
Sava dan Ohsen berjalan menyelusuri taman kota. Sebuah lahan hijau di tengah hutan beton itu nampak sejuk dan begitu teduh. Berbagai jenis pohon dan bunga ada di sana. Menambah kesan indah dan melegakan pikiran.
Bercanda ria, membahas hal-hal yang sebenarnya tidaklah begitu penting. Mulai dari cerita lucu dan garingpun mereka bahas. Berbicara mengalir layaknya air. Tanpa beban, tanpa paksaan.
Mereka berdua juga membeli bubbletea di kedai yang direkomendasikan oleh Ohsen.
Kedai bubbletea yang cukup sering Ohsen kunjungi.
“Bubbletea ini memang sangat enak. Bahkan lebih enak dari yang sering aku beli di sekolah. Rasa Taronya lebih berasa… Kenapa aku tidak tahu kalau di taman ini ada kedai es bubbletea yang benar-benar sangat enak, padahal rumahku tidak jauh dari sini..” Kata Sava.
“Kau hanya jarang keluar rumah... Cobalah kau mengeluarkan keringatmu sedikit, dunia lebih luas dari yang kau bayangkan.” Kata Ohsen menimpali.
“Benar juga, harusnya aku lebih bisa menyenangkan diriku sendiri. Mengenali lingkungan sekitarku yang masih banyak yang belum aku ketahui… Meski akhir-akhir ini aku sedang menyukai cappuccino cincau dan kopi, tapi es bubbletea di sini membuatku jatuh cinta lagi dengan bubbletea.. Benar, bubbletea is the best…”
“Bahasamu terlalu tinggi, Nona… Tapi juga kekanak-kanakan sekali…” Ohsen menyindir.
Mereka terdiam sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak. Hingga akhirnya mereka tersedak bersama-sama.
Terbatuk-batuk bersama…
“Uhuk..uhuk.. sudah berhenti jangan tertawa lagi! Tenggorokkanku sakit..” Kata Sava yang berusaha sekuat tenaga menahan batuknya.
“Harusnya kalau sedang makan atau minum itu diam, jangan sambil berbicara. Ini benar-benar menyakitkan, bahkan membuat menangis…”
“Hahahha..” Mereka berdua justru melanjutkan tawa riangnya.
"Mukamu jelek sekali.. belepotan.." Sava mengambil tisu basah dari tasnya. Ia lalu mengelap daerah mulut Ohsen untuk memberisahkan sisa bubbletea.
"Apakah aku sudah semakin tampan?" Tanya Ohsen narsis.
"Mana ada sekali lap langsung tampan? Dasar tuan narsis.."
"Jadi aku kurang tampan? Punya bubuk ketampanan agar membuatku semakin tampan?"
Hahahaha..
__ADS_1
"Sudah... berhenti menggoda tidak jelas.. perutku sakit, wahai Tuan Tampan!"
"Okay, Mbak Cantik.."
Dan mereka tertawa garing. Entahlah, kepenatan akhir2 ini benar2 menyiksa. Hari ini adalah kesempatan baik untuk menimba energi positif. Dengan energi yang positif, mereka berdua berharap jika semesta dan Tuhan akan membantu menyelesaikan masalah mereka.
Difitnah itu lebih menyakitkan dari apapun itu di dunia ini.
.
.
.
Dari kejauhan Lien melihat keakraban antara Sava dan Ohsen. Matanya terlihat berkaca-kaca. Tatapan Lien berubah menjadi tatapan benci.
Tatapan yang tak pernah ia tunjukkan selama ini.
“Kau bilang kau tidak ada hubungan dengannya? Foto itu palsu? .. Lalu ini apa? Apa yang kau lakukan dengan Ohsen? Berkencan di sela skorsing kalian?... Bodoh sekali aku yang mati-matian mencoba mempercayaimu…” Batin Lien marah.
Ia langsung membanting pintu mobil dan kembali masuk ke dalam mobil miliknya.
Sopirnya hanya mengangguk dan melanjutkan perjalanan.
“Kenapa kau membawa perempuan lain ke kedai bubbletea kita, Ohsen?” Lien meneteskan air mata.
Lien menganggap jika kedai bubbletea yang ada tak jauh dari taman kota itu adalah tempat rahasia dirinya dengan Ohsen. Tempat yang hanya akan ia kunjungi bersama Ohsen.
Melihat Ohsen bersama cewek lain disana, hatinya sangat sersakiti. Ia tak menyangka jika kecemburuannya sedalam ini.
.
.
.
__ADS_1
“Ayo, tak terasa sudah jam tiga sore. Sudah minumnya, kita harus segera menonton konser seniman jalanan!..” Kata Ohsen.
“Ah benar.. Ayo, aku penasaran!..”
Mereka berjalan menuju tempat dimana seniman jalanan itu biasa bernyanyi. Awalnya Sava berfikir kalau seniman jalanan yang Ohsen katakana cuma seorang, tapi ia salah. Seniman jalanan yang Ohsen maksud adalah sebuah group terdiri dari enam orang, dengan satu vocalis.
Alat music yang dimainkan adalah alat music yang menurut Sava unik, karena menggunakan barang bekas sebagai bahannya. Sebut saja memakai dua galon air mineral sebagai drumnya, beberapa botol kecil air mineral yang diisi kerikil, alat music perkusi yang terbut dari bamboo, dan ada juga satu gitar akustik, harmonica, dan pianika sebagai alat music bertangga nada.
Petikkan ringan pada gitar menandai lagu pertama mulai dinyanyikan. Dari melodinya, Sava sudah bisa menebak kalau lagu yang akan dimainkan adalah lagu milik Bruno Mars – Just The Way You Are. Lagu yang menjadi salah satu lagu favorit Sava.
Benar, lagunya terdengar begitu apik saat sang vokalis mulai menguntaikan kata demi kata syair lagu. Suara sang vokalis sangatlah indah, enak didengar, dan berkarakter berpadu dengan paduan elok alat music yang mengiringinya.
“Ini seperti sebuah orchestra ternama…” Komentar Sava saat menikmati lagunya.
“Aku sudah bilang, kau pasti tidak akan kecewa…” Kata Ohsen.
“Dio pasti sangat menyukai ini…” Kata Sava.
“Musik adalah hidupnya..” Kata Ohsen. Sava mengangguk menyetujui kata-kata Ohsen.
Belum usai lagu dimainkan, suasana mulai rame oleh para pengunjung taman yang terpesona dengan suara sang vokalis seniman jalan. Mereka bernayanyi bersama. Layaknya sebuah mini konser berkelas.
Usai menikmati konser seniman jalanan, Sava dan Ohsen melanjutkan acara jalan-jalan mereka menuju sebuah kafe untuk sekedar mengisi perut yang sedari tadi sudah bernyanyi.
Setelah itu, mereka pergi menuju bioskop untuk menonton film. Di bioskop mereka hanya konsen dengan film, berkata sewajarnya, dan makan popcorn. Mereka tertawa bersama sepanjang adegan lucu yang ada di film.
Mencoba melepaskan semua beban yang ada. Meski hanya sejenak, setidaknya meringankan.
Film berdurasi satu setengah jam itupun selesai di putar. Rasanya benar-benar mengasyikan. Sava baru menyadari, sebenarnya Ohsen adalah orang yang banyak memiliki ekspresi. Awalnya ia mengira kalau Ohsen itu jauh lebih dewasa dari pada Luhan, bahkan terkesan dingin dan pendiam. Tapi ternyata, Ohsen memiliki selera humor yang baik dan kadang-kadang juga menjengkelkan, tapi entah kenapa Sava merasa senang.
Namun, Sava tidak boleh jatuh dalam kesenangan yang sesungguhnya bukan haknya. Sava tidak mau bersenang ria sementara yang lain bersedih karenanya. Hal yang harus ia lakukan hanya untuk tidak menjadi egois.
Membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini pasti akan membuatnya gila. Apa Sava akan mampu menjalaninya? Apakah dengan ini semua akan selesai? Apakah ini akan berhasil? Apakah akan lebih menyakitkan?
Entahlah, bagaimanapun ia sudah membuat keputusan. Apapun yang akan terjadi nanti dia harus bisa menerimanya dengan senyum lapang dan besar hati. Ini adalah keputusannya dan apapun itu hasilnya, ia sudah sangat siap menanggungnya.
__ADS_1
Seberapa luka yang ia dapat. Seberapa perih sakitnya. Seberapa lama ia akan menangunggnya. Ia sudah mempersiapkan dirinya.
Sava sudah siap teluka dan sudah siap dengan apapun konsekuensinya.