My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Kau Melupakan Sesuatu?


__ADS_3

10 Tahun kemudian…………………………………………….


.


.


.


“Bu, besok jam 10.00 pagi ada pertemuan dengan Mr. Choi dari Korea untuk membahas rencana kerja sama dengan majalah fashion milik Mr. Choi. Setelah itu, ada rapat dengan beberapa staff fotografer kita.. Agenda rapat besok adalah rencana fashion show busana trendy masa kini… Malam harinya ada jamuan makan malam dengan direktur hotel Angel…“ Jelas seorang wanita yang notabene adalah seorang sekretaris. Sebut saja Sari.


“Haishh.. Bagaimana dengan hari ini?” Tanya malas seorang wanita cantik dengan rambut panjang terurai. Dia adalah Lien.


“Ibu free setelah ibu mengkaji rancangan majalah edisi khusus tahun baru…” Jawab Sari.


“Kau yakin?” Tanya Lien masih sedikit ragu. Ia hanya tidak yakin karena biasanya ia akan sangat sibuk.


Sari mengecek semua jadwal atasannya, Lien.


“Iya, Bu.. Ibu free…” Katanya.


Lien tersenyum.


“Baiklah, kau boleh keluar…” Kata Lien.


Saripun menuruti apa yang Lien katakan.


Setelah Sari keluar, Lien mengeliatkan tubuhnya yang terasa sangat pegal. Ia meregangkan otot-otot yang kaku. Lalu dengan nafas berat ia menyandarkan tubuhnya ke kursi empuk kerjanya.


“Ibu?? Aku belum punya anak tapi sudah dipanggil ibu.. Punya anak bagaimana, aku saja belum menikah… Kalau Sava mendengarnya pasti akan menertawakanku.. Resiko jadi atasan.. Tapi, sayang sekali sudah lama aku kehilangan komunikasi dengannya…"


Lien memandang foto dirinya dengan Sava dan Luhan sewaktu lulus SMP. Foto yang selalu ia pajang di meja kerjanya.


"Va, apa kau tidak merindukanku dan Luhan? Apakah kami terlalu menyakitimu sehingga kau tak ingin pulang? Va, apa lukamu itu belum sembuh?“ Kata Lien pada dirinya sendiri.


Lien terlihat murung kalau mengingat hal itu. Itu berat untuknya. Sangat.


“Undangan alumni… Apa dia akan datang setelah 10 tahun berlalu? Apa dia masih mengingatku? Mengingat Luhan?” Tanya Lien sambil menatap sebuah undangan temu kangen berwarna merah marun.


Di usianya yang sudah menginjak 27 tahun, Lien sudah menjadi seorang direktur dari sebuah majalah fashion ternama di Indonesia. Sebut saja What’s Next Magazine. Lien menggantikan posisi ayahnya setelah ayahnya memutuskan untuk mewariskan perusahaan majalah ini pada Lien.


Baru sekitar satu tahun ia memimpin perusahaan, tapi prestasi baik selalu ia dapatkan. Kecintaanya pada jurnalis membuatnya semakin bersemangat dalam menjalankan perusahaan.


Tugasnya sebagai pemimpin telah berpengaruh banyak dalam membangun karakter Lien. Lien berubah menjadi sosok yang lebih penyabar dan bisa menahan emosi. Mungkin bukan karena itu saja, ia juga menjadi lebih dewasa setelah Sava pergi darinya.


.


.


.


Bosan dengan kerjaan yang selalu membatasi waktunya membuat Lien ingin mengeluh pada sahabatnya. Tapi ia bisa apa, ia tidak bisa melakukan apa-apa.


Semenjak Sava pergi, ia baru menyadari betapa pentingnya Sava di sisihnya. Sava pasti akan menemukan solusi untuk semua masalahnya.


Bagaimana dengan Luhan?


Semenjak lulus sekolah 9 tahun lalu, Luhan menjadi sangat sibuk karena Luhan sudah direkrut sebuah klub sepak bola. Meski masih satu kota, tapi tetap saja akan susah bertemu dengan Luhan. Mereka hanya bertemu saat Luhan libur, atau saat ada pemotretan busana olahraga dan Luhan menjadi modelnya.

__ADS_1


Dan lagi, Luhan juga sangat sibuk karena rupanya Luhan mengambil kuliah kedokteran setelah 2 tahun menjajaki karir sebagai pesebak bola.


Lien tak menyangka jika Luhan serius akan gurauan Sava waktu masih kecil dulu.


Dulu waktu kecil Sava terluka karena melindungi Luhan dari kejaran anjing kompleks. Sava terjatuh, kakinya terluka. Luhan yang membantu mengobati Sava karena saat itu ayah Sava sedang bekerja.


Sava bilang pada Luhan jika Luhan itu sangat cocok jadi dokter.


"Kau memenuhi ucapan Sava, Han.. Dan dokter juga memang cocok denganmu.. Aku tahu kau pasti sangat kesusahan karena harus membagi waktu kuliah kedokteranmu dengan karir sepak bolamu... Kau luar biasa.. Sava akan bangga padamu.."


.


.


.


Karena sangat bosan dengan pekerjaanya, akhirnya Lien memutuskan untuk sekedar menghirup udara segar. Beruntung hari ini tidak ada jadwal janji temu dengan klien atau rapat-rapat. Jadi ia masih bisa sedikit bersantai ria.


Dengan heals 12 cm warna hitam, Lien berjalan menuju sebuah kedai yang tak pernah sekalipun ia absen mengunjunginya. Kedai itu adalah kedai bubbletea yang berada di dekat taman kota. Kedai bubbletea yang selalu mengingatkannya pada seseorang. Kedai dimana ia pertama kalinya minum bubbletea bersama seseorang yang selalu ia tunggu.


Ohsen!


“Nona semakin hari kau nampak semakin cantik saja. Kau sangat cocok dengan baju kerjamu itu. Sangat berbeda denganmu yang dulu. Saat masih SMA.” Kata pemilik kedai.


“Ah Bibi terlalu memuji… Kulihat semakin hari kedai Bibi juga semakin ramai..” Kata Lien malu.


“Yah, beginilah. Bibi benar-benar bersyukur. Nona, mau pesan apa?” Tanya pelayan kedai.


“Seperti biasa, Bibi.. Choco Bubble.” Jawab Lien.


“Berikan dua, Bi!” Sahut seorang laki-laki.


Lien yang sedikit heran langsung menoleh ke arah laki-laki itu yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya.


Betapa kaget dan terkejutnya Lien. Lelaki yang sedang berdiri menunggu pesanan di sampingnya adalah orang yang selama ini ia tunggu.


Ohsen Ananda!


Lien masih terdiam tak bisa mengeluarkan kata-kata. Ohsen terlihat berbeda. Jauh lebih baik dari yang dulu. Jauh lebih tinggi. Sorot mata yang meneduhkan, garis wajah yang tajam, hidung mancung, membuat Lien tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.


Ohsen membayar bubbletea yang dipesannya dan Lien.


Lien masih tidak percaya dengan apa yang ia alami. Antara senang, gugup, tak percaya, seperti mimpi. Lien hanya tertalalu terkejut.


Ohsen mengajak Lien ngobrol sambil mengelilingi taman dengan berjalan kaki.


Ohsen menyodorkan bubbletea yang sudah ia bayar pada Lien.


“Un..Untukku?” Tanya Lien gugup.


Ohsen tersenyum lalu mengangguk.


“Bibi pemilik kedai sepertinya sangat mengenalimu.. Kau terlihat akrab dengannya..” Kata Ohsen.


“Hm, se..seperti itulah. Aku sering membeli bubbletea hampir setiap hari di kedainya…” Jelas Lien.


“Selama 10 tahun?”

__ADS_1


“Hm, selama 10 tahun..”


“Wah, lama sekali.. Kau bahkan tidak sedikitpun terlihat bosan dengan bubbletea..”


Lien hanya tersenyum. Suasana terdiam. Lien hanya tidak tahu harus bertanya atau bercakap-cakap tentang apa pada Ohsen. Ia tidak memiliki topic apapun. Di depan Ohsen, Lien pasti mati kutu.


“Kau, bagaimana kabarmu?” Tanya Lien akhirnya.


“Seperti yang kau lihat. I am pretty good. Rasanya kau-pun juga…”


Lien tersenyum lagi. “Aku juga baik. Selamat datang kembali di Indonesia..”


“Terima kasih. Ngomong-ngomong Luhan, bagaimana kabarnya? Ku dengar dia menjadi pemain sepak bola professional..”


“Iya.. Kau kan pasti tahu kalau sepak bola itu sudah menjadi bagian hidupnya. “


“Anak itu…” Ohsen meminum bubbleteanya.


"Bahkan dia juga sudah lulus dari sekolah kedokterannya. Aku terkejut dibuatnya.. Seorang Luhan mendapatkan gelar dokter.. Astaga..."


"Dia memang hebat, Sava benar, Luhan itu memiliki banyak potensi.."


"Hm.."


“Tapi, akhir-akhir ini ia sedang mendapat teguran dari manajer klubnya karena suka membolos latihan.” Lien terlihat sedih. Ia menunduk.


“Kenapa? Ada masalah? Apa Luhan kesulitan membagi 2 pekerjaannya yang berbeda?” Tanya Ohsen penasaran.


“Bukan seperti itu.. Selama 3 tahun ini semua lancar-lancar saja... Luhan terlihat bisa menghandlenya dengan baik..."


"Jika bukan itu, lalu kenapa?"


"Sepertinya ia membaca berita tentang pertunangan Sava dengan Dio.” Jawab Lien hati-hati.


Bagaimanpun ia sangat mengetahui perasaan Ohsen pada Sava. Meski itu sudah lama, tapi ia tidak tahu bagaimana isi hati Ohsen sekarang.


“Aku juga kaget mendengarnya… Sava adalah seorang desainer baju terkenal, sementara Dio adalah pianis yang juga sangat terkenal. Berita besar seperti itu pasti cepat menyebar.”


“Kau benar, meski bukan selebritis tapi mereka cukup terkenal. Terutama Sava yang sering menjadi cover majalah fashion.. Jujur, aku sudah lelah berbicara dengan Luhan. Dia tidak mau mendengarkanku lagi. Ia menjadi sangat kasar dan gampang marah.. Aku tidak mengertinya…”


“Bukankah sudah biasanya dia seperti itu kalau itu berhubungan dengan Sava? Luhan paling tidak bisa mengendalikan emosinya. Kurasa perasaanya begitu besar pada Sava…”


“Kau sudah tahu rupanya..”


“Hn… Tak apa itu masa lalu… Setiap orang berhak kan memiliki masa lalu?” Tanya Ohsen santai.


“Ten..tentu saja tidak apa-apa…”


Suasana kembali terdiam. Lien berkutik dengan fikirannya sendiri.


“Apa Ohsen sudah benar-benar melupakan Sava? Kalau lupa mungkin tidak akan. Tapi perasaanya pada Sava apa sudah ia hilangkan? Kenapa dia berbicara seperti itu? Lalu kalau memang sudah, apa dia melupakan hal itu? Dia tidak membahasnya sama sekali…” Batin Lien sedih.


“Lien…” Panggil Ohsen.


“Ya?” Mereka berhenti berjalan.


“Kau melupakan sesuatu?” Tanya Ohsen.

__ADS_1


__ADS_2