My Endorphine 1: Jalan Cinta

My Endorphine 1: Jalan Cinta
Bertemu Teman Chatting


__ADS_3

Apa yang ada di benak saat melihat kalender atau penanggalan?


Tanggal merah?


Jawaban umum bagi semua orang jika melihat kalender. Ya, tanggal merah memang idaman banyak orang, tak terkecuali bagi anak usia sekolah.


Tanggal merah di tengah hari dalam seminggu memang tak selalu ada tiap pekannya. Tapi tanggal merah di hari minggu itu pasti. Pasti liburnya dan mutlak adanya.


Hari ini adalah hari minggu. Hari yang paling ditunggu-tunggu oleh anak-anak sekolah. Banyak yang menganggapnya sebagai hari kebebasan. Meski hanya sehari, setidaknya mampu mengobati kejenuhan enam hari yang lalu saat dipenuhi dengan kegiatan melelahkan di sekolah.


“Apa ini tempatnya? Bukankah ini kedai ice cream dan popice? Baiklah, dia berjanji akan menemuiku di sini, kan? Baiklah, Lien kau tak boleh tegang! Tarik nafas, hembuskan perlahan, hilangkan semua rasa kegugupanku! Lien kau pasti bisa. Ini yang kau harapkan selama ini, kan?” Kata Lien menyemangati diri.


“Hei Lien, di sini..” Kata seorang laki-laki tampan sambil melambaikan tangannya. Mengisyaratkan Lien untuk mendekat.


“Apakah aku terlalu lama, Ohsen?” Tanya Lien.


Ohsen? Ya, Ohsen adalah sosok yang sangat ingin Lien temui siang ini di kedai ice cream dan popice.


“Tidak, baru setengah jam berlalu..” Jawab si laki-laki yang ternyata adalah Ohsen.


“Setengah jam? Se-sepertinya aku membuatmu menunggu lama. Maaf, aku bingung mencari lokasi kedainya..”


“Tak apa, duduklah! Kau terlihat lelah. Kau ingin pesan sesuatu?” Tanya Ohsen sambil menyodorkan menu ice cream dan berapa jenis minuman manis lainnya.


Di situ bahkan ada dan capcin.


“Ehm.. gum bubbletea saja sepertinya terlihat enak. Dari gambarnya saja terlihat menggoda.”


“Astaga, apa kau sedang menilai sesuatu dari penampilannya saja?” Lien meringis menanggapinya. “ Baiklah, pelayan kami pesan gum bubble satu dan choco bubbletea satu... Choco bubbletea itu yang terbaik...”


“Hei, apa kau sangat menyukai minuman manis dkk? Kurasa kau terlalu dewasa untuk menyukai minuman seperti bubbletea?” Tanya Lien yang penasaran.


“Apakah ada ketentuan minum bubbletea hanya untuk anak kecil?” Lien menggeleng. “Apakah itu artinya aku menjadi terlihat kekanak-kanakan?”


“Ya tidak juga. Hanya saja terlihat berbeda...”

__ADS_1


“Begitukah? Hm, bisa dibilang maniak manis. minuman manis-manis aku suka. Hampir tiap hari aku membeli bubbletea, capcin, popice.. Tapi favoriteku tetaplah bubbletea rasa chocolat.."


"Terlalu sering minu minuman seperti itu tidak baik untuk kesehatanmu, loh.." Kata Lien dan ini benar adanya.


"Memangsih. Kandungan sakarine dan kalori yang tinggi pemicunya. Tapi sulit lepas juga karena sudah ketagihan...."


"Jawabanmu tidak beda jauh dengan Luha.. Hah, sibling effect??"


Ohsen tertawa ringan.... "Benar juga... Luhan juga sangat menyukainya, favorite-nya taro, apapun asal rasa taro dia menyukainya, dia bahkan bilang kalau manis rasa taro itu menenangkan.. Frekuensi minum minuman manis, Luhan jauh mengerikan daripada aku..”


"Dia bahan sekali pesan bisa 3 gelas..."


"Dia memang seperti itu..."


"Ku kira hanya Luhan saja di dunia ini yang sangat maniak dengan itu minuman, ternyata kau juga begitu... Mungkin minuman manis sudah menjadi bagian hidup kalian... Bahkan Sava saja menyukainya karena sering menemani Luhan membeli bubbletea atopun minuman manis lainnya...” Ohsen hanya tersenyum. Faktanya memang seperti itu.


Hingga akhirnya pesanan yang ditunggupun datang.


“Maaf menunggu lama, silahkan dinikmati!” Kata Pelayan.


Mereka berdua mulai menikmatinya. Rasa manis dan lembutnya gelembung-gelembung unik meleleh di mulut. Terasa khas bau dari cream susu yang tercium hidung. Sangat lezat, padahal itu hanya sebuah minuman. Lien yang awalnya tidak begitu menyukai bubbleteapun mulai mengubah persepsinya tentang bubbletea.


Ohsen cukup berperan mengubah persepsinya tentang bubbletea.


“Enakk..” Kata Lien spontan.


Ohsen terkekeh.


“Jangan menertawakanku! Huh, itu tidak lucu sama sekali.”


“Iya, maafkan aku, Lien. Sebentar, ada sisa bubbletea di bibirmu..” Kata Ohsen yang langsung membersihkan sisa bubbletea di bibir Lien dengan tisu.


Lien terpaku.


Rasanya seperti ada orkestra musik romantis yang diiringi ribuan kupu-kupu menggelitik di perutnya. Pipinya tiba-tiba terasa panas.

__ADS_1


“Kalau seperti ini, kurasa aku benar-benar bisa mati dibuatnya.. Oh Tuhan, aku benar-benar menyukainya. Ohsen, senyummu manis seperti bubbletea saja.” Batin Lien lebay. “Te-terima kasih, O-Ohsen..” Kata Lien cepat-cepat.


“Ah, it’s okay. Hmm, kenapa saat berada di sekolah kau bertindak seolah kau baru mengenalku? Bukankah kita sudah lama saling kenal??” Tanya Ohsen.


“Aku hanya memastikan saja. Pertama melihatmu saat kau memperkenalkan diri di depan kelas, aku merasa pernah melihatmu sebelumnya. Ternyata benar, kau itu pemilik akun Sen12. Kau bahkan terlihat jauh lebih baik dari fotomu..” Jawab Lien malu.


“Haha, lebih baik? Begitukah? Bukankah harusnya kau mengatakan jika aku lebih tampan?”


Lien hanya tersenyum kaku. Ohsen tampan? Lien tidak pernah meragukan pernyataan itu sedikitpun.


“Tak jauh berbeda dengan anggapanku. Di foto kau terlihat sangat kekanak-kanakan, ternya benar, kau memang sangat kekanak-kanakan...” Ohsen mulai bercanda.


“Ohsen...” Geram Lien menahan malu.


“Maaf, bercanda. Yang jelas kau.. cantik...”


“Eh?” Lien hanya tersipu malu.


Ohsen menatapnya. Mereka bertemu mata. Ohsen memberinya senyum yang sangat indah.


“Jantungku berdegup lebih kencang setiap kali aku berdekatan dengannya. Semakin lama bukan semakin sakit, tapi ini sangat menyenangkan dan... indah... Entah apa yang aku rasakan, hanya saja ini sungguh berbeda dan membuatku tak mengerti. Apa yang sebenarnya sedang terjadi padaku? Ohsen, kau laki-laki pertama yang membuatku seperti ini. Aku merasa tidak percaya diri di hadapanmu, Ohsen.” Batin Lien.


.


.


“Lien, Excel ah maksudku Luhan itu sahabat dari kecilmu dan Sava, kan? Sepertinya aku tidak begitu tahu akan hal itu...”


“Sepertinya kau perlu menyalahkan Luhan akan hal ini! Jahat sekali dia, punya sahabat tapi tidak mau menceritakan pada kau. Padahal kau kan saudaranya. Kau tahu, Luhan saja tidak pernah cerita kalau dia punya saudara seperti kau, Ohsen... Benar-benar itu anak. Padahal kita sudah bersahabat sejak kecil. Harusnya tidak perlu ada rahasia seperti itu, kan?”


“Mungkin karena aku tinggal di luar negeri, jadi ia tak berniat untuk menceritakannya. Namun, kurasa setiap orang pasti memiliki sesuatu hal yang tidak bisa ia bicarakan pada orang lain. Setiap orang pasti memiliki rahasia. Pasti ada alasan yang melatar belakanginya.”


“Ah memang seperti itulah hidup. Penuh rahasia dan misteri.. Kalau begitu aku akan menceritakan persahabatan kami padamu..” Kata Lien dengan semangat.


Ohsen merasa senang bisa memiliki Lien sebagai temannya. Lien itu mudah bergaul dan baik. Easy going dan wellcome. Meski kekanak-kanakan, tapi Ohsen berfikir kalau Lien itu menyenangkan.

__ADS_1


Mereka menghabiskan waktu dengan saling berbagi cerita. Meski baru bertemu beberapa hari yang lalu, tapi mereka sudah berteman sejak dahulu meski hanya di dunia maya.


Banyak yang belum mereka ketahui satu sama lain. Mulai saat ini, mereka akan membuka diri untuk saling menerima alur cerita yang semu itu. Entah bagaimana nanti akhirnya, yang jelas untuk sekarang hanya berusaha mengisi waktu dengan banyak kisah.


__ADS_2