My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Red Carpet 1


__ADS_3

Malam reuni SMA pun akhirnya tiba.


Terlihat banyak alumni yang datang. Mereka mengendarai mobil sendiri dan ada pula yang diantar oleh sopir.


Mereka turun di depan gerbang masuk SMA.


Usai turun dari mobil mereka, mereka berjalan di atas sebuah red karpet yang cukup panjang. Bagaikan selebritis kelas atas yang akan menghadiri sebuah penghargaan seperti MAMA Awards, atau Oscar Awards.


Mereka tidak melewatkan kesempatan bahagia ini, dengan penuh percaya diri mereka berlagak seperti benar-benar seorang selebritis.


Tapi mereka terlalu bersemangat sehingga menimbulkan banyak tawa. Tingkah mereka sangat lucu dan gila. Sementara itu banyak tukang foto undangan yang siap mengabadikan moment langka mereka.


Hal ini terlihat benar-benar seperti acara penghargaan selebritis ketimbang sebuah reuni SMA. Kilap cahaya dari jepretan foto menambah nuansa semakin mewah.


Bukan ajang pamer atau apapun, di benak dan hati mereka, mereka hanya menunjukkan betapa bahagiannya mereka menyambut moment ini. Momen yang benar-benar mereka tunggu setelah sekian lama. Berikan standing applaus untuk panitia reuninya.


.


.


.


Mobil pertama yang berhenti adalah sebuah mobil mewah berwaran hitam pekat. Pintu mobil terbuka, sebuah kaki jenjang yang putih mulus terekspo dengan indah.


Nampaklah seorang wanita dewasa yang sangat elegan dengan tas beling-beling di tangannya keluar dari mobilnya. Seorang laki-laki tampan dan tinggi yang datang bersama wanita itu, memberikan lengannya untuk digandeng. Mereka melambaikan tangannya.


Tukang foto bayaran siap memotret mereka.


“Wah itu Kak Krisna dan Kak Enila…. Wuuuu….”


“Awet sekali mereka…”


Tak lama kemudian, dua wanita anggun juga ikut meramaikan acara reuni itu. Dia adalah Fitria dan Amel.


Fitria memakai gaun panjang ketat tanpa bahu berwarna merah dengan rambut pendek model bob lurus. Fitria nampak seksi dengan lipstick merah dan mata dengan eyeliner tebal yang memberikan kesan tajam pada matanya.


Tak jauh berbeda dengan Fitria, Amel juga memakai gaun seksi berwarna ungu tanpa lengan. Amel juga nampak seksi dengan rambut yang ia kriting.


“Apa kalian masih mengingat kami?” Teriak Fitria heboh.


“Tentu saja….”


“Duo rempong…”


“Kalian benar, tambah lagi.. Kami itu juga penindas.. sok centil.. sok cantik.. jahat.. kejam... “ Sambung Amel.


Sontak membuat suasana menjadi ramai dengan sorakan tertawa.


“Sudahlah itu masa lalu…"


“Benar…”


“Lupakan saja…!”


“Mari bersenang-senang!”

__ADS_1


“Siapa yang bersedia kami tindas lagi? Kami sudah sangat gatal ingin melakukannya lagi….” Kata Fitria yang kembali menimbulkan tawa renyah semua undangan yang hadir dalam reuni itu.


“HAHHAHAHHA”


Kemudian, datanglah sebuah mobil Lambourghini kuning.


Dari dalamnya nampaklah seorang wanita anggun. Ia memakai gaun pendek ketat di atas lutut berwarna biru tanpa lengan. Ia benar-benar menawan dengan bahu indahnya. Sebuah dompet kecil senada dengan bajunya ia pegang dengan tangan kirinya.


“Itu Aina… Wah model terkenal kita juga datang…“


Aina hanya tersenyum ringan. Bagaimanapun sekarang ia sudah menjadi seorang model terkenal, penting baginya untuk selalu menjaga imej dan terlihat anggun.


Setelah Aina masuk, datanglah Ohsen dan Lien. Ohsen memakai jas berwarna hitam dan kemeja berwarana putih serta dasi berwana biru bergaris putih.


Sementara Lien memakai gaun panjang warna hitam dengan belahan gaun sampai lututnya. Gaun itu sangat elegan dengan memperlihatkan punggung Lien yang indah.


Sebuah bunga indah berwarna biru juga menghiasi gaun hitamnya. Sangat cocok dengan Lien yang malam itu tampil begitu cantiknya.


Lien mencepol rambutnya ke atas sehingga memperlihatkan giwang berlian yang ia pakai di telinganya.


Ohsen dan Lien saling bergandengan. Dengan senyuman bahagia mereka melampaikan tangan.


“Huwaaaa… Ohsen datang bersama Lien? Apa mereka berkencan?”


“Mereka sangat cocok…”


“Wahh.. Selamat ya…”


“Aku tidak suka kau menampilkan senyummu pada perempuan-perempuan selain aku…” Kata Lien berbisik.


“Ya, aku cemburu…”


“Baiklah..baiklah..”


Suasana masih terlihat ramai. Terdengar gaduh dari para alumni yang datang di acara reuni itu. Mereka berteriak-teriak bahagia saat melihat kedatangan para teman-teman seperjuangan mereka semasa SMA.


Banyak di antara mereka yang menjadi orang sukses. Seperti Kirs yang menjadi seorang CEO perusahaan pertelevisian. Enila yang notabenya adalah tunangan Kris menjadi seorang artis dan model. Tak jauh dari kakaknya, Aina juga menjadi seorang model.


Ohsen menjadi direktur di salah satu cabang perusahaan ayahnya. Lien menjadi pemilik dari salah satu majalah ternama di Indonesia. Serta Luhan, Dio, dan Sava yang sudah lebih dahulu terkenal, Luhan menjadi pemain sepak bola professional dan seorang dokter di saat yang sama, Dio menjadi pianis terkenal, dan Sava menjadi seorang disaigner baju ternama.


.


.


.


Salah satu pangeran sekolah yang lainpun tiba. Dialah Kay.


Kay datang dengan memakai jas berwarna biru muda dengan kaos hitam sebagai dalamanya. Kai bahkan memakai celana bahan pendek selutut.


Paduan unik dari fashion yang Kay gunakan. Kaos dan jas. Santai dan formal itulah gaya Kay yang serba instant. Meski begitu ia benar-benar sangat tampan.


Sava selalu memaksa Kay untuk jadi modelnya. Itu fakta. Meski Kay sedang ada di London, Sava akan tetap memaksanya ke Itally hanya untuk mencona jas buatannya.


“Apa itu Kay?”

__ADS_1


“Iya, itu Kay!”


“Jadi apa teman-teman yang dulu pindah akan datang?”


“Buktinya Kay datang..”


“Kay kau seperti anggota boyband….”


Kay melepaskan kaca mata hitam yang ia pakai dan melambaikan tangannya. Kay tersenyum dengan memamerkan gigi-gigi putihnya. Itu membuat perempuan-perempuan yang melihatnya menggila.


Kay, marvellous!


“Kay, kau mirip Lee Min Hoo.”


“I Love You Kay…”


Mendengar teriakan dari mantan fangirlsnya membuat Kay semakin menjadi, dengan coolnya ia memberikan ciuman jarak jauh pada semua mantan fangirlsnya. Hal itu membuat para mantan fangirlsnya klepeg-klepeg.


Lebay sih!


Setelah itu, Luhan keluar dari mobil sportnya yang berwarna merah mengkilat.


Luhan memakai kemeja putih dengan dua kancing atas yang tidak ia kancingkan. Dasi yang tidak terpasang rapi melingkar di kerah kemejanya. Sebuah jas hitam yang sengaja tidak ia pakai, ia sampirkan di bahunya.


Luhan terlihat dewasa dengan gaya rambut mowhak yang memperlihatkan jidat tampannya. Ia nampak urak-urakan, tapi justru bagi orang yang melihatnya terlihat sangat manly dan sexy.


Keren!


Meski terlihat seperti bad boy, tapi Luhan selalu saja menarik perhatian semua perempuan-perempuan yang melihatnya. Luhan terlahir sebagai laki-laki dengan sejuta pesona di dirinya.


“Itu Exceeeeelllllll….”


“Mana-mana?”


“Wah benar, itu Excellll. Exceeelll… Kau semakin tampan…”


“Ahhhhh.. Excellll….”


“OH MAY GOD.. EXCEEEELLLLLL…..”


Luhan tersenyum sangat tipis dan melambaikan tangannya cool. Wajahnya terlihat sangat dingin. Sangat berbeda dari sosok Luhan 10 tahun lalu.


Dulu, Luhan adalah sosok yang sangat ramah dan baik hati yang bisa membuat luluh siapun. Sekarang, Luhan banyak berubah. Senyum ramah yang biasanya ia tampilkan kini hilang begitu saja. Matanya yang teduh, kini berubah jadi mata dengan sorot tajam menusuk.


“Exceelllll… Berikan senyuman manismu itu….!”


“Kami merindukannya….”


“Apa karena peristiwa 10 tahun lalu?” Mantan fangilrs Luhan saling berbisik-bisik.


Luhan samar-samar mendengarnya. Luhan tidak mau orang lain mengetahui lebih dalam tentang perasaanya saat itu. Dengan senyum yang sangat ia paksakan, Luhan mencoba menuruti permintaan para mantan fangirlsnya itu.


“WAAAHHH… EXCELL kau sudah semakin dewasa…”


“ITU KEREN!!!”

__ADS_1


“COOLL…”


__ADS_2