
Acara reuni sekolah itupun selesai..
Dio dan Sava menuju tempat parkir. Dio membukakan pintu mobil untuk Sava. Mereka bersiap pulang. Dio sibuk mengatur seat belt-nya. Ia bahkan juga membantu memakaikan seat belt milik Sava.
“Tadi Wedding Organizer menghubungiku, besok kita harus mulai menentukan dekorasi untuk pernikahan kita….” Kata Dio.
"..." Sava masih terdiam. Matanya lebih menguasainya. Ia mengamati seseorang dari balik kaca mobil.
“Setelah itu, kita juga harus memilih beberapa tempat untuk foto prewedding…” Lanjut Dio.
"..." Sava masih saja terdiam.
Dio menyadari kediaman Sava. Dio penasaran apa yang membuat Sava tidak mendengarkan kata-katanya. Dio mengikuti arah pandangan Sava. Ia cukup kaget, karena sesuatu yang membuat Sava tidak mendengarkannya adalah orang yang tidak pernah bisa Sava lupakan.
Sava menatap sendu Luhan yang tengah duduk tertunduk di batas semen taman sekolah.
Rasanya sangat menyakitkan saat sudah begitu lama berjuang mendapatkan hati Sava, tapi pada akhirnya tetap saja. Sava tidak akan pernah bisa ia dapatkan.
Meski ia memiliki tubuh Sava di sampingnya, tapi hati Sava bukan miliknya. Dari awal memang sudah bukan miliknya. Tapi milik Luhan.
Dio hanya menhempaskan nafasnya berat. Wanita disampingnya adalah wanita yang sangat dicintainya. Melihat Sava begitu terluka membuatnya semakin terluka.
“Va…” Panggil Dio pelan.
Sava tersadar dalam lamunannya. Ia cukup kaget.
“Di..Dio.. Ad.. ada apa?” Tanya Sava gelagapan.
”Berhentilah berbohong dan mengatakan kalau kau akan baik-baik saja saat kau denganku! Aku tahu takaran bahagia versimu dengan versiku itu berbeda...” Kata Dio.
“Ap..apa maksudmu, Dio?”
“Kalau kau tidak ingin menyesal, hampiri dia.. Katakan kalau kau juga mencintainya…!” Kata Dio sambil tersenyum. Meski suaranya sangat jelas terdengar terluka.
“….”
“Bukankah dia membutuhkanmu? Bukankah kau juga membutuhkannya?”
“…”
“Berapapun aku mencoba.. Seberapa keraspun usahaku untuk mendapatkan hatimu, tapi tetap saja aku tidak bisa meraihmu…. Kau terlalu jauh bagiku…”
“Di..Dio…”
"Meski kau sudah berusaha keras membuka hatimu untukku, tapi kau tetap tak akan bisa menerimaku.."
"Dio.. A..aku.."
"Kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Tuhan sudah memberitahuku beberapa kali..."
"Ta..tapi Dio.. a.. aku.."
“Tidak perlu mengkhawatirkanku.. Sudah, akhiri saja sandiwara hatimu padaku. Jujur saja ini sakit.. Tapi aku akan baik-baik saja kalau melihatmu bahagia…”
“…”
“Kalau kau ingin aku bahagia, maka hampiri dia! Aku bahagia saat kau bahagia…”
“Dio, maafkan aku…” Sava memeluk Dio dengan hangat.
__ADS_1
“Hm, tak apa… Pergilah! Hampiri dia! Raihlah dia! Dekaplah dia! Katakan yang sejujurnya! Jangan lepaskan lagi!” Sava mengangguk dan keluar dari mobil Dio.
Ia berlari menuju Luhan.
Dio menatap kepergian Sava. Ini adalah hari yang sendu. Tapi ia kembali tersenyum, ini pengorbanannya untuk orang yang dicintainya. Ia akan bahagia apapun asal Sava bahagia.
Bukankah perbuatannya itu hebat?
“Hallo, maaf pernikahan atas nama Dio dan Sava dibatalkan… Terima kasih..” Kata Dio sambil menutup Hp-nya.
Dio mencoba melihat Sava yang menenteng high healsnya saat berjalan menuju Luhan. Dio tersenyum karena menganggap kelakuan Sava itu lucu. Dio masih setia mengamati Sava dan Luhan dari dalam mobilnya. Ia belum berniat pergi.
.
.
.
Sava menghapiri Luhan. Nafasnya terengah-engah. Kakinya terasa sakit karena ia berlari tanpa alas kaki. Dengan kesal ia melemparkan high healsnya ke tanah, ke samping sisi Luhan.
Luhan kaget, ia menoleh ke arah high heals yang menganggunya. Kaki putih tanpa alas berdiri di sampingnya.
Sava mengatur nafasnya yang tak teratur.
“Bodoh! Apa yang kau lakukan dari tadi? Kau hanya melihatku seperti orang bodoh! Kenapa kau tidak bilang kalau aku terlihat aneh dengan high heals? Kenapa kau tidak mengejekku kalau gaun yang aku pakai sama sekali tidak cocok denganku karena warna pitahnya pink? Kau benci warna pink, kan? Bukankah itu aneh? Kenapa kau tidak bilang itu norak?” Kata Sava tanpa henti. Ia kesulitan mengatur nafasnya.
“….”
“Kenapa kau tidak bilang kalau kau merindukanku? Apa kau tidak merindukanku setelah 10 tahun berpisah? Kenapa kau tidak bertanya apa aku baik-baik saja tanpamu? Kenapa kau tidak memelukku saat melihatku kembali?”
“….”
“Kenapa kau tidak merebutku dari Dio? Kenapa kau membiarkanku yang mendiamkanmu? Kenapa kau tidak memarahiku? Kenapa kau hanya diam saja? Apa kau sudah melupakanku?”
“Penampilanmu sangat baik. Kau sangat cantik malam ini. Aku berkata jujur… Apa aku merindukanmu? Aku hampir gila karena merindukanmu… Bohong besar kalau aku sudah melupakanmu. Hidupku penuh bayang-bayang darimu…”
“Lu..Luhann…”
“Jangan pergi! Jangan pergi lagi! Aku bisa gila kalau aku harus membayangkannya…”
Sava menggeleng dalam pelukkan Luhan.
.
.
.
Dari jauh Dio masih menatap mereka berdua. Hingga akhirnya bunyi pesan singkat dari Hp-nya menyadarkannya. Rupanya itu pesan singkat dari Aina, sahabat kecilnya. Ini sudah pesan yang ke 80 yang sudah Aina kirim dalam satu hari ini. Beberapa miscall juga ada dari Aina.
“Baiklah, aku akan menemuimu besok…” Balas Dio.
Dio kembali melihat ke arah Sava dan Luhan. Ia tersenyum. Lalu ia menyalahkan mesin mobilnya. Ia bersiap meninggalkan Sava dan Luhan. Matanya masih melihat ke arah Sava dan Luhan yang sedang berpelukan. Ia menatap mereka lewat spion mobilnya. Ia tersenyum kembali saat melihat Luhan mencium bibir Sava.
“Sava benar, aku memang orang yang baik...” Kata Dio pelan.
Dengan perasaan rumit ia melaju meninggalkan Sava dan Luhan. Ia meneteskan air matanya.
Dio menangis!
__ADS_1
.
.
.
“Kau salah, Va…” Kata Luhan.
“…” Sava menatap Luhan seolah bertanya apa yang salah dengannya.
“Pada dasarnya udara adalah sumber kehidupan terpenting bagi makhluk hidup di bumi ini, tak terkecuali ikan. Kau fikir ikan akan hidup hanya dengan air? Tidak, ikan tetap butuh udara untuk bernafas.. Air hanya membantunya berenang…”
“Hiks..Hiks.. Maafkan aku…”
“Jangan pergi-pergi lagi..!” Sava menggeleng cepat. “Aku bisa mati…”
“Tidak akan…”
“Terima kasih sudah memilihku…”
Sava tersenyum. “Luhan..?”
“Hm?”
“Aku pulang…” Kata Sava.
Luhan kembali memeluk Sava.
.
.
.
Setiap orang berhak mencintai dan dicintai. Cinta sejati akan datang kepada mereka yang benar-benar mempercayainya. Cinta sejati akan tetap bertahan meski banyak halangan yang harus dilewatinya. Cinta sejati tidak akan hilang meski terpisah jarak dan waktu.
Cinta sejati memiliki mata sehingga ia tahu kemana harus berjalan. Ia akan kembali pada pemiliknya dengan kisah dan jalan cerita yang tidak akan pernah diduga.
Cinta yang terkadang begitu sulit untuk diraih, tapi ia memberikan cara untuk meraihnya. Pengorbanan tulus yang akan menuntun hati ke dalam cinta. Usaha yang keras, tekat yang kuat, dan kestiaan adalah kunci penting untuk berjalan dalam jalan cinta.
Jangan pernah menyalahkan cinta. Mencintai itu bukan hal criminal. Itu bukan kejahatan apalagi sebuah kesalahan. Meski mencintai seseorang tak sepenuhnya akan bahagia, tapi siap terluka untuk cinta itu hal dimana harus berkorban.
Berat?
Tentu terasa berat?
Tapi, akan terbayar apabila melihat senyum yang tersungging di bibir di akhir penantian.
“Terima kasih sudah kembali…”
Waktu akan terus berganti, musim pun ikut berlalu bersamanya. Kini mulailah lembaran hidup yang baru untuk, cerita, kisah, alur, dan cinta yang baru. Mengikuti arah hidup layaknya mengikuti aliran air yang mengalir tanpa henti. Terus, terus, dan terus mengikutinya hingga menemukan suatu keajaiban-keajaiban cinta dan hidup yang indah.
Tetap mengikuti hingga aliran arah hidup berhenti mengalir di muara kehidupan yang kekal abadi di akhir nanti. Akhir bahagia maupun akhir kesedihan itu memang tidak bisa ditebak.
Banyak misteri kehidupan yang akan membuat diri tertelan di dalamnya. Hanya berusaha dengan sebaik-baiknya untuk mendapatkan akhir cerita yang diinginkan. Tentunya sebuah kebahagiaan.
Kehidupan masih akan terus berlanjut beriringan dengan kisah-kisah yang menghiasinya. Meski kadang hidup tidak sesuai dengan harapan, bahkan terasa sangat berat. Tapi jika dilalui dengan rasa menerima dan berusaha keras untuk melaluinya, maka suatu saat nanti, dalam waktu yang tidak terduga pasti akan menemukan jalan kebahagiaan.
Hanya ketulusan dan ketegaran yang mempermudah diri untuk menemukan jalan kebahagiaan itu. Begitupula dengan persahabatan, persahabatan yang awalnya sempat goyah karena ego diri, tapi akan kembali karena diri mulai menyadari bahwa ego sudah membodohi fikiran.
__ADS_1
Janganlah membiarkan ego mengusai diri. Tak selamanya ego itu benar. Terkadang mendengarkan dan memahami keadaan sekitar itu jauh lebih baik.
-THE END-