
Kai yang berada di perusahaan langsung saja berlari meninggalkan rapat saat mendapat pesan sang mommy di grup chat milik keluarga. Hal tersebut berlaku juga bagi Rama, Rama sungguh takut Istrinya kenapa napa. Si Kembar dua pun yang berada di kampus langsung tancap gas.
Namun ditengah jalan ketiga mobil yang datang dari berbagai tempat asal itu mengubah arah tujuan mereka. Yang tadinya hendak ke pusat perbelanjaan menjadi ke kantor polisi.
" Kantor polisi?"
Keempat pria berbeda usia itu bergumam serempak di mobil masing masing. Namun mereka tidak mau berspekulasi apapun. Saat ini yang utama adalah menemui keluarga mereka.
Ckiiit
Ckiiit
Ckiiit
Mobil Kai, Rama, dan si kembar datang berurutan. Mereka keluar dari mobil bersamaan.
" Ada apa ini bang."
" Entah yah, ayo kita masuk."
Keempat pria itu berjalan beriringan dengan formasi Rama dan Kai di depan lalu si kembar di belakang.
" Ayah harap tidak ada yang terluka."
" Sepertinya kalau begini aku harus meminta Q untuk meminta orang orangnya lagi mengawal."
Mereka berjalan sedikit cepat. Beberapa pasang mata melihat mereka dengan tatapan kagum. Pasalnya saat keempat pria itu berjalan terasa sedang peragaan mode.
" Mereka seperti model ya."
" Ho oh, kantor polisi berasa panggung catwalk."
" Sayang …. "
Rama dan Kai langsung memanggil kekasih hatinya masing masing saat memasuki ruangan. Keduanya langsung memeluk istri mereka.
" Oh ya Allaah aku iri dengan mommy dan kak Kiran."
" Tck … nggak usah iri. Kamu biar kami yang peluk."
Benar saja Ana langsung di peluk kedua kakak kembarnya. Ana sungguh senang, kedua saudara kembarnya begitu menyayanginya.
" Ekhem … "
Seorang petugas polisi mencoba menghentikan keromantisan keluarga terpandang ini. Dia sangat tahu siapa Rama Hadyan Joyodiningrat dan Kai Bhumi Abinawa.
Mendengar suara pak polisi, Rama dan Kai melepaskan pelukan mereka terhadap istri mereka.
" Maaf Pak, ini sebenarnya apa yang terjadi."
" Begini pak Rama, istri anda dengan kedua putri anda tengah berada di pusat perbelanjaan, namun tiba tiba ada seorang penjambret."
" Dimana orang itu."
__ADS_1
" Di sana pak Kai."
Semua pria itu mengikuti arah tangan pak polisi menunjuk si penjambret. Keempatnya sangat terkejut melihat si penjambret yang babak belur.
" Laah, dia dikeroyok massa pak ?"
" Tidak pak Kai, dia dilumpuhkan oleh istri anda."
" Apa !!!???"
Rama, Kai, Akhza dan Abra sungguh terkejut mendengar ucapan petugas polisi itu. Mereka langsung melihat ke arah Kiran. Kai langsung berjongkok di sebelah sang istri dan memegang tangan istrinya erat. Ia menatap lekat mata Kiran meminta sebuah penjelasan.
" He he he, bang jangan melihatku begitu."
" Sayang, bisa jelaskan kepada abang apa yang kamu lakukan?"
" Aku hanya membela diri sekalian mempraktekan ilmu."
" Maksud mu?"
" Dulu aku ikut di perguruan silat semasa smp dan sma. Dan aku termasuk senior di sana. Aku juga berkali kali ikut kejuaraan tingkat nasional."
Semua melongo mendengar penjelasan Kiran, mereka tidak menyangka wanita berhijab itu sungguh lihai dalam ilmu beladiri.
" Apakah hanya itu?"
" Ehmm … aku juga ikut karate"
" Sabuk apa?"
Glek …
Semua orang menelan salivanya dengan kasar. Tubuh kecil Kiran rupanya menyimpan begitu banyak kekuatan. Kai membuang nafasnya kasar, ia pun segera memeluk sang istri.
" Kak Akhza, Mas Abra, kakak ipar kita sungguh jagoan."
Akhza dan Abra hanya mengangguk mendengar ucapan Ana. Mereka berdua masih speechless mendengar fakta itu. Sedangkan Rama ia sungguh sungguh kagum dengan menantunya.
" Pantas saja tuh penjambret bonyok." Gumam Rama lirih tapi masih bisa didengar oleh Sita.
" Mas nggak lihat sih tadi, aku aja hampir jantungan melihat Kiran beradu dengan penjambret. Menantu kita hebat mas."
Rama lagi lagi mengangguk. Ia setuju dengan ucapan sang istri.
🍀🍀🍀
Semua keluar dari kantor polisi dengan menaiki mobil masing masing. Kai masih menggenggam erat tangan Kiran. Ia merasakan kekhawatiran yang luar biasa.
" Apa abang marah?"
Ckiiit
Kai menepikan mobilnya. Ia lalu menggenggam tangan istrinya itu.
__ADS_1
" Abang tidak marah. Abang hanya takut sayang. Takut kamu kenapa napa."
Kiran tersenyum simpul. Ia bisa merasakan kekhawatiran sang suami.
" Bang, sebelum aku menikah dengan Abang, aku melakukan semuanya sendiri dan aku membentengi diriku dengan ilmu bela diri. Bapak yang mengajariku seperti itu. Dulu bapak adalah anggota aktif di perguruan silat dan aku sudah Ikut bapak sejak kecil tapi baru saat usia SMP Aku menekuni silat. Bapak berkata kepadaku, meskipun aku anak perempuan aku harus bisa menjaga diriku sendiri. Dan Alhamdulillah mungkin ajaran bapak itu bisa aku terapkan di kota besar ini."
Kai tergugu, lagi lagi dia merasa gagal untuk melindungi istrinya.
" Lalu mengapa kemarin saat Rianti mengambil cincin itu kamu tidak melawan?"
" Bang, bagaimanapun mbak Riati adalah saudaraku, jika aku melawannya dengan ilmu beladiri ku, aku terlihat seperti penindas karena otomatis kami tidak sepadan. Aku selama ini tidak pernah menunjukkan kemampuanku kepada siapapun termasuk keluarga bude Martiyah. Dan soal cincin waktu itu, aku juga hanya ingin tahu reaksi banag."
Kai memicingkan matanya, ia merasa istrinya sedang memberi tes kepadanya.
" Ooh jadi istriku waktu itu belum percaya kepadaku, apakah begitu."
" Bang, pertemuan kita sangat singkat. Dan aku pernah mengalami kegagalan dalam hubungan, aku hanya takut saja."
Kai langsung memeluk tubuh Kiran. Ia tahu apa yang dirasakan istrinya itu.
" Insya Allaah kita akan selamanya bersama. Satu pesanku jangan pernah percaya orang lain selain suamimu. Jika nanti ada yang berbicara macam-macam mengenaiku, kamu harus mengkonfirmasi dulu kepadaku. Jangan ditelan mentah-mentah. Oke!"
" Iya bang aku mengerti."
Kai meraup bibir sang istri. Sesaat pertarungan lidah itu kembali lagi diantara keduanya.
" Oh ya Allaah, aku sungguh tidak bisa menahan inginku."
Kai menepuk keningnya sendiri. Kiran adalah candu untuknya. Setiap bersama sang istri di tidak bisa menahan hasratnya.
" Hehehe sabar sebentar lagi sampai rumah."
Kiran iseng mengusap dada sang suami. Bukannya tenang, Kai semakin merasa tidak karuan.
" Ya Allaah sayang, mengapa kamu semakin nakal?"
" Oh iya, masa?"
" Sayang, jangan membuatku menerkam mu di sini oke."
Kiran pun menarik tangannya dari dada sang suami. Tubuhnya mendadak kaku dengan ancaman Kai. Sedangkan Kai ia terkekeh geli melihat reaksi sang istri.
" Baiklah istriku jagoan, mari kita pulang dan melanjutkan ini di kamar. Aku tidak akan melepaskan mu nanti."
Glek …
Kiran menelan salivanya dengan susah payah. Ia yakin pinggangnya akan encok nanti.
" Eh, memangnya abang nggak ke kantor lagi."
" Sepertinya tidak, istriku sedang membutuhkan ku mengapa aku harus kembali ke perusahaan. Lebih baik memanjakan istriku, bukankah begitu. Lagian kan memang sudah waktunya pulang. Kembali ke rumah lebih awal sedikit tidak ada yang mempermasalahkan nya. Apa kau lupa sayang, aku pemilik perusahaan itu."
Kiran hanya tertawa kecil. Tawa yang dipaksakan. Sepertinya malam ini di akan habis di tangan suaminya.
__ADS_1
TBC