
“Kenapa kau akan pergi? Kau akan meninggalkanku sendiri?” Tanya Luhan.
“Tidak, Han..”
“Tidak bagaimana? Lihatlah dirimu, kau berada di airport! International airport! Kau akan meninggalkanku ke suatu tempat yang jauh..”
Sava menghela nafas, lalu tersenyum. “Kau masih memiliki Lien.”
“Kau bahkan masih bisa tersenyum setelah kau berniat meninggalkanku dan Lien… Kau bilang kau itu nafas untukku. Kau udara! Kau oksigen untukku! Apa kau tidak mengerti akan hal itu?” Luhan meninggikan suaranya.
“Bagaimanapun, ikan akan lebih membutuhkan air dari pada udara. Air masih bisa membuatmu hidup. Lien akan selalu ada untukmu… Pada dasarnya ikan pasti identik dengan air, bukan udara. Jadi selama udara tidak ada, setidaknya air masih ada untuk berenang. Kurasa seperti itu… Hukum alam…”
“Tapi kenapa? Kenapa harus ada hukum seperti itu? Tidak bisakah ikan, air, dan udara hidup bersama?”
“Han, mengertilah…”
“Mengerti apa? Apa yang harus aku mengerti? Bukankah aku cukup mengerti?”
Sava menarik nafas. “Aku bahagia menjadi sahabatmu dan Lien, tapi ada waktunya dimana aku harus menentukan jalan hidupku. Dunia ini terlalu luas untuk aku taklukkan. Jadi, aku akan mempersiapkan diri untuk menaklukan dunia yang begitu luas ini.. Aku hanya berkorban untuk masa depanku. Untuk cita-cita yang sudah lama terpendam…”
“Maksudmu, kau berniat untuk mengorbankan persahabatanmu demi masa depanmu?
“Bukan seperti itu..”
“Tidak bisakah kau menggapai cita-citamu bersamaku? Bersama Lien?”
“Tidak bisa, Han…” Sava menggeleng pelan. Tapi ia masih berusaha tersenyum.
Mana mungkin, kan?
“Apa karena Lien sehingga kau berniat pergi?”
Sava cukup terlonjak hatinya.
Pertanyaan Luhan sungguh tepat sasaran. Memang alasan terbesarnya pergi karena Lien dan Luhan menjalin hubungan cinta. Tapi ia tidak akan mundur dari keputusannya. Ia tidak akan mundur maupun tergoda dengan permintaan Luhan yang selalu membuatnya tidak bisa menolak.
Kini, waktunya untuk bisa hidup tanpa Luhan.
“Lien? Ayolah.. Kau punya hak untuk memilih siapapun wanita yang kau sukai. Saat kau mulai memiliki banyak perempuan, saat itupula aku tidak mempermasalahkan siapa yang kau pilih. Wanita mana pun yang akan menjadi pelabuhan cintamu. Tak menutup kemungkinan, termasuk jika itu Lien..”
“Jangan bohong!”
“Sudah aku bilang, aku ingin meraih cita-citaku… Itu ambisi terbesarku sekarang…”
__ADS_1
“Va…” Luhan tidak tahu harus bicara apa lagi.
“Han…”
“Apa ambisimu itu lebih penting daripada aku dan Lien?”
Sava agak kaget dengan pertanyaan Luhan. Kalau boleh jujur, tentu saja tidak ada. Baginya Lien dan Luhan adalah hidupnya. Terutama Luhan, berapa tahun dia memendam rasa padanya? Rasanya kesal saat seakan dianggap tidak setia kawan.
“Apa kau tidak peka? Apa kau tidak faham? Semua ini karena kau.. semua yang aku lakukan selama ini hanya untuk kau dan Lien… Apa aku harus mengumbar semuanya? Apa selama ini tidak penting? Tidak berharga? Siapa di sini yang terlihat lebih bodoh? Kenapa selalu saja aku ditempatkan di tempat yang salah. Kenapa harus aku? Kenapa kalian tidak bisa memahaminya. Tidakkah kalian berfikir jika kalian itu juga egois dan sejujurnya kalian juga menyakitiku sangat banyak..” Batin Sava.
“Kau diam, berarti ambisimu lebih berharga… Lebih penting…”
“Kau boleh berkata apapun, Han.. Kurasa kau hanya belum mengenaliku lebih jauh.” Sava merasa kecewa. Tapi ia masih berusaha menahannya.
“Va, maafkan aku…”
“Sudah lewat 5 menit… Kurasa aku harus segera pergi. Maaf, kali ini aku tidak bisa memenuhi permintaanmu. Jaga dirimu baik-baik!"
"...."
"Jangan suka bergadang! Makan teratur! Jangan terlalu banyak minum bubbletea! Jangan terlalu keras latihan sepak bola! Jangan banyak-banyak memiliki pacar! Setialah pada Lien! Jangan sakiti dia! Apalagi khianati dia! Jagalah dia demi aku.."
"..."
"Ehmm, kalau mandi jangan malam-malam! Kurangi makanan pedas! Kau tidak maukan maagmu kambuh lagi, kan? Oh iya, seriuslah belajar! Aku tahu kau itu tidak sebodoh itu.."
"..."
"Satu yang penting, kau harus mulai memikirkan masa depanmu! Jika kau mencintai sepak bola, tunjukkan jika kau memang mencintai olah raga favoritmu itu! Jadilah pemain bola professional!"
"..."
"Jika kau ingin jadi dokter, belajarlah dengan serius! Entah apa, tapi aku percaya kau pasti bisa melakukannya.” Kata Sava panjang lebar.
Ia memang tahu segala hal tentang Luhan.
Luhan terdiam dan meresapi setiap kata yang Sava ucapkan. Hatinya menyuruhnya untuk tidak egois.
Akhirnya Luhan memeluk Sava.
Sava cukup kaget, karena tanpa ia duga sama sekali, Luhan menariknya ke dalam pelukannya. Sava bisa merasakan detak jantung Luhan yang berdetak tidak beraturan. Sava bisa merasakan nafas berat dari mulut Luhan. Bahkan Sava juga bisa merasakan suhu badan Luhan yang cukup panas. Sava yakin jika Luhan sedang tidak enak badan.
Ada rasa iba di hatinya. Ia menghawatirkan keadaan Luhan. Sava berharap setelah ia pergi, Lien akan merawat Luhan dengan baik. Lagipula, Lien itu kekasihnya Luhan.
__ADS_1
Bukankah itu memang seharusnya Lien lakukan?
Sava segera melepaskan pelukan Luhan dari tubuhnya. Luhan berusaha menahannya, tapi tidak berhasil. Sava tetap berusaha melepaskan pelukan Luhan dengan lembut. Ia menatap mata Luhan. Matanya mulai berkaca-kaca. Luhan kembali meraih tangan Sava. Ia menggenggamnya erat.
“Jaga dirimu baik-baik! Sampai jumpa…” Kata Sava. Sava berusaha melepaskan genggaman tangan Luhan dari tangannya. Luhan menggenggamnya cukup erat. “Han, sudah! Sudah waktunya aku pergi.”
Akhirnya Luhan meluluh dan melepaskan genggamannya pada tangan Sava. Sava menangis dan meninggalkan Luhan. Berat rasanya.
“Va, kapan kau akan kembali ke Indonesia?” Tanya Luhan.
Sava menghapus air matanya dan berbalik menghadap Luhan. Sava tersenyum manis pada Luhan.
“Sampai semua ambisiku tercapai… Sampaikan pada Lien, kalau aku sangat menyayanginya.” Sava melambaikan tangannya.
Luhan menunduk. Ternyata Sava benar-benar meninggalkannya.
"Selamat tinggal, Han... Lien.."
Sava kembali melanjutkan jalannya. Ia bahkan berlari menuju checking tiket pesawat agar pendiriannya tidak goyah jika ia harus berlama-lama berada di dekat Luhan.
Luhan selalu saja berhasil meluluhkan hatinya. Ia akan sangat kesulitan menolak keinginan Luhan. Ia biasanya akan memberikan apapun yang Luhan inginkan darinya.
.
.
.
Terlihat banyak orang yang mengantri untuk checking tiket sebelum masuk ke dalam pesawat.
Dio sedikit ragu apakah Sava akan memilihnya atau tidak. Hatinya resah karena ia tahu pasti, Luhan adalah orang yang berpengaruh besar dalam hidup Sava. Hanya Luhan yang selalu ada di otak dan hati Sava.
Jadi bukan suatu hal yang berlebihan jika ia memiliki pemikiran seperti itu. Ia tahu jika sampai detik ini, ia sama sekali belum menjadi sosok yang bisa menggantikan Luhan di hati Sava. Jangankan menggantikan, mensejajarkan diri di hati Sava saja belum bisa. Masih sangat jauh jalan yang harus ia lalui.
“Silahkan Tuan..” Kata petugas checking tiket.
“Oh, terima kasih.” Kata Dio.
Kay dan Ayah Sava sudah lebih dahulu masuk ke dalam pesawat. Dio masih berusaha menunggu Sava dengan berharap-harap cemas.
“DIO TUNGGU!!” Teriak Sava dari kejauhan.
Dio menoleh dan tersenyum.
__ADS_1
“Ini tiketku.. Ah terima kasih banyak.” Kata Sava dan berlari menuju Dio.
Sava langsung menggandeng tangan Dio. Sava terlihat sangat bahagia. Diopun begitu. Ini pertama kalinya Sava menggadengnya dan tersenyum lepas padanya. Sepertinya sedikit beban Sava sudah berkurang. Sedikitpun tidak masalah.