
SAVA’S POV
.
Aku memandangi diriku di depan cermin. Tidak begitu cantik, tidak jelek juga. Benar-benar standar diriku ini. Hidung kurang mancung, mata agak sipit, tubuh kurus, dan sama sekali tidak sexy.
Satu-satunya yang kubanggakan dari diriku hanyalah tingkat kecerdasanku yang lumayanlah. Eh, aku tidak sedang mencoba menyombongkan diri. Aku hanya menceritakan sebuah fakta.
Sebentar, aku sepertinya harus bersyukur karena aku terlahir dengan kulit putih bersih.
Memang benar manusia itu banyak mengeluh. Kurang ini, kurang itu. Ingin seperti ini, ingin seperti itu. Banyak sekali keinginan.
Sudah seperti ini, dirubah agar seperti itu. Jika ditulis keinginan manusia mungkin tidak cukup dengan seribu lembar kertas.
Ini dunia nyata, ayolah bukan dunia dengan sebuah robot kucing macam Doraemon yang mampu mengabulkan segala keinginannya.
Tidak, bukan dunia yang seperti itu!
Kita hidup di dunia dengan usaha keras yang dibutuhkan. Butuh pengorbanan besar untuk mendapatkan keinginan. Harga mutlak untuk impian atas kelayakkan pengorbanan.
Hidup di dunia ini, tidak hanya manusia yang berperan, tapi juga ada Tuhan yang mengendalikan segalanya. Satu yang harus diingat, manusia itu berusaha, maka Tuhan yang akan menentukan hasilnya.
Jika manusia berusaha dengan keras, aku percaya jika Tuhan akan memberikan hasil terbaik untuk manusia.
Hidup itu seperti berjudi. Berani bertaruh berapa untuk kebahagiaan yang diinginkan?
Jika aku yang mendapatkan pertanyaan seperti itu, maka aku akan mempertaruhkan segalanya untuk kebahagianku, bukan hanya untuk diriku, tapi juga orang-orang yang sangat kusayangi.
__ADS_1
Aku akan berkorban!
…
Seragam? Oke!
Dasi? Oke!
Tas, buku sketsa! Oke!
Penampilan? Oke-lah!
Hm, sepertinya sudah.. Anak SMA memang sangat sibuk di pagi hari.
Aku meneteng tas sekolahku, aku menoleh ke arah bingkai foto yang berada di meja belajarku.
Foto diriku dengan dua orang sahabatku. Lien dan Luhan. Lien tersenyum sambil memamerkan lidahnya, dan Luhan sedang meringis dengan merangkul aku dan Lien.
Aku menyayangi, kalian…
.
END OF SAVA’S POV
.
.
__ADS_1
Berbicara mengenai sebuah cerita maka akan dimulai dengan kisah-kisah kecil yang menyertainya. Kisah yang tak terduga ataupun sengaja secara berkesinambungan akan menjadi kesatuan utuh sebuah cerita.
Cerita yang suatu saat nanti akan menjadi kenangan. Kenangan indah ataupun pahit itu tergantung pada diri masing-masing yang memaknainya.
Saat ini, yang bisa dilakukan hanya berjalan di alur hidup untuk mengukir sebuah cerita yang bermakna.
Setiap cerita yang terukir memang berbeda-beda bagi setiap manusia. Seperti halnya hidup yang kadang berada di atas, kadan pula berada di bawah.
Malah, terkadang ada yang begitu lama di atas, ada pula yang begitu lama bertaut dengan kesusahan di bawah.
Hidup memang seperti roda yang berputar seperti kata banyak orang.
Bukankah cerita hidup akan jauh lebih menyenangkan, jauh lebih berwarna, jauh lebih menantang jika manusia dapat merasakan apa yang namanya roller coster kehidupan yang berliku-liku, menukik, menajam, lurus ke atas, jatuh meluncur ke bawah, kadang pelan, kadang cepat, ataupun naik-utrun dan membuat mual.
Bukankah itu akan mengasyikkan?
Ayolah, akan sangat membosankan jika hidup selalu menyenangkan dengan segala kekayaan yang dimiliki, ataupun tanpa ada masalah sedikitpun. Hidup seperti itu sama sekali tidak ada gairah.
Roller coster kehidupan akan menghasil cerita hidup yang berwarna. Ada banyak cerita yang berbeda bagi tiap-tiap manusia. Ada yang diawali dengan kesedihan dan bahagia di akhir, ada pula yang sebaliknya. Bahagia di awal, sedihpun datang setelahnya.
Hanya satu yang perlu dipercaya.
Bahagia pasti ada!
Bahagia akan datang jika manusia berusaha keras untuk mendapatkannya.
Ingat, tak selamanya Tuhan akan membiarkan manusia yang sudah berusaha keras tidak akan mendapatkan kebahagiaan. Pasti akan mendapatkannya.
__ADS_1
Pasti!
Percayalah!