istirahat karena nyonya tertidur."


" Apakah sudah lama?"


" Ehmm … "


" Haish … kau ini Kai. Benar benar Kai Bucin Abinawa. Jika seperti ini aku pun tidak bisa memanggilnya huft."


TBC

__ADS_1


__ADS_2