My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Jam Kosong 1


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, Sava dan Kay bersiap untuk berangkat ke sekolah.


"Sava, kau mau berangkat denganku apa dengan Luhan?” Tanya Kay.


“Tentu saja denganmu. Kita kan serumah. Lagi pula, Luhan pasti dengan Lien atau mungkin dengan Ohsen.” Jawab Sava.


“Padahal Luhan dan Ohsen menawari kita untuk berangkat bersama, tapi kenapa kau justru senang berangkat sendiri dengan motor?”


“Bukankah akan lebih nyaman jika apa-apa milik sendiri, kan Kay? Lagipula, naik motor akan terasa lebih cepat sampai sekolah. Aku juga senang bisa berangkat berdua naik motor bersama kakak sepupuku yang baik hati ini.”


“Cih, dasar, selalu saja pintar bermain kata untuk menyembunyikan fakta..”


“Kau yang selalu tahu, Kay..” Sava tersenyum.


“Ah, baiklah terserah kau saja. Aku lelah berdebat denganmu yang terasa tiada ujungnya.. Hei, apa kau akan menonton konser piano temanmu itu?”


“Dio maksudmu?” Kay mengangguk. “Tentu saja, bagaimanapun dia kebanggaan klub seni dan aku menjabat sebagai ketuanya. Apa kau mau menemaniku?”


“Tidak terimakasi banyak, Va. Bisa tidur di tempat aku karena terlalu banyak mendengarkan music lullaby dari konser itu.”


“Haha, benar juga. Kau kan raja tidur. Dasar kerbau pemalas.”


“Kau itu cantik tapi kata-katamu tajam juga ya.. Jangan menghinaku lagi walau sebenarnya itu benar!”


Sava mencibir mendengar jawaban Kay.


"Huh dasar kau ini..."


“....Tapi, kurasa temanmu itu cukup baik. Dari cara dia memandangmu, sorot matanya berbeda seolah mengisyaratkan rasa sayang yang berlebih kepadamu. Terlihat sangat jelas! Kau itu sangat peka, pasti kau juga merasakannya, kan?”


“Hahaha. Itu konyol, Kay. Kau tahu, Dio itu teman yang sangat baik di dunia ini. Kalau dia memandangku dengan sorot mata yang berbeda, tentu saja itu sudah biasa. Kita selalu bersama sejak kelas X di klub seni. Intinya, aku dan dia itu dekat. Aku sangat beruntung bisa mengenal Dio dan menjadi salah satu temannya.”


Jika Kay melanjutkan kata-katanya, pasti akan jadi pembicaraan yang semakin panjang. Dan pada akhirnya justru akan membuat terlambat sekolah.


Menyerah saja deh..


“Baiklah-baiklah, nona tukang ceramah. Ayo berangkat!” Kay menyalahkan motornya dan mereka berdua berangkat menuju sekolah tercinta.


.

__ADS_1


.


Sementara di sekolah terlihat banyak murid yang sudah memenuhi setiap sudut kelas.


Ada yang dicegat BP karena masalah seragam. Ada yang masih sempat-sempatnya saling berkejaran karena berebut bangku paling belakang, aneh kenapa bangku paling belakang yang diperebutkan?


Maklum, banyak yang bilang kalau bangku paling belakang itu nyaman untuk menjauhkan diri dari pelajaran yang kurang disukai. Mereka berebut bangku karena di sekolah itu tempat duduk sifatnya random, jadi bisa berpindah-pindah sesuai yang diinginkan.


Hanya saja masih dengan teman bangku yang sama, hanya letak tempat duduknya saja yang berubah setiap hari. Kadang di depan, tengah, pojok, maupun belakang.


Dan Luhan akan sangat menyukai tempat duduk paling belakang pojok kanan. Ia selalu mengemis untuk mendapatkan tempat duduk itu.


Percayalah, tempat duduk pojok paling belakang itu paling enak untuk tidur. Ditambah dekat dengan jendela, angin akan menerpa samar-samar.


Ruang Kelas....


“Pagi Han.. Sudah berangkat terburu-buru, tak tahunya ada rapat. Tadi mestinya tidur saja di rumah..”


“Pagi Kay.. Benar juga, tapi akan sangat membosankan kalau hanya tidur di rumah. Menurutku anak seusia kita, kegiatan di sekolah jauh lebih menyenangkan. Rame, banyak teman-teman yang bisa diajak bercanda.”


“Sava mana, Kay?” Tanya Luhan.


“Dia langsung ke klub seni bersama Dio. Kami tadi bertemu dengannya saat kami sedang di tempat parkir. Biasa urusan mendadak.” Jawab Kay apa adanya.


“Oh, semakin dekat saja dia dengannya.” Ada rasa tidak suka terdengar dari nada bicara Luhan.


“Apa kau merasa terlupakan?”


“Tentu saja. Akhir-akhir ini dia sering mengabaikanku, parahnya lagi ia mulai jarang menemaniku membeli bubbletea. Ingin mengajak Lien, tapi Lien tidak menyukai bubbletea sama sekali. Bahkan menghina kalau minuman favorit-ku itu aneh rasanya. Tidakkah kau berfikir itu keterlaluan, Kay?”


Suara Luhan terdengar kesal di telinga Kay. Kay merasa jika kekesalan Luhan itu tidak masuk akal.


“Hah, hanya seperti itu saja? Hanya karena bubbletea kau mencak-mencak seperti cacing ditaburi garam? Oh God. Ayolah, jangan kekanak-kanakkan seperti itu!”


“Bubbletea itu luar biasa, Kay. Kau tidak akan bisa memahaminya jika kau bukan fans berat minuman itu”


“Ok-ok, aku mengerti. Kalau kau merasa diabaikan oleh Sava hanya karena bubbletea, kau kan bisa mengajak Ohsen. Bukankah Ohsen juga maniak bubbletea sepertimu?”


“Benar juga, masih ada Ohsen my baby... Ah, lupa, Ohsen itu juga anggota klub sen. Artinya dia pasti dengan Sava sedang mengerjakan urusan mendadak. Kenapa harus ada urusan mendadak sih? Ini membuatku tidak bisa bersama dengan Sava maupun Ohsen. Muka piano itu menyusahkan sekali.” Desah Luhan kesal.

__ADS_1


“Astaga kau dan Ohsen masih waraskan? My babby? Menjijikkan sekali. Itu menggelikan, Han! Lalu, jangan terlalu oneng jadi orang kenapa? Urusan mendadak maksudnya latihan seni. Begitu saja tidak paham. Sebenarnya apa saja yang sudah kau pelajari selama ini, hah?”


Kay semakin bingung dengan tingkah Luhan. Sava itu sahabatnya, tapi seolah Sava itu wajib lapor sama Luhan. Sedangkan Ohsen itu sepupunya, tapi malah layaknya seorang pacar.


Bulu kuduknya bahkan berdiri. Luhan dan Ohsen sama-sama cowok woy.. Kay harus segera kembali ke pikiran normalnya!


“Kay tidak asyik sama sekali. Membosankan. Kau kan sudah tahu kalau aku dan Ohsen pasti dekat. Kami tidak bisa dipisahkan oleh apapun. Raga pisah, tapi hatinya tidak. Kami itu bersaudara!” Luhan melebay.


Mulai menggila ini anak. Kay hanya bisa cengo.


“Maafkan aku Luhan pangeran sekolah! Kau dan Ohsen itu sesama laki-laki, tapi cara kalian menyalurkan kasih sayang itu menggelikan. Okelah kalian itu saudara, tapi kalu seperti itu kan bagaimana gitu..”


“Kau cemburu ya karena kalau ada aku, Ohsen akan lebih dekat denganku? Bukankah kau dan Ohsen juga dekat sekali?” Luhan ngawur.


Apa-apaan lagi ini coba?


“Hahhh, Aku waras Luhan. Jangan samakan aku denganmu yang gila itu!”


"Aku waras..." Luhan manyun.


"Waras dari Jepang?"


"Kok tidak Hongkong? Biasanya kan Hongkong?"


"Apa itu masalah?"


"Iya masalah.."


"Tapi terserah akulah. Kan kata-kataku."


"Tapi biasanya Hongkong..."


Kay menghela nafas... Ia ingin sekali memukul muka Luhan yang kelewat tampan itu. Lama-lama ngeselin juga. Ia heran, kenapa Sava bisa tahan menghadapi sifat Luhan yang merepotkan seperti ini?


"Iya dah, lain kali Hongkong.." Kata Kay akhirnya. Ujung-ujungnya ia ngalah juga.


Luhan tersenyum.


"Wokey.."

__ADS_1


__ADS_2