My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Mencari Kebenaran


__ADS_3

Pagi menjelang, di rumah Sava seperti biasa Kay pasti akan membangunkan Sava karena akhir-akhir ini Sava sering menyendiri di kamarnya. Kay tahu kalau masalah yang sedang dialami sepupunya itu sungguh berat.


Hanya karena sebuah foto, membuat banyak orang salah faham, bahkan membuat Sava dan Ohsen diskors dari sekolah selama seminggu. Sudah begitu mereka berdua terancam dikeluarkan dari sekolah.


“Sava, aku janji akan mencari tahu siapa pelakunya dalam seminggu ini untuk membuktikan kau dan Ohsen tidak bersalah. Jadi, kumohon kau jangan terus bersedih..!” Kata Kay dari balik pintu kamar Sava.


“Aku tidak apa-apa, Kay..”


Suara Sava terdengar bergairah. Apa benar Sava sudah baik-baik saja?


“Jangan lupa, kau juga harus makan!… Akan sangat jelek melihatmu kurus!”


“Iya Kay, terima kasih.. Cepatlah berangkat, nanti kau bisa terlambat…!”


“Berjanjilah..”


“Iya janji…” Akhirnya Sava membuka pintu kamarnya. Ia tersenyum pucat pada Kay.


“Kau sangat pucat, cepatlah makan, hm? Makan yang banyak.. Aku membuatkanmu nasi goreng telor extra tomat...“


“Hm..”


“Jangan hm saja! Jawab yang jelas!”


“Iya iya.. aku pasti akan banyak makan karena hari ini aku akan jalan-jalan dengan Ohsen seharian penuh..” Kata Sava mencoba bersemangat.


Kay melebarkan kedua matanya. Jalan-jalan dengan Ohsen? Kay lalu memegang kedua pundak Sava dan menatapnya.


“Kau sudah bisa berfikir dewasa. Aku yakin akan hal itu.. Sekarang bagaimana Tuhan akan menguji kedewasaanmu.."


"..."


"Sava, kini akhirnya kau harus menentukan pilihanmu. Persahabatan atau perasaan cintamu..”


“Aku sudah menentukan pilihanku dan aku juga sudah siap menerima apapun konsekuensinya…”

__ADS_1


Kay memeluk Sava sebentar mencoba menguatkan hati sepupunya. Kay menepuk-nepuk pelan punggung Sava, mengisyaratkan kalau semuanya akan baik-baik saja.


Sava sudah seperti saudara kandungnya sendiri. Sava seperti seorang adik untukknya. Dia tahu semua hal tentang Sava, bahkan rahasia Sava-pun Kay mengetahuinya.


Sava mulai menangis dipelukkan Kay.


“Si bodoh ini memang selalu bodoh.. Seenaknya saja bilang kuat, bisa, mampu, siap dengan resiko… Lihatlah dirimu, Sava! Kau begitu rapuh..” Batin Kay.


Kay lalu melepaskan pelukannya. “Kau membuat seragam sekolahku basah. Sudahlah, jangan menangis! Semangat, seperti Sava sepupuku yang selalu ceria.. Fighting!!”


Sava menghapus air matanya dan tersenyum. “Hn.. Fighting!!” Ucapnya.


Kay berangkat ke sekolah. Ia harus segera menemukan siapa pelaku yang memfoto Sava dan Ohsen. Bagaimanapun caranya ia harus segera menemukannya. Ia tak mau membuat Sava dan Ohsen dikeluarkan dari sekolah. Kesalah fahaman ini harus segera diluruskan.


Sekarang ini ia tidak bisa mengandalkan sahabatnya, Luhan. Saat ini Luhan lebih memilih berdiam diri, menjauh, dan tidak berniat mengeluarkan kata-kata dari bibirnya.


Apakah Luhan termakan gosip di sekolah? Bagaimana dengan Lien? Tidak perlu dijelaskanpun ia sudah tahu dari awalnya.


“Ternyata aku sendiri yang harus menyelesaikan semua ini… Sabarlah Sava, aku akan segera membersihkan namamu dari skandal ini..” Batin Kay.


Kunci dari semua masalahnya adalah hanya harus menemukan siap yang memfoto Ohsen saat meniup mata Sava yang terkena debu dan memanipulasinya sehingga menjadi foto seakan sedang berciuman di sekolah.


Benar, si pemfoto adalah kuncinya! Apaun caranya pasti akan ketemu. Karena background fotonya adalah sekolah, Kay dan Dio yakin pelakunya pasti dari lingkungan sekolah juga.


Suasana sekolah sedang panas dengan gosip yang beredar di antara siswa-siswi sekolah setelah kejadian beberapa hari kemarin.


Majalah mingguan sekolah keluar, cover majalah adalah foto Sava dan Ohsen dengan judul panas ‘Skandal Cinta di Sekolah’. Dibahas di lima belas halaman majalah. Itu hampir setengah isi majalah. Berisi ulasan-ulasan yang bersifat negative dan memojokan Sava dan Ohsen.


Membuat semua pembacanya gempar meski skandal itu bukan artis yang melakukanya. Semua guru, siswa geram dengan skandal itu. Banyak yang mencemooh Sava dan Ohsen.


Sebenarnya, Sava lebih menderita. Semua fans Luhan dan Ohsen sangat membenci Sava, skandal itu membuat mereka semakin berani menindas Sava, menghina, mengecam, bahkan tak segan untuk berbuat kasar pada Sava.


Sava murahan, tak tahu malu, perempuan obralan, hina, kurang ajar, setan, gegatelan, perusak persahabatan, penghianat, kampunangan, norak, mati saja, dan masih banyak kata-kata kasar yang tertulis di bangku Sava.


Siapa yang menulis?

__ADS_1


Tentu saja para fangilrs Luhan dan Ohsen yang dari awal memang sudah sangat membenci Sava.


Sava itu adalah cewek yang Luhan sayang. Begitu pandangan anak-anak sekolah, terutama siswi. Kenapa seperti itu? Hal itu karena Luhan sangat melindungi Sava. Luhan sangat dekat dengan Sava. Meskipun Luhan berpacaran dengan yang lain, tapi Luhan lebih mengutamakan Sava.


Cara pandang yang seperti ini memuncul pemikiran jika Sava adalah penyebab Luhan putus dengan mantan-mantannya.


Konyol sekali memang.


“Apa-apaan ini? Hanya karena sebuah foto yang belum tentu kebenarnya bisa-bisanya berani membuat lukisan jelek di bangku Sava..” Kata Dio sambil membersihkan bangku Sava dengan amplas yang ia dapatkan dari penjaga sekolah.


Meski Dio beda kelas dengan Sava, tapi Dio selalu tahu akan hal yang berhubungan dengan Sava.


“Hei Tuan Mozart, kau hanya membuang tenagamu saja untuk menghapus noda yang tidak akan pernah bisa terhapus…”


“Dio, kau hanya mengotori tanganmu saja..”


“Kurang kerjaan saja..”


“Biarkan saja, bukan urusan kita..”


“Sava kan belum tentu bersalah..”


“Kenapa membela perempuan murahan itu?”


“Dio, lebih baik kita makan di kantin saja… tinggalkan saja bangku perempuan murahan itu! Menjijikan…”


Banyak kata-kata terucap dari siswa-siswi yang melihat Dio sedang membersihkan bangku Sava. Positif maupun negative, meski banyak negatifnya. Dio tidak berniat menanggapinya. Ia sadar, menanggapi hal tidak perlu hanya akan memperkeruh suasana saja.


Saat ini masih jam istirahat, kelas bebas. Sebenarnya akhir-akhir ini setelah ada kasus Sava dan Ohsen, pembelajaran di sekolah menjadi tidak kondusif.


Guru dan komite sekolah sedang memperdebatkan kasus Sava dan Ohsen. Banyak guru yang berharap Sava dan Ohsen hanya diskors, karena mereka siswa yang berprestasi. Terutama Sava karena dia direkomendasikan untuk mengikuti olimpiade Sains nasional. Tapi, sebagian besar komite sekolah memilih untuk mengeluarkan Sava dan Ohsen karena menganggap mereka sudah berbuat hal tidak senonoh, tidak pantas dilakukan oleh seorang pelajar.


Komite sekolah takut kalau sampai berita itu bocor sampai di luar sekolah maka akan membuat malu sekolah, bagaimanapun sekolah tempat Sava sekolah adalah salah satu SMA favorit. Ini buruk untuk citra sekolah yang dari dulu terkenal baik, displin, dan ketat.


Sehebat apapun anaknya, jika moralnya tidak bagus, maka akan sulit dipertahankan.

__ADS_1


__ADS_2