
Manusia akan mengisi kisahnya masing-masing.
Tak jauh berbeda dengan Luhan. Hari-harinya juga dipenuhi banyak kisah. Hanya saja, kadang ia merasa kisahnya kurang berkenang. Entah apa yang berkelut di benaknya sekarang.
Bosan?
Sepertinya.
Sesuatu ada yang kurang dalam kisahnya. Membuat sekat tak nyaman di dalam hatinya.
Dulu ia tak begitu memikirkannya. Tapi semakin ia mencoba untuk melupakan, maka semaki besar dan kuat sesuatu itu berada di hati dan benaknya, hingga akhirnya menjadi beban fikiran.
Untuk sekarang, ia bertahan sekuat mungkin untuk menahan beban itu. Jujur saja ada keraguan menyelimuti hatinya.
.
.
.
“Hei Excel..” Sapa Enila.
Einila Celina, perempuan yang selalu sempurna dalam berdandan. Baju ketat, rok mini dan high heals super tinggi selalu ia kenakan.
Rambut panjang hitam ia biarkan bergerai dengan indahnya.
Semua mata pasti akan berkata kalau ia itu cantik. Inikah pesona yang wajar ditunjukkan oleh siswa kelas dua belas sekolah menengah? Tapi berbeda dengan opini Luhan yang selalu dipenuhi tentang hal-hal aneh. Dengan polosnya, Luhan berfikir kalau Enila itu seperti wanita setengah baya yang berjalan dengan diiringi musik dari high healsnya.
“Hei juga Kakak kelas...” Sapa balik Luhan.
“Kakak ya? Apa aku kelihatan begitu tua, hm?” Tanya Enila dengan manja.
“Tidak terlalu, hanya sedikit kelihatan lebih tua saja..” Jawab Luhan dengan entengnya.
__ADS_1
Dia bahkan tersenyum tanpa dosa.
“Sial, apa-apaan ini anak? Hah, baiklah, aku masih bisa sabar karena kata anak-anak kau itu sangat innoncence..” Batin Enila kesal. “Kau pasti bercanda? Bercandamu sungguh baik...” Kata Enila.
“Terima kasih atas pujiannya..” Kata Luhan tersenyum manis, seolah mengakui kalau dirinya itu pandai bercanda.
Padahal itu bukan bercanda, tapi kenyataan.
“Gila ini anak. Aku pancing biar merasa bersalah, malah dia justru berterima kasih padaku. Apa benar aku kelihatan tua? Oh No!! Lihat saja Excel..” Batin Enila yang semakin kesal. “Kau tahu, aku selalu perawatan wajah, tubuh, segalanya agar terlihat lebih cantik...” Enila membanggakan diri.
“Ah.. Benarkah? Tapi, sebenarnya kecantikan itu terpancar karena kenaturalannya.“ Respon Luhan cute.
Enila semakin kesal. Ia tersenyum menahan amarah karena respon Luhan yang menurutnya keterlaluan.
Sementara Luhan, ia justru terlihat begitu manis dengan tampang tanpa dosa-nya. Luhan tak paham kalau perempuan cantik di depannya itu sedang terbakar api amarah yang kapan saja siap melalapnya.
Luhan tersenyum tanpa merasa bersalah.
“Oh My God, ternyata memang benar kata anak-anak, Excel memang sangat tampan, bahkan Krisna saja kalah. Bodoh sekali aku baru menyadarinya. Rasanya bermain-main sedikit dengan laki-laki ini tidak ada salahnya juga. Aku lupakan kesalahanmu, Luhan. Ah, Excel. Excel atau Luhan sama sajalah...” Batin Enila senang. “Terima kasih sudah memenuhi ajakanku.. Harusnya aku yang menunggumu, tapi malah kau yang menunggu seperti ini. Maaf sudah membuatmu menunggu...” Lanjut Enila basa-basi.
Itu melukai harga dirinya!!
“Tak apa, itu bukan masalah untukku. Tidak perlu kakak kelas seperti dirimu bersikap sangat sopan pada adik kelasnya! Ngomong-ngomong, apa hari minggumu tak kau gunakan untuk berkencan? Bukan suatu rahasia jika kau itu sudah memiliki kekasih..” Tanya Luhan.
“Apakah sekarang bukan acara berkencan, hm?” Goda Enila.
Luhan tersenyum.
“Masuk kau dalam perangkapku..” Batin Enila senang.
Enila mulai memegang tangan Luhan. Luhan tak merespon. Ia hanya diam saja. Enila semakin senang.
Saat Luhan dan Enila tengah asyik berbincang, dari kejauhan Sava melihatnya. Hari ini Sava tengah berjalan dengan Dio. Dio yang memintanya untuk menemaninya mencari keperluan untuk konser piano.
__ADS_1
Tatapan Sava memang sulit untuk diartikan, tapi terlihat jelas jika itu tatapan luka dari kedua matanya. Dio tahu itu, ia sangat memahaminya.
“Ternyata Luhan memang serius dengan kak Enila ya? Aku khawatir kalau ia akan mendapat masalah... Apa Luhan tak tahu sifat kak Enila itu seperti apa? Setidaknya dia memikirkan perasaan kak Krisna dan Lien... Kenapa kau seperti itu, Luhan? Sampai kapan kau akan berhenti berpetualang? Apa kau tak lelah? Apakah memang petualangan cintamu itu begitu menyenangkan sehingga kau tak mau menyudahinya?” Batin Sava khawatir.
Sava memang selalu memikirkan kedua sahabatnya, terutama Luhan. Entah apa yang membuatnya begitu menghawatirkan Luhan. Mungkin karena Luhan selalu mengeluh padanya, jadi setiap Luhan butuh sesuatu pasti akan datang padanya. Tak peduli itu baik atau buruk. Tak peduli apa pun yang Luhan inginkan, Sava akan berusaha memenuhinya.
Meski kadang membuatnya terluka, tapi, ia tetap merasa senang bisa menjadi bagian dari Luhan.
Apakah Sava gadis yang bodoh?
Sava mungkin akan mengiyakan hal itu. Tapi jauh dari itu, ia hanya ingin menjadi sosok yang baik layaknya seorang sahabat yang semestinya.
“Sudahlah, tak perlu kau cemaskan dia! Kau bisa lihat dari caranya tersenyum. Ia tidak serius dengan perempuan itu. Aku yakin Excel tidak bodoh. Ia pasti tahu perempuan yang sedang bersamanya itu seperti apa. Semua anak sudah tahu karakter Kak Enila, begitu juga dengan Excel... Jadi, jangan terlalu kau fikirkan!” Kata Dio yang menyadari benak Sava.
Dio itu selalu paling mengerti apa yang Sava rasakan. Tapi Sava tak pernah bisa mengerti apa yang ada di benak Dio. Mungkin karena ia terlalu memikirkan Luhan yang selalu dekat dengannya.
Pernah ia berfikir akan Dio, semakin ia menelaah fikirannya tentang Dio entah mengapa selalu membingungkannya.
“Kau benar. Semoga saja begitu..”
“Aku akan sangat senang kalau kau bisa hadir di konserku besok..”
“Hm? Ah.. tentu saja aku akan hadir untukmu. Kau itukan sahabatku juga. Jadi mana mungkin aku tidak datang menonton wakil klub seni menggelar konser piano?”
“Bisakah lebih?” Gumam Dio lirih.
“Eh?.. Maksudnya?”
“Lupakan! Bukan apa-apa.”
Dio memang selalu berharap kalau Sava akan memandangnya lebih dari sekedar sahabat. Kadang ia merasa iri dengan Luhan. Meski dirinya juga dianggap sahabat oleh Sava, tapi posisinya tetap saja jauh berbeda dengan Luhan.
Sava tak pernah berhenti menceritakan semua hal tentang Luhan. Mulai dari kepribadian Luhan sampai hal-hal yang menurutnya tidak masuk akal untuk diceritakan. Tapi, karena dengan cara itu ia bisa dekat dengan Sava, maka seolah tanpa beban ia akan dengan senang hati mendengarkan semua cerita yang Sava ceritakan.
__ADS_1
Untuk saat ini, ia hanya bisa bertahan dan setia di samping Sava. Ia akan selalu siap kapan saja saat Sava membutuhkannya. Dengan kesabaran hati, ia percaya suatu saat Sava akan melihatnya, walaupun itu hanya sekejap saja. Bukankah apapun di dunia ini itu mungkin? Dan yang pasti Dio mempercayai itu.