
Tepat jam 9.00 pagi pesawat itu terbang menuju Italy. Pesawat itu melintas di atas langit yang pagi itu nampak sangat cerah.
Dari balik kaca mobilnya, Luhan terus memandangi pesawat terbang itu. Pesawat terbang yang membawa Sava pergi. Luhan menatapnya sendu. Air matanya menetes seiring tak terlihatnya pesawat itu dari mata sayunya.
Ia menangis.
“Dia bahkan tidak menjawab maafku…"
Luhan masih menatap sendu langit yang sangat cerah iyu.
"Yang benar saja, kau bodoh, kau biarkan dia terluka, kau terlalu banyak menyakitinya. Sekarang dia pergi. Kau bahkan tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Dia sangat terluka. Dan itu semua karenamu, Luhan…"
Luhan mengingat sikapnya akhir-akhir ini pada Sava.
"Lalu tiba-tiba kau mengrharapkan maaf darinya? Kau benar-benar tidak tahu diri. Kau pantas mendapatkannya, Luhan… Ya pantas. Sangat pantas! Sekarang biarkan dia bahagia dengan semua impiannya!” Batin Luhan yang kesal pada dirinya sendiri.
Luhan menundukan kepalanya, menyandarkah dahinya di stir mobil miliknya.
Ia menyesali karena dirinya tidak mampu mencegah sahabat kecilnya pergi meninggalkannya.
Air matanya terus menetes.
Bagi Luhan ini kali pertamanya ia menangis, dan hanya Sava yang mampu membuatnya seperti ini. Hanya Sava yang selalu membuatnya tak mengerti.
Kenapa Sava sulit sekali ia tebak?
Dengan mudahnya Sava tersenyum manis padanya, menyisihkan tenaganya untuknya, menasehatinya.
Bahkan yang tak dapat ia pahami, bagaimana bisa Sava berkata baik-baik saja saat dirinya marah padanya? Kenapa Sava tidak merasa kesal? Kenapa Sava selalu bertindak seolah semua akan baik-baik saja?
Apa hanya dirinya saja yang belum mengenal lebih dalam sahabat kecilnya itu? Bukankah ia dengan Sava sudah bersama sejak lama? Hatinya bertanya, pantaskah ia menyesali setelah semuanya terjadi?
Pantaskah ia?
Kesal, kesal, dan kesal.
Lelah, lelah, dan lelah.
Hanya itu yang dapat Luhan rasakan.
Sava, Sava, dan Sava.
Hanya Sava yang memenuhi kepala Luhan.
Fikirannya membawanya mengenang masa lalu saat ia masih bercanda ria dengan sahabat kecilnya, Sava. Sava memang suka menasehatinya saat ia membuat kesalahan.
__ADS_1
Luhan tahu, Sava selalu berniat baik untuknya.
Fikiran Luhan jatuh semakin dalam. Ia juga mengenang saat kejadian yang menurutnya konyol. Kejadian saat menangkap ikan lohan. Ia tersenyum saat membayangkan kejadian itu. Bisa-bisa sahabatnya memanggilnya dengan sebutan ikan lohan padanya…
"Saat itu adalah salah satu hal terindah dalam hidupku.. Senyummu sangat meneduhkan, Va.."
Lalu, fikirannya kembali membawanya kedalam perjanjian mereka. Perjanjian antara ikan, air, dan udara. Ia kembali tersenyum, tapi senyumannya langsung hilang saat ia menyadari jika sosok udara sudah pergi darinya. Udara berhenti memberikan nafas pada ikan.
"Kau kejam sudah meninggalkanku... Tapi aku jauh lebih kejam terhadapmu... Maaf.. Maafkan aku, Va.."
Banyak kenangan indah anatara dirinya dengan Sava. Kenangan itu tak luput dari ingatannya. Masih tergambar dengan jelas. Bahkan sangat jelas, saat ia mulai menaruh perasaan pada sahabat kecilnya itu.
Sahabat kecil yang mana?
Yang jelas bukan Lien, tapi Sava.
Bagaimana bisa?
Bukankah selama ini ia selalu terlihat lebih berekspresi saat ia dengan Lien? Jawabanya tidak sesederhana yang ia fikirkan.
Perasaan sayangnya pada Sava yang begitu besar membuatnya jatuh cinta pada Sava. Semakin hari, semakin besar perasaan itu. Ia melakukan apapun untuk membuat Sava hanya menatapnya.
Luhan tidak membiarkan laki-laki lain mendekati Sava. Sava tidak tahu jika Luhan melakukan apa saja terhadap laki-laki yang mendekatinya.
Jika bukan karena Luhan, sudah dipastikan Sava memiliki seorang pacar. Dilihat dari fisik, Sava memiliki paras yang menarik, bukan hal yang aneh jika banyak laki-laki yang berusaha dekat dengannya.
Luhan bukanlah laki-laki yang seperti orang ketahui. Imut, manis, ramah, easy going. Luhan itu hanya memakai topeng! Luhan bisa sangat kasar, bisa dibilang dia juga memiliki sisi yang kejam. Memiliki sisi yang sangat gelap.
Bagaimana ia memukuli, mengancam, berbuat hal di luar nalar pada laki-laki yang berusaha mendekati Sava. Egois memang? Ya, dia memang egois jika itu tentang Sava.
Sava tidak tahu semua itu!
Sava tidak tahu apa yang Luhan lakukan selama ini! Sava benar-benar tidak tahu jika Luhan memiliki sisi segelap itu. Luhan sangat pandai menyembunyikan sisi buruknya.
.
.
.
Luhan sudah berusaha menjauhkan perasaan cintanya dari fikirannya semenjak sekolah menengah. Tapi nyatanya sampai sekarang ia tidak berhasil. Ia memang selalu berusaha menjauhkan Sava dari semua laki-laki yang mendekati Sava. Tapi apa sebenarnya tujuannya melakukan semua itu?
Untuk memiliki Sava?
Menjadikan Sava kekasihnya?
__ADS_1
Tidak!
Bukan itu yang ia fikirannya inginkan.
Jika ia bertanya pada hatinya, maka ia ingin sekali memiliki Sava sebagai kekasihnya. Tapi, fikirannya tidak mengizinkannya. Keegoisannya di masa sekolah menengah mulai berkurang.
Meski masih terlalu over-protective pada Sava, tapi ia mulai memikirkan cara untuk menyingkirkan perasaannya pada Sava. Ia berusaha untuk tidak membiarkan perasaannya pada Sava terus berkembang.
Luhan mulai berkencan dengan banyak perempuan untuk menyingkirkan perasaannya pada Sava. Ia menjadi seorang playboy. Sering gonta-ganti pasangan.
Dengan hal itu, ia berharap ia bisa menghilangkan perasaannya pada Sava.
Menghilangkan perasaannya pada Sava?
Ya, Luhan berfikir jika ia harus melakukannya. Ia harus segera melakukannya.
Kenapa harus seperti itu? Bukankah ia memiliki perasaan yang amat dalam pada Sava?
Itu karena ia menganggap jika perasaannya pada Sava yang terus berlanjut hanya akan merusak persahabatan mereka. Ia masih memikirkan Lien.
Dalam kehidupan persahabatannya, ia memiliki 2 waniya hebat yang mengisi lembar kisah hidupnya. Sava dan Lien.
Jika ia memiliki rasa secara romantis pada Sava, bagaimana dengan Lien?
Apakah Lien bisa menerima perasaannya pada Sava?
Luhan tak berani mengambil langkah lebih jauh mengenai perasaannya pada Sava. Ia tidak bisa membayangkan jika ia menyatakan keinginannya untuk memiliki Sava pada Lien. Luhan paham karakter Lien itu bagaimana. Luhan tidak siap akan kemungkinan terburuknya.
Meski sebenarnya, Lien bisa saja menerima keinginannya, kan?
Bisa jadi..
Namun ada satu hal mendasar. Satu hal yang sangat membuatnya penasaran. Sangat penasaran hingga membuatnya kesulitan tidur saat memikirkannya. Membuat hatinya sesak jika memkirkan kemungkinan terburuknya. Membuatnya tak berdaya dan ingin menyerah tapi tak bisa.
Luhan sangat ingin tahu..
Luhan ingin mengetahuinya.
Namun sisi pengecutnya menahannya.. Memenjarakan bibirnya untuk berucap. Menahannya di sisi mengenaskannya..
Hal yang sangat ingin ia ketahui itu..
Selalu menuntut hasratnya tapi tertahan rasa pengecutnya... Menahan keberaniannya..
Hal yang sangat ingin ia ketahui tapi tidak berani ia tanyakan...
__ADS_1
Apakah Sava akan menerima perasaanya?